Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

NISAN PLAKPLING, TIPE NISAN PERALIHAN DARI PRA- ISLAM KE ISLAM

with one comment

Repelita Wahyu Oetomo

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

The plakpling gravestone type spreaded a lot in Aceh, which is quiet possible that it’s a change of type from pre Islam to Islam era. From the inscriptions on it’s surface, this gravestone was assumed that it’s older than other gravestones.

 

Kata kunci: plakpling, nisan, pra- Islam ke Islam

 

I. Pendahuluan

Di Kabupatan Aceh Besar, tepatnya di dalam Benteng Kuta Lubuk, Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya terdapat beberapa buah nisan yang memiliki bentuk unik. Batu nisan tersebut secara umum berbentuk batu tegak atau tugu persegi empat yang semakin ke atas semakin meruncing, membentuk piramida. Berdasarkan informasi penduduk, batu nisan tersebut dinamakan nisan Plakpling (Montana,1996/1997:86). Sebutan Plakpling, berdasarkan suatu nama tempat di Aceh, dimana banyak terdapat, tipe-tipe nisan sejenis. Batu-batu nisan tersebut kemungkinan merupakan bentuk peralihan dari masa pra-Islam ke Islam. Penulis mendapatkan data-data sejenis saat melakukan pengamatan di Kabupaten Aceh Besar bersama Tim Penelitian yang diketuai M. Cholid Sodrie. Seperti halnya penulis lainnya, Cholid Sodrie sependapat bahwa nisan-nisan tersebut digunakan pada makam orang-orang ternama atau ulama Aceh yang berasal dari abad ke-16 atau lebih awal dari itu.

Hasil pembacaan yang dilakukan oleh Suwedi Montana terhadap beberapa nisan yang terdapat di dalam Benteng Kuta Lubuk menunjukkan angka tertua adalah 680 H (1211 M) (Montana,1997:86). Pertanggalan tersebut menunjukkan umur yang lebih tua dibandingkan dengan nisan Sultan Malik as-Shaleh di Samudera Pasai -berangka tahun 696 H (1297 M)- yang dikenal sebagai daerah asal mula penyebaran Islam.

Nisan-nisan tipe ini banyak tersebar di hampir semua tempat di Aceh. Bentuk nisan ini cukup unik karena cenderung lebih menyerupai lingga ataupun menhir. Bentuk-bentuk penyesuaian dari masa pra-Islam ke Islam. Nisan-nisan tersebut merupakan kelanjutan atau bersumber pada tradisi sebelumnya, prasejarah dan klasik. Nisan tersebut dilengkapi dengan pola hias, berupa pahatan flora, geometris atau kaligrafi. Nisan-nisan tersebut meniru/menyerupai bentuk menhir atau lingga yang sangat umum dipakai pada masa prasejarah dan masa klasik/Hindu-Buddha.

II. Nisan-nisan plakpling di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Besar

II.1. Nisan di Kompleks Makam Ratu Nahrisyah

Kompleks makam ini berada di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Bagian bawah nisan berukuran, lebar 14 cm, dengan ketinggian mencapai 80 cm.

Dasar: tertanam dalam tanah.

Badan bagian bawah: persegiempat, di tiap sisi terdapat panil-panil berisi kaligrafi.

Badan bagian atas: terdapat
hiasan dengan sulur-suluran sederhana dengan motif bungong awan si tangke (unsur tunggal hiasan awan). Di bagian tengah terdapat panil yang dibiarkan dalam keadaan kosong. Terpisah dari bagian kepala terdapat panil horisontal berisi ukiran bungong aneu abie (berudu).

Kepala: menyerupai
bentuk
bawang/ojief persegi empat.

Atap: persegi empat, bersusun tiga, semakin ke atas semakin mengecil.

II.2. Nisan di Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar

 

 

Nisan 1

Terletak di dalam Benteng Kuta Lubuk. Nisan berukuran tinggi sekitar 80 cm.

Badan bagian bawah: berbentuk persegi empat berukuran 20 cm. Tiap sisi terdapat panil yang berisi hiasan berupa kaligrafi maupun motif sulur-suluran.

Badan bagian atas: semakin ke atas nisan semakin mengecil (piramid). Pada setiap sisi terdapat ukiran dengan motif sulur-suluran bungong awan ( awan, sulur atau hiasan) di keempat sisi dengan gaya cukup meriah.

Atap: meruncing tanpa hiasan/polos.

Nisan 2


Badan bagian bawah: persegiempat dengan sisi-sisinya tidak tajam. Tidak terdapat hiasan.

Badan bagian atas: dibatasi oleh pelipit, berbentuk persegiempat polos.

Kepala: dibatasi oleh pelipit, semakin ke atas semakin mengecil, polos.

Atap: persegiempat semakin ke atas semakin mengecil.

 

 

Nisan 3

Dasar: polos, berukuran lebih besar dibandingkan dengan bagian di atasnya. Dipahat kasar, berkaitan peletakannya, di dasar tanah/tertanam. Bahan baku yang digunakan berkualitas kurang baik, mengakibatkan pembentukannya menjadi kurang sempurna dan gampang pecah.

Badan bagian bawah: polos dengan pahatan lebih rapi dibandingkan bagian bawahnya/dasar.

Badan bagian atas: terdapat panil berisi
ukiran dengan motif bungong awan, demikian juga dengan sisi yang lain.

Atap/kepala: berbentuk oval, horisontal.

 

 

 

Nisan 4

Yang tampak adalah bagian badan atas dan atap/kepala, adapun bagian lain tertanam dalam tanah. Nisan terbuat dari batuan yang rapuh sehingga sebagian hiasannya aus.

Badan bagian atas: hiasan terdapat pada keempat sisinya. Di tiap sisi terdapat panil yang membatasi masing-masing hiasan. Pola hias yang digunakan adalah sulur-suluran sederhana pada keempat sisinya.

Kepala: berbentuk bawang, polos.

Atap/puncak: sebagian
telah pecah, semakin ke atas semakin mengecil.

Nisan 5

Kondisinya relatif utuh, terbuat dari jenis batuan andesit, dihias dengan motif sederhana namun cukup menarik. Tinggi keseluruhan nisan diperkirakan sekitar 85 cm.

Dasar: merupakan bagian yang tertanam di dalam tanah, dibentuk namun kasar.

Badan bagian bawah: bentuk yang membatasinya dari bagian dasar. Badan bagian bawah merupakan kubus dengan ukuran lebar sekitar 20 cm. Pada tiap-tiap sisi terdapat panil, dimana panil tersebut dibagi menjadi tiga. Pada masing-masing panil, pada keempat sisinya terdapat kaligrafi.

Badan bagian atas: dihiasi dengan empat susun ukiran dengan motif bungong awan si tangke dan bungong glimo (bunga buah delima). Ukiran dengan motif tersebut di atas juga terdapat pada sisi-sisi lainnya. Di bagian sudut ukiran dibuat menembus pada sisi lainnya sehingga pada bagian sudut hiasan tampak menyatu. Makin ke atas nisan makin mengecil.

Kepala: berbentuk bawang dengan sisi persegiempat.

Atap: berbentuk piramid semakin ke atas semakin mengecil.

 

 

 

Nisan 6

Fragmentaris, yang tersisa hanya badan bagian atas dan atap/kepala.

Badan bagian atas: di tiap-tiap sudut terdapat panil. Di dalamnya terdapat hiasan berupa bungong awan dan keupula/seuleupo (tanjung/corak bunga yang lain).
Ukiran tersebut merambat sampai ke bagian atas. Di bagian atas nisan semakin mengecil.

Atap/puncak: persegiempat dan semakin ke atas makin mengecil.

 

 

Nisan 7

Berbahan dasar batuan andesit.

Dasar: dipahat tidak rapi, mengingat keletakannya berada di dalam tanah. Sebagai pembatas dari bagian bawah terdapat pelipit.

Badan bagian bawah: dibatasi oleh pelipit dari bagian dasarnya. Ketebalan tiap-tiap sisi 20 cm. Terdapat panil di tiap-tiap sisi. Dua sisi yang bertolak belakang panil dihiasi dengan ukiran bermotif bungong keupula (tanjung/lotus)
atau bunga teratai yang sedang mekar, dua sisi lainnya dihiasi dengan motif bungong keupula yang sedang kuncup .

Badan bagian atas: terdapat hiasan
dengan
motif hias berupa bungong awan sambung-menyambung sebanyak tiga susun.

Atap: dibatasi pelipit berbentuk bawang.

Nisan 8

Berbahan batuan kapur, berwarna putih kekuningan.

Dasar: dikerjakan tidak rapi mengingat posisinya tertanam dalam tanah. Membatasi dengan bagian badan terdapat dua lapis pelipit.

Badan bagian bawah: terdapat panil pada keempat sisinya yang masing-masing berisi kaligrafi. Kaligrafi dalam kondisi telah aus sehingga menyulitkan pembacaan.

Badan bagian atas: terdapat panil yang di dalamnya berisi hiasan berupa bungong awan tersusun sebanyak tiga tingkat sampai ke bagian atas.

Kepala/atap: berbentuk oval, horisontal. Bagian atas/atap berbentuk bawang, semakin ke atas makin mengecil.

 

 

 

Nisan 9

Fragmentaris, yang tersisa hanyalah badan bagian bawah, sedangkan bagian dasarnya tertanam dalam tanah. Bagian bawah nisan persegi empat berukuran, lebar 14 cm, dengan ketinggian hanya sekitar 20 cm.

Bagian dasar dibatasi oleh pelipit dan panil-panil di tiap-tiap sisi, yang didalamnya terdapat ukiran dengan motif berupa bungong awan pada dua sisi, sedang dua sisi yang lain dihiasi dengan motif bungong keupula (teratai yang mekar). Pada bagian atas pecah sehingga tidak diketahui motif hiasnya.

 

 

Nisan 10

Fragmentaris, yang tersisa hanyalah badan bagian bawah, sedangkan bagian dasarnya tertanam dalam tanah. Fragmen nisan ini berbentuk persegi empat dengan lebar tiap sisi 12 cm. Adapun tinggi nisan dari permukaan tanah hanya sekitar 20 cm.

Bagian dasar dibatasi oleh pelipit dan panil-panil di tiap-tiap sisi, yang didalamnya terdapat ukiran dengan motif bungong awan, bungon keupula serta motif-motif geometris lain yang tidak diketahui karena kondisinya telah aus. Motif-motif hias ini dibatasi dengan pelipit/panil, sedangkan di bagian atasnya masih terdapat motif hias berupa sulur yang kondisinya agak aus.

 

 

Nisan 11

Kondisi nisan telah rebah dan tertanam dalam tanah. Yang tampak di permukaan adalah sebagian dasarnya, badan bagian bawah dan badan bagian atas.

Dasar: merupakan sebagian potongan. Berukuran lebih lebar dibandingkan bagian atasnya dan dipahat tidak rapi, karena keletakannya tertanam dalam tanah.

Badan bagian bawah: persegiempat. Berukuran lebar tiap sisi sekitar 14 cm. Di bagian bawah tiap sisi terdapat panil dengan tinggi sekitar 12 cm. Pada masing-masing panil terdapat ukiran dengan motif hias berupa flora.

Badan bagian atas: berada pada panil berikutnya. Motif hias yang tampak hanya sebagian dengan motif hias berupa bungong awan, bungong puta taloe dua (pilinan dua utas tali) dan bungong seuleupo.

 

 

Nisan 12

Nisan telah rebah dan tertanam dalam tanah. Bagian atasnya bahkan tampak telah patah.

Dasar: relatif utuh, walaupun sebagian terbenam dalam tanah. Menilik ukurannya, bagian dasar nisan berukuran lebih besar dibandingkan bagian badannya, dengan pahatan yang tidak rapi.

Badan bagian bawah: persegiempat, terdapat bidang yang dibatasi oleh panil di keempat sisi, berukuran lebar 14 cm dan tinggi 12 cm. Pada panil-panil itu terdapat hiasan berupa sulur-suluran yang agak aus.

Badan bagian atas: dibatasi juga dengan panil-panil di keempat sisi. Di bagian ini tampak ukuran nisan semakin mengecil/mengerucut. Kemungkinan bagian ini dibatasi juga dengan panil-panil. Motif hias yang digunakan tidak diketahui, kemungkinan bungong awan dipadukan dengan bungong seuleupo.

Atap/kepala: kondisinya telah patah dan bagian patahannya terletak tidak jauh dari bagian nisan tersebut. Pola hias dan bentuk yang digunakan tidak diketahui.

III. Pembahasan

Sejarah Aceh menyebutkan, sebelum Kerajaan Pasai, yang dipimpin oleh Sultan Malik as-Shaleh, sudah terdapat kerajaan Islam dengan rajanya bergelar Sultan, dengan nama Sultan Johansyah yang memerintah pada tahun 1205 M. Makam sultan ini terletak di Kompleks Makam Kampung Pande, di Kota Banda Aceh. Walaupun pada makam tersebut tidak terdapat angka tahun namun apabila dilihat dari bentuk nisannya kemungkinan memiliki umur lebih tua. Pada nisan tersebut terukir kaligrafi dengan huruf khat, dengan beragam ukiran dan bentuk nisan lebih menyerupai bentuk candi atau gading.

Makam tokoh Pahlawan Syah, juga menggunakan nisan tipe ini. Pahlawan Syah dianggap merupakan musuh dari Meureuhom Daya yang mulanya menolak masuk Islam. Pahlawan Syah disebut juga dengan sebutan Datuk Pegu, atau Husein. Cerita ini sangat berkembang di masyarakat. Pada nisan Pahlawan Syah terdapat pertulisan/kaligrafi yang menyebutkan nama Husein serta angka tahun kata ” Tis’in wasab’a mi’ah” atau sembilan puluh dan tujuh ratus 790 H (1388 M). Pada nisan tersebut juga terdapat medali yang mirip dengan soleil de Majapahit (Montana,1997:90)

Pertulisan yang terdapat pada nisan tipe plakpling di kompleks makam benteng Kuta Lubuk juga menunjukkan angka tahun yang cukup tua, pembacaan yang dilakukan oleh Suwedi Montana terhadap salah satu nisan menghasilkan data berupa angka tahun sebagai berikut:

….assulthan Sulaiman bin Abdullah bin al Basyir

Tsamaniata wa sita mi’ah

680 H ( 1211 M)

Lebih jauh Suwedi Montana menyebutkan, apabila kematian Sultan Sulaiman bin Abdullah bin Al Basyir adalah pada tahun Tsamaniata wa sita mi’ah, 680 H (1211 M), berarti jauh sebelum itu di Lamreh, lokasi benteng Kuta Lubuk, sudah berkembang Agama Islam. Hal ini diketahui dari nama ayah dan kakek Sultan Sulaiman (Abdullah bin Basyir) yang berbau Islam (Montana,1997:87).

Tumbuh dan berkembangnya budaya Islam di Nusantara, menghasilkan dan meninggalkan peradaban yang secara ideologis bersumber pada Alqur’an dan Al-hadist. Sementara itu secara fisik memperlihatkan anasir kesinambungan dengan anasir budaya pra-Islam. Corak lokal merupakan wujud dari kebebasan seniman ataupun model yang berkembang dalam mengekspresikan cita rasa keseniannya. Perkembangan bentuk dari yang sederhana sampai pada yang rumit adalah sebagai respon dari pengetahuan, teknologi yang mereka peroleh (Ambary,1991:1).

Menilik bentuk dari nisan-nisan tipe ini, kemungkinan nisan ini merupakan tipe nisan yang dipakai berkelanjutan, mulai dari masa-masa awal kedatangan Islam sampai pada beberapa abad sesudahnya. Nisan tipe ini masih digunakan berdampingan dengan periode sesudahnya, walaupun pada masa itu telah terjadi perubahan trend tipe nisan, yaitu nisan tipe Gujarat atau tipe-tipe “Batu Aceh” lainnya.

Menilik pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa nisan-nisan dengan tipe plakpling, merupakan nisan-nisan tipe peralihan, pra-Islam ke Islam. Batu nisan tipe ini berbentuk sederhana, sebelum dipakainya batu nisan yang disebut “Batu Aceh”, (nisan tipe Aceh). Batu-batu ini umumnya memiliki gaya sederhana namun diberi hiasan berupa relief dan/atau inskripsi. Nisan tipe ini merupakan awal perkembangan, melanjutkan tradisi yang telah ada sebelumnya. Bentuk nisan seperti mengadopsi bentuk-bentuk phallus/Lingga, meru dan menhir dengan hiasan-hiasan yang disesuaikan. Bentuk/tipe-tipe nisan seperti ini banyak terdapat di Sumatera Barat, di tempat-tempat lain persamaan dari bentuk-bentuk nisan tersebut, di situs-situs megalithik, dikenal sebagai menhir. Tipe-tipe nisan tersebut di atas, menunjukkan pengaruh yang sangat kental dari tradisi-tradisi megalithis dan Hinduistis. Adapun bentuk-bentuk motif hiasan yang dipakai kemungkinan merupakan perpaduan dari budaya tersebut.

Salah satu penyebab munculnya nisan tipe plakpling adalah karena latar belakang sejarah budaya nusantara yang permisive terhadap anasir apapun yang datang dari luar. Masyarakat nusantara tidak pernah menolak anasir asing, tetapi harus melewati pengolahan, pengimbuhan, penggubahan dsb. Kreativitas mengubah dan menggubah anasir asing menjadi anasir nusantara merupakan strategi adaptasi, karena proses seleksi sampai disosialisasikan sebagai pranata perilaku. Sejarah membuktikan bahwa ketangguhan dan kemampuan seleksi serta adaptasi bangsa Indonesia lebih bersifat alamiah, intuitif dan handal (Ambary,1991:21). Dengan modifikasi bentuk dan gaya, nisan Malik At-Thahir dapat digolongkan menjadi tipe ini, mengingat bentuknya berupa tugu tegak, dengan bagian kepala/atap berbentuk bawang.

IV. Penutup

Nisan plakpling terdapat hampir di seluruh wilayah Aceh, dengan populasi terbanyak adalah di Kabupaten Aceh Besar dan Banda Aceh yang notabene masih bertetangga. Untuk itu diperlukan penelitian lebih mendalam untuk mengetahui variasi bentuknya, pola hias, periodisasi serta persebarannya. Diharapkan melalui penelitian yang lebih mendalam akan diketahui secara pasti keberadaan nisan tipe ini, mengingat nisan-nisan ini merupakan merupakan temuan yang sangat penting, menghubungkan kesenjangan yang ada antara tradisi pra Islam ke Islam.

Kepustakaan

Akbar, Ali, 1990. Peranan Kerajaan Islam Samudera – Pasai Sebagai Pusat Pengembangan Islam Di Nusantara. Lhok Seumawe: Pemda Tk II
Kabupaten
Aceh Utara

Ambari, Hasan M. 1991. Makam-makam Kesultanan dan Para Wali Penyebar Islam di Pulau Jawa, dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 12. Jakarta: Puslitarkenas

——————–1994. Some Aspects of Islamic Architecture in Indonesia,
dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 14. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

——————–1996. Makam-makam Islam di Aceh, dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 19. Jakarta: Puslitarkenas

——————–1997. Kaligrafi Islam Di Indonesia, Telaah Dari Data Arkeologi, dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 20. Jakarta: Puslitarkenas.

Montana, Suwedi, 1996/1997. Pandangan Lain Tentang Letak Lamuri Dan Barat (Batu Nisan Abad Ke VII – VIII Hijriyah di Lamreh dan Lamno, Aceh), dalam Kebudayaan No 12 th VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hal. 83–93

Perret, Daniel dan Kamarudin Ab. Razak, 1999. Batu Aceh, Warisan Sejarah Johor. Johor Bahru: EFEO dan Yayasan Warisan Johor

Yatim, DR. Othman Mhd, 1988. Batu Aceh, Early Islamic Gravestones in Peninsular Malaysia. Kuala Lumpur: Museum Association of Malaysia c/o Muzium Negara

———————-dan Abdul Halim Nasir, 1990. Epigrafi Islam Terawal Di Nusantara. Selangor: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka

Written by balarmedan

Januari 8, 2009 pada 3:37 am

Ditulis dalam Uncategorized

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. mari kita survei lebih banyak lagi batu aceh di banda aceh dan aceh besar

    fajar4321

    Desember 30, 2009 at 1:54 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: