Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

LUBANG JEPANG: KUBU PERTAHANAN PASUKAN JEPANG DI KABUPATEN BATUBARA

with one comment

Jufrida

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

Japanese pillboxes in Batubara regency is one of the Japan’s effort of defense in face out the enemy. The type of it is as same as anothers in coastal area and other region in Indonesia.

 

Kata kunci:
lubang Jepang,
kubu pertahanan, Batubara

 

I. Pendahuluan

Di tepi pantai Desa Parupuk, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera Utara terdapat tinggalan arkeologis berupa kubu pertahanan yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai Lubang Jepang. Menurut informasi masyarakat setempat Lubang Jepang tersebut terdiri dari tujuh bangunan. Namun karena posisinya yang terletak di tepi pantai maka sebagian bangunan sudah hilang akibat terkikis air laut dan tinggal tiga bangunan yang tersisa. Dari tiga bangunan tersebut hanya satu yang masih dalam kondisi utuh sehingga dijadikan sebagai sampel dalam kesempatan ini.

Pentingnya tinggalan tersebut berkaitan dengan sejarah yang melatar belakanginya. Dalam beberapa tulisan disebutkan bahwa pendaratan pasukan Jepang di Sumatera Utara berada di wilayah yang kini secara administratif masuk ke dalam Kabupaten Batubara. Kemudian disebutkan pasukan Jepang tersebut menyebar ke Tebing Tinggi, Medan, Pematang Siantar bahkan hingga ke Padang dan ke daerah lainnya. Sejumlah kesatuan pasukan Jepang yang menyerbu ke daerah Sumatera Utara dipimpin oleh Jenderal Nishimura. Untuk mempertahankan wilayah dari pasukan Belanda yang masih di Indonesia, maupun serangan Sekutu maka pasukan Jepang membuat beberapa kubu pertahanan di daerah ini.

Seperti diketahui bahwa Jepang juga membangun beberapa kubu pertahanan di beberapa tempat yang letaknya tidak hanya di bagian pesisir tetapi juga di dataran tinggi. Untuk mencari persamaan atau perbedaannya Lubang Jepang tersebut juga dibandingkan dengan kubu pertahanan Jepang yang terdapat di tempat lain, salah satunya adalah di Pulau We yang masuk ke dalam wilayah administrasi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

II. Lubang Jepang di Batubara

Untuk menuju ke lubang Jepang di Desa Parupuk ini harus melalui kota Tanjung Tiram. Sebelum menuju kota tersebut ditemukan persimpangan jalan, kemudian dari sana ke arah barat lebih kurang 3 km, dan belok ke arah utara ditemukan kawasan wisata Pantai Sejarah. Di kawasan itu pada jalan yang menuju ke Desa Parupuk terdapat sebuah bangunan yang disebut oleh masyarakat setempat dengan nama Lubang Jepang. Lubang Jepang itu dibangun oleh pasukan Jepang diperuntukkan sebagai kubu pertahanan.

Posisi Lubang Jepang berada di pinggir jalan Desa Parupuk. Di bagian utara bangunan itu terdapat perumahan penduduk dan pantai, di bagian selatan merupakan perumahan penduduk. Kemudian di bagian barat terletak jalan desa sedangkan di bagian timur terdapat perumahan penduduk, tambak, pantai, dan laut. Di sekitar bangunan ditumbuhi ilalang (Imperata cylindrica) dan pohon kelapa (Cocos nucifera), pohon pisang (Musa paradisaca), dan disekitar pantai terdapat hutan bakau (Rhizophora).

Lubang Jepang yang berdenah persegienam, kondisinya relatif utuh dengan orientasi baratlaut–tenggara dengan bagian depan menghadap baratlaut. Lubang Jepang lainnya disebut bangunan 2 berada di bagian baratdaya berjarak sekitar 600 m dari bangunan 1, sekarang bangunan itu dijadikan sebagai tempat sampah, di bagian timurlaut sekitar 200 m terdapat bangunan 3 dijadikan sebagai kandang hewan ternak, sedangkan bangunan lainnya sudah hancur terkikis air laut.


 Bangunan 1 dindingnya terbuat dari bahan campuran semen, kerakal, dan kerikil secara keseluruhan berukuran 2,66 m x 4,82 m x 1,70 m. Di bagian belakang bangunan terdapat lubang untuk pintu menuju ke dalam bangunan. Pintu tersebut kini sudah tidak ada lagi yang tersisa hanya sebuah engsel (gantungan pintu) yang berada pada bagian atas berukuran 0,20 m x 0,20 m. Adapun ukuran lubang pintu tersebut 1,50 m x 0,76 m. Kemudian lubang di bagian depan berukuran 0,80 m x 0,20 m. Di atas bangunan ini terdapat dua buah tabung besi masing-masing berukuran tinggi 0,40 m dengan diameter 0,11 m yang menonjol ke atas bangunan. Kemungkinan berfungsi sebagai ventilasi dan penerangan dalam ruangan.

Di bagian dalam bangunan terdapat dinding tembok pemisah antara ruangan belakang dengan ruangan depan. Di ruangan depan terdapat lantai yang ditinggikan berbentuk empatpersegi panjang posisinya sejajar dengan lubang pengintaian. Kemungkinan tempat tersebut berfungsi sebagai tempat pengintaian.

Informasi masyarakat setempat menyebutkan bahwa beberapa Lubang Jepang yang dibangun terdiri dua bentuk bangunan. Disebutkan bahwa bangunan yang berada di sekitar pantai seperti bangunan 3 memiliki lubang atau terowongan untuk menuju ke arah pantai. Namun kini terowongan tersebut sudah tidak ditemukan lagi. Kemudian bangunan yang agak jauh dari pantai seperti bangunan 1 dan bangunan 2 tidak memiliki terowongan.

Selain lubang Jepang juga terdapat sisa bangunan bersemen dan berlubang berbentuk persegiempat yang terdapat di bagian timurlaut sekitar 150 m dari Lubang Jepang, di depan sebuah bengkel sekarang. Batu berukuran 0,30 m x 0,30 m x 0,45 m ini mempunyai lubang yang berdiameter 0,10 m yang berada ditengah-tengah dan di bagian bawah terdapat bentuk setengah lingkaran.

Menurut informasi masyarakat sisa bangunan bersemen itu disusun ke atas secara vertikal dengan bagian setengah lingkarannya bertemu dengan bagian lain sehingga membentuk lingkaran. Kemudian diletakkan di antara batang pohon kelapa yang didirikan secara vertikal sehingga membentuk benteng pertahanan.

III. Benteng-benteng di Pulau We sebagai perbandingan

Pulau We kini masuk dalam wilayah administrasi Kotamadya Sabang, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pada bagian tepi pantai Pulau We banyak tersebar benteng pertahanan yang dibangun pada masa pendudukan Jepang. Masyarakat setempat menyebut benteng-benteng tersebut dengan Lograk (Tim Penelitian,1996/1997:19–20). Benteng tersebut terdapat hampir di seluruh daerah pesisir pulaunya, terutama di bagian timur pulau yang langsung berhadapan dengan Selat Malaka, ditemukan benteng dengan jarak sekitar 2 km. Beberapa benteng juga dibangun di dataran tinggi seperti benteng Batre A, B,C. Benteng tersebut letaknya agak jauh dari pantai namun dari tempat itu dapat memantau Teluk Sabang (Tim Penelitian,1996/1997:5–6,13–15). Benteng-benteng lain yang terletak di tepi pantai antara lain benteng Anoi Hitam, benteng Ujung Karang, benteng Ie Meulee (Tim Penelitian,1996/1997:7–12).

Benteng Batre A terletak di Kelurahan Anou Laut Kecamatan Suka Karya. Berada di perbukitan yang posisinya menghadap ke Teluk Sabang. Pada areal yang paling tinggi dari situs ini terdapat bak air, bersekat-sekat tetapi tidak beratap seperti sebuah kamar mandi. Kemudian pada bagian depan bak ini terdapat saluran yang menuju ke samping bangunan utama.

Bangunan utama merupakan bangunan yang dibuat dengan memangkas tanah bukit. Bangunan ini memiliki tiga buah ruangan, salah satu ruangan yang berukuran lebih besar mempunyai jendela. Di depan bangunan ini terdapat jalan, dan jalan tersebut menuju ke dua arah. Jalan-jalan ini menghubungkan antara bangunan dengan pos-pos penjagaan benteng. Pada salah satu ujung jalan terdapat meriam dan di pos penjagaan tersebut terdapat tembok setinggi 0,5 m, pada salah satu ujung tembok terdapat lapisan beton seperti pada atap bangunan pengintaian. Kemungkinan bangunan tersebut sebagai tempat pengintaian.

Benteng Batre B Untuk menuju bangunan tersebut dilakukan dengan menyisir pinggir jurang dan dijalan tersebut di temukan dua buah gua tanah, jarak antara gua satu dengan lainnya sekitar 25 m. Terdapat bangunan utama dan bangunan lain yang lebih kecil. Bangunan utama memiliki empat ruangan. Pada bagian atap bangunan dibuat datar dan dulunya ditempatkan sebuah meriam. Pada bagian luar lantai bawah terdapat lubang-lubang persegiempat dan berjeruji.

Benteng Batre C terletak di Desa Cot Ba’u Kecamatan Sukajaya Kotamadya Sabang. Benteng ini terletak di atas bukit, bangunannya berdenah persegiempat dengan ukuran 19 m x 19 m x 2,5 m dan ketebalan tembok 0,5 m. Tembok bangunan berbahan batuan andesit dan batu kapur dengan spesi semen. Benteng ini terdiri atas empat bangunan yang berjajar membentuk denah persegiempat. Benteng Batre C merupakan benteng yang utama dari ketiga benteng Batre A, B, dan C. Pada bangunan yang paling besar di kompleks tersebut memiliki tiga buah pintu masuk. Pada samping kiri dan kanan pintu masuk di bagian tengah terdapat masing-masing satu buah jendela. Terdapat empat buah ruang dengan ukuran berkisar 2,5 m x 4 m. Tiga buah bangunan lainnya memiliki bentuk dasar yang sama yaitu terdapat sekat-sekat di bagian dalam ruangannya. Dua buah bangunan yaitu yang terdapat di sudut Utara dan Barat diletakkan menghadap ke Teluk Sabang dan masing-masing memiliki jendela sebanyak empat buah berbentuk persegiempat. Di depan ruangan keempat bangunan tersebut terdapat lorong selebar kurang lebih 1,5 m. Pada atap bangunan terdapat cerobong yang kemungkinan berfungsi sebagai ventilasi.

Benteng Anoi Hitam merupakan benteng pengintai yang terletak di Kelurahan Anoi Hitam, Kecamatan Suka Jaya. Benteng ini memiliki tiga buah bangunan, dan sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat pengintaian yang diletakkan di pinggir laut pada sebuah ketinggian. Bangunan pertama ini berdenah persegiempat dengan bagian depan bangunannya berdenah setengah lingkaran. Di dalamnya terdapat tiga ruangan, sebuah ruangan berada di tengah dan ukurannya lebih luas dibandingkan ruangan lainnya. Ruangan tersebut berfungsi sebagai tempat meriam. Pada saat penelitian meriam tersebut terdapat di bawah pintu masuk bangunan tersebut. Kemudian ruangan lain mengapit ruangan utama memiliki ukuran yang lebih kecil serta keletakkannya agak ke bawah dari tanah sekitarnya. Ruangan tersebut kemungkinan berfungsi sebagai gudang amunisi dan makanan. Dua bangunan lainnya terletak masing-masing sekitar 10 m dari bangunan pengintaian. Bangunan itu juga berdenah persegiempat memiliki pintu besi, berfungsi sebagai tempat amunisi. Demikian juga bangunan yang terletak paling belakang berbentuk persegiempat.

Masih di wilayah Kelurahan Anoi Hitam berjarak sekitar 1,5 km terdapat bangunan pengintaian berdenah persegiempat yang ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan bangunan lainnya. Bangunan itu terdapat di pinggir laut dan menghadap ke arah timurlaut. Bangunan tersebut berukuran 4 m x 2 m, berpintu dan memiliki dua buah lubang pengintaian di samping kiri dan kanan untuk memantau arah utara dan timur. Di bagian atap bangunan terdapat cerobong sebanyak empat buah.

Benteng Ujung Karang terletak di pinggir laut yang agak terjal yang berada di Kampung Krueng, Kelurahan Ujung Karang, Kecamatan Suka Jaya. Benteng yang terdapat paling kanan terdiri atas dua buah bangunan pengintaian yang masing-masing berjarak sekitar 15 m dan terdapat pada bagian yang agak terjal di tepi laut. Posisi kedua bangunan itu berjajar vertikal sehingga bangunan tersebut terkesan bertingkat. Pada bangunan pengintaian yang paling bawah tidak ditemukan pintu masuk sehingga kemungkinan pintu masuk ini bangunan tersebut terletak pada bangunan yang terdapat di atasnya, sehingga bengunan itu dihubungkan dengan lorong sejauh 15 m. Bangunan yang di atas memiliki pintu masuk di bagian barat bangunan dengan jendela pengintaian menghadap ke laut. Bangunan tersebut memiliki dua buah ruangan, yang satu merupakan ruang utama yang berfungsi sebagai ruangan pengintaian sedangkan ruangan lainnya lebih kecil dan tanpa memiliki jendela kemungkinan berfungsi sebagai gudang. Sedangkan bangunan pengintaian yang paling bawah memiliki lubang pengintaian yang berada di samping kiri kanan bangunan.

Benteng lainnya terletak kurang lebih 75 m dari benteng tersebut di atas. Bangunannya selain memiliki pintu masuk di bagian samping juga memiliki dua buah jendela yang letaknya berjajar vertikal (bersusun), dan pada bagian atap bangunan terdapat empat cerobong.

Benteng Ie Meulee disebut juga oleh masyarakat setempat dengan sebutan benteng “sumur tiga” karena pada lokasi ini terdapat tiga buah sumur di sekitar bangunan benteng. Lokasi benteng sumur tiga ini di pinggir laut, memiliki tiga buah bangunan utama dan sebuah bangunan tambahan. Ketiga bangunan utama tersebut terletak pada ketinggian dan bangunan tambahan terletak di bibir laut. Ketiga bangunan utama tersebut bentuknya hampir sama, hanya ada yang menggunakan cerobong di atas atap, penambahan ruangan di bagian samping dan jendela untuk meletakkan moncong meriam. Fungsi ketiga bangunan tersebut juga berbeda, dua bangunan utama merupakan bangunan untuk meletakkan meriam dan sebuah bangunan kemungkinan sebagai penjagaan. Bangunan pengintaian yang lain terdapat di tengah perkampungan berjumlah dua buah dengan bentuk lebih sederhana tanpa ruang di sisi kanan kirinya. Lokasi bangunan tersebut cukup tinggi sehingga dapat mengawasi arah laut. Disebutkan bangunan tersebut dahulu berfungsi sebagai gudang logistik.

Benteng Tapak Gajah terletak di Kelurahan Tapak Gajah, Kecamatan Suka Jaya. Sebagian bangunan terletak sekitar 50 m dari tepi pantai dan sebuah di bibir laut. Bangunan pertama ukurannya lebih besar dibandingkan bangunan yang berada di bibir laut. Bentuknya hampir sama dengan benteng lainnya hanya pada bagian atap bangunan terdapat lapisan batu. Benteng ini dibuat dengan cara memangkas tanah dan dibuat setinggi tanah yang dipangkas, jadi benteng ini dibuat untuk mengganti tanah yang diambil tersebut. Di depan bangunan ini terdapat jalan tanah selebar dua meter dan kedalamannya sejajar dengan lantai bangunan tersebut.

Jalan tersebut membentang di depan bangunan dan masing-masing ujung jalan tersebut berbelok ke arah pantai. Sekitar 50 m di depan bangunan tersebut terdapat bangunan pengintaian yang memiliki pintu masuk di belakang bangunan. Bangunan ini memiliki dua buah kamar di bagian kiri dan kanan ruang utama. Pada ruang utamanya terdapat bekas-bekas penempatan meriam. Pada bagian atap bangunan nampak bagian batu, rangka besi, dan semen sebagai bahan pembuatan atap bangunan. Bangunan yang hampir sama terletak sekitar 200 m.

Jika dibandingkan dengan bangunan yang terdapat di Batubara, maka benteng-benteng di Pulau We lebih banyak variasinya. Sebagian benteng dibangun di dataran rendah tepi pantai, sebagian dibangun di dataran tingginya. Pada umumnya benteng-benteng tersebut dibangun untuk mengawasi laut, sama dengan Lubang Jepang yang terdapat di Batubara. Benteng-benteng di Pulau We merupakan kompleks bangunan yang berfungsi sebagai pertahanan. Umumnya bangunannya berdenah perrsegiempat, sedangkan di Batubara berdenah persegienam. Bangunan benteng di Pulau We menggunakan bahan batuan dan semen, tidak berbeda jauh dengan bangunan Lubang Jepang di Batubara walaupun menggunakan bahan material batuan yang lebih kecil.

Bangunan yang dibangun di Pulau We sebagian berukuran besar dan dilengkapi dengan ruangan-ruangan untuk berbagai keperluan, seperti gudang logistik, gudang amunisi, dan lain-lain. Bangunan yang berukuran besar dan dilengkapi dengan ruangan-ruangan itu terkadang dihubungkan dengan lorong-lorong. Bangunan yang lebih kecil biasanya difungsikan sebagai bangunan penjagaan yang sebagian diletakkan tepat pada garis pantainya atau pada bagian yang lebih tinggi. Bangunan-bangunan tersebut sebagian memiliki lubang sebagai tempat meletakkan moncong meriam yang berada di bagian dalam ruangannya. Sebagian di bagian atas bangunannya dicor sebagai tempat dudukan meriam atau dengan membuat tembok bangunan yang bagian atasnya dicor juga sebagai tempat dudukan meriam. Keberadaan meriam di sekitar benteng-benteng di Pulau We menggambarkan meriam merupakan senjata yang melengkapi bangunan tersebut dan dahulu pernah dimanfaatkan. Selain itu beberapa bangunan juga dilengkapi dengan cerobong pada atap bangunan yang berfungsi sebagai ventilasi. Bangunan yang lain tidak memiliki cerobong sebagai ventilasi tetapi dilengkapi dengan jendela.

Perbandingan dengan Lubang Jepang yang terdapat di Batubara dapat dikatakan bahwa bangunan Lubang Jepang cenderung berukuran kecil dan hanya terdiri dari dua ruangan. Memiliki sekat ruangan di bagian dalam, terdapat dudukan meriam, dan lubang pengintaian sekaligus berfungsi sebagai tempat meletakkan moncong meriam. Lubang pengintaian atau tempat meletakkan moncong meriam di Batubara berada di bagian depan bangunan, sedangkan pada beberapa bangunan di Pulau We terdapat di bagian samping kiri dan kanannya, yang fungsinya sama yaitu mengawasi arah laut. Dapat dikatakan bahwa Lubang Jepang yang dibangun di Batubara memiliki kemiripan dengan bangunan penjagaan di beberapa benteng di Pulau We.

IV. Tinjauan historis

Masa pendudukan Jepang selama tiga setengah tahun merupakan salah satu pariode yang menentukan dalam sejarah Indonesia. Sebelum serbuan Jepang tidak ada satupun tantangan yang serius terhadap kekuasaan Belanda di Indonesia. Pada waktu Jepang menyerah telah berlangsung begitu banyak perubahan luar biasa yang memungkinkan terjadinya revolusi Indonesia. Jepang memberi sumbangan langsung pada perkembangan-perkembangan tersebut, terutama di Jawa, dan sampai tingkatan yang lebih kecil di Sumatera, mereka mengindoktrinasi, melatih, dan mempersenjatai banyak dari generasi muda serta memberi kesempatan kepada para pemimpin yang lebih tua untuk menjalin hubungan dengan rakyat (Ricklefs,1998:297). Namun demikian banyak juga catatan buruk tentang kedatangan pasukan Jepang ke Indonesia.

Setelah Singapura jatuh maka terbukalah pintu masuk ke Sumatera yang jaraknya tidak jauh dari Singapura (Departemen P&K,1979/1980:7). Kedatangan Jepang ke Sumatera disebabkan Sumatera mempunyai arti yang penting untuk pihak Jepang karena sumber-sumber strategisnya dan baru ketika Jepang berada diambang kekalahan ide-ide nasionalis diperbolehkannya berkembang disana (Ricklefs,1998:298). Pasukan-pasukan Jepang yang menyerbu ke daerah Sumatera Utara adalah bagian dari pasukan ke-25. Pasukan itu berada di bawah komando Jenderal Tomoyuki Yamashita atau terkenal dengan julukan Malay No Tora (harimau Malaya), karena berhasil menaklukan Semenanjung Malaya (Departemen P&K,1979/1980:7). Disebutkan resimen 5 Infanteri diperintahkan mendarat di pantai Labuhan Ruku, Provinsi Sumatera Timur dengan tujuan memasuki ibukota Medan.
Demikian juga resimen 4 Infanteri, akan tetapi pasukan tersebut diperintahkan melanjutkan gerakan memotong terus menuju ke Padang, kota pelabuhan terbesar di pantai barat Sumatera (Fusayama,1994:345).

Menurut catatan Fusayama pada tanggal 12 Maret 1942 disebutkan pendaratan pertama berlangsung tengah malam di muara sunyi agak jauh dari pantai Labuhan Ruku, bagian timur Sumatera Utara. Tidak ada pasukan musuh di tempat mendarat. Ternyata pantainya berlumpur dalam, tak sesuai dengan laporan pesawat pengintai yang mengatakan bahwa pantai berpasir putih, indah, cocok untuk mendarat. Kemudian dilanjutkan gelombang kedua mendarat bersama markas besar divisi dan korps sandi yang mendarat di dermaga Tanjung Tiram, sebuah tangkahan nelayan di sebelah baratlaut Labuhan Ruku (Fusayama,1994:346–347). Selanjutnya pasukan tersebut sebagian menggunakan sepeda yang dibawa dan langsung bergerak menuju kota Medan, pasukan lainnya menggunakan mobil bawaan dan mobil yang telah diperbaiki menuju kota tersebut (Fusayama,1994:348–349).

Menurut informasi masyarakat di Pantai Sejarah Desa Parupuk merupakan lokasi pendaratan pasukan Jepang. Disebutkan bahwa pada malam hari di pantai tersebut terdengar bunyi mesin-mesin kapal yang berisik. Beberapa masyarakat menyaksikan tentara Jepang yang berjalan dan merangkak dalam lumpur menuju ke daratan. Pasukan tersebut sampai ke desa hingga pagi hari. Masyarakat berduyun-duyun melihat kedatangan pasukan tersebut. Dengan senang hati masyarakat mempersilahkan pasukan menggunakan air-air sumur mereka untuk membersihkan diri (mandi) tanpa menggunakan penutup badan. Sehingga perempuan-permpuan penduduk setempat meninggalkan kampung dan lari ke hutan.

Selanjutnya disebutkan juga pada keesokan harinya pasukan mulai bergerak mencari sepeda ke rumah-rumah penduduk untuk mengawasi dan memantau keadaan sekitar. Dengan bahasa isyarat para tentara meminjam sepeda penduduk untuk dipakai tetapi hanya sebagian yang mau meminjamkan sepedanya, sedangkan yang lain justru membuang sepeda itu ke semak-semak atau hutan daripada dipinjamkan. Selain di sekitar desa mereka juga ke luar daerah dengan mengendarai sepeda seperti Asahan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar dan ke daerah lainnya.

Setelah kedatangan pasukan Jepang di Desa Parupuk awalnya masyarakat menerima kedatangan tersebut dengan senang hati dengan harapan dapat melepaskan mereka dari kekuasaan Belanda. Harapan itu diungkapkan dengan mengibarkan bendera Indonesia dan bendera Jepang secara bersamaan. Karena harapan tersebut dan janji-janji oleh Jepang membuat masyarakat tenang sehingga membantu aktivitas mereka diantaranya dalam pembuatan benteng dari pohon kelapa di sepanjang pantai. Selanjutnya pada tiga bulan setelah pendaratan pasukan Jepang mulai membuat Lubang Jepang sebagai sarana pertahanan. Menurut informasi masyarakat lubang Jepang di kawasan tersebut dibangun sebanyak tujuh buah. Disebutkan bahwa lubang Jepang yang terletak dekat pantai di bagian utara dan timurlaut memiliki terowongan untuk menuju ke laut.

Untuk pembuatan bangunan tersebut pasukan Jepang mengerahkan masyarakat setempat untuk bekerja. Masyarakat setempat dipaksa bekerja siang-malam tanpa henti. Kemudian setelah menyelesaikan satu bangunan para pekerja disuruh berjalan menuju ke pantai dengan alasan untuk menikmati suasana laut, bersantai sambil mencari ikan, namun kemudian mereka ditembak hingga mati. Demikian yang terjadi pada para pekerja dalam setiap pembuatan Lubang Jepang tersebut.

Kekejaman pasukan Jepang dari hari ke hari semakin terlihat dengan merosotnya perekonomian masyarakat. Seperti monopoli penjualan beras dan penentuan harga beras (Departemen P&K,1979/1980:10). Hal ini juga terjadi pada masyarakat Desa Parupuk. Karena persediaan terbatas membuat petani sendiri tidak mempunyai beras untuk dimasak. Para petani terpaksa makan ubi, jagung, pisang yang dicampur dan dimasak dengan beras (dirandi) atau apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Begitu juga dengan kebutuhan sandang tidak dapat dipenuhi masyarakat sehingga terpaksa menggunakan goni, kulit kayu, atau karet karena tidak adanya bahan tekstil di pasaran. Kadang-kadang para tentara berpura-pura baik dengan memberikan bahan sandang kepada masyarakat tetapi semua pakaian tersebut sudah diberi kutu.

Kedatangan pasukan Jepang yang relatif singkat atau sering disebut seumur jagung juga meninggalkan kesan buruk bagi masyarakat setempat maupun masyarakat Indonesia pada umumnya. Tindak kekerasan, kekejaman, keterpaksaan, dan kezaliman terjadi tidak hanya terhadap kaum pria tetapi juga terhadap kaum wanita. Tindakan pasukan Jepang tersebut memberikan kenangan terpahit pada masyarakat Parupuk, sehingga masyarakat menyebutkan daerah pantai sekitar Lubang Jepang tersebut dengan sebutan Pantai Sejarah.

V. Penutup

Lubang Jepang di Batubara dan benteng-benteng di Pulau We merupakan bangunan yang dibangun sebagai kubu pertahanan di wilayah pesisir untuk mengawasi bagian lautnya. Bahan bangunan yang digunakan untuk pembangunannya hampir sama di kedua tempat tersebut, yaitu menggunakan bahan batuan dan semen. Bentuk bangunannya dan ruangan-ruangan di dalamnya disesuaikan dengan kebutuhan dan fungsi bangunannya. Menilik bentuk bangunan yang umumnya berukuran kecil Lubang Jepang di Batubara berfungsi sebagai bangunan penjagaan sebagai bagian pertahanan terhadap musuh dari arah laut. Di Batubara tidak ditemukan bangunan berukuran besar dengan banyak ruangan yang difungsikan sebagai gudang mesiu, atau logistik seperti halnya yang ditemukan di Pulau We.

Kepustakaan

Fusayama, Takao, 1994. Runtuhnya Imperium Barat di Asia Tenggara Fajar Asia.
Medan: Prima dan Lina Computer Press

Jufrida, 2001. Batubara, Perjalanan Sejarahnya di Pesisir Timur Sumatera,
dalam Berkala Arkeologi
Sangkhakala no. 09. Medan: Balai Arkeologi Medan, hal. 30–40

Lubis, Abdul Mukti, 1979/1980. Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949)
Daerah Sumatera Utara. Medan: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan

Poesponegoro, Marwati Djoened dkk. 1993. Sejarah Nasional Indonesia VI.
Jakarta: Balai Pustaka

Ricklefs, M.C, 1998. Sejarah Indonesia Modern. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press

Situmorang, Sitor. 1981. Sitor Situmorang Seorang Sastrawan 45 Penyair Danau Toba. Jakarta: Sinar Harapan

Sutrisna, Deni dkk, 2006. Laporan Pendataan Arkeologi di Wilayah Perbatasan
(Pulau Berhala dan Sekitarnya)
Provinsi Sumatera Utara. Medan: Balai Arkologi Medan (belum diterbitkan)

Thaib, Rustam, dkk., 1997. 50 Tahun Kotapraja Medan. Medan: Djawatan Penerangan Kotapraja I Medan

Tim Penelitian, 1996/1997. Laporan Hasil Penelitian, Survei Peninggalan Masa Islam di Pulau We, Provinsi D.I. Aceh. Medan: Balai Arkeologi Medan (tidak diterbitkan)

Wignjosoebroto, Soetandyo, 2005. Desentralisasi Dalam Tata Pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda.
Malang: Bayumedia Publishing

Written by balarmedan

Januari 8, 2009 pada 3:15 am

Ditulis dalam Uncategorized

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: