Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

KERJA TAHUN DI TIGA BINANGA(TINJAUAN ETNOARKEOLOGI TRANSFORMASI RELIGI)

with 2 comments

Defri Elias Simatupang

Balai Arkelogi Medan

 

Abstract

Kerja Tahun is a ceremonial give thanks to The God for has given a succesful yield. This is a product from past religion culture who still founded in every place, such as for Karonese in Tiga Binanga. There are many diffrences culture between now and the past that showing it have been transformated. This article want to compare it according to religion aspect.

Kata Kunci:
kerja tahun, Karo, etnoarkeologi, religi

I. Pendahuluan

Masyarakat Petani adalah masyarakat yang bekerja mengolah tanah sebagai lahan pertanian. Sukses tidaknya bertani sangat ditentukan oleh faktor teknis dan non teknis. Faktor teknis mencakup segala pekerjaan yang telah menjadi pengetahuan umum dalam bertani, dengan kata lain tinggal menjalankan segala tata-cara pengetahuan umum bertani tersebut untuk mendapatkan hasil panen. Sedangkan faktor non teknis merupakan segala hal di luar kemampuan manusia yang juga menentukan berhasil atau tidaknya panen, yaitu kekuatan alam. Panen yang sudah di depan mata, dapat saja gagal seketika gara-gara kekuatan alam seperti gempa bumi, banjir, kemarau berkepanjangan, badai angin topan, dsb.

Religi adalah salah satu unsur kebudayaan, produk ide/gagasan yang percaya akan adanya Sang penguasa kekuatan alam dan jagad raya, namun tidak berwujud (adi kodrati). Religi berfungsi membangun kekuatan melalui pengolahan rasa di dalam diri manusia. Sejak masa lampau masyarakat petani telah menggantungkan hasil panennya terhadap kekuatan religi. Selama tahapan-tahapan kegiatan pertanian dari masa tanam hingga masa panen, petani selalu dihadapkan rasa was-was terhadap kegagalan panen tanaman mereka. Pada saat seperti itulah, kekuatan religi berperan penting. Berbagai bentuk aktivitas religipun tercipta seperti ritual-ritual upacara penyembahan kepada Sang penguasa alam di setiap tahapan-tahapan pertanian. Kuat dugaan aktivitas religi tersebut telah ada sejak masa prasejarah, dan hingga kini dapat dijumpai dalam model-model yang terindikasi telah mengalami transformasi.

Kerja Tahun adalah sebuah aktivitas religi masyarakat petani sub etnis Karo yang diselenggarakan setahun sekali. Pada masa kini, pelaksanaan kerja
tahun berbeda di berbagai daerah di Tanah Karo. Masing-masing daerah lebih memfokuskan pada tahapan tertentu kegiatan pertanian. Ada yang merayakan di masa awal penanaman (merdang merdem), pertengahan pertumbuhan (nimpa bunga benih), pada masa akan panen (mahpah) ataupun pada masa panen (ngerires) (Ginting,1999:175–180). Tulisan ini mengulas tentang kerja tahun di Tiga Binanga, salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Tanah Karo. Kerja tahun akan dibahas berdasarkan tinjauan etnoarkeologi.

II. Etnoarkeologi religi

Religi dari sudut pandang antropologi adalah seperangkat upacara yang diberi rasionalisasi mitos, yang menggerakkan kekuatan-kekuatan supranatural dengan maksud untuk mencapai atau menghindarkan sesuatu perubahan keadaan pada manusia atau alam (Wallace,1966:107). Hal-hal yang berkenaan dengan religi mencakup berbagai perangkat kepercayaan yang bersifat supranatural, simbol-simbol kesakralan, ekspresi / emosi manusia sebagai pelaku kepercayaan, serta nilai-nilai moral yang menghubungkan antara perasaan mereka dengan dunia supranatural tersebut. Beberapa ahli filsafat kebudayaan, seperti Zoetmulder, Driyarkara, Mangunwijaya, Dick Hartoko (Taum,1997:3) mengungkapkan bahwa awal mula segala ilmu pengetahuan dan kebudayaan adalah religi. Rasa religi (religiusitas) dalam hal ini adalah keinginan memuja Sang Pencipta alam semesta yang pada akhirnya membentuk kebudayaan religi. Religi dalam konteks prasejarah tidak sama seperti gambaran agama-agama besar yang ada.

Dalam ilmu arkeologi, religi bukan subjek kajian baru, karena penemuan tinggalan-tinggalan arkeologis yang berhubungan dengan religi hampir seusia dengan ilmu arkeologi itu sendiri. Kajian religi dalam arkeologi dibatasi atau dikondisikan oleh objek kajian yang digeluti, yaitu mempelajari asal-usul, perkembangan, dan tindakan/perilaku religius melalui budaya bendawi yang bersangkutan. Bagaimana sebuah atau sekumpulan budaya materi mampu bercerita tentang praktek-praktek peribadatan, ritus, upacara-upacara, mitos, atau bahkan tentang konsep-konsep ajaran manusia pendukungnya (Sonjaya,2003:12). Dalam mencari benang merah rekonstruksi perilaku, arkeologi religi memunculkan persoalan tentang adanya pemisah yang jauh antara artefak religi yang nyata keberadaannya dengan konsep-konsep tindakan/perilaku religius yang abstrak sifatnya. Terlebih menyangkut religiusitas masyarakat arkhais yang sudah tidak eksis atau telah mengalami transformasi berulang kali.

Etnoarkeologi religi pada dasarnya tidak terlalu menitikberatkan pada kajian kebendaan, tapi tetap perlu mengontrol landasan ontologis dan epistemologisnya agar tidak menjauh dari disiplin ilmu arkeologi itu sendiri. Landasan ontologis berkaitan dengan pembatasan kajian penafsiran akan hakekat dari kajian etnoakeologi-religi, sedangkan landasan epistemologis berkaitan dengan sumber, sarana, dan tatacara yang digunakan untuk mencapai pengetahuan ilmiah dari landasan ontologis (Subroto,2000:6). Landasan ontologis dalam tulisan ini menyangkut deskripsi jalannya kerja tahun, dan mengapa kerja tahun diadakan. Data-data ontologis didapat melalui pengamatan langsung, wawancara, dan studi pustaka. Sedangkan landasan epistemologisnya menggunakan pendekatan etnoarkeologi perbandingan data-data arkeologi religi yang telah ada pada masyarakat agraris arkhais.

III. Kerja Tahun di Tiga Binanga

Masyarakat Karo merupakan masyarakat yang sejak dahulu dikenal sebagai masyarakat agraris yang religius. Hal ini dapat dibuktikan dengan masih dijumpai aktivitas religi yang berhubungan dengan pertanian, seperti kerja tahun pada masa kini. Di masing-masing daerah dalam wilayah masyarakat Karo, kerja tahun memiliki perbedaan akan kapan waktunya pelaksanaan pesta tersebut. Masing-masing memfokuskan pada fase-fase kegiatan pertanian tertentu. Ada yang merayakan di masa awal penanaman, ada yang di masa tengah pertumbuhan tanaman, dan ada yang di masa sesudah panen (Ginting,1999:175–180). Pada bulan Juni lalu, berlangsung sebuah perayaan kerja tahun di Kecamatan Tiga Binanga, Kabupaten Tanah Karo yang dirayakan setahun sekali pada masa sesudah panen. Adapun tanaman pertanian mereka yang utama adalah jagung. Kecamatan Tiga Binanga merupakan salah satu dari 13 Kecamatan di Kabupaten Tanah Karo. Kecamatan Tiga Binanga sendiri terdiri dari 1 kelurahan dan 18 Desa (BPS Kab. Karo,2003:8). Selama penyelenggaraan kerja tahun masyarakat tampak antusias menyelenggarakannya. Ada begitu banyak anggota keluarga dari luar daerah harus berkorban waktu, biaya dan tenaga untuk pulang kampung mengikuti penyelenggaraan pesta ini.

Kerja tahun di Tiga Binanga sudah modern, tidak menyisahkan sisa-sisa tradisi peninggalan kebudayaan religi pemena. Tidak dijumpai ritual-ritual yang umum dilakukan terkait pemaknaan terdahulu penyelenggaran kerja tahun, seperti ekspresi masyakat Karo dalam menjalin relasi kepada Tuhan menyangkut perihal pertanian. Kerja Tahun di Tiga Binanga masa sekarang lebih memfokuskan pada hubungan antar saudara dalam satu keluarga. Pada Kerja tahun biasanya masing-masing keluarga menyempatkan waktu untuk ziarah ke makam orang tua. Selepas itu atau sebelumnya, mereka berkumpul di salah satu rumah saudara untuk makan bersama. Dalam doa biasanya dipanjatkan permohonan ataupun ucapan syukur kepada Tuhan untuk hasil pertanian yang mereka peroleh. Namun karena mata pencaharian masyarakat Karo di Tiga Binanga masa sekarang tidak didominasi sebagai petani lagi, maka kerja tahun telah berubah menjadi perayaan bagi seluruh masyarakat Karo baik yang bekerja sebagai petani maupun tidak (wawancara dengan Bpk. B. Bangun).

Puncak acara perayaan kerja tahun di Tiga Binanga tahun ini jatuh pada tanggal 23 Juni 2007. Bertempat di alun-alun atau biasa disebut los, semacam balai tempat perayaan pesta, didakan pelaksanaan pagelaran seni budaya dari pagi hingga larut malam. Acara dimeriahkan dengan gendang guro-guro aron (musik tradisional Karo, namun hanya dimainkan melalui keyboard), saat itu muda-mudi yang sudah dihias dengan pakaian adat melakukan tari tradisional. Fenomena menarik saat berlangsungnya kerja tahun adalah banyaknya papan karangan bunga. Keberadaan papan bunga sepertinya turut menjadi bagian penting dalam penyelenggaran pesta tahun. Papan bunga yang berisi ucapan selamat dari tokoh-tokoh adalah cara terbaru menunjukkan tingkatan status sosial yang di atas rata-rata masyarakat di Tiga Binanga, karena biasanya orang yang mengirimkan papan bunga tersebut merupakan orang yang berpengaruh atau telah sukses dalam masyarakat. Mereka juga yang biasanya menanggung biaya kerja tahun lebih besar. Selain itu, fenomena menarik lain adalah kewajiban harus makan setiap saling mengunjungi antar penduduk.

Kemeriahan puncak kerja tahun dalam pagelaran seni budaya tersebut berlangsung hingga larut malam. Sepanjang acara, nuansa hiburan sangat terasa sekali khususnya bagi para kawula muda. Ada begitu banyak tari pergaulan khas adat karo, diperagakan kaum muda secara berpasang-pasangan. Mereka memakai ornamen hiasan khas pakaian adat Karo seperti pada wanita memakai kebaya dengan mengunakan tudung (penutup kepala) yang biasanya disebut uis gara/jujung-jujungen. Sedangkan pada pria, mereka juga memakai penutup kepala yang dinamakan uis beka buluh, dengan paduan pakaian nasional, serta selembar ulos di pundak, dan kain sarung dililitkan pada pinggang. Memang kerja tahun pada masa kini pada masyarakat Karo lebih mengetengahkan sebuah perayaan pesta kemeriahan dari pada tujuan awal dari pesta tahunan itu sendiri.

 

 

 

 

 

 

IV. Pembahasan

IV.1. Arkeologi religi masyarakat petani

Sejarah awal pertanian diperkirakan sejak 12.000 tahun yang lalu, yaitu di daerah Timur Tengah, yang meliputi daerah lembah Sungai Tigris dan Eufrat, kemudian terus memanjang ke barat hingga daerah Suriah dan Yordania pada masa sekarang. Di tempat ini ditemukan bukti-bukti awal pertanian, seperti fosil biji-bijian dan artefak alat-alat pertanian. Teknik budidaya tanaman lalu meluas ke barat (Eropa dan Afrika Utara, pada saat itu Sahara belum sepenuhnya menjadi gurun) dan ke timur (hingga Asia Timur dan Asia Tenggara). Bukti-bukti di Tiongkok menunjukkan adanya budidaya padi sejak 6000 tahun SM. Masyarakat Asia Tenggara telah mengenal budidaya padi sawah paling tidak 3000 tahun SM (dok.http://id.wikipedia.org/sejarah pertanian). Para arkeolog berasumsi bahwa pertanian dikenal manusia prasejarah sejak berakhirnya masa berburu dan mengumpulkan makanan pada masa kebudayaan batu tua (paleolitikum), dan kebudayaan batu tengah (mesolitikum). Mereka yang berkelimpahan waktu dan sumber daya mungkin telah berulangkali berksperimen untuk tidak tergantung lagi pada aktivitas berburu dan mengumpulkan makanan.

Konsep dasar berkelimpahan waktu dan sumber daya pada manusia prasejarah adalah sebuah pemikiran dari para peneliti bahwa manusia prasejarah pada suatu masa, memiliki ketidakseimbangan secara terus-menerus antara jumlah mereka yang semakin banyak dibandingkan makanan yang tersedia dari hasil berburu dan mengumpulkan makanan. Pada masa batu muda (neolitikum) manusia prasejarah sudah mampu membudidayakan tanaman dan hewan. Mereka memiliki banyak waktu untuk berfikir agar mampu beralih pekerjaan. Singkat cerita, pada akhirnya mereka mendapat pengetahuan dasar pertanian, yang pada masa selanjutnya akan terus mengalami kemajuan dalam bidang Ilmu Pertanian itu sendiri. Pengetahuan mereka akan Ilmu Pertanian meningkat seiring banyaknya sumber daya manusia yang dibutuhkan sebagai tenaga kerja maupun timbulnya pemikiran-pemikiran untuk perencanaan ke depan dalam menjalankan usaha-usaha pertanian seperti : membuka lahan, menanam biji-bijian, mengairi, memberikan pupuk, dan pada akhirnya panen (Bellwood,2000:300 ).

Sistem kepercayaan akan adanya Tuhan (religi) pada manusia prasejarah diyakini telah ada sejak masa berburu dan mengumpulkan makanan. Religi dalam hal ini memiliki arti yang lebih luas dibanding pengertian agama masa sekarang. Religi manusia prasejarah adalah naluri untuk menghambakan diri kepada kekuatan yang maha tinggi yang dianggap mampu mengendalikan hidup mereka. Kekuatan yang maha tinggi itu berada pada dimensi lain di luar diri dan lingkungan mereka. Naluri tersebut muncul akibat refleksi ketidakmampuan mereka menghadapi tantangan-tantangan hidup, dan hanya yang Mahatinggi saja yang mampu memberi kekuatan mencari jalan keluar dari permasalahan hidup (Setiadi,2007:32). Sebagai pemburu dan pengumpul makanan, manusia prasejarah percaya pada kekuatan yang Maha Tinggi dalam wujud dewa-dewa perburuan untuk disembah dengan harapan agar direstui meraih kesuksesan dalam setiap usaha-usaha perburuan. Meskipun seandainya hal-hal teknis untuk sukses dalam perburuan telah mereka kuasai, ide/gagasan untuk memohon restu dari dewa-dewa perburuan tetap dilakukan. Munculnya berbagai temuan seperti artefak dewa-dewa perburuan, lukisan-lukisan tentang perburuan pada dinding gua-gua, dapat dijadikan indikasi adanya kebudayaan religi sejak masa prasejarah yang bermata pencaharian sebagai pemburu.

Ketika pekerjaan sebagai pemburu telah ditinggalkan, karena telah beralih menjadi petani, bisa saja dewa-dewa perburuan mengalami proses kehilangan pamor dan digantikan oleh konsep kekuatan yang Mahatinggi yaitu konsep ketuhananan (dewa-dewi) perlambang kesuburan tanah dan ketersediaan pangan. Memang tidak jelas dapat dipahami, bagaimana awal munculnya dewa-dewi pertanian tersebut. Mungkin inilah yang disebut dengan transformasi gagasan religi masyarakat prasejarah akibat perubahan mata pencaharian hidup dari berburu dan mengumpulkan makanan menjadi bercocok tanam (bertani). Pertanian telah mengubah dari pemujaan terhadap dewa-dewa perburuan menjadi pemujaan terhadap dewa-dewi pertanian.

IV.2. Transformasi religi pesta tahun masyarakat Karo

Bertahannya pelaksanaan sebuah tradisi (dalam hal ini Pesta Tahun) disebabkan adanya kemampuan adaptasi terhadap situasi dan kondisi budaya masyarakat yang sifatnya dinamis. Kerja tahun pada masyarakat Karo di Tiga Binanga merupakan sebuah contoh tradisi kebudayaan religi yang bertahan, terlaksana secara terus-menerus, dan telah diwariskan dari generasi ke generasi (wawancara dengan Bpk. B. Bangun). Walaupun sebagai tradisi yang bertahan, parameter religi yang dipakai sebagai pembanding antara pesta tahun di masa lampau dan di masa kini, mengindikasikan kalau tradisi ini telah mengalami transformasi. Transformasi adalah perubahan bentuk atau struktur dari sebuah bentuk ke bentuk lainnya (Partanto,2001:758). Parameter tersebut adalah wujud kebudayaan itu sendiri, yaitu: wujud ide / gagasan, wujud aktivitas / tingkah laku, dan wujud kebendaan/artefak.

Wujud ide/gagasan yang teramati pada penyelenggaran kerja tahun pada masa kini terkait dengan masalah pemaknaan dan fungsi upacara. Di masa lampau pemaknaan yang semula adalah sesuai dengan ajaran pemena (agama asli Masyarakat Karo), yaitu permohonan dan ucapan syukur kepada Beraspati
Taneh (salah satu konsep dewa dipercaya berkuasa atas tanah) berkaitan dengan tanaman pertanian mereka dapat tumbuh subur, dan hasilnya diharapkan akan melimpah. Beraspati adalah berbagai macam konsep dewa-dewa yang memiliki kekuasaan masing-masing. Selain Beraspati Taneh, juga dikenal Beraspati Lau (inti kehidupan air), Beraspati Rumah (inti kehidupan rumah),dan sebagainya. Hal ini yang menjadi dasar setiap guru (sebutan untuk para pemuka dalam ajarana pemena) selalu mengadakan persentabin (mohon ijin) kepada Beraspati sebelum melakukan upacara ritual, tergantung dalam konteks mana upacara akan dilakukan (Sembiring,1992:4). Namun sesudah Agama Islam dan Kristen masuk, ajaran pemena menjadi tidak lagi rasional bagi Masyarakat Karo. Hal ini diperkuat dengan perubahan mata pencaharian mereka dari bertani menjadi bermata pencaharian yang sangat heterogen di masa sekarang. Nilai religiusitas pemaknaan dari kerja tahun tersebut pun bergeser menjadi sebuah cara untuk tetap saling mempererat ikatan kekerabatan keluarga dalam sebuah tradisi tahunan.

Wujud aktivitas/tingkah laku yang teramati, terkait dengan fenomena ajang pulang kampung bagi Masyarakat Karo yang menetap di luar daerah setiap pesta tahun tiba. Wajar saja banyak yang kurang memahami makna pesta tahun. Pesta Tahun dijadikan sebagai silaturahmi sama seperti lebaran, natal, atau tahun baru. Bagi masyarakat Karo setempat, pelaksanakan kerja tahun telah meninggalkan ritual-ritual di masa lalu. Waktu pelaksanaan kerja tahun itu dilaksanakan hanya beberapa hari, tanpa ada aturan baku tata cara pelaksanaan. Kalaupun ada ritual-ritual, hanya berlaku internal dalam keluarga sesuai agama masing-masing.

Lama kerja tahun di masa lalu adalah enam hari, yang setiap hari memiliki aktivitas yang berbeda. Hari pertama (disebut cikor-kor) adalah awal persiapan pesta yang ditandai dengan kegiatan penduduk pergi ke ladang mencari kor-kor (sejenis serangga yang biasanya ada di dalam tanah). Hari kedua (disebut cikurung) ditandai dengan kegiatan mencari kurung (binatang yang hidup di tanah basah atau sawah). Hari ketiga (disebut ndurung), ditandai dengan kegiatan mencari nurung (ikan) di sawah atau sungai. Hari keempat (disebut mantem atau motong), ditandai dengan memotong lembu, kerbau, dan babi. Hari kelima (disebut matana), merupakan puncak perayaan. Pada saat tersebut semua penduduk bergembira atas hasil panen. Sesudah perayaan bersama, semua masyarakat saling mengunjungi kerumah masing-masing. Setiap kali berkunjung semua menu yang sudah dikumpulkan semenjak hari cikor-kor, cikurung, ndurung, dan mantem akan dihidangkan. Hari keenam, (disebut nimpa), hari ini ditandai dengan kegiatan membuat cimpa (makanan khas Karo, biasa disebut lepat). Hari ketujuh (disebut rebu), hari ini merupakan hari terakhir rangkaian kerja tahun enam hari lamanya. Pada hari ini tidak ada kegiatan yang dilakukan. Seperti halnya arti rebu itu sendiri yang artinya tidak saling menegur, hari itu adalah hari penenangan diri setelah selama enam hari berpesta. Acara kunjung-mengunjungi telah selesai, pergi ke sawah atau ladang dilarang pada hari ini (www.tanahkaro.com).

Wujud kebendaan/artefak teramati melalui perlengkapan upacara. Dikarenakan pada masa kini kerja tahun seperti di Tiga Binanga tidak lagi memiliki ritual, maka perlengkapan upacara tidak ditemukan. Untuk merekonstrusi perlengkapan upacara kerja tahun di masa lampau, dapat dibandingkan terhadap model pesta panen tahunan di daerah lain seperti ngampar bide di Kalimantan. Ngampar Bide merupakan sebuah upacara rasa syukur kepada Nabi Norseri (konsep tuhan pertanian) yang dilakukan suku Dayak sehabis panen. Peralatan upacara yang disediakan dalam Upacara Ngampar Bide seperti beras, telur ayam, mata uang logam, buah-buahan, pelita, tempayan, daging babi, sirih, air sungai, kelapa, dan padi. Masing-masing benda tersebut memiliki arti. Telur ayam, diartikan sebagai bibit, mata uang diartikan sebagai penglihatan atau mata, pelita diterjemahkan sebagai penerang, padi sebagai simbol kemakmuran (Yudono,2007). Ada kemungkinan peralatan upacara ngampar bide juga digunakan dalam perlengkapan upacara kerja tahun di masa kepercayaan pemena masih kuat pada Masyarakat Karo.


 

 

 

 

 

 

 

Objek penyembahan juga mengalami perubahan. Pada masa sekarang, masyarakat karo kebanyakan memeluk agama Kristen dan Islam. Agama-agama tersebut bersifat monotheisme (konsep Tuhan hanya ada satu). Berbeda dengan kepercayaan pemena yang bersifat politheisme (konsep Tuhan lebih dari satu). Beraspati
Taneh sebagai salah satu konsep Tuhan dalam pemena dapat diidentikkan seperti Dewi Sri, salah satu konsep tuhan pada masayarakat di Pulau Jawa dan Bali sebelum kedatangan agama-agama besar. Dewi Sri adalah objek penyembahan khusus untuk kesuburan tanah dan ketersediaan pangan. Dia diyakini mampu mengontrol bahan makanan di bumi sehingga dijadikan simbol bagi padi. Dalam agama Hindu juga mengenal konsep awatara yaitu sebuah kepercayaan tentang adanya (dasa awatara) inkarnasi dari Dewa Wisnu yang akan selalu turun ke dunia, mengambil suatu bentuk dalam dunia material, dalam misiNya menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kejahatan. Salah satu awatara tersebut adalah Balarama, sang penyelamat manusia dari ketersediaan pangan. Tokoh Balarama digambarkan bersenjata alat pembajak sawah, melambangkan peradaban bidang pertanian.

V. Penutup

Kerja Tahun pada masyarakat Karo bila dibandingkan dengan masa-masa terdahulu terindikasi mengalami transformasi budaya. Transformasi dilihat pada perbandingan wujud-wujud kebudayaan itu sendiri terutama dari sisi religinya. Kerja Tahun masa lalu sebelum masuknya agama Islam dan Kristen adalah sebuah ritual upacara penyembahan terhadap Beraspati Taneh untuk syukuran atau permohonan untuk keberhasilan panen. Kerja Tahun masa kini telah berkembang menjadi event silahturahmi antara masyarakat Karo seperti di Tiga Binanga. Transformasi religi terjadi karena masuknya agama baru, pendidikan yang semakin tinggi, dan perkembangan teknologi di tengah kehidupan masyarakat. Masyarakat Karo tentunya sejak lama melakukan kontak dengan masyarakat luar, seperti pendatang yang masuk ke daerah mereka atau masyarakat Karo yang melakukan migrasi keluar daerahnya. Kerja Tahun mampu dilestarikan sebagai kekayaan budaya masyarakat Karo, namun konteks dan fungsinya telah berubah. Hal ini wajar terjadi karena masyarakat Karo seperti masyarakat lainnya mengalami proses dinamika budaya.

Kepustakaan

Bellwood, Peter, 2000. Prasejarah Kepulauan Indo- Malaysia. Jakarta: Balai Pustaka

BPS Kabupaten Tanah Karo & Kantor Pengolahan Data Kabupaten Tanah Karo, 2003. Kabupaten Karo Dalam Angka 2003. Kabanjahe: Badan Pusat Statistik Kabupaten Karo dan Kantor Pengolahan Data Kab. Karo

Evans, Pritchard, E. E., 1984. Teori-teori Tentang Agama Primitif. Jakarta: PLP2M press.

Ginting, E.P., 1999. Religi Karo, Membaca Religi Karo dengan Mata yang Baru. Kabanjahe: Abdikarya

Ginting, Junita Setiana, 2007. “Kerja Tahun” Tradisi pada Masyarakat Karo, dalam Historisme Edisi No.23/Tahun XI/Januari. Medan: Departemen Sejarah Fakultas Sastra USU, hal. 6–8

Hidayat, Andy Riza, 2006. Tradisi Karo: Ketika Pesta Tahunan Itu Tiba, dalam KOMPAS, Jumat, 23 Juni 2006

http://www.karokab.go.id

http://www.tanahkaro.com

http://www.wikipedia.org

Koentjaraningrat, 1993. Ritus Peralihan Di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Prinst, Darwin, 2004. Adat Karo. Medan: Bina Media Perintis.

Sembiring, Sri Alem, 1992. “Guru Si Baso”: Peranan dan Fungsi Sosial Dukun Wanita Sebagai ‘Spirit Medium’ di Lingkungan Sosial Masyarakat Karo, Skripsi Sarjana, Jurusan Antropologi FISIP-USU.

Setiadi, Elly M. dkk, 2007. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Jakarta: Kencana

Simanjuntak, Bungaran Antonius, 2004. Arti dan Fungsi Tanah Bagi Masyarakat Batak, Parapat: Kelompok Studi dan Pengembangan Masyarakat (KSPPM)

Written by balarmedan

Januari 8, 2009 pada 3:00 am

Ditulis dalam Uncategorized

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. artikel anda bagus
    salam kenal dari pemerhati artikel
    salim

    salim

    Januari 26, 2009 at 2:29 pm

  2. Artikel yang berguna untuk mempertahankan budaya karo..
    Sekaligus bisa jadi bahan untuk judul skripsi jurusan antropologi, dan jurusan lainnya…
    Terima kasih untuk penulis..

    ripin ginting

    Mei 23, 2011 at 8:39 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: