Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

BENTENG INONG BALEE DAN KOMPLEKS MAKAM LAKSAMANA MALAHAYATI DI KABUPATEN ACEH BESAR, PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

with 5 comments

Deni Sutrisna

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

 

The complex of Laksamana Malahayati’s grave is in Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. As a symbol of respecting and the meaning of her war, its location is in hilltop and protected by wall. It’s winged and unwinged slab gravestone type with longfeet square. In her life, Laksamana Malahayati was known as a brave admiral when marched against Portuguese and Dutch in Malaka Straits. One of her great contribution was when she formed a single troop consists of some widows (known as Inong Balee and Benteng Inong Balee) fight against the imperialism.

 

Kata kunci: benteng, makam, nisan, Inong Balee

 

I. Pendahuluan

Laksamana Keumala Hayati atau Malahayati adalah wanita pejuang Aceh yang terkenal dalam kemiliteran pada masa Kerajaan Aceh Darussalam di bawah pimpinan pemerintahan Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil (1589-1604 M). Malahayati diberikan kepercayaan oleh sultan sebagai kepala pengawal dan protokol di dalam dan di luar istana. Saat masih kanak-kanak ibunya telah meninggal dunia, dan selanjutnya diasuh oleh ayahnya sendiri bernama Laksamana Mahmudsyah (Tim, 1998:19). Malahayati kecil sering diajak ayahnya pergi dengan kapal perang. Pengenalannya dengan kehidupan laut itu kelak membentuk sifatnya yang gagah berani dalam mengarungi laut luas.

Selain berkedudukan sebagai Kepala Pengawal Istana, Malahayati juga seorang ahli politik yang mengatur diplomasi penting kerajaan. Dalam suatu peristiwa pada tanggal 21 Juni 1599, kerajaan kedatangan dua kapal Belanda, Deleeuw dan Deleeuwin dibawah pimpinan dua orang kapten kapal bersaudara, yaitu Cornelis dan Frederik de Houtman (Tim P3SKA, 1998:19). Maksud kedatangan mereka adalah untuk melakukan perjanjian dagang dan memberikan bantuan dengan meminjamkan dua kapal tersebut guna membawa pasukan Aceh untuk menaklukan Johor pada tanggal 11 September 1599. Peminjaman kapal tersebut ternyata merupakan bentuk tipu muslihat Belanda, karena ketika para prajurit kerajaan menaiki kapal, kedua kapten kapal tersebut melarangnya sehingga terjadilah bentrokan yang tak terhindarkan. Dalam peristiwa itu banyak dari pihak Belanda tewas, kedua kaptennya ditangkap oleh pasukan Aceh yang dipimpin oleh Malahayati. Karena kecakapannya itulah kemudian sultan mengangkatnya menjadi Laksamana. Selanjutnya atas izin sultan dan inisiatif dari Laksamana Malahayati, dibentuk sebuah pasukan yang terdiri dari para janda yang ditinggalkan oleh suaminya karena gugur dalam perang. Pasukan itu bernama Inong Balee di bawah pimpinan Laksamana Malahayati sendiri. Markas pasukan ini berada di Lam Kuta, Krueng Raya Kabupaten Aceh Besar (Tim P3SKA, 1998 :14). Salah satu jejak perjuangan yang masih tersisa hingga kini adalah kompleks makam Malahayati yang berada di puncak bukit dan sebuah benteng yang disebut Benteng Inong Balee di tepi pantai Selat Malaka, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Melalui kedua situs tersebut yang akan dituangkan dalam tulisan ini diharapkan dapat melengkapi sejarah perjuangannya di bidang kebaharian.

II. Armada Inong Balee

Pada zaman Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil yang memerintah tahun 997-1011 H (1589-1604), dibentuk sebuah armada yang sebagian prajurit-prajuritnya terdiri dari janda-janda yang disebut Armada Inong Balee. Armada ini dipimpin Laksamana Malahayati, seorang wanita yang ditinggal mati suaminya dalam suatu pertempuran laut.

Armada Inong Balee berulangkali terlibat dalam pertempuran di Selat Malaka, daerah pantai timur Sumatera, dan Malaya. Seorang wanita penulis asal Belanda, Marie van Zuchyelen dalam bukunya “Vrouwolijke Admiral Malahayati” memuji Laksamana Malahayati dengan armada Inong Baleenya itu, terdiri dari 2000 prajurit wanita yang gagah dan tangkas (Hasjmy, 1975:95). Laksamana Malahayati melatih para janda menjadi prajurit kesultanan yang tangguh di dalam sebuah benteng, yaitu Benteng Inong Balee. Laksamana Malahayati juga diberi wewenang oleh Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil untuk menerima dan menghadap utusan Ratu Inggris Ratu Elizabeth I, Sir James Lancaster yang datang ke Aceh dengan tiga kapal yaitu Dragon, Hector dan Ascentic pada tanggal 6 Juni 1602 dengan membawa sepucuk surat dari Ratu Inggris (Mann, 2004:23).

Pada masa pemerintahan Sultan Muda Ali Riayat Syah V Mukammil yang memerintah dalam tahun 1011-1015 H (1604-1607) keberadaan prajurit wanita itu masih tetap dipertahankan, yaitu dengan dibentuknya Sukey Kaway Istana (Kesatuan Pengawal Istana). Kesatuan Pengawal Istana itu terdiri dari Si Pa-i Inong (prajurit wanita) di bawah pimpinan dua pahlawan wanita: Laksamana Meurah Ganti dan Laksamana Muda Cut Meurah Inseun (Hasjmy, 1975:95).

Kedua pimpinan Kesatuan Pengawal Istana itulah yang telah berjasa membebaskan Iskandar Muda dari penjara tahanan Sultan Muda Ali Riayat Syah V Mukammil (Jamil, 1959:114). Setelah pemerintahan Sultan Muda Ali Riayat Syah V Mukammil berakhir, dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda Darma Wangsa Perkasa Alam Syah yang memerintah pada tahun 1016-1045 H (1607-1636 M). Pada masa itu Kerajaan Aceh Darussalam berkembang pesat dan mengalami masa keemasannya. Perhatian sultan kepada para prajurit wanita cukup besar. Sultan memperbesar dan mempermodern Angkatan Perang Aceh, di antaranya membentuk suatu kesatuan pengawal istana yang terdiri dari prajurit wanita di bawah pimpinan seorang jenderal wanita, Jenderal Keumala Cahaya. Dari catatan sejarah kesatuan wanita tersebut sebagian merupakan Kesatuan Kawal Kehormatan yang terdiri dari prajurit wanita cantik. Kesatuan ini bertugas menyambut tamu-tamu agung atau para pembesar baik dari kalangan pembesar kerajaan di nusantara maupun dari luar/asing dengan barisan kehormatannya.

III. Benteng Inong Balee

Secara administratif berada di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Benteng ini disebut Benteng Inong Balee yang pebangunannya dipimpin Laksamana Malahayati, pada masa Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil. Pencapaian menuju Benteng Inong Balee melalui jalan raya beraspal arah Banda Aceh – Mesjid Raya berbelok ke arah kiri berlanjut melalui jalan tanah. Kemudian sekitar 1 km melintasi jalan tanah tersebut maka akan dijumpai benteng yang berada di tepi jurang, dan dibawahnya pantai dengan batuan karang.

Benteng berdenah persegipanjang menghadap ke barat yaitu arah laut/Selat Malaka. Batas tembok di sisi utara berupa tanah landai yang penuh dengan semak belukar, sisi timur juga semak belukar, sisi selatan areal perladangan, dan sisi barat sekitar 10 m adalah jurang. Konstruksi tembok benteng yang masih tersisa kini di bagian barat berupa tembok yang membujur utara-selatan, dan di bagian utara dan selatan membujur timur-barat. Kemudian di bagian timur terdapat struktur pondasi berukuran panjang sekitar 20 m. Bahan bangunan penyusun tembok benteng terbuat dari batuan alam berspesi kapur. Tembok benteng di bagian barat memiliki ukuran panjang 60 m, tebal 2 m, dan tinggi 2,5 m, tembok benteng di bagian utara berukuran panjang 40 m, tebal 2 m, dan tinggi bagian dalam 1 m. Sedangkan tembok di bagian selatan berukuran panjang 60 m, tebal 2 m, dan tinggi bagian dalam 1 m. Pada tembok yang membujur utara-selatan di bagian barat terdapat 4 lubang pengintaian menyerupai bentuk tapal kuda. Tinggi lubang pengintaian bagian dalam sekitar 90 cm, lebar 160 cm, sedangkan tinggi lubang bagian luar sekitar 85 cm dan lebar 100 cm. Posisinya yang mengarah ke Selat Malaka jelas berfungsi untuk mengawasi terhadap lalu-lalang kapal laut. Benteng Inong Balee sering disebut juga Benteng Malahayati. Benteng ini merupakan benteng pertahanan sekaligus sebagai asrama penampungan janda-janda yang suaminya gugur dalam pertempuran. Selain itu juga digunakan sebagai sarana pelatihan militer dan penempatan logistik keperluan perang.

 

Struktur tembok benteng di bagian utara

 

 

 

IV. Kompleks Makam Laksamana Malahayati

Sekitar 3 km dari Benteng Inong Balee dijumpai kompleks makam Laksamana Malahayati yaitu pada bagian puncak bukit kecil. Sekeliling areal makam adalah perladangan penduduk. Pencapaian ke kompleks makam tersebut ditempuh dengan cara menaiki susunan anak tangga semen mulai dari bawah bukit. Areal makam dibatasi pagar tembok dengan pintu masuk berada di timur. Ada tiga makam yang berada dalam satu jirat dan dinaungi oleh satu cungkup. Jirat berbentuk persegipanjang dari semen yang dilapisi keramik putih. Ukuran tinggi jirat dari permukaan tanah sekitarnya adalah 30 cm.

Berikut adalah deskripsi makam:

– Makam I: berada di sisi barat dilengkapi sepasang nisan tipe pipih bersayap. Bagian kaki berbentuk balok, antara kaki dan badan terdapat pelipit. Bagian bawah badan berhiaskan kuncup bunga teratai. Terdapat 3 panel kaligrafi berbingkai di tengah badan nisan, hiasan sulur-suluran di bagian sayap nisan. Puncak nisan berbentuk atap limasan.

– Makam II: berada di antara Makam I dan Makam III, tipe nisan pipih tanpa sayap. Kaki nisan berbentuk balok, antara kaki dan badan terdapat pelipit. Pada bagian bawah nisan berukirkan kuncup bunga teratai. Pada bagian tengah badan terdapat 3 panel kaligrafi berbingkai dan motif garis-garis. Bahu kiri dan kanan nisan meruncing ke atas. Di atas bahu nisan terdapat dua susun mahkota teratai yang diakhiri bagian puncak berbentuk atap limasan.

– Makam III: terletak di sisis timur dari Makam II. Ukuran nisan lebih kecil dari Makam I dan Makam II. Bentuk nisan pipih tanpa sayap. Nisan yang berada di bagian utara dan selatan telah patah. Selain nisan aslinya yang telah patah, nisan di bagian utara juga ditandai dengan batuan alam.

Lokasi makam pada puncak bukit, merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap tokoh yang dimakamkan. Penempatan makam di puncak bukit kemungkinan dikaitkan dengan anggapan bahwa tempat yang tinggi itu suci. Beberapa kompleks makam di daerah lain yang terdapat di puncak bukit antara lain: Kompleks Makam Raja-raja Mataram di Imogiri Yogyakarta, makam sunan di Giri, Muria, dan Gunung Jati di Cirebon, Kompleks Makam Papan Tinggi dan Mahligai di Barus.

 

V. Peran wanita Aceh dalam kehidupan bernegara

Dibandingkan dengan sejarah perjuangan wanita di belahan bumi Nusantara yang lain, wanita pejuang Aceh dapat dikatakan dominan terlibat dalam perjuangan fisik melawan imperialisme Portugis maupun Belanda. Ini tentu saja harus dilihat dari latar belakang keterlibatan mereka terutama dari sudut pandang agama, Aceh merupakan tempat pertama kali Islam masuk, ini dibuktikan dengan tinggalan berupa makam Sultan Malik al-Saleh yang wafat pada tahun 1297 M di Pase, Aceh Utara dari kerajaan Islam pertama Samudera Pasai (Ambary, 1998:42). Sejak itu landasan ajaran Islam di sana dapat dikatakan sangat mempengaruhi perjalanan sejarah peradaban pemerintahan kerajaan-kerajaan di Aceh, bahkan kini landasan hukum berupa syariat Islam berlaku di sana. Dalam masalah jihad (perang di jalan Allah), menurut Islam tidak ada perbedaan pria dan wanita, artinya sama-sama wajib berjihad untuk menegakkan agama Allah, sama-sama wajib berjihad untuk membela tanah air, sama-sama wajib bekerja untuk memimpin dan membangun negara, seperti yang tertuang pada hadist-hadist berikut (Hasjmy, 1976:23):

  • Menurut sebuah hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari dari seorang Sahabat-Wanita, yang mengatakan: Kami pergi berperang bersama Rasul Allah, dimana antara lain tugas kami menyediakan makan dan minum bagi para prajurit; mengembalikan anggota tentara yang syahid ke Madinah (Al Hadist Riwayat Bukhari).
  • Seorang Sahabat-Wanita yang lain berkata: Kami ikut berperang bersama Rasul Allah sampai tujuh kali, dimana kami merawat prajurit yang luka, menyediakan makan dan minum bagi mereka (Al Hadist Riwayat Bukhari).

Dari sumber yang lain, yaitu kitab yang bernama “Safinatul Hukkam” ditegaskan bahwa wanita boleh menjadi raja atau sultan, asal memiliki syarat-syarat kecakapan dan ilmu pengetahuan (Syekh Jalaluddin Tursamy: Safinatul Hukkam, hal 27). Berdasarkan sumber hadist tersebut di atas adalah merupakan hal yang logis kalau sejarah telah mencatat sejumlah nama wanita yang telah memainkan peran penting di Aceh sejak zaman Kerajaan Islam Perlak sampai Kerajaan Aceh Darussalam. Hal ini dapat dilihat dalam buku Risalah Akhlak yang ditulis oleh A. Hasjmy yang diterbitkan oleh Bulan Bintang pada awal tahun 1976. Nama-nama wanita tersebut yaitu (Hasjmy, 1976:24-26):

  1. Puteri Lindung Bulan, anak bungsu dari Raja Muda Sedia yang memerintah Kerajaan Islam Benua/Teuming pada tahun 1333-1398 M.
  2. Ratu Nihrasiyah Rawangsa Khadiyu, yang menjadi ratu terakhir yang memerintah Kerajaan Islam Samudra/Pase pada tahun 1400-1428 M.
  3. Laksamana Malahayati, seorang janda muda yang menjadi panglima dari Armada Inong Balee masa Sultan Alaidin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil yang memerintah pada tahun 1589-1604 M.
  4. Ratu Safiatuddin, yang memerintah Aceh pada tahun 1641-1675 M.
  5. Ratu Naqiatuddin, yang memerintah Aceh pada tahun 1675-1678 M.
  6. Ratu Zakiatuddin, yang memerintah Aceh pada tahun 1678-1688 M.
  7. Ratu Kamalat, yang memerintah Aceh pada tahun 1688-1699 M.
  8. Cut Nyak Dhien, istri dari Tuku Umar yang meneruskan perjuangan suaminya hingga akhirnya ditangkap dan dibuang ke Sumedang, Jawa Barat hingga wafat di sana.
  9. Teungku Fakinah, seorang wanita Ulama yang menjadi pahlawan, memimpin sebuah kesatuan dalam Perang Aceh dan setelah perang usai Teungku Fakinah mendirikan Pusat Pendidikan Islam yang bernam Dayah Lam Biran.
  10. Cut Meutia, seorang pahlawan wanita yang selama 20 tahun memimpin perang gerilya di dalam hutan dan mati syahid ketika melakukan perlawanan terhadap Belanda.
  11. Pocut Baren, seorang pahlawan wanita yang pada tahun 1898-1906 M memimpin perang terhadap Belanda, dan akhirnya tertawan dalam mempertahankn bentengnya karena luka parah pada tahun 1906.
  12. Pocut Meurah Intan, Srikandi yang juga bernama Pocut Biheu, bersama putera-puteranya, Tuanku Muhammad, Tuanku Budiman dan Tuanku Nurdin berperang pantang menyerah melawan Belanda selama bertahun-tahun. Pada tahun 1904 dalam keadaan luka parah bersama puteranya Tuanku Nurdin, ia ditawan Belanda. Sedangkan puteranya yang lain, Tuanku Muhammad telah syahid pada tahun 1902.
  13. Cutpo Fatimah, teman seperjuangan Cut Meutia, puteri dari seorang ulama besar, Tengku Kahtim atau Tengku Chik Mataie. Cutpo Fatimah bersama suaminya, Tengku Dibarat melanjutkan perang setelah Cut Meutia dan suaminya syahid. Pada pertempuran tanggal 22 Februari 1912 ketika bertempur melawan Belanda keduanya syahid.

Uraian tersebut menggambarkan peran agama dan kebudayaan Islam begitu besar mempengaruhi kehidupan rakyat Aceh sampai pada perjuangan melawan Portugis maupun Belanda. Jiwa keagamaan merupakan landasan pokok, rakyat baik pria dan wanita berjuang untuk mengusir Portugis atau Belanda di Aceh dengan gigih.

Mati melawan penjajah itu berarti mati syahid. Sikap inilah yang melandasi semangat juang Laksamana Malahayati bersama pasukannya untuk melakukan pertempuran dan penangkapan terhadap kapten kapal Belanda, Cornelis dan Frederik de Houtman. Pertempuran lainnya adalah di Laut Aru dengan Portugis yang ingin menguasai daerah pesisir pantai timur Aceh. Keberaniannya dalam memimpin suatu pertempuran yang dilandasi dengan kesetiaan pada kerajaan melambangkan cita-citanya yang kuat untuk mengusir penjajah dari wilayahnya. Karya nyata perjuangannya itu diwujudkan dengan membangun sebuah benteng pertahanan yang khusus bagi para janda untuk mengantisipasi serangan Portugis dari kawasan Selat Malaka, Benteng Inong Balee. Laksamana Malahayati melatih kemiliteran bagi para janda di dalam benteng tersebut. Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan kegigihan Laksamana Malahayati dalam mempertahankan wilayah dan eksistensi kerajaannya, maka makamnya diletakan pada suatu puncak bukit di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi NAD.

VI. Penutup

Laut Nusantara telah menyisakan sederet kisah-kisah kepahlawanan yang dapat menjadi teladan bagi kita. Walaupun kisah kepahlawanan Laksamana Malahayati belum sepenuhnya terungkap namun keberadaan tinggalan arkeologis berupa Benteng Inong Balee dan Kompleks Makam Laksamana Malahayati menguatkan bukti sejarah kisah perjuangan, tidak hanya dalam mempertahankan eksistensi kerajaannya saja, lebih dari itu Laksamana Malahayati berjuang juga demi harkat dan martabat kaumnya. Untuk mengenang jasa Laksamana Malahayati, sekitar 560 m arah utara kompleks makam terdapat pelabuhan laut untuk kegiatan bongkar muat barang maupun penyeberangan, yaitu Pelabuhan Malahayati. Nama Malahayati juga dijadikan nama kapal perang TNI AL kawasan timur/Armada Timur yaitu KRI Malahayati.

Kepustakaan

Ambary, Hasan Muarif, 1996. Makam-makam Islam di Aceh dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 19. Jakarta: Puslit Arkenas, Depdikbud

——————–,1998. Menemukan Peradaban, Arkeologi dan Islam di Indonesia. Jakarta: Puslit Arkenas

Hasjmy, A, 1975. Iskandar Muda Meukuta Alam. Jakarta: Bulan Bintang

——————–, 1976. 59 Tahun Aceh Merdeka dibawah Pemerintahan Ratu. Jakarta: Bulan Bintang

Jamil, M Yunus, 1959. Gajah Putih. Banda Aceh: Lembaga Kebudayaan Aceh

Mann, Richard, 2004. 400 Years And More of The British In Indonesia. London: Gateway Books International

Perret, Daniel dan Kamarudin AB. Razak, 1999. Batu Aceh Warisan Sejarah Johor. Selangor: Yayasan Warisan Johor dan EFEO

Pramono, Djoko, 2005. Budaya Bahari. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Soekmono, R, 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Jakarta: Kanisius

Tim, 1978. Adat Istiadat Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah

Tim P3SKA, 1998. Buku Objek Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Aceh. Banda Aceh: Perkumpulan Pecinta Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Aceh (P3SKA).

Tim Penyusun, 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka, Depdikbud

Written by balarmedan

Juni 26, 2008 pada 8:29 am

Ditulis dalam Deni Sutrisna,S.S.

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Saya tertarik dengan informasi tentang Kerajaan Tamiang. Diatas ada disebutkan Putri Lindung Bulan, Ratu pada Kerajaan Islam Benua.

    Bisa bantu informasi tentang literatur nya? Terimakasih

    Syukri

    Juni 22, 2009 at 5:03 am

  2. mw tanya dikit nih…
    di tidore ada salah satu moyang kami yg pahlawan juga bagi kami bernama Kolano Ciriliyati/Sultan Jamaluddin beliau sebagai Sultan Tidore.

    apakah ada hubungannya juga ne…
    Keumala Malahayati dengan Kolano Ciriliyati

    sebab ada orang2 tua kami juga yg menginformasikan bahwa salah satu saudara perempuannya beliau Kolano lari pergi ke Aceh…

    tapi dilihat dari data Keumala Malahayati adalah Putri asli Aceh…

    kita tau bahwa sejarahnya perjuangan Keumala Malahayati sekitar tahun 1589-1604,masa Sultan Ciriliyati juga sekitar tahun 1500an.

    mohon infonya…

    naano cirihadjati

    November 6, 2009 at 7:15 am

  3. makasih infonyA,SALAM KENAL

    Tempat Wisata Indonesia

    Maret 5, 2010 at 8:01 am

  4. kirim

    Irfan

    Juli 6, 2010 at 4:14 pm

  5. Tempat strategis no.satu yg terkenal didunia,pd masa kekhilafahan kerajaan islam berjaya dulu.

    Irfan

    Juli 6, 2010 at 4:20 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: