Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

TIPE HUNIAN GUA DAN CERUK ARKEOLOGIS MASA PRASEJARAH DI KECAMATAN TANJUNGSARI, GUNUNGKIDUL (Sebuah Analisis Pendahuluan)

leave a comment »

Taufiqurrahman Setiawan

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

The prehistoric hunter and gatherers have two type of cave or rock-shelter settlement. The first one is homebase, which they stay here for a long time and gather their food from environtment natural sources. When their environtment sources empty, they hunt or gather in the other natural sources. They need other cave or rock-shelter as transit-site, make energy efficiency for a good hunting strategy trap.

 

Kata Kunci : gua, ceruk, homebase, transit-site

I. Pendahuluan    

Lingkungan merupakan faktor penentu manusia memilih lokasi permukiman. Oleh karena itu, manusia memperhatikan kondisi lingkungan dan penguasaan teknologi. Terdapat beberapa variabel yang berhubungan dengan kondisi lingkungan, antara lain:

1.     Tersedianya kebutuhan akan air, adanya tempat berteduh, dan kondisi tanah yang tidak terlalu lembab,

2.     Tersedianya sumber daya makanan baik berupa flora-fauna dan faktor-faktor yang memberikan kemudahan di dalam cara-cara perolehannya (tempat untuk minum binatang, batas-batas topografi, pola vegetasi),

3.    Faktor-faktor yang memberi elemen-elemen tambahan akan binatang laut atau binatang air (dekat pantai, danau, sungai, mata air) (Subroto,1995:133-138;Butzer,1984:14-21).

Kehidupan manusia pada masa prasejarah tergantung pada lingkungan dan penguasaan teknologi. Sumber-sumber subsistensi dari lingkungan ditambah dengan penguasaan teknologi pada masa itu, mengakibatkan pola kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan. Selain itu, manusia juga memanfaatkan bentukan alam untuk mempertahankan hidupnya. Oleh karena itu, gua dan ceruk menjadi salah satu alternatif tempat tinggal bagi manusia pada masa prasejarah (Nurani,1999:1-13).

Selain sumber daya yang memadai, aspek-aspek fisik lingkungan merupakan faktor penting lainnya yang menentukan kelayakan suatu lokasi untuk permukiman. Dalam kaitannya dengan hunian gua, faktor-faktor tersebut meliputi morfologi dan dimensi tempat hunian, sirkulasi udara, intensitas cahaya, kelembaban, kerataan dan kekeringan tanah, dan kelonggaran dalam bergerak (Yuwono,2005).

Kawasan Gunung Sewu merupakan daerah yang bercirikan ribuan bukit karst yang menampilkan sejarah kehidupan manusia, setidaknya sejak kala Pleistosen Akhir hingga Holosen Awal. Salah satu karakter budaya yang khas adalah pemanfataan gua dan ceruk secara intensif. Ekskavasi yang telah dilakukan di sejumlah gua hunian prasejarah di Gunungkidul memberikan gambaran adanya aktivitas pemanfaatan bahan baku yang tidak berasal dari wilayah permukimannya. Beberapa temuan yang didapatkan di gua-gua itu merupakan hasil dari daerah pantai, bukan dari daerah pedalaman, seperti peralatan dan perhiasan dari cangkang kerang laut dan juga adanya temuan hasil eksploitasi daerah pantai di situs-situs pedalaman tetapi belum diketahui bagaimana temuan itu dapat sampai di pedalaman. Dari hasil barter antara komunitas pantai dan pedalaman, atau hasil eksploitasi komunitas pedalaman di daerah pantai. Dengan terungkapnya bagaimana hubungan itu terjadi maka data tersebut berguna untuk memahami proses penghunian dan migrasi manusia purba di Jawa dan Indonesia (Tanudirjo dkk,2003:1–2).

Data yang diperoleh dari hasil survei penelitian pendahuluan di Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul yang dilakukan oleh Tim PTKA UGM pada tahun 2003 (Tanudirjo, dkk., 2003; Yuwono, 2005: 40-51; lihat Peta 1) dan survei lanjutan oleh penulis pada tahun 2006 diketahui adanya 53 situs gua dan 23 diantaranya merupakan situs gua dan ceruk yang potensial dijadikan hunian pada masa prasejarah. Dari hasil PTKA tahun 2003 tersebut diketahui adanya pola spasial gua dan ceruknya, terdiri atas tiga kelompok yaitu daerah pesisir, daerah pedalaman, dan daerah ‘antara’. Namun dari penelitian tersebut tipe hunian gua dan ceruk tersebut belum diketahui, gua untuk hunian sementara atau atau hunian menetap.


Peta 1. Peta sebaran gua dan ceruk di Kecamatan Tanjungsari

II. Lingkungan Tanjungsari dan sekitarnya

Secara geologis, wilayah Tanjungsari termasuk dalam Formasi Wonosari dengan jenis batuan berupa batu gamping terumbu. Pengendapan Formasi Wonosari ini bertepatan dengan suatu transgresi (genang laut) yang disusul dengan pengangkatan pada akhir Tersier. Akibat pengangkatan ini terjadi sesar-sesar normal besar, yang umumnya mengarah timur-barat. Formasi Wonosari bagian selatan terjadi dari batugamping berlapis mengandung bioherma heksakoral. Diperkirakan pada kala Pliosen mulai terjadi proses-proses erosi serta pelapukan fisika dan kimia pada perbukitan Gunung Sewu. Endapan terrarossa, yaitu campuran tanah lapukan batuan yang bersifat gampingan dan lempungan, juga terbentuk pada kala ini. Oleh air hujan dan gravitasi kemudian diendapkan dan terkumpul pada dolin-dolin (Kelompok Geohidrologi Karst, 1980).

Wilayah karst Tanjungsari masuk dalam tipe karst labirin yang ditandai oleh jaringan lembah kering membujur utara-selatan, dan beberapa di antaranya membujur barat-timur membentuk labirin di antara kubah-kubah karst. Batuan penyusunnya berupa batu gamping terumbu yang keras dan dalam, karren, dan rongga pelarutan intensif, dan tidak terdapat mata air (Yuwono,2005:40–51).

Daerah paling selatan dari Kecamatan Tanjungsari merupakan tebing terjal yang membentang barat-timur dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Pada daerah ini terdapat empat teluk besar, yaitu Teluk Baron, Teluk Kukup, Teluk Drini, dan Teluk Krakal, yang berhubungan langsung dengan daerah pedalaman melalui jaringan lembah kering yang memanjang utara-selatan (Yuwono,2005:40–51).

Tanjungsari memiliki bukit-bukit membulat dengan lereng cembung dan puncak membulat, konis, berbentuk kerucut, atau rata. Wilayah ini memiliki telaga-telaga dolin yang merupakan suatu bentukan negatif oleh proses karstifkasi yang intensif. Bukit-bukit karst yang tersusun oleh batu gamping yang penuh dengan lubang, kekar, lekukan, dan gua mengakibatkan terisinya dolin di antara bukit-bukit tersebut oleh terrarossa, sehingga terjadi penyumbatan pada lubang dolin. Akibat penyumbatan itu maka pada musim penghujan air akan tertampung di dolin tersebut dan terbentuklah telaga. Adapun daerah depresi yang terendapi terrarossa tetapi tidak terisi air akan membentuk dataran aluvial karst (Sunarto,2004:60–66).

III. Analisis pola sebaran gua dan ceruk

Pengamatan pada Peta Rupa Bumi Indonesia Lembar Karangduwet dan pengamatan di lapangan di Kecamatan Tanjungsari, beberapa gua ditemukan pada lereng bukit di jaringan lembah kering karst adalah Song Bledhek dan Song Porangan. Song Bledhek berada di jalur lembah kering Bruno yang memanjang utara-selatan di bagian timur Kecamatan Tanjungsari sedangkan Song Porangan berada di jalur lembah kering “Porangan”( penamaan oleh penulis) yang memanjang utara-selatan di tengah Kecamatan Tanjungsari. Kedua gua ini berpotensi menjadi hunian manusia pada masa prasejarah karena ruangannya yang cukup luas dengan sirkulasi udara yang bagus dan ditemukannya beberapa data ekofak tulang dan cangkang kerang laut. Keberadaan situs tersebut juga didukung adanya jalur lembah kering karst yang mudah untuk dilalui, baik itu oleh manusia atau hewan. Jalur lembah ini dapat langsung menghubungkan daerah pantai dengan situs-situs hunian tersebut

Ceruk-ceruk yang berada di daerah pesisir, yaitu Song Jrebeng, Song Porangan, Gua Gupak Warak, Gua Watu Sigar, Song Ngleses, Song Ngringin, dan Song Watu Lawang, memiliki potensi sumber air, berupa telaga, dan mulut gua aliran sungai bawah tanah, dan sumber daya pantai. Sumber daya pantai tentunya akan memberikan daya dukung terhadap kebutuhan makanan, seperti ikan atau kerang. Sumber makanan ini ternyata dimanfaatkan oleh manusia yang tinggal di daerah pesisir dan juga daerah pedalaman. Hal ini dibuktikan dengan adanya data ekofak yang ditemukan di Song Jrebeng berupa fragmen cangkang kerang dan operculum. Fragmen cangkang kerang tersebut berasal dari jenis Veneridae, Cypraidae, Pattelidae, dan Muricidae yang merupakan kerang yang hidup di lingkungan laut dangkal. Data ekofak cangkang kerang laut yang ditemukan di Song Bledhek menunjukkan pula adanya pemanfaatan sumber makanan di daerah pantai. Cangkang kerang itu berasal dari jenis Cypraidae dan Turbo sparverius (Tanudirjo dkk,2003).

Tabel 1. Gua dan ceruk potensial di Kecamatan Tanjungsari

No.

Nama

Kandungan Arkeologis

Keterangan

1 Gua Gunung Kubon

Ada

Gerabah
2 Song Sumur

Ada

Artefak batu
3 Song Pacul Gowang

Ada

Gerabah
4 Song Watu Lawang

Tidak ada

 
5 Song Ngringin

Tidak ada

 
6 Song Ngleses

Tidak ada

 
7 Song ‘Bajak’

Tidak ada

 
8 Gua Sempu

Tidak ada

 
9 Song Jrebeng

Ada

Artefak batu; artefak tulang; frg. tulang dan gigi binatang; frg. tanduk; frg. cangkang kerang; operculum
10 Gua Watusigar

Tidak ada

 
11 Gua Gupak Warak

Ada

 
12 Song Porangan

Ada

Frg. tulang dan gigi binatang; frg. tanduk
13 Song Pucung

Tidak ada

 
14 Song Bawahan II

Tidak ada

 
15 Song Jurug

Tidak ada

 
16 Song Kombo

Tidak ada

 
17 Song Bledhek

Ada

Frg. cangkang kerang
18 Gua Telaga Ciut

Tidak ada

 
19 Song Tritis

Ada

Artefak tulang; frg. tulang binatang; frg. cangkang kerang; operculum.
20 Song Nglibeng

Tidak ada

 
21 Song Kalongan I

Tidak ada

 
22 Song Kalongan II

Tidak ada

 
23 Gua Mandung

Ada

Frg. Tengkorak Macaca sp. tersementasi tanah

Selain dengan sumber daya alam dari pantai dan juga telaga, daerah ini juga didukung dengan bentangalam yang relatif datar di antara bukit-bukit karst yang memudahkan manusia beraktivitas atau melakukan eksplorasi terhadap wilayahnya. Hambatan dari alam berupa kelerengan lahan yang terjal jarang dijumpai di daerah ini.

Berdasarkan pengamatan on screen pada Arc View 3.2, sebaran keletakan gua yang dioverlay dengan kontur dan pengamatan langsung di lapangan menunjukkan bahwa daerah ‘antara’ mempunyai pola memanjang utara selatan dan berada di sekitar jalur lembah kering karst. Gua dan ceruk potensial yang dimiliki daerah ini, Song Tritis, Song Nglibeng, Song Telaga Ciut, dan Song Bledhek, berada di depan jalur lembah kering karst. Gua dan ceruk di daerah ini didukung oleh potensi alam berupa telaga dan vegetasi yang relatif lebat. Song Tritis, Song Nglibeng, dan Song Telaga Ciut keletakannya di dasar lembah dengan bentuk U dan luas. Selain itu, dukungan sumber air juga berada dekat dengan lokasi gua atau ceruk. Keberadaan Telaga Tritis dan Telaga Ciut yang berair sepanjang tahun akan memberikan daya dukung kuat dalam upaya penghunian Song Tritis dan Song Telaga Ciut. Keletakannya di dasar lembah yang lebar memberikan kemudahan pula bagi manusia untuk mencapai tempat tersebut.

Hal berbeda yang terjadi di Song Bledhek, keletakan ceruk ini yang berada di lereng atas sebuah bukit dengan lereng terjal yang ada di depan mulut gua. Ceruk ini didukung oleh Telaga Prembutan yang hanya berair pada musim penghujan dan Telaga Ciut yang berair sepanjang tahun. Selain daya dukung tersebut, di depan ceruk ini terdapat lembah berbentuk V yang memanjang arah utara-selatan dengan dasar lembah yang relatif datar sehingga mudah dilalui. Temuan fragmen cangkang kerang dan operculum yang ditemukan di Song Bledhek merupakan kerang yang mempunyai habitat di lingkungan laut dangkal. Kerang tersebut berasal dari jenis Turbo
sparverius dan Cypraeidae (Tanudirjo dkk.,2003). Hal ini mengindikasikan adanya eksploitasi lingkungan laut oleh manusia yang tinggal di Song Bledhek, kemungkinan karena adanya pemanfaatan jalur dasar lembah di depan gua yang mudah untuk mencapai daerah pantai yang berjarak + 4,5 km.

Daerah pedalaman merupakan kelompok gua dan ceruk yang memanjang barat-timur berada pula pada jalur-jalur lembah kering karst yang memiliki bentangalam yang juga relatif datar dengan bukit-bukit karst. Lembah-lembah karst yang dimiliki mempunyai bentuk U dengan lereng yang kemiringannya tidak terjal. Beberapa gua dan ceruk yang potensial berada pada lereng atas bukit, yaitu Song Pucung, Song Bawahan I, dan Song Sumur, serta yang ada yang berada di dasar lembah, yaitu Gua Gunung Kubon dan Song Pacul Gowang. Selain didukung oleh bentangalam yang relatif datar dan lembah yang lebar, penghunian di daerah ini didukung oleh telaga-telaga yang berair sepanjang tahun, Telaga Sogo, Telaga Mencukan, dan Telaga Mojeng, serta ditambah beberapa telaga musiman. Vegetasi yang banyak juga memberikan sebuah fasilitas bagi aktivitas penghunian di daerah ini.

Di permukaan lantai Song Sumur ditemukan alat serpih dengan bahan silicified-limestone, sedangkan temuan lainnya, seperti fragmen cangkang kerang laut atau fragmen tulang tidak ditemukan. Gua Gunung Kubon yang letaknya tidak jauh dari Song Sumur juga tidak mengandung temuan permukaan yang menunjukkan adanya aktivitas penghunian pada masa lampau, tetapi hanya ditemukan dua fragmen gerabah yang diperkirakan berasal dari masa kini. Dua gua tersebut yang berada pada sisi barat Kecamatan Tanjungsari sepertinya tidak digunakan untuk masa penghunian yang lama walaupun untuk mencapai tempat tersebut relatif mudah.

Pada gua dan ceruk di kawasan pedalaman dan berada pada sisi utara dan timur laut Kecamatan Tanjungsari, temuan yang ditemukan di permukaan juga tidak banyak. Temuan arkeologis di permukaan ditemukan di Song Pacul Gowang, yaitu temuan fragmen tulang binatang, fragmen gigi dan rahang binatang, gigi geraham, serta fragmen gerabah dan fragmen batu dari bahan andesit (Tanudirjo,dkk.,2003). Fragmen cangkang kerang laut tidak ditemukan di permukaan Song Pacul Gowang.

IV. Tipe hunian gua dan ceruk di Tanjungsari

Gua-gua di Kecamatan Tanjungsari yang potensial dijadikan sebagai hunian manusia pada masa prasejarah ada 23 situs. Walaupun masih diperlukan pembuktian lebih lanjut dengan melakukan ekskavasi, namun berdasarkan kemungkinan penghuniannya gua-gua tersebut dapat terbagi dalam dua kelompok yaitu gua hunian utama (homebase) dan gua hunian sementara (transit-site). Hal ini terlihat dari hasil pengamatan terhadap morfologi, lingkungan dan morfoasosiasi, serta kandungan arkeologisnya dan survei lapangan yang dilakukan (lihat tabel 2 dan peta 2).

Ruangan gua yang luas, mempunyai lantai yang relatif datar, memiliki pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik, aksesibilitas dari maupun menuju gua mudah, serta dukungan sumberdaya lingkungan yang bagus sangat mendukung untuk dimanfaatkan sebagai lokasi hunian menetap. Akan tetapi, dalam beberapa kasus mungkin terdapat penyimpangan-penyimpangan. Contoh penyimpangan tersebut antara lain pemanfaatan gua-gua yang secara morfologis tidak mendukung untuk penghunian secara menetap namun digunakan secara menetap karena adanya dukungan sumberdaya lingkungan yang potensial di daerah tersebut. Kasus semacam ini juga mungkin terjadi pada gua-gua yang saling berdekatan membentuk kelompok. Kekurangan dari segi morfologi masing-masing gua dapat diatasi dengan memanfaatkan gua-gua tersebut secara bersama-sama sebagai homebase, contohnya adalah Kelompok Song Watu Lawang, Song Ngringin, dan Ngleses (lihat peta 2).

Kuantitas data arkeologis yang ditemukan pada suatu lokasi situs dapat memberikan gambaran pemanfaatan gua sebagai lokasi hunian menetap (homebase) atau hunian sementara (transit-site). Banyaknya data arkeologis yang ditemukan di permukaan gua memberikan gambaran adanya pemanfaatan gua yang lebih intensif daripada gua-gua yang sedikit mempunyai data arkelogis yang ditemukan dipermukaannya. Walaupun untuk pembuktian lebih lanjut perlu dilakukan ekskavasi sehingga dapat diketahui konteks temuan serta tafonomi data arkeologi dari pola dan sifat khas proses fisik yang terdapat dalam sedimen gua.

Tabel 2. Kelompok hunian gua dan ceruk di Kecamatan Tanjungsari

NO

NAMA GUA

TEMUAN ARKEOLOGIS

KELOMPOK HUNIAN

1 Gua Gunung Kubon

Ada

Transit-site

2 Song Sumur

Ada

Transit-site

3 Song Pacul Gowang

Ada

Homebase

4 Song Watu Lawang

Tidak ada

Transit-site

5 Song Ngringin

Tidak ada

Transit-site

6 Song Ngleses

Tidak ada

Transit-site

7 Song ‘Bajak’

Tidak ada

Transit-site

8 Gua Sempu

Tidak ada

Transit-site

9 Song Jrebeng

Ada

Homebase

10 Gua Mandung

Ada

Homebase

11 Gua Watusigar

Ada

Transit-site

12 Gua Gupak Warak

Ada

Homebase

13 Song Porangan

Tidak ada

Homebase

14 Song Pucung

Tidak ada

Transit-site

15 Song Bawahan II

Tidak ada

Transit-site

16 Song Jurug

Tidak ada

Transit-site

17 Song Kombo

Tidak ada

Transit-site

18 Song Bledhek

Ada

Transit-site

19 Song Telaga Ciut

Tidak ada

Transit-site

20 Song Tritis

Ada

Homebase

21 Song Nglibeng

Tidak ada

Transit-site

22 Song Kalongan I

Tidak ada

Transit-site

23 Song Kalongan II

Tidak ada

Transit-site

Song Ngringin, Song Watu Lawang, maupun Song Ngleses adalah gua dan ceruk yang letaknya sangat dekat dengan pantai dan sangat berpeluang digunakan sebagai homebase karena sumberdaya lingkungannya sangat mendukung untuk hal tersebut walaupun morfologi gua tersebut tidak terlalu besar dan hanya dapat menampung kelompok dalam jumlah kecil. Lingkungan pantainya yang cukup landai memberikan ruang hidup bagi beberapa jenis kerang yang dapat dikumpulkan kemudian dikonsumsi. Selain itu, Teluk Drini yang cukup luas dan gelombang laut yang tidak terlalu besar memberikan tempat yang baik pula untuk tempat berkembangnya ikan-ikan yang juga dapat diburu untuk dijadikan salah satu sumber makanan.

Peta 2. Sebaran Gua Homebase dan Transit-site di Kecamatan Tanjungsari

Dukungan lingkungan lainnya terdapat pada Sungai Ngloloan yang berair pada musim penghujan saja, sungai musiman, dan Telaga Gupak Warak yang berair sepanjang tahun tentunya memberikan alternatif sumberdaya untuk manusia pada saat menghuni wilayah tersebut. Tidak ditemukannya temuan arkeologis pada gua dan ceruk tersebut memberikan kemungkinan pemanfaatan gua dan ceruk tersebut hanya digunakan sebagai salah satu transit-site. Kemungkinan masyarakat pemburu dan pengumpul makanan yang datang dari daerah pedalaman atau masyarakat dari wilayah pesisir lainnya yang memanfaatkan gua dan ceruk ini sebagai transit-site ketika mereka melakukan pengumpulan kerang atau berburu ikan yang kemudian ketika aktivitasnya selesai dilakukan maka gua tersebut ditinggalkan, dan kembali ke homebase-nya.

Gua dan ceruk lain yang masih berada di daerah pesisir, namun letaknya tidak sangat dekat dengan pantai adalah Song Jrebeng, Song Porangan, dan Gua Gupak Warak. Kelompok gua dan ceruk ini kemungkinan mempunyai hubungan dengan kelompok Song Watu Lawang, Song Ngringin, dan Song Ngleses. Kelompok gua tersebut mempunyai fenomena yang berbeda dengan gua dan ceruk yang berada dekat dengan pantai. Gua dan ceruk ini berada pada lereng atas dan lereng tengah bukit karst, dimensi ruang gua cukup luas, serta ditemukan temuan arkeologis yang terdeposit pada lantainya. Dengan sumberdaya pendukung yang hampir sama dengan yang dimiliki oleh Song Ngringin, Song Watu Lawang, maupun Song Ngleses namun kemungkinan gua dan ceruk ini dijadikan sebagai homebase cukup besar, walaupun masih memerlukan beberapa pembuktian lebih lanjut. Aksesibilitas ke gua dan ceruk tersebut relatif sulit namun dimensi ruang gua yang cukup luas memungkinkan adanya penghunian oleh suatu kelompok besar dan menetap di gua dan ceruk tersebut.

Kelompok Song Jrebeng, Song Porangan, dan Gua Gupak Warak menjadi lokasi homebase juga dibuktikan dengan adanya temuan artefak-artefak tulang dan juga ekofak-ekofak tulang, cangkang kerang, serta operculum. Song Jrebeng kemungkinan lokasi homebase yang utama, karena pada permukaan lantai gua paling banyak ditemukan temuan arkeologis daripada dua gua lainnya, Song Porangan dan Gua Gupak Warak, baik itu temuan artefak maupun ekofak tulang dan cangkang kerang. Lingkungan sekitar gua-gua yang didominasi oleh morfologi bukit-bukit karst yang relatif rapat. Walaupun demikian, aksesibilitas menuju ke pantai atau daerah pesisir lainnya cukup mudah dengan memanfaatkan celah-celah di antara bukit-bukit karst tersebut yang relatif datar sehingga cukup mudah dilalui (lihat foto 1).


Foto 1. Lansekap di depan Song Jrebeng

Song Bledhek, Song Nglibeng, dan Song Telaga Ciut yang berada di sekitar Lembah Bruno, merupakan jalur lembah kering karst yang menghubungkan daerah pedalaman Kecamatan Tanjungsari hingga sampai daerah pesisir di sekitar Pantai Krakal dan berpotensi sebagai salah satu jalur migrasi manusia pemburu dan pengumpul makanan pada saat melakukan aktivitasnya baik di lingkungan marin maupun non-marin. Dimensi ruang gua yang tidak dapat untuk menampung kelompok dalam jumlah besar walaupun terdapat sumberdaya pendukung yang memadai mungkin menjadi salah satu alasan tidak dimanfaatkannya gua ini sebagai homebase melainkan sebagai transit-site perburuan. Keletakkan Song Bledhek dan Song Telaga Ciut yang berada di sekitar Lembah Bruno kemungkinan berperan dalam strategi perburuan sebagai tempat memantau hewan buruan yang melalui lembah tersebut maupun menjebaknya sedangkan Song Nglibeng difungsikan sebagai transit-site dari masyarakat pemburu dan pengumpul makanan dari daerah pedalaman menuju ke daerah pesisir.

Gua Mandung yang berada pada daerah antara pedalaman dan pesisir sama seperti Song Bledhek, Song Nglibeng, dan Song Telaga Ciut, terletak pada lereng bawah dan dimensi ruang yang cukup luas sehingga kemungkinan merupakan gua yang digunakan secara menetap. Penghuni gua ini diperkirakan lebih intensif mengeksploitasi sumberdaya lingkungan non-marin, karena didukung oleh beberapa telaga yang berair sepanjang tahun yaitu Telaga Depok, Telaga Gadel, dan juga Telaga Omang, Paliyan dan juga dua telaga musiman yang berada di selatan gua dengan jarak + 1,5 km. Kemungkinan penghuni gua ini memanfatkan juga beberapa gua transit-site pada saat melakukan aktivitas perburuan dan mengumpulkan makanan terutama ke daerah pedalaman yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Beberapa gua tersebut antara lain Song Sempu, Song Kalongan I dan II, Song Sumur, dan Gua Gunung Kubon. Selain itu juga terdapat kemungkinan hubungan dengan penghuni gua lain di pesisir, seperti song Jrebeng atau Gua Gupak Warak.

Song Tritis merupakan salah satu gua yang memiliki dimensi gua yang cukup besar. Ruangan gua dapat menampung kelompok dalam jumlah besar dengan sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik. Gua ini didukung dengan adanya Telaga Tritis yang tepat berada di depan gua. Sumberdaya yang sangat mendukung penghunian gua memungkinkan digunakannya gua ini sebagai homebase.. Aksesibilitas menuju daerah di sekitarnya cukup mudah karena adanya celah-celah yang relatif di antara lereng-lereng perbukitan yang memanjang dengan kemiringan lereng yang tidak terlalu terjal (lihat foto 2).


Foto 2. Lansekap di depan Song Tritis

Song Jurug mempunyai letak di lereng bawah dengan dimensi ruang yang sempit. Kemungkinan gua ini digunakan sebagai tempat menjebak hewan buruan, karena letaknya yang berada di sekitar ujung lembah yang memanjang ke utara. Selain itu, gua ini kemungkinan juga sebagai tempat menyimpan atau peristirahatan sementara pada saat beraktivitas berburu dan mengumpulkan makanan.

Song Pacul Gowang terletak sebelah utara Song Jurug. Gua ini memiliki dimensi ruangan yang tidak seluas Song Tritis dan hanya mampu untuk menampung kelompok dalam jumlah kecil. Gua ini didukung oleh dua buah telaga yang berair sepanjang tahun yaitu, Telaga Seropan dan Telaga Mencukan. Aksesibilitas ke daerah sekitar gua cukup mudah dengan daerah yang relatif datar di antara lereng-lereng perbukitan yang memanjang, hampir sama dengan lingkungan di sekitar Song Tritis.

Song Kombo merupakan gua yang terbentuk karena adanya collapse doline, kemungkinan merupakan transit-site dari Song Tritis dan Song Pacul Gowang. Ruangan gua cukup lebar namun memiliki atap yang pendek, sehingga tidak dapat melindungi penghuni gua terutama pada saat hujan. Keberadaan gua yang lebih rendah dari permukaan tanah mengakibatkan air akan masuk menggenangi lantai gua terutama pada saat curah hujan di daerah ini cukup tinggi. Oleh karena itu, kemungkinan gua ini dijadikan hunian menetap relatif kecil. Walau demikian, gua ini dapat difungsikan sebagai tempat menjebak binatang buruan agar mudah ditangkap dan tempat hunian sementara pada saat melakukan aktivitas perburuan atau mengumpulkan makanan.

Gua Gunung Kubon, Song Sumur, dan juga Song Kalongan I dan II merupakan gua-gua yang berada pada lereng bawah bukit dengan lembah karst berada di depannya sehingga cukup mudah untuk akses masuk ke dalam gua. Adanya dua buah telaga yang berair sepanjang tahun, Telaga Gadel dan Telaga Sogo memberikan dukungan yang cukup baik terutama untuk sumberdaya nonmarin. Dimensi ruang gua yang tidak luas kurang mendukung untuk lokasi hunian menetap terutama bagi kelompok dalam jumlah individu besar. Oleh karena itu, kemungkinan gua-gua ini hanya difungsikan sebagai tempat hunian sementara pada saat melakukan aktivitas perburuan dan mengumpulkan makanan. Adanya temuan artefak batu dari bahan silicified-limestone yang ada di Song Sumur kemungkinan dari hasil pemanfaatan gua tersebut sebagai salah satu transit-site pada saat melakukan perburuan. Sumber bahan artefak batu tersebut belum ditemukan di lingkungan sekitar gua. Kemungkinan artefak batu tersebut dibawa pada saat melakukan perburuan ke daerah di sekitar Song Sumur oleh kelompok pemburu dan pengumpul makanan dari daerah lain.

Song Pucung dan Song Bawahan I merupakan gua dan ceruk yang berada pada kelompok gua dan ceruk pedalaman di Kecamatan Tanjungsari kemungkinan mempunyai fungsi sebagai transit-site pada saat melakukan perburuan. Kedua gua ini berada pada lereng atas bukit dengan lembah di bawahnya merupakan jalur migrasi manusia dan binatang. Kedua gua ini berada di sekitar telaga, Song Pucung di sebelah barat Telaga Mojeng, berair sepanjang tahun, sedangkan Song Bawahan I berada di depan sebuah telaga musiman, sehingga terdapat kemungkinan pemanfaatan gua dan ceruk ini sebagai tempat menunggu binatang buruan dan tempat tinggal sementara.

V. Penutup

Masyarakat pemburu dan pengumpul makanan menggunakan gua atau ceruk untuk lokasi hunian, baik itu secara menetap maupun sementara. Ketergantungan masyarakat tersebut terhadap sumberdaya lingkungannya mengakibatkan ada pola yang berbeda-beda pada setiap wilayah. Sumberdaya lingkungan dan morfologi gua yang berbeda-beda mengakibatkan adanya tipe-tipe hunian yang bervariasi. Tipe yang muncul menunjukkan adanya satu lokasi yang menjadi pusat (central place) dari aktivitas dan mempunyai lokasi-lokasi lainnya sebagai pendukung dalam melakukan aktivitas dan juga tempat beraktivitas.

Gua-gua transit-site di Kecamatan Tanjungsari berada dekat dengan lembah karst yang mungkin menjadi salah satu alternatif jalur okupasi masyarakat pemburu dan pengumpul makanan, baik yang berada di daerah pedalaman maupun di daerah pesisir, menuju ke daerah-daerah sumberdaya lingkungan. Selain sebagai transit-site, gua-gua tersebut kemungkinan juga merupakan bagian dari strategi perburuan yang dilakukan oleh masyarakat pada daerah tersebut, baik sebagai tempat menunggu binatang ataupun sebagai tempat menjebak binatang.

Dari hasil analisis yang telah dilakukan didapatkan bahwa di Kecamatan Tanjungsari terdapat enam buah gua dan ceruk yang kemungkinan merupakan homebase pada masa prasejarah dan juga 17 gua dan ceruk lainnya merupakan transit-site. Jenis gua dan ceruk transit-site muncul karenanya tujuan efisiensi energi maupun strategi perburuan, baik sebagai tempat mengintai binatang maupun menjebak binatang buruan.

Hal-hal di atas merupakan kesimpulan dari analisis pendahuluan pada upaya pemanfaatan suatu wilayah atau lokasi situs gua atau ceruk, yang dikaitkan dengan kondisi lingkungan, data-data ekofaktual dan data-data artefaktual yang ada. Hasil analisis yang diperoleh merupakan suatu sintesa yang harus diuji dengan melakukan penelitian yang lebih mendalam karena data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data-data temuan permukaan dari hasil penelitian terdahulu, sehingga bersifat data sekunder. Selain itu, belum seluruh wilayah Kecamatan Tanjungsari berhasil di survei, sehingga tidak menutup kemungkinan adanya gua-gua lain yang terdapat di dalam wilayah yang belum disurvei. Oleh karena itu, permasalahan yang ada belum dapat dijelaskan dengan tuntas maka diperlukan penelitian lebih lanjut dengan menuntaskan survei serta melakukan ekskavasi pada beberapa gua dan ceruk di Kecamatan Tanjungsari. Sasaran pada penelitian lanjutan tersebut hendaknya ditujukan untuk mendapatkan data yang lebih konkret mengenai cakupan spasial, temporal dan stratigrafi dari masing-masing gua. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjawab permasalahan dengan konkret dan menguji sintesa yang penulis ajukan.

Kepustakaan

Anggraeni, Mahirta, D. S. Nugrahani, 2002. Laporan Penelitian. Eksploitasi Sumber Daya Hayati Pegunungan Seribu Pada Awal Holosen dan Implikasinya: Studi Kasus di Kecamatan Ponjong, Gunungkidul. Yogyakarta: Lembaga Penelitian Universitas Gadjah Mada. Departemen Pendidikan Nasional.

Butzer, Karl W, 1982. Archaeology as Human Ecology. Cambrige: University Press.

Kelompok Geohidrologi Karst, 1980. Geohidrologi Karst Gunung Sewu, Gunung Kidul, Jawa Tengah. Bandung: Institute Teknologi Bandung.

Nurani, Indah Asikin, 1999. Pola Pemukiman Gua di Pegunungan Kendeng Utara, dalam Berkala Arkeologi.
Tahun XIX. Edisi No. 2. Yogyakarta: Balai Arkeologi, hal. 1–13.

Simanjuntak, Truman, 1999. Budaya Awal Holosen di Gunung Sewu dalam Berkala Arkeologi. Tahun XIX. Edisi No. 1. Yogyakarta: Balai Arkeologi, hal. 1–20.

Simanjuntak, Truman (ed), 2002. Gunung Sewu In Prehistoric Times. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Subroto, Ph.,1995. Pola Zonal Situs-Situs Arkeologi, Manusia dalam Ruang: Studi Kawasan dalam Arkeologi, dalam Berkala Arkeologi Tahun XV-Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi, hal. 133–138.

Sunarto. tanpa tahun. Analisis Geomorfologi untuk Rekontruksi Tata Ruang Kuno di Wilayah Pantai Krakal, Gunungkidul, dalam Studi Kasus (1992-2002) Kelompok Studi Karst Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, hal. 60–66.

Tanudirjo, Daud Aris, Anggraeni, Tjahjono Prasodjo, 2003. Laporan Penelitian. Potensi Gua-Gua Sebagai Tempat Hunian Manusia Prasejarah di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Lembaga Penelitian Universitas Gadjah Mada Departemen Pendidikan Nasional

Yuwono, J. Susetyo Edy, 2001-2002. Laporan Penelitian. Laporan Hasil Ekskavasi dan Analisis Pendahuluan Situs Song Bentar, Dusun Kenteng, Kecamatan Ponjong.
Yogyakarta : PTKA Gunungkidul Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada – the Toyota Foundation.


, 2005. Mozaik Purba Gunung Sewu: Hipotesis Hasil Eksplorasi Gua-gua Arkeologis Di Kecamatan Tanjungsari-Gunungkidul, dalam Gunung Sewu Indonesian Cave and Karst Journal. Volume 1 No. 1 April 2005. Yogyakarta: Forum Karst Gunung Sewu, Indonesian caver Society, Subterra Community Indonesia, hal. 40–51.

Written by balarmedan

Juni 18, 2008 pada 3:17 am

Ditulis dalam Taufiqurrahman,S.S.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: