Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

DAMPAK PERKEMBANGAN JALUR TRANSPORTASI TERHADAP KEHIDUPAN MASYARAKAT AKIT DI DESA HUTAN PANJANG, PULAU RUPAT

leave a comment »

Nenggih Susilowati

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

 

The results of interaction with other community made cultural changes and developments. As the results of the development in the transportation lane influenced the Akit community. Changes not only for the cultural social but also for the nature sphere.

 

Kata kunci:
transportasi, berburu, pertanian

 

I. Pendahuluan

Masyarakat Akit adalah masyarakat yang telah lama menghuni Pulau Rupat yang berada di wilayah Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Terdapat kisah yang disampaikan secara turun-temurun tentang masyarakat tersebut berkaitan dengan asal muasal dan keberadaannya hingga sampai ke Pulau Rupat. Awalnya suku-suku Rakit, Ratas, Hutan, Sakai berasal dari Minang (Pagaruyung). Ketika terjadi peperangan dengan Belanda mereka mundur mengungsi ke hutan lalu ke sungai Mandau kemudian ke Sungai Siak Indrapura. Pada masa pemerintahan Sultan Sarif Karim IX, diadakan kenduri dan menyuruh orang untuk mengambil kayu di hutan, sehingga dibagi 4 kelompok, yaitu; kelompok menebang kayu (hutan), meratas (ratas), merakit (rakit), dan Sakai. Setelah seminggu mereka kembali ke Siak dengan membawa kayu. Kemudian keempat suku diperintahkan mencari tempat atau pulau yang tidak ada binatang buas, sampailah kelompok Rakit dan Ratas ke suatu pulau. Kelompok tersebut menyusuri sungai Selat Morong dari barat hingga ke timur. Semula yang mendiami pulau tersebut adalah orang Rampang yang kemudian dikenal dengan suku Laut. Mereka diperbolehkan menempati pulau tersebut dengan membawa barang-barang sebagai alat penukar seperti; sebatang pendayung emas, sekerat biji beras, dan sekerat tampi sagu. Kemudian kelompok tersebut ke Bukit Batu menghadap ke Laksmana Raja Dilaut untuk meminta bahan-bahan itu. Selanjutnya Laksmana meneruskan ke Sultan Siak, bahan-bahan tersebut diberikan ke Laksmana, kemudian diberikan ke kelompok tersebut dan oleh kelompok itu diserahkan ke orang Rampang. Terjadilah pertukaran tempat yang akhirnya pulau itu dikenal dengan Pulau Rupat (Pulau Tukar Tempat). Selanjutnya kelompok Ratas menetap di Titi Akar, di bagian timur sungai Selat Morong (sekarang masuk Kecamatan Rupat Utara), dan kelompok Rakit menetap di Hutan Panjang, di bagian barat sungai Selat Morong (Kecamatan Rupat). Sebagian kelompok masyarakat asli yang semula tinggal di Desa Titi Akar kemudian menyebar ke Batu Panjang dan Kampung Rampang tidak jauh dari tepi pantai.

Keberadaan pemukiman mereka yang berdekatan dengan perairan menarik untuk dicermati terutama bagi masyarakat Akit di Desa Hutan Panjang yang tinggal di dekat sungai Selat Morong, sekalipun kini pemukiman mereka letaknya lebih masuk ke bagian daratan. Menurut teori ekologi, manusia berinteraksi dengan lingkungan hidupnya. Ia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Ia membentuk dan terbentuk oleh lingkungan hidupnya (Soemarwoto,2004:54). Berkaitan dengan hal itu melalui makalah ini dicoba ditelusuri perubahan dan perkembangan yang terjadi pada masyarakat Akit, serta lingkungan alam dan sosial budayanya melalui budaya materi yang masih tersisa hingga kini.

II. Budaya materi pada masyarakat Akit

Masyarakat Akit yang tinggal di Desa Hutan Panjang kini sebagian besar menganut agama Buddha. Namun kehidupan masyarakatnya masih kental dengan tradisi lamanya, meliputi upacara-upacara tradisional yang masih terpengaruh kepercayaan animisme/dinamisme menyangkut siklus hidup seperti kelahiran, perkawinan, dan kematian. Upacara-upacara adat yang lain juga dilakukan seperti upacara pembuatan rumah dan bedah kampung. Demikian juga dengan pengobatan penyakit terkadang juga masih secara tradisional dan dipercayakan pada seorang Bomo (dukun). Salah satu peralatan yang digunakan oleh Bomo untuk pengobatan disebut Balai. Balai terbuat dari bahan kayu dan dicat. Sepintas bentuknya mirip dengan miniatur rumah. Di bagian dalam dan luar balai merupakan tempat untuk meletakkan sesajian. Di bagian dalam balai terdapat lilin dari sarang lebah, mangkuk, tempat kemenyan dari tempurung kelapa, dan guci kecil. Di bagian atas juga dihiasi dengan gantungan miniatur kapal, pesawat, dan burung yang berfungsi sebagai tempat meletakkan sesajian. Balai digunakan kalau ada orang yang sakit dan apabila sudah sembuh maka memberi sesajian. Upacara dilaksanakan pada hari Jumat dengan meletakkan sesajian berupa kue, makanan, berkih (beras yang digoreng), wajit, lemak, dan lain-lain. Peralatan yang digunakan dalam kegiatan upacara selain balai antara lain: kotak Puan (tempat sirih, pinang, gambir, kapur, tembakau, daun nipah), kacip untuk membelah pinang, bebana, dan pakaian adat.

Upacara lain yang kerap dilakukan adalah upacara sebelum menanam padi. Lokasi upacara di Desa Hutan Panjang terletak di RT 13, dekat tempat pembuatan perahu kayu. Peralatan yang digunakan adalah langgar/pelantar kayu yang didirikan di atas tiang-tiang kayu sederhana sebagai tempat meletakkan sesajian. Adanya tempat khusus sebagai lokasi upacara tersebut menggambarkan bahwa pelaksanaan kegiatan tersebut rutin dilaksanakan dan sebagai bagian upacara adat yang cukup penting bagi masyarakatnya.

Kegiatan lain yang mencirikan sebagai masyarakat yang hidup di sekitar sungai adalah pembuatan perahu. Saat survei ke daerah tersebut (2006) aktivitas pembuatan perahu jelas terlihat. Perahu-perahu yang dibuat umumnya perahu papan (planked boat), sedangkan perahu lesung (dug-out canoe) sudah jarang dibuat. Perahu berukuran kecil biasanya menggunakan kayu rambai. Keahlian pembuatan perahu diwarisi secara turun-temurun.

Salah satu keistimewaan yang ditemukan di Desa Hutan Panjang adalah keberadaan makam masyarakat Akit. Terletak tidak jauh dari perkampungan sekitar 600 m di bagian utara terdapat pemakaman yang menempati areal berukuran panjang 200 m, dan lebar 70 m. Makam-makam yang terdapat di areal tersebut umumnya berorientasi timur-barat dengan bagian kepala terletak di barat, namun menggunakan nisan-nisan seperti yang terdapat pada makam-makam Islam. Nisan pipih digunakan untuk makam perempuan dan nisan gada digunakan untuk nisan laki-laki. Menurut informasi dahulu lokasi makam berada tidak jauh dari sungai sekitar 60 meter dari lokasi sekarang. Salah satu makam yang cukup tua adalah makam Pangol – Beten Kuat dan Selih – anak Beten Kenududuk. Beten/batin adalah sebutan untuk kepala suku, makam tersebut adalah makam kepala suku terdahulu.

Budaya materi yang ditemukan di Desa Hutan Panjang antara lain peralatan-peralatan yang digunakan dalam upacara-upacara tertentu, atau peralatan tradisional untuk menunjang kehidupan sehari-hari yang sebagian sudah tidak difungsikan lagi. Seperti peralatan yang tersimpan di rumah Bapak Kim Cuan (70 th) tinggal di RT 05, berupa gong berbahan campuran antara tembaga dan perungggu. Adapun ukuran keseluruhannya yaitu diameter bawah 30 cm, diameter atas 36 cm, tinggi 12 cm, tebal 0,3 cm, bagian yang menonjol (mata gong) berdiameter 9 cm, lebar 10 cm, dan tinggi 6 cm. Alat pemukulnya berukuran panjang 25 cm, dan diameter 3,5 cm. Kini di desa ini hanya memiliki sebuah gong yang digunakan untuk mengiringi berbagai upacara yang diselenggarakan seperti khitan, perkawinan, dan kematian. Kondisi alat tersebut sudah memprihatinkan karena kerusakan di beberapa bagian (keropos), demikian juga dengan pemukulnya.

Peralatan tradisional untuk menunjang kehidupan sehari-hari tersimpan di rumah Bapak Ujang Enting (74 th) tinggal di RT 09. Peralatan untuk berburu dikenal jerat rusa, tombak (kojor/kojoh) dibuat dari kayu bunai (panjang 2,9 m, diameter 2,3 cm) dan mata besi (panjang 32 cm, diameter 2,5 cm, tebal 0,4 cm), sumpit (sumbit) dibuat dari kayu punak (panjang 1,75 m, diameter 2,5 cm ) dan mata sumpit (pono demek) (panjang 20,5 cm, diameter pangkal 1 cm, diameter ujung 0,2 cm). Adapun bagian sumpit untuk membidik sasaran disebut tujun (panjang 50 cm, lebar 8 cm, tebal 0,3 cm), bagian depan disebut sangkuh, dan belakang disebut sumbit. Kemudian mata sumpit (pono demek) terdiri dari bagian ujung disebut basung prepat, lidi kepau, racunnya disebut ipuh. Tempat per-satuan disebut inas dan disimpan ke dalam tembilah yang berbahan bambu yang dapat menyimpan 37 batang pono demek.

Kemudian juga terdapat peralatan untuk mencari ikan antara lain lukah terbuat dari bambu untuk mencari ikan di sungai (panjang 1, 17 m, diameter 18 cm), sehambang untuk menombak ikan (panjang pegangan 2, 77 m, diameter 3 cm) bagian mata besi berbentuk seperti trisula berukuran panjang 10 cm – 13 cm ), untuk memancing (hawai dan gundang), penganak untuk mencari ikan/udang di laut (panjang 1,28 m, diameter 21 cm), penggi terbuat dari rotan untuk menangkap ikan (panjang 52 cm, lebar 30 cm, tinggi 10 cm), sauh/jangkar (panjang kayu 52 cm, lebar 2 cm, tebal 1,5 cm; mata sauhnya panjang 24 cm), dan tempat ikan (raga pusat belanak/hage) terbuat dari rotan (tinggi 24 cm, diameter atas 20 cm, diameter bawah 24 cm).

Peralatan tradisional sebagai penunjang kegiatan pertanian antara lain kapak (kapek), tugal (tugel), dan tempat padi (bekul) terbuat dari daun pandan. Selanjutnya peralatan tradisional untuk mengolah bahan makanan antara lain; sendok tempurung (senuk temuhung) (panjang bagian gagang/pegangan 29 cm, lebar 3 cm, tebal 0,5 cm; panjang sendok 10 cm, diameter 11 cm), pisau (pisau sehaut) (panjang kayu 29 cm, diameter 2,5 cm; mata pisau panjang 11 cm, lebar 2,4 cm, tebal 0,2 cm), pisau berlubang, pahut sagu untuk memarut sagu terdiri dari paku dan kayu tehendang (panjang 1,14 m, lebar 12 cm, tinggi 11,5 cm), ayak sagu yang terbuat dari kayu kepau, serta lesung, dan antan.

Peralatan lain yang digunakan sehari-hari atau pelengkap upacara adat adalah tempat sirih (puan) (panjang 29 cm, lebar 10 cm, dan tebal 1-–3,5 cm), penghancur pinang (gobek), keranda (kehenek), dan bebana (alat musik perkusi)
terbuat dari kulit lutung yang diikat ke kayu perading yang diikat dengan rotan (diameter atas 31 cm, diameter bawah 24 cm, tebal kayu 4,5 cm, dan tinggi 10 cm).

III. Perkembangan jalur transportasi dan dampaknya

Mengamati cerita rakyat yang disampaikan secara turun-temurun memperlihatkan bahwa masyarakat Akit awalnya datang melalui perairan Selat Morong. Tidak mengherankan bila kemudian mereka memilih tinggal di bagian tepian sungainya, karena menurut informasi dahulu pemukiman masyarakat berada di sekitar sungai. Tepian sungai pada waktu itu dianggap sebagai tempat yang strategis untuk hidup sehari-hari mengingat sungai selain merupakan prasarana transportasi yang mudah untuk menjangkau satu tempat ke tempat lain, juga karena sungai merupakan sumber air dan sumber makanan (ikan). Kehidupan di tepi sungai juga diikuti dengan pembangunan rumah-rumah berpanggung, dan ditunjang dengan moda transportasi air seperti perahu. Perahu bagi masyarakat yang tinggal di tepian sungai merupakan alat penting untuk menunjang kehidupan sehari-hari, tidak hanya sebagai alat transportasi tetapi juga sebagai penunjang dalam memenuhi kebutuhan hidup, seperti mencari ikan. Perahu tampaknya tidak didatangkan dari tempat lain tetapi dibuat sendiri oleh sebagian masyarakatnya yang memiliki keahlian membuat perahu. Keahlian tersebut diwariskan secara turun-temurun mengingat di desa tersebut masih dijumpai galangan pembuatan perahu tradisional dari kayu.

Kondisi lingkungan alam tempat masyarakat Akit tinggal memungkinkan pada masa lalu masyarakatnya hidup dengan memanfaatkan kekayaan alamnya secara langsung dengan kegiatan berburu dan meramu. Kondisi tersebut dapat dibandingkan dengan masyarakat lain yang masih tinggal di hutan (Anak Dalam, Kubu, Sakai, Mentawai) dan masih menjalankan kegiatan tersebut sekalipun dalam jumlah sedikit. Disebutkan bahwa ekonomi ini sejak lama berfungsi sebagai pelengkap sistem produksi masyarakat yang menetap di suatu tempat (hutan) (Guillaud,ed.,2006:65). Seperti halnya masyarakat lain yang tinggal di hutan, masyarakat Akit memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya dengan memanfaatkan lingkungan alam sekitarnya (hutan dan sungainya). Kebutuhan ekonomi selain dipenuhi dengan berburu, meramu, mencari ikan, tidak jarang juga dengan melakukan perladangan sederhana. Kondisi lingkungan seperti sungai dengan ikan-ikan di dalamnya, rawa dengan tanaman sagu, serta hutan dengan flora dan faunanya memungkinkan dilaksanakannya kegiatan ekonomi tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Lingkungan hidup masyarakat Akit dahulu ketika tinggal di tepian sungai, bagian daratannya merupakan hutan. Nama Desa Hutan Panjang memperlihatkan asal muasal desa tersebut dari areal hutan. Areal hutan kini juga masih tersisa walaupun sebagian telah diubah menjadi areal pertanian/perkebunan dan pemukiman. Persentase dari luas wilayahnya 7700 Ha, diketahui bahwa areal hutan lindung sekitar 12,99 %, hutan bakau 6,49 %, hutan belukar 1,94 %, hutan campuran (sebagian sudah diolah) 51,95 %, sedangkan areal yang diusahakan sebagai pertanian/perkebunan 14,94 % dan pemukiman 11,69 % (sumber: Kantor Kepala Desa Hutan Panjang, 2006). Dahulu ketika areal hutan masih luas dengan berbagai fauna di dalamnya, kegiatan berburu menjadi matapencaharian yang penting bagi masyarakat Akit. Hal ini dapat terlihat dari berbagai peralatan perburuan tradisional yang tidak digunakan lagi kini seperti jerat rusa, tombak (kojor/kojoh), sumpit (sumbit), dan mata sumpit (pono demek). Peralatan tersebut umum digunakan dalam kegiatan perburuan seperti yang digunakan oleh masyarakat pemburu dan peramu di tempat lain. Sumpit misalnya, digunakan oleh masyarakat Punan di Kalimantan dan Wana di Sulawesi Selatan, tombak (kujur) dikenal oleh suku Anak Dalam di Jambi
dan disebut lonjo oleh masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, serta jerat digunakan oleh Suku Wana di Sulawesi Selatan untuk berburu babi atau rusa dan disebut jarat oleh suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah (Bellwood,2000:195, Guillaud,ed.,2006:66, Danandjaja,1999:127, Sumantri,2006:40).

Selanjutnya kegiatan mencari ikan di sungai Selat Morong menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan masyarakat. Banyaknya variasi peralatan tradisional untuk mencari ikan seperti lukah, sehambang, penganak, penggi, hawai dan gundang menggambarkan kegiatan mencari ikan di sungai atau rawa sekitar pemukiman dahulu sering dilakukan oleh masyarakat Akit. Demikian juga pembuatan perahu lesung cenderung lebih banyak untuk menunjang kegiatan tersebut. Namun kini kegiatan itu sudah jarang dilakukan di sekitar sungai, kegiatan mencari ikan dilakukan di laut dengan menggunakan perahu papan dengan peralatan jala. Menurut data yang diperoleh kini kegiatan mencari ikan hanya 10 % saja, sebagian besar mengusahakan bidang pertanian dan perkebunan.

Kemudian kegiatan meramu seperti mencari buah-buahan, sagu, dan rotan juga pernah dilaksanakan untuk melengkapi kebutuhan hidup masyarakatnya. Sagu merupakan salah satu bahan makanan yang penting bagi masyarakat Akit. Sebelum dikonsumsi sagu diolah terlebih dahulu dengan peralatan tradisional dari kayu. Beberapa alat seperti pahut sagu, ayak sagu memberi gambaran dimanfaatkannya tanaman tersebut sebagai bahan makanan. Sekalipun sudah jarang dijumpai, hingga kini pengolahan sagu masih dilakukan oleh masyarakat Akit. Lingkungan tempat tinggal masyarakat Akit dengan sungai dan bagian rawanya menjadi habitat tempat tumbuhnya tanaman sagu. Berbagai peralatan tradisional pengolahan sagu masyarakat Akit tidak berbeda jauh dengan peralatan pengolahan sagu pada masyarakat Mentawai di Pulau Siberut yang menjadikan sagu sebagai makanan pokoknya (Ensiklopedi Suku bangsa Mentawai,tt:64, Susilowati,2006).

Selain kegiatan tersebut di atas, di masa lalu masyarakat Akit juga melakukan pertanian dengan sistem perladangan secara sederhana, terbukti dari adanya peralatan seperti kapak (kapek) dan tugal (tugel). Kini teknologi pertanian masyarakatnya sudah lebih berkembang akibat interaksi dengan masyarakat luar seperti masyarakat Jawa. Perladangan sederhana atau perladangan berpindah kini sudah sulit ditemukan, namun gambaran mengenai perladangan sederhana dengan menggunakan tugal diperoleh melalui catatan tentang suku Dayak di Kalimantan Tengah atau suku Wana di Sulawesi Selatan (Danandjaja,1999:125–126, Sumantri,2006:38–39).

Awalnya dilakukan penebangan pohon-pohon di hutan dengan menggunakan kapak dan parang, selanjutnya batang-batang kayu, cabang, ranting dan daunnya dibiarkan mengering selama dua bulan kemudian dibakar. Abu bekas pembakaran dibiarkan sebagai pupuk. Bagi masyarakat Dayak Ma’anyan penanaman dilakukan dengan cara bergotong-royong. Para laki-laki berbaris di muka sambil menusuk-nusuk tanah dengan tugalnya, sedangkan para wanitanya berbaris mengikuti di belakang sambil memasukkan beberapa bulir padi ke dalam lubang-lubang tersebut. Kemudian pekerjaan merawat dan menjaga pertumbuhan bibit tersebut menjadi tanggungan keluarga dengan tinggal di dangau hingga masa panen. Tidak berbeda dengan suku Dayak Ma’anyan semua pekerjaan perladangan suku Wana juga dilakukan dengan bergotong royong. Setelah penebangan pada hutan sekunder, pembakaran, kemudian dilakukan pembersihan dan membangun pondok kecil tempat istirahat (kepe pamuja kodi). Pekerjaan tersebut diawali dengan melaksanakan kapongo (upacara persembahan). Tidak dilakukan penggemburan tanah sebelum penanaman karenapenanaman menggunakan tugal (sua). Tugal adalah alat untuk membuat lubang dalam tanah tempat menanam benih seperti bulir padi, biji kacang-kacangan, potongan-potongan batang ubi kayu, biji jagung, dan sebagainya. Jenis-jenis ladang yang dibuka secara berkesinambungan
adalah totos (ditanami jagung, ubi kayu, dan padi tiga bulan), bonde (ditanami padi enam bulan, jagung, ubi kayu dan sayur), dan tou (ditanami jagung, padi enam bulan, tebu, kacang panjang, sayur bayam).

Kini untuk menuju ke Desa Hutan Panjang tidak hanya ditempuh melalui sungai Selat Morong. Misalnya jika berangkat dari Batu Panjang, ibukota Kecamatan Rupat atau Tanjung Medang, ibukota Kecamatan Rupat Utara dapat ditempuh melalui jalan darat melewati jalan-jalan desa atau perkebunan. Meskipun jalan-jalan tersebut sebagian belum beraspal, dengan menggunakan kendaraan roda dua kita dapat menempuh desa itu melalui jalan darat yang ada. Perkembangan jalur transportasi darat dengan desa-desa di sekitarnya secara tidak langsung memberi perubahan pada kondisi Desa Hutan Panjang. Kini tidak lagi dijumpai rumah-rumah panggung di tepian sungai, meskipun tidak jarang masyarakat menceritakan adanya bekas-bekas perkampungan di tepian sungai maupun makam-makam lama yang dipindahkan dari tepi sungai.

Kondisi Desa Hutan Panjang sudah berkembang akibat interaksi dengan masyarakat luar yang membawa kebudayaan lain. Di dalam teori sosiologi salah satu faktor yang mendorong jalannya proses perubahan adalah kontak dengan kebudayaan lain. Salah satu proses yang menyangkut hal ini adalah diffusion (proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari individu ke individu lain, dan dari satu masyarakat ke masyarakat lain) (Soekanto,2005:326). Selain itu sistem pendidikan formal yang maju juga menjadi pendorong terjadinya berbagai perubahan pada masyarakatnya. Dapat dikatakan sebagian masyarakat Akit juga telah mengenyam pendidikan formal. Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia, terutama dalam membuka pikirannya serta menerima hal-hal baru dan juga bagaimana cara berpikir secara ilmiah. Pendidikan mengajarkan manusia untuk dapat berpikir secara obyektif, halmana akan memberikan kemampuan untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan zaman atau tidak (Soekanto,2005:328).

Kini kehidupan sehari-hari masyarakatnya tidak lagi bergantung pada alam, tetapi sudah mengolah alam dari hutan menjadi lahan pertanian dan perkebunan. Bersamaan dengan perkembangan pengetahuan dalam bertani dan berkebun masyarakat Akit maka kegiatan seperti berburu, dan meramu sudah ditinggalkan, namun mencari ikan masih dilakukan sebagian masyarakatnya. Konsentrasi perekonomian masyarakat Akit kini lebih banyak pada bidang pertanian dan perkebunan. Selain padi, buah-buahan, dan sayuran, tanaman karet merupakan tanaman yang menunjang perekonomian masyarakat itu kini, sekitar 800 Ha kebun karet diusahakan masyarakatnya. Demikian juga dengan permukiman masyarakat Akit sudah berpindah dari tepian sungai masuk ke daratan bagian dalam membentuk perkampungan yang rapi di pinggir jalan desa yang ada. Bagian yang tidak ditinggalkan adalah sebagian rumah-rumah yang didirikan masih berkonstruksi panggung, berdinding dan berlantai kayu, serta beratap rumbia. Dermaga di tepian sungainya kini tidak ramai oleh transportasi air, kecuali beberapa perahu nelayan. Dermaga penyeberangan menuju ke Desa Hutan Panjang berada di desa lainnya (Pangkalan Nyirih) berjarak sekitar 4 km. Akibatnya juga terjadi perubahan pada lingkungan alam tempat tinggal masyarakat Akit, dahulu di sekitar permukimannya adalah hutan sedangkan kini merupakan areal perkebunan.

Demikian halnya dari sisi religi juga terjadi perkembangan. Sebagai masyarakat yang hidup di lingkungan sekitar sungai dan hutan, kepercayaan yang dianut adalah animisme/dinamisme. Kepercayaan lama masyarakatnya masih terlihat dalam kehidupan sehari-hari mereka, meskipun kini sebagian telah memeluk agama Buddha. Pengaruh agama Buddha pada masyarakat Akit dibawa oleh masyarakat Tionghoa ke Pulau Rupat, sebagian besar masyarakat Tionghoa tersebut menetap di Desa Titi Akar dan sebagian di Batu Panjang (Rohana,2000, Susilowati,2006). Kepercayaan lama antara lain terlihat pada pengobatan yang dipercayakan kepada seorang Bomo, serta peralatan untuk meletakkan sesajian yang disebut balai. Tidak jarang dalam upacara-upacara adatnya seperti upacara menanam padi dan bedah kampung unsur kepercayaan tersebut terlihat dengan sesajian yang disertakan. Kisah tentang asal muasal suku tersebut memberi informasi setidaknya terjadi interaksi antara mereka yang tinggal di hutan dengan orang luar. Tidak mengherankan bila kini pada makam-makamnya terlihat adanya persentuhan dengan budaya Islam. Keberadaan tipe-tipe nisan yang sering terdapat pada makam Islam seperti tipe gada dan pipih yang menggunakan orientasi timur-barat menjadi bukti adanya persentuhan budaya itu. Orientasi timur-barat umumnya ditemukan pada makam-makam lama yang belum tersentuh Islam. Seperti Makam Putri Sembilan, di Dusun III Parit Baru, Desa Kador, Kecamatan Rupat Utara berupa makam tanpa nisan terdiri dari susunan batu berdenah persegiempat dan disusun menggunduk di bagian tengahnya. Demikian halnya dengan tradisinya yang mirip dengan yang dilaksanakan masyarakat Melayu yang sudah memeluk Islam seperti kenduri untuk menyambut kelahiran, khitan, pernikahan, mendirikan rumah, dan kenduri untuk kematian. Di dalam pelaksanaan kenduri tersebut tidak jarang doa-doa yang dipanjatkan sebagian bercampur dengan doa-doa dalam agama Islam, seperti mengucap Basmallah.

IV. Penutup

Dahulu jalur trasportasi yang menjadi penghubung menuju ke Desa Hutan Panjang hanya melalui transportasi air yaitu sungai Selat Morong. Kemudian berkembang dengan dibangunnya jalur trasportasi darat yang menghubungkan Desa Hutan Panjang dengan desa-desa di sekitarnya sehingga memudahkan interaksi masyarakatnya. Perkembangan jalur transportasi menuju ke desa tersebut membawa berbagai perubahan pada kehidupan masyarakat Akit. Interaksi dengan masyarakat luar akibat perkembangan jalur transportasi tersebut menyebabkan tambahan pengetahuan bagi masyarakatnya. Selanjutnya berbagai perubahan juga terjadi pada kehidupan masyarakat tersebut meliputi lokasi pemukiman, matapencaharian, religi, dan lingkungan alam sekitarnya. Perubahan yang terjadi pada masyarakatnya terutama dari sisi perekonomian adalah kehidupan yang semula bergantung pada alam dengan berburu dan meramu berubah menjadi mengolah alam dengan pertanian/perkebunan.

Kepustakaan

Bellwood, Peter, 2000. Prasejarah Kepulauan Indo- Malaysia. Jakarta: Balai Pustaka

Danandjaja, J., 1999. Kebudayaan Penduduk Kalimantan Tengah, dalam Koentjaraningrat (ed.) Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan,hal.
118–142

Ensiklopedi Suku Bangsa Mentawai, tt. Jakarta: Deputi Bidang Nilai Budaya, Seni dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata

Guillaud, Dominique (ed.), 2006. Menyelusuri Sungai, Merunut Waktu, Penelitian Arkeologi di Sumatera Selatan. Jakarta: IRD-Enrique Indonesia

Kaplan, David dan Robert A. Manners, 2002. Teori Budaya (The Teory of Culture). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Rohana, Sita, 2000. Interaksi Antar Sukubangsa di Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis,
dalam Pasar Tradisional: Akau dan perkembangannya, Seri Penerbitan Balai Kajian Jarahnitra No. 16 (T. Dibyo Harsono, ed.). Tanjungpinang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang, hal. 157–190

Soekanto, Soerjono, 2005. Sosiologi, Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Soemarwoto, Otto, 2004. Ekologi, Lingkungan Gidup dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan

Sumantri, Iwan, 2006. Orang Wana: Adat, Hidup, Hutan, Pertanian, Paradoks, dan hari Esok, dalam Kebudayaan, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Vo.1 No.1. Jakarta: Puslitbang Kebudayaan, hal. 33–43

Susilowati, Nenggih, 2006. Peralatan Tradisional Pengolahan Sagu di Pulau Siberut, Rupat, dan Pulau Lingga, dalam Berkala Arkeologi
Sangkhakala Vol. IX No.18. Medan: Balai Arkeologi Medan, hal. 54–60

——————, 2006. LPA, Penelitian Arkeologi di Pulau Rupat, Provinsi Riau. Medan: Balai Arkeologi Medan (belum diterbitkan)

Written by balarmedan

Januari 8, 2009 pada 3:27 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: