Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

GBKP KUTA JURUNG: JEJAK MASUKNYA MISSIONARIS PADA MASYARAKAT KARO DI KABUPATEN DELI SERDANG

with 4 comments

Defri Elias Simatupang

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

 

GBKP Kuta Jurung is a protestant church for Batak Karo community in Kuta Jurung, Deli Serdang – Norh Sumatera. In Agust 2006, Balar Medan have found a christian old grave in there who have guessed that a missionary buried in it. This is a new data that will needed in the future for investigation more complete about the history of missionaries who had done their service for Karonese since 19th century.

 

Kata kunci:
Deli Serdang, GBKP, missionaris, Kuta Jurung

I. Pendahuluan

Pada tgl. 21 Agustus 2006 dan tgl. 31 September 2006 Kantor Balai Arkeologi Medan melakukan peninjauan ke makam tua yang diperkirakan memiliki kaitan dengan sejarah awal pengkristenan Orang Karo. Lokasinya berada di areal kompleks GBKP Kuta Jurung. Adapun yang dilakukan antara lain identifikasi awal, pemetaan lokasi, dan menjaring informasi tentang riwayat sosial budaya daerah setempat.

Masyarakat Karo merupakan salah satu sub etnis Batak selain sub etnis Toba, Simalungun, Pak-pak, Mandailing, dan Angkola (Koentjaraningrat,1987:95). Masing-masing sub etnis Batak memiliki tanah leluhur yang kesemuanya masuk dalam wilayah Propinsi Sumatera Utara. Sering terjadi kekeliruan dalam percakapan sehari-hari yang mengatakan kalau orang Karo diidentikkan dengan masyarakat asli yang mendiami Kabupaten Karo, padahal Tanah Karo jauh lebih luas dari pada Kabupaten Karo. Kecamatan Tanjung Muda Hilir, yang salah satu wilayahnya adalah Kuta Jurung termasuk sebagian dari Tanah Karo yang masuk dalam wilayah Kabupaten Deli Serdang (Prinst,2004:12–13).

II. Deskripsi temuan dan lokasi situs

Peta 1. Peta lokasi penelitian

Peta 2. Lokasi Situs GBKP Kuta Jurung

GBKP Kuta Jurung terletak pada koordinat 03º 18′ 14,7” LU dan 098º 42′ 13,3” BT (lihat Peta 1). Secara administratif situs kompleks GBKP Kuta Jurung berada di Kecamatan S.Tanjung Muda Hilir, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Lingkungan alam situs ditumbuhi dengan kelapa sawit (Elaeis gunieensis), durian (Durio zibethinus), tanaman Karet (Hevea brassiliensis), coklat (Theobroma cacao), dan sebagian lahan dimanfaatkan untuk tanaman padi (Oryza sativa). Kondisi tanah relatif datar demikian pula jalan (dari Delitua) menuju lokasi situs telah beraspal. Areal situs GBKP Kuta Jurung itu sendiri hanya berjarak ± 100 m ke timur dari jalan tersebut (lihat Peta2).

 

 

 

 

Bangunan GBKP Kuta Jurung saat ini bukanlah bangunan lama melainkan bangunan yang masih baru, terlihat cukup sederhana dari susunan batu batanya yang masih belum diplester (lihat Foto 4). Pintu masuk gereja dengan serambinyapun hanya terbuat dari kayu yang tidak mendapatkan sentuhan khas ornament kekristenan yang lazim dijumpai pada tempat-tempat ibadah agama Kristen. Gedung ini sendiri diperkirakan hanya dapat menampung maksimal 100 jemaat, sehingga sekilas gereja ini kelihatan masih baru / kecil pengaruhnya dalam wilayah Kuta Jurung. Namun pada kenyataannya bangunan GBKP Kuta Jurung saat ini adalah gedung gereja yang telah mengalami proses bangun-rubuh sebanyak lima kali. Bekas bangunan gereja yang terdahulu masih terlihat pada areal situs, namun hanya puing-puing gereja II – IV, sedangkan puing-puing gereja I tidak diketahui oleh jemaat saat ini.

Bekas-bekas bangunan gereja lama (II – IV) hanya menyisahkan tiang-tiang penyangga sebagai pondasi yang terbuat dari batu semen dengan ukuran panjang rata-rata 10 – 50 cm (lihat Foto 5). Sisa bangunan gereja II & III berjarak 10 m dari arah timur bangunan saat ini, sedangkan sisa bangunan gereja IV berjarak 12-15 m dari arah utara bangunan saat ini. Sedangkan makam tua yang disebutkan pada bagian pendahuluan terletak sekitar 50 m dari arah barat bangunan Gereja GBKP Kuta Jurung (lihat Peta 2).

Kondisi makam sebagian masih tertutup tanah kecuali pada bagian kepala makam. Setelah dibersihkan baru terlihat jelas makam berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran panjang 165 cm, lebar 61 cm, dengan ukuran tinggi 23 cm adapun bahan/ pembentuk material pembentuknya adalah semen. Batu nisannya yang tertempel pada bagian atas makam berbentuk bujursangkar yang masing-masing sisinya berukuran 51 cm dan tebal 3 cm. Makam membujur barat — timur, bagian kepala terletak di sisi barat (lihat Foto 1 dan 2). Pada nisan terdapat 4 baris pertulisan berhuruf latin yang sebagian tulisan sudah tidak terbaca. Adapun bagian yang masih dapat dibaca adalah :

P.MABAI.

(SI MALAP)

MATE 30.10.

WAHJ.14.

Makam tua P. Mabai (Si Malap)

Pada bagian sisi timur makam P. Mabai terdapat empat makam yang lebih muda usianya (lihat Foto 3). Nisan pada makam-makam tersebut membujur dari timur–barat. Pada nisan makam-makam tersebut terdapat pertulisan:

Informasi masyarakat setempat menyebutkan bahwa keempat makam tersebut adalah makam orang Karo yang sudah dikristenkan dan bekerja sebagai pengurus GBKP Kuta Jurung pada masa-masa itu (1970 –1980an).


 

 

 

 

 

 

 

III. Pembahasan

Makam P. Mabai diduga memilki kaitan dengan sejarah pengkristenan orang Karo mula-mula khususnya di Kabupaten Deli Serdang. Penggunaan batu yang berbentuk balok yang digunakan sebagai penutup makam tersebut juga mengindikasikan sebagai makam tua. Bentuk makam seperti itu biasanya ditemukan pada makam-makam Kristen pada masa kolonial Belanda. Kemudian perbedaan dengan makam-makam lain yang dikenal masyarakat setempat mendukung keberadaannya sebagai makam tua. Makam yang dikenal masyarakat setempat hanya menggunakan peti mati berisi jenazah dan langsung ditimbun dengan tanah hingga membentuk sebuah gundukan (tanpa menggunakan batu sebagai penutup makam). Indikasi sebagai makam tua juga didukung oleh nama tokoh yang dimakamkan yaitu P. Mabai (Si Malap). Nama tersebut tidak dikenal sebagai salah satu nama atau marga bagi kalangan etnis Karo.

Dugaan sementara tokoh tersebut merupakan orang asing dan telah beragama Kristen yang hidup pada masa awal pendirian GBKP Kuta Jurung. Identifikasi terhadap tahun kematian tokoh tersebut belum diketahui dengan pasti akibat rusaknya batu nisan sehingga pertulisan angka tahun hilang. Namun dari ejaan lama yang digunakan untuk menulis kata ‘Wahj’ yang merupakan singkatan dari salah surat dalam Alkitab yaitu ‘Wahyu’, diyakini usia makam telah lebih dari 50 tahun.

Data sejarah tentang awal berdirinya GBKP belum didapatkan dengan jelas sehingga proses masuknya agama Kristen ke daerah tersebut belum terungkap. Temuan makam tua tersebut dapat dijadikan sebagai data baru dalam mendukung usaha melacak jejak masuknya missionaris pada masyarakat Karo di Kabupaten Deli Serdang. Gedung gereja GBKP Kuta Jurung itu sendiri telah mengalami proses bangun – rubuh sebanyak lima kali. Bangunan gereja yang pertama tidak diketahui dengan pasti tahun pendiriannya, demikian juga lokasinya, sedangkan gereja II – IV diketahui berdasarkan puing-puing bangunannya yang terdapat di sekitar areal tersebut.

Informasi dari Nikep br Ginting menyebutkan bahwa pada tahun 1958, bersama suaminya bertugas sebagai penatua (pengurus gereja) GBKP Kuta Jurung. Pada waktu itu makam P. Mabai sudah ada, demikian juga makam-makam sejenis. Dikatakannya pula bahwa rel kereta api yang ada sudah tidak difungsikan lagi dan sisa bangunan gereja pertama sudah tidak ada. Informasi tersebut setidaknya menggambarkan bahwa pada lokasi makam P. Mabai merupakan kompleks pemakaman.

Keberadaan makam P. Mabai (Si Malap) di sekitar puing-puing gereja lama memunculkan dugaan bahwa tokoh tersebut adalah salah satu penyebar agama Kristen yang berasal dari luar daerah dan bertugas di Kuta Jurung.

Data sejarah menyebutkan pada tahun 1891 empat orang dari Minahasa yang sudah memeluk agama Kristen didatangkan oleh seorang missionaris Belanda yakni Pdt. H.C. Kruyt dari Nederlandsch Zending Genootschap (NZG) untuk membantu misi pelayanan bagi masyarakat Karo (Van Den End & Weitjens,2003:205). Informasi dari J.Limbeng menyebutkan Kuta Jurung pada tahun 1910 pernah menjadi wilayah pelayanan seorang missionaris bernama Pdt.L.Boodan (www.tanahkaro.com). Namun informasi mengenai Pdt. L.Boodan pada waktu itu merupakan miisionaris pertama atau telah ada missionaris-missionaris lain sebelumnya di Kuta Jurung tidak diketahui.


IV. Penutup
Keberadaan tinggalan arkeologis berupa makam dan sisa bangunan gereja lama yang terdapat di kompleks GBKP Kuta Jurung merupakan data arkeologis guna melacak jejak masuknya pengaruh Kristen pada masyarakat Karo, khususnya di Kabupaten Deli Serdang. Bangunan GBKP Kuta Jurung yang telah mengalami proses bangun – rubuh sebanyak lima kali menunjukkan terjadinya proses transformasi data arkeologis yang berulang dan membutuhkan rentang waktu cukup panjang. Data tersebut membuktikan GBKP Kuta Jurung memiliki catatan sejarah yang cukup lama berkaitan dengan masuknya missionaris di Kabupaten Deli Serdang pada akhir abad ke- 19.

Kepustakaan
Limbeng, J. Buluh Awar atau Kuta Jurung: http://www.tanahkaro.com/simalem/index.php?option=com_content&task=view&id=621&Itemid=9
Koentjaraningrat. (ed), 1987. Kebudayaan Batak, dalam Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan
Prinst, Darwin 2004. Adat Karo. Medan: Bina Media Perintis.
Van Den End, Th. & Weitjens, Dr.J., 2003. Ragi Carita 2: Sejarah Gereja di Indonesia 1860–sekarang. Jakarta: BPK Gunung Mulia, cetakan ke- 6

Sumber informan
Nikep Br.Ginting (75 thn), bekas pengurus lahan GBKP Kuta Jurung sejak tahun 1958.

Written by balarmedan

Juni 26, 2008 pada 8:25 am

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Informasi awal yang cukup menarik untuk ditindak lanjuti sebenarnya. Buku yang juga pernah menyinggung tentang GBKP Kuta Jurung tersebut adalah bukunya Dk. Em. Padan Sinuraya. Berdasarkan nama-nama orang Kuta Jurung, seperti Matius Sitepu, ini pertanda bahwa kelahirannya sudah pasti mengenal budaya Kristen di sana.
    Selain itu juga di Kuta Jurung juga terdapat kuburan sepanjang tujuh meter yang hingga saat ini masih dikeramatkan oleh warga setempat. menurut kepercayaan masyarkat apabila mendekat ke lokasi pasti disengat lebah (tawon). Saya curiga itu jangan-jangan di lokasi tersebut ada peninggalan sejarah yang dikramatkan. Saya sudah pernah bilang juga ke teman-teman Arkeologi Budpar, termasuk dukun yang katanya jinujungnya berasal dari tempat itu. Ia juga bilang bisa jadi, karena dalam mimpinya ia menyebutkan bahwa roh yang ada pada dia itu sangat kaya… Sekedar info.. Coba kita gali….

    Terimkasih.
    Salam

    Julianus Limbeng
    Head of Musicology
    Universitas Pelita Harapan

    Julianus Limbeng

    Februari 3, 2009 at 6:10 am

    • Terima kasih atas komentarnya, memang seharusnya ada tindak lanjut dari hasil pengamatan awal sewaktu tim kami kesana 2 tahun yang lalu. Langkah selanjutnya sebenarnya yang harus dilakukan untuk situs GBKP Kuta Jurung adalah melakukan penggalian arkeologis (namun masih bersifat eksplorasi) pada tempat-tempat yamg sudah kami survey tempo hari. Sebenarnya situs ini ga kalah menarik dengan situs-situs lain yang sedang kami tangani.
      Tapi mohon dimaklumi, alasan klasik🙂 menyangkut keterbatasan dana penelitian kami tiap tahunnya, sehingga harus membuat prioritas situs-situs yang harus lebih dulu kami tangani lebih lanjut. Situs GBKP Kuta Jurung untuk sementara belum menjadi prioritas, tapi apabila semakin banyak “tuntutan publik”, mungkin akan semakin cepat diprioritaskan oleh para pemegang kebijakan di instansi Departemen kami. Terima Kasih

      balarmedan

      Februari 4, 2009 at 4:10 am

  2. uga gundari kelanjutan tentang penelitian gbkp kuta jurung ndai, nggo melit kasil si memuasken tentang penelitian e?

    Riodes limbeng

    September 9, 2010 at 5:05 am

  3. kelestarian situs itu mohon dipertahankan dan kalau bisa dilestarikan dan dibangun lebih baik

    lubis tinggiran { tiga juhar)

    Februari 8, 2012 at 9:29 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: