Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

RENTANG BUDAYA PRASEJARAH NIAS: DATING DAN WILAYAH BUDAYA

with 2 comments

Ketut Wiradnyana

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

 

Prehistoric culture in Nias Island are consist of palaeolithic, mesolitic, to megalithic.Till now, it’s culture dominated by megalithic traditions. Based on the carbon dating to some mesolithic and megalithic sites, found that time period of mesolithic culture to the middle Ages in North Nias cultural area. Time period of megalithic culture in South Nias cultural area around 600—350 years ago and 260 years ago in North Nias cultural area.

 

Kata kunci: prasejarah, dating, wilayah budaya

 

I. Pendahuluan

Nias merupakan sebuah pulau yang masih menyisakan tradisi sejarah budaya masa lampau, yang terletak di kawasan barat Indonesia, tepatnya ± 80 mil di sebelah barat Tapanuli dan berada pada titik koordinat 0°- 12° hingga 1°- 320 LU dan 97°- 98° BT. Pulau Nias dibagi menjadi dua kabupaten yaitu Kabupuaten Nias Selatan dengan ibukota Teluk Dalam dan Kabupaten Nias dengan ibukota Gunung Sitoli. Luas wilayah Pulau Nias yaitu 5.625 Km2 atau 7.821 % dari luas wilayah Sumatera Utara.

Sisa peradaban masyarakat dimaksud sudah sejak lama menjadi objek penelitian dari berbagai disiplin ilmu oleh peneliti dari Indonesia maupun luar negeri. Pulau dengan tradisi masa lampau yang masih bertahan terus hingga saat ini, tercermin dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat yang masih memegang adat istiadatnya, maupun dari benda-benda atau bangunan-bangunan arkeologis seperti bangunan megalitik yang tersebar hampir di seluruh wilayah pulau ini. Di samping itu obyek-obyek arkeologis tidak hanya berupa tinggalan megalitik saja, namun jauh sebelumnya yaitu sisa-sisa tertua yang dicirikan oleh artefak paleolitik dan mesolitik juga ditemukan di wilayah ini.

Penelitian arkeologis yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Medan (Balar Medan) bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas) dan Institut de Recherche Pour Ie Developpement (IRD), Perancis memberi gambaran budaya masa lalu masyarakat Nias yang diantaranya diwujudkan dalam bentuk berbagai tinggalan budaya materi dan rentang masa hunian. Penelitian itu belumlah mencukupi untuk memahami kehidupan masyarakat Nias secara utuh, paling tidak masih diperlukan lagi serangkaian ekskavasi yang diikuti dengan carbon dating pada situs-situs yang lain.

Wilayah budaya dari terminologi budaya yang didasarkan pada teknologi mengindikasikan adanya sebaran budaya pada wilayah dan waktu tertentu. Sebaran budaya dalam satu wilayah menggambarkan aktivitas yang berlangsung dengan ciri budaya yang sama atau hampir sama. Secara umum wilayah budaya di Pulau Nias dapat dibagi menjadi dua yaitu: wilayah budaya Nias bagian utara dan wilayah budaya Nias bagian selatan. Sedangkan pembabakan budaya dapat membantu menggambarkan proses budaya yang terjadi dalam wilayah itu sendiri. Dari dating dan wilayah budaya yang telah dihasilkan pada situs-situs terpilih di Pulau Nias, untuk sementara disimpulkan bahwa proses kehidupan manusia masa lalu di Pulau Nias, tidak merata di dua wilayah kabupaten . Hal ini erat kaitannya dengan perkembangan budaya masing-masing kelompok masyarakat atau juga berkaitan dengan proses migrasi yang terjadi di wilayah Pulau Nias. Untuk itu asumsi akan rekonstruksi sejarah masyarakat Nias melalui proses kehidupan manusia dan budaya dimaksud dipaparkan dalam bahasan di bawah ini.

II. Dari paleolitik hingga megalitik

II.1. Paleolitik

Paleolitik merupakan terminologi tertua dalam babakan masa prasejarah. Masa ini peralatan batunya jauh lebih sederhana dibandingan dengan masa -masa sesudahnya. Situs paleolitik di Nias ditemukan di DAS Muzoi, terutama di Kampung Pekan Muzoi, Desa Hili Waele, Kecamatan Hili Duho, Kabupaten Nias. Adapun peralatan batu yang ditemukan di dasar sungai maupun tebing sungai terdiri dari peralatan masif dan non-masif. Teknik pemangkasan yang ditunjukkan pada kapak perimbas yang ditemukan pada situs tersebut, sangat sederhana, dengan tajaman berbentuk cembung serta dibuat dari kerakal. Dari temuan kapak perimbas yang ada di DAS Muzoi, salah satunya menunjukkan tanda-tanda keausan akibat proses transformasi (rounded) oleh arus sungai yang dialaminya. Sebuah kapak perimbas dibuat dengan menyiapkan dataran pukul pada bagian proksimalnya, dengan pangkasan yang lurus pada bagian tajamannya. Teknik pembuatan kapak perimbas ini lebih maju dibandingkan dengan temuan kapak perimbas yang lainnya. Secara umum dapat dikatakan bahwa tajaman yang dihasilkan dari pangkasan kapak perimbas yang ditemukan di Pekan Muzoi atau sekitarnya adalah monofasial. Kapak genggam dan alat serpih ditemukan dalam jumlah sedikit. Ciri utama pada kapak genggam ditandai oleh adanya gigir yang lurus pada bagian ventralnya. Hal tersebut diakibatkan oleh adanya pemangkasan panjang pada bidang ventral dari bagian proksimal ke bagian distal sehingga menghasilkan gigir yang lurus di bagian tengah ventral dan sekaligus menghasilkan tajaman yang runcing. Gigir tersebut juga dihasilkan dari pemangkasan secara horisontal pada bagian ventral ke arah lateral.

Penelitian lain juga telah menghasilkan alat-alat masif dari masa paleolitik yang ditemukan di Sungai Muzoi, Sungai Sinoto dan di Sungai Orahiligimo dan Ononamole berupa kapak perimbas, penetak, serpih besar, kerakal pangkas, serut samping, dan batu pukul (Nasruddin dkk, 2000).

II.2. Mesolitik

Masa Mesolitik di Pulau Nias diindikasikan dari data ekskavasi yang dihasilkan di Togi Ndrawa, Dusun II, Desa Lolowonu Nikdotano, Kecamatan Gunung Sitoli. Adapun artefak berbahan batu yang ditemukan pada situs ini berupa alat serpih, pelandas, pemukul, dan alat serpih. Artefak berbahan tulang diantaranya berupa lancipan dan spatula, sedangkan artefak yang berbahan tanah berupa fragmen gerabah yang ditemukan pada lapisan permukaan. Selain itu beberapa peralatan dari bahan cangkang kerang juga ditemukan. Analisa morfologi dan terminologi pada data ekofatual menghasilkan filum moluska dari berbagai famili, filum vertebrata dari berbagai kelas dan filum arthropoda berupa spesies Skila serrata.

Cangkang moluska yang ditemukan pada penelitian di Togi Ndrawa mengindikasikan bahwa moluska dan fragmen tulang merupakan sampah makanan. Data berupa fragmen gigi dan tulang manusia mengindikasikan bahwa pada masa lampau gua ini sudah dihuni oleh kelompok manusia yang mengkonsumsi moluska sebagai makanan utamanya dan berburu untuk menambah kebutuhan makanan. Mereka sudah mengenal api yang terbukti dari abu pembakaran serta fragmen tulang dan cangkang moluska yang terbakar. Peralatan yang digunakan untuk mendukung kehidupan sehari-hari berupa peralatan batu dan tulang.

Bahan makanan yang dikonsumsi dalam upaya melangsungkan hidupnya dipilih bahan makanan yang melimpah di sekitar situs dan tentunya mudah didapat. Untuk itu mereka memilih bahan makanan berupa moluska. Berbagai jenis moluska dimungkinkan hidup di sekitar situs, mengingat keletakkan situs yang dekat dengan laut dan banyaknya sungai sehingga menghasilkan lingkungan manggrove yang ideal bagi habitat berbagai jenis moluska.

Gua lain yang mengindikasikan budaya pada babakan mesolitik yaitu Togi Bogi. Gua Togi Bogi berada di wilayah Desa Binaka, Kecamatan Gunung Sitoli Idanoi, Kabupaten Nias, berjarak sekitar 18 Km dari kota Gunung Sitoli. Gua yang berada pada lereng bukit dengan ketinggian berkisar 75 meter di atas permukaan air laut menghasilkan berbagai macam artefak dan juga ekofak. Adapun artefaktual berbahan batu yang ditemukan pada situs ini berupa alat serpih, pelandas/pemukul, pemukul dan alat serpih. Artefaktual yang berbahan tanah berupa fragmen gerabah yang ditemukan pada lapisan permukaan. Variasi ekofak (moluska) yang ditemukan memiliki kesamaan dengan yang ditemukan di Gua Togi Ndrawa.

II.3. Neolitik/ megalitik

Merupakan masa yang dianggap revolusi kebudayaan, mengingat pada masa ini masyarakat sudah dapat membudidayakan tanaman untuk keperluan hidupnya. Pertanian pada masa ini sudah dikenal luas, masyarakat sudah hidup menetap sehingga religi yang berkembang sudah lebih menampakkan kejelasan konsep. Pada masa ini berkembanglah budaya megalitik yang ditandai dengan aktivitas upacara dengan pendirian monumen batu atau kayu pada akhir prosesi.

Prinsip dasar megalitik Nias biasanya dikaitkan dengan arwah nenek moyang seperti bangunan megalitik digunakan untuk keselamatan arwah yang meninggal dan orang yang masih hidup. Bentuk megalitik yang vertikal dan horisontal di Nias dikaitkan dengan tanda adanya seorang pemimpin, keluarganya, bangsawan dan masyarakat biasa pada suatu permukiman. Megalitik tersebut dibangun bukan untuk keperluan roh semata-mata, akan tetapi ditekankan pada aspek-aspek harkat dan martabat serta menjaga kemasyuran bagi pendirinya. Besar kecilnya ukuran dan raya tidaknya hiasan pada bangunan megalitik tergantung dari status seseorang seperti orang yang disegani sebagai pemimpin ataupun sebagai bangsawan kaya, yang didapatkan dari besar kecilnya pesta owasa yang telah dilaksanakan.

Sesuai dengan perkembangan megalitik yang terus berlangsung di Nias telah terjadi perubahan-perubahan fungsi. Fungsi-fungsi megalitik yang primer -seperti batu tegak dan batu datar- disimbolkan sebagai laki-laki dan perempuan dan sekaligus sebagai tanda peringatan bagi laki-laki dan perempuan. Dalam perkembangannya muncul fungsi-fungsi sekunder yakni sebagai tempat tutup kepala seorang pemimpin ketika diadakan upacara tertentu. Fungsi-fungsi skunder tampak juga dari situs-situs yang besar di mana di dalamnya diisikan tempat-tempat yang tidak berkaitan dengan unsur religi akan tetapi unsur sosial lainnya seperti hukum.

Tinggalan megalitik di Pulau Nias tersebar hampir di seluruh perkampungan tua, baik yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Nias mapun Nias Selatan. Adapun situs tersebut diantaranya adalah situs Boronadu, di Desa Sifalago Gomo, Kecamatan Gomo, Kabupaten Nias Selatan yang merupakan situs megalitik tertua jika dikaitkakn dengan folklor asal-usul leluhur Nias. Situs megalitik Tundrumbaho merupakan situs besar sisa hunian setelah Boronadu yang masih di wilayah Gomo dan situs Hili Gowe yang merupakan salah satu situs besar di Kabupaten Nias. Tinggalan megalitik tersebut memiliki berbagai istilah yang biasanya dikaitkan dengan fungsinya. Di Kabupaten Nias Selatan peristilahan tersebut sangat variatif sekali, sehingga kadang-kadang dengan bentuk bangunan yang sama namun fungsinya berbeda dapat memiliki nama yang berbeda. Jadi nama sebuah bangunan megalitik, terutama di Nias Selatan haruslah dilihat dulu fungsinya. Di Nias bagian utara peristilahan tersebut tidak terlalu banyak digunakan. Seperti dalam kata gowe biasanya berarti bangunan megalitik yang terdiri dari bangunan yang berdiri/tegak dan mendatar atau salah satu dari keduannya, yang merupakan bangunan yang dihasilkan dari pesta owasa.

Secara umum tinggalan megalitik yang terdapat di Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan dilihat dari posisinya dapat dibedakan atas dua bagian yaitu tinggalan megalitik yang posisinya berdiri/tegak dan tinggalan megalitik yang posisinya mendatar.

III. Dating dan wilayah budaya

III.1. Dating

Analisis radiometri merupakan metode pertanggalan/dating yang bersifat absolut/mutlak. Metode ini sangat penting digunakan dalam arkeologi untuk mengetahui secara pasti umur dari suatu situs, artefak atau aktivitas yang berlangsung pada masanya. Pada situs-situs di Pulau Nias pertanggalan yang didapatkan dihasilkan dari salah satu metode radiometri yaitu analisis C14. Analisis ini merupakan metode yang dilakukan pada bahan-bahan yang mengandung unsur carbon untuk kemudian diukur sisa dari C14 yang ada pada benda-benda organik tersebut.

Hasil analisis pertanggalan dengan metode radiometri pada sampel berupa cangkang kerang yang ditemukan pada ekskavasi di situs Togi Ndrawa pada kedalaman -10 cm yaitu 850 ± 90 B.P, pada kedalaman -40 cm yaitu 1330 ± 80 B.P, pada kedalaman -50 –60 cm yaitu 1540 ± 100 B.P. Pada kedalaman -90 cm yaitu 3540 ± 100 B.P. Pada kedalaman -220 cm yaitu 7890 ± 120 B.P, dan pada kedalaman -400 cm yaitu 12170 ± 400 B.P menunjukkan bahwa aktivitas di Gua Togi Ndrawa, Nias berlangsung sekitar 12.170 ± 400 B.P. sampai dengan 850 ± 90 B.P.

Hasil analisis pertanggalan dengan metode radiometri pada sampel berupa cangkang kerang dan abu pembakaran yang ditemukan pada ekskavasi di situs tersebut dengan kedalaman -10 –20 cm yaitu 950 ± 110 B.P, pada kedalaman -40 –50 cm yaitu 2000 ± 120 B.P dan pada kedalaman -80 — 90 cm yaitu 4960 ± 130 B.P menunjukkan bahwa aktivitas di Gua Togi Bogi, Nias berlangsung sekitar 4960 ± 130 B.P. sampai dengan 950 ± 110 B.P (kemungkinan aktivitas manusia di Togi Bogi lebih lama dari itu, mengingat dating yang dilakukan baru pada kedalaman 1 meter).

Dari pertanggalan tersebut dapat diketahui bahwa ke dua gua tersebut dihuni pada masa yang relatif sama, sampai sekitar abad ke-12 Masehi.

Lalu kapan tradisi megalitik mulai berkembang ? Banyak yang menyatakan bahwa Nias dengan tradisi megalitiknya sudah berkembang sejak ribuan tahun lalu, namun ada juga yang menyatakan pada awal-awal masehi. Adapun hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Medan dan Institut de Recherche Pour Ie Developpement (IRD), Perancis pada sebagian situs-situs penting masa megalitik di Nias menunjukkan bahwa Boronadu dihuni sekitar 576 ± 30 BP, yaitu sekitar 600 tahun yang lalu, Tundrumbaho dihuni 340 ±120 BP yakni sekitar 460 – 220 tahun yang lalu dan Hili Gowe huniannya berlangsung sekitar 260 ± 120 BP, yakni sekitar 380 — 140 tahun yang lalu. Hal itu memberi bukti bahwa migrasi dengan tradisi megalitiknya di Nias paling tua berlangsung pada sekitar abad 14 masehi.

Pada rentang waktu sebelum 12.000 tahun yang lalu dapat diasumsikan bahwa manusia di Nias hidup dengan teknologi yang lebih sederhana. Pada masa selanjutnya manusia hidup dengan memanfaatkan gua sebagai tempat tinggal dan berbagai aktivitas yang dilakukan. Dari dua data arkeologis yang ditemukan di Gua Togi Ndrawa dan Togi Bogi menunjukkan bahwa kedua gua itu mencirikan budaya (teknologi alat batu) yang sedikit berbeda. Konsep alat batu pada Togi Ndrawa masih jelas memperlihatkan kesinambungan budaya Hoabinh sedangkan di Gua Togi Bogi ada indikasi memiliki ciri budaya Toala, yang perkembangannya ditemukan di Sulawesi Selatan. Namun dari kedua gua tersebut menunjukkan bahwa manusia mesolitik ini memanfaatkan gua sebagai tempat tinggalnya hingga Pertengahan Mesehi. Hasil dating di situs-situs megalitik menunjukkan masa yang tidak terlalu tua yaitu sekitar 600 hingga 300 tahun yang lalu. Kalau kita runut hasil dating di situs-situs di Nias adalah sebagai berikut :

Masa

Waktu Berdasarkan Carbon Dating

Situs

Wilayah

Paleolitik


 

Muzoi
Nias bagian utara
Mesolitik

12170 ±400 B.P

7890 ± 120 B.P

4960 ± 130 B.P

3540 ± 100 B.P

2000 ± 120 B.P

1540± 100 B.P

1330± 80 B.P

950 ± 110 B.P

850 ± 90 B.P

Togi Ndrawa

Togi Ndrawa

Togi Bogi

Togi Ndrawa

Togi Bogi

Togi Ndrawa

Togi Ndrawa

Togi Bogi

Togi Ndrawa

Nias bagian utara

Nias bagian utara

Nias bagian utara

Nias bagian utara

Nias bagian utara

Nias bagian utara

Nias bagian utara

Nias bagian utara

Nias bagian utara

Megalitik

576 ± 30 B.P

340 ±120 B.P

260 ±120 B.P

Boronadu

Tundrumbaho

Hili Gowe

Nias bagian selatan

Nias bagian selatan

Nias bagian utara

 

III.2. Wilayah budaya

Wilayah budaya di Pulau Nias secara umum dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu wilayah budaya Nias bagian utara dan wilayah budaya Nias bagian selatan. Wilayah budaya Nias bagian utara secara umum daerahnya masuk kedalam wilayah administratif Kabupaten Nias dan wilayah budaya Nias bagian selatan secara umum masuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Nias Selatan. Wilayah sebaran budaya bagian utara hingga saat ini meliputi terminologi budaya dari pembabakan masa paleolitik, mesolitik hingga megalitik. Wilayah sebaran budaya bagian selatan hanya ditemukan sebaran budaya dari terminologi budaya masa megalitik, untuk masa paleolitik dan mesolitik hingga saat ini belum ditemukan. Dari hasil penelitian tersebut sementara dapat diasumsikan bahwa wilayah budaya bagian utara memiliki tinggalan budaya yang jauh lebih tua dibandingkan dengan wilayah budaya bagian selatan. tiga situs penting di wilayah budaya bagian utara yang mewakili kekunaan budaya tersebut yaitu Muzoi, Togi Ndrawa, dan Togi Bogi.

  Di wilayah budaya Nias bagian utara, pola hunian di gua Togi Ndrawa yang terakhir berlangsung sekitar 850 tahun yang lalu. Hal ini mengindikasikan bahwa kelompok masyarakat di wilayah Budaya Nias bagian utara tidak tinggal dalam gua setelah 1150 tahun yang lalu. Sedangkan dari dating pada sisa hunian megalitik di wilayah budaya Nias bagian utara yaitu di Hili Gowe berlangsung sejak 260 tahun yang lalu. Artinya ada rentang waktu sekitar 590 tahun dari pola hidup di dalam gua ke bentuk pola hidup dengan rumah yang berbentuk oval. Artinya sejak 590 tahun yang lalu manusia di wilayah budaya Nias bagian utara sudah mulai hidup di luar gua untuk kemudian berbudaya megalitik.

Dating yang dilakukan di situs-situs mesolitik dan megalitik yang ada di wilayah budaya Nias bagian utara tersebut dapat diasumsikan bahwa ketika masyarakat masih hidup di gua mereka mengembangkan kebudayaannya hingga ke masa selanjutnya yaitu dengan membuat bentuk hunian dengan arsitektur rumah panggung berbentuk oval. Hal lainnya yang dimungkinkan adalah adanya kelompok masyarakat lain yang telah tinggal bersamaan waktunya dengan masyarakat yang tinggal di gua atau setelah hunian di gua. Kelompok masyarakat ini membawa budaya megalitik yang memiliki bentuk budaya materi yang berbeda dengan budaya megalitik yang di wilayah budaya Nias bagian selatan. Pola hunian di wilayah budaya Nias bagian utara yang cenderung lebih menyebar dibandingkan dengan hunian di wilayah budaya Nias bagian selatan menunjukkan karakter budaya materialnya memiliki konsep budaya yang berbeda di kedua wilayah budaya tersebut. Selain itu adanya pandangan kosmologis yang berbeda di antara kedua wilayah budaya tersebut semakin menguatkan asumsi bahwa kelompok masyarakat di kedua wilayah budaya Nias tersebut berbeda.

Di wilayah budaya Nias bagian selatan sampai saat ini hanya meninggalkan budaya megalitik yang dimulai sekitar 600 tahun yang lalu. Dari folklor yang berkembang di masyarakat menunjukkan bahwa hunian yang paling awal menjadi tempat turunnya salah satu leluhur orang Nias adalah di Gomo, setelah itu barulah di Nias bagian utara (Kabupaten Nias). Dari hasil dating dan uraian folklor tersebut memunculkan asumsi bahwa hunian di wilayah budaya Nias bagian selatan lebih tua dibandingkan dengan hunian di wilayah budaya Nias bagian utara, sehingga budaya megalitik yang merupakan pembabakan budaya folklor tersebut pada awalnya di wilayah budaya Nias bagian selatan untuk kemudian menyebar ke wilayah budaya Nias bagian utara.

Dating yang ada di wilayah budaya Nias bagian selatan menunjukkan bahwa sejak sekitar 600 tahun yang lalu budaya megalitik menyebar hingga ke wilayah budaya Nias bagian utara sampai 260 tahun yang lalu (bahkan setelah masa itu). Dapat dikatakan bahwa proses penyebaran budaya tersebut berkisar di antara rentang waktu itu. Kalau diperhatikan dari sebagian budaya material yang ada di wilayah budaya Nias bagian utara menunjukkan bahwa sebagian besar dari budaya yang ada di wilayah budaya Nias bagian utara tersebut mendapat pengaruh dari budaya megalitik yang berasal dari wilayah budaya Nias bagian selatan.

IV. Penutup

Bahwa Pulau Nias sudah dihuni sebelum 12.000 tahun yang lalu sebelum hunian yang ada di Gua Togi Ndrawa. Hal ini diindikasikan dari teknologi peralatan batu Muzoi yang lebih tua dari teknologi pada budaya di Gua Togi Ndrawa.

Cara hidup dengan memanfatkan gua sebagai tempat tinggal berlangsung cukup lama yaitu sekitar 12.000 tahun yang lalu hingga 850 tahun yang lalu, artinya hunian di gua dari sebelum masehi hingga pertengahan tahun masehi.

Wilayah budaya prasejarah Nias terbagi atas dua yaitu wilayah budaya Nias bagian utara, yang arealnya pada umumnya masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Nias dengan terminologi budaya paleolitik, mesolitik hingga megalitik sedangkan bagi wilayah budaya Nias bagian selatan yang umumnya masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Nias Selatan hanya berupa budaya megalitik saja.

Diasumsikan budaya masyarakat Nias dari hasil dating yaitu sekitar 850 tahun yang lalu, bahwa ketika masyarakat di wilayah budaya Nias bagian utara masih tinggal di gua dengan budaya mesolitik, maka budaya megalitik belum menyentuh kehidupan masyarakatnya. Setelah 250 tahun kemudian barulah muncul hunian yang bercorak budaya megalitik di wilayah budaya Nias bagian selatan.

Dari dating pada situs-situs megalitik di dua wilayah budaya tersebut menunjukkan bahwa situs megalitik di wilayah budaya Nias bagian selatan lebih tua dibandingkan dengan situs di wilayah budaya Nias bagian utara. Kisaran waktu di wilayah budaya Nias bagian selatan berlangsung sekitar 600 tahun yang lalu sedangkan di wilayah budaya Nias bagian utara berlangsung sekitar 260 tahun yang lalu. Adanya persamaan budaya material dan imaterial antara kedua wilayah itu memunculkan asumsi bahwa tradisi megalitik di wilayah budaya bagian utara berasal dari wilayah budaya Nias bagian selatan. Sedangkan perbedaan budaya material seperti rumah adat, pola hunian, dan kosmologis mengindikasikan bahwa kedua wilayah budaya itu merupakan kelompok masyarakat yang awalnya berbeda.

Kepustakaan

Bellwood, Peter, 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Daeng.J, Mans. 2005. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan, Tinjauan Antropologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Danandjaja, James. 2002. Folklor
Indonesia: llmu Gosip, Dongeng dan Lain-lain.Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Djubiantono, T, 1985. Posisi Stratigrafi Artefak di Lembah Muzoi, dalam PIA III. Jakarta: PuslitArkenas, hal. 1026–1033.

Driwantoro, Dubel, dkk, 2003. Potensi Tinggalan – Tinggalan Arkeologi di Pulau Nias, Prov. Sumatera Utara. Jakarta: Puslit Arkenas dan IRD (tidak diterbitkan).

Hammerle. P. Johannes 2001. Asal Usul Masyarakat Nias, Suatu Interpretasi. Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias.

Soejono, R.P. (ed.), 1990. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Wiradnyana, K., Nenggih S. & Lucas. P. K, 2002. Gua Togi Ndrawa, Hunian Mesolitik di Pulau Nias, dalam Berita Penelitian Arkeologi No. 8. Medan: Balai Arkeologi Medan.

Wiradnyana, Ketut. Dominique Guillaud & Hubert Forestier, 2006. Laporan Penelitian Arkeologi, Situs Arkeologi di Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara. Medan: Balar Medan dan IRD (belum diterbitkan).

Wiradnyana, Ketut & Dominique Guillaud, 2007. Laporan Penelitian Etno-Arkeologi, Situs Arkeologi di Pulau Nias, Provinsi Sumatera Utara. Medan: Balar Medan dan IRD (belum diterbitkan).

Written by balarmedan

Januari 8, 2009 pada 3:18 am

Ditulis dalam Uncategorized

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. TERIMAKASIH IFORMASI DAN TULISANNYA. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK, DINAMIKA KEHIDUPAN, KEBUDAYAAN MASYARAKAT SUKU PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM
    http://boeangsaoet.wordpress.com

    SAUT BOANGMANALU

    Januari 18, 2010 at 7:05 am

  2. Pak Ketut, terimakasih untuk tulisannya. meskipun baru saya baca. persoalannya ialah : bagaimana benda2 dan situs arkeologis yang mengandung pengetahuan tentang apa, siapa, dimana, mengapa dan bagaimana dari suatu latar belakang peradaban masyarakat lama dapat menarik perhatian masyarakat kini lalu mengetahui, mengerti, memahami bagaimana gambaran peradaban 12ribu tahun, 600ribu tahun, dan 150 tahun yang lalu itu dari informasi interpretatif, baik yang ada “in situ” maupun melalui media tertulis sekunder. contoh : kalau setiap benda megalitik di desa Bawomatoluwo ada informasi interpretatifnya, bukankah wisatawan akan lebih tertarik untuk mengetahui benda2 tersebut yang menggambarkan latar belakang masyarakat Bawomatoluwo sejak awal membangunnya.

    salam

    Rijadi Joedodibroto

    Desember 18, 2013 at 5:07 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: