Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

PROSES PEMBUATAN MEGALITIK NIAS SEBAGAI BAGIAN SISTEM UPACARA OWASA (Studi Kasus Proses Sebagai Sebuah Sistem Upacara Owasa di Situs Megalitik Orahili Fau)

with 4 comments

Ketut Wiradnyana

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

The Nias Island is known to possess many relics in the megalithic tradition, in various forms – decorative and non decorative motifs, that emerged some questions about the material of megalithic relics, how to bring the large objects, where they did, what kind of tool they used. The process of making megalithic objects is a system who finally becaming as culture until now a megalithic.

Kata kunci:    pemilihan bahan, pemindahan bahan, pengerjaan bahan, pendirian megalitik, proses sebagai sistem

I. Pendahuluan

Pulau Nias, yang secara administratif masuk dalam wilayah Provinsi Sumatera Utara merupakan sebuah pulau yang dapat dikatakan terpencil, mengingat masih minimnya infrastruktur komunikasi dan transportasi, jauh dari ibukota provinsi dan akses untuk menjangkau wilayah-wilayah di dalamnya masih sangat terbatas.

Etnis Nias memiliki berbagai tinggalan budaya yang khas. Salah satunya rumah adat Nias (termasuk tinggalan arkeologis) di Nias Selatan yang dijadikan sebagai warisan dunia sejak tahun 2000, 2002, 2004 dan 2006 oleh World Monument Fund (niasonline.net,
2007), dan demikian juga Unesco pada tahun 2006 mengusulkan Nias sebagai salah satu situs warisan dunia (www.thejakartapost.com, 2007).

Tinggalan budaya yang monumental itu tidak hanya terlihat dari kuantitas, akan tetapi juga kualitas pengerjaan dan variasi bentuknya menjadikan sisa budaya megalitik Nias tersebut khas. Pada sebuah perkampungan tradisional di Nias Selatan berderet tinggalan megalitik dengan berbagai ukuran dan bentuknya baik itu monumen yang dikerjakan dengan hiasan yang raya maupun monumen yang tanpa hiasan.

Di balik monumen tersebut juga mengandung berbagai makna, seperti makna religi, status sosial, teknologi, dan pengetahuan. Berbagai uraian berkaitan dengan tinggalan berupa bangunan megalitik belum secara jelas menggambarkan proses pembuatannya dari batu alam bisa menjadi bangunan megalitik yang berperan penting bagi kehidupan masyarakat Nias, dan sekaligus menjadi salah satu ikon kebudayaan Nias.

Melalui berbagai penelitian yang telah dilakukan dan himpunan data yang telah dikumpulkan makalah akan membahas proses pendirian sebuah bangunan megalitik dalam kaitannya dengan sistem religi di Desa Orahili Fau yang masuk dalam wilayah budaya Nias Selatan.

II. Pendekatan teori dan metode

Walter Buckley yang mengawali pemikiran tentang sifat dari teori sistem yang kemampuannya dapat diaplikasikan pada level mikro dan makro analisis dunia sosial secara keseluruhan, fokus pada proses, perspektif integratif dan orientasi dinamis. Dalam kasus bangunan megalitik di Orahili Fau maka teori sistem pada level mikro dengan fokus pada proses pendirian bangunan megalitik menjadi pendekatan yang digunakan. Kemudian dirangkai dengan pernyataan Niklas Luhmann dalam upaya memahami sistem sebagai autopoietic yaitu sistem memproduksi sendiri elemen-elemen dasarnya, mereka mengorganisasikan batas-batasnya sendiri dan berhubungan antara struktur internal, dan mereka self-referential serta tertutup. Luhmann dalam kaitannya dengan sistem sosial menganggap setiap komunikasi harus mempertimbangkan bagaimana komunikasi itu diterima, tetapi bagaimana dia diterima akan tergantung kepada estimasi penerima terhadap si komunikator. Karena itu, komunikasi adalah mustahil, tetapi struktur sosial telah dikembangkan untuk membuat komunikasi menjadi hal yang mungkin (Ritzer, George dan Douglas J. Goodman:2004).

Pemilihan wilayah itu disebabkan oleh himpunan data yang cukup memadai untuk diungkapkan dan juga masih berlangsungnya tradisi pendirian bangunan megalitik. Dalam hal ini metode etnoarkeologi sangat berperan penting dalam upaya pengungkapan proses pendirian megalitik masa lalu khususnya di Nias Selatan selain metode deskriptif-kualitatif, yang bertujuan menggambarkan gejala dan gejala lain dalam masyarakat (Tan,1980).

III. Tinggalan megalitik

Orahili Fau merupakan nama desa di dekat Desa Bawömataluo, masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan.
Wilayah Orahili Fau dapat dijangkau dengan kendaraan bermotor dari Hilisimaetanö maupun dari Bawömataluo. Wilayahnya berada di atas perbukitan yang datar dan mempunyai tujuh sumber air yang berada di sekeliling dusun. Orahili Fau berada pada N 00º 36′ 44.9″ E. 097º 45′ 54.6″ pada ketinggian 150 m dpl. Dusun ini berdenah memanjang dengan orientasi baratdaya-timurlaut.

Desa Orahili Fau menempati bagian lembah yang dikelilingi oleh perbukitan. Desa ini merupakan perkampungan awal sebelum masyarakatnya pindah ke lokasi perkampungan Bawomataluo. Perkampungan ini hanya memiliki satu pintu keluar yaitu di ujung baratdaya. Peletakan rumah tinggal, halaman, serta sarana upacara diatur secara memanjang. Letak desa yang dikelilingi jurang dan lereng terjal ditunjang oleh hanya satu pintu keluar dan masuk menjadikan desa ini memiliki pertahanan yang ideal. Di bagian barat daya perkampungan berjarak sekitar 1 km mengalir Sungai Batu Buaya.

Tinggalan arkeologis yang ada di desa ini adalah batu-batu datar (daro-daro) dengan bentuk dominan adalah balok polos dan berhias. Batu tegak (naitaro) sebagai peringatan bagi seseorang yang meninggal dan juga upacara kenaikan status yang ada di desa ini lebih dominan berasal dari batu alam polos dan terdapat satu naitaro berhias yang ada di depan rumah adat besar. Di bagian tengah desa terdapat megalitik khas yang digunakan pada saat upacara lompat batu (hombu batu). Adapun jenis tinggalan arkeologis yang terdapat pada perkampungan ini yaitu :

  1. Batu tegak berbentuk persegi empat
  2. Meja batu dengan berbagai variasi bentuk dan ukuran di antaranya :
    1. Meja batu polos
    2. Batu Sifarana-rana, meja batu untuk tempat duduk terdakwa dalam acara persidangan
    3. Meja batu berbentuk bulat berkaki satu
    4. Meja batu berbentuk bulat berkaki empat
  3. Batu datar yang bentuknya menyerupai kapal
  4. Wanaruwakhe, batu yang bentuknya bulat seperti alat musik gendang dalam posisi berdiri, terdapat hiasan tangan dengan sebagian lengan menempel pada batu.
  5. Tabola batu, yaitu peti batu berbentuk persegi panjang .
  6. Hombo, yaitu tumpukan batu vertikal yang berada di tengah kampung yang digunakan sebagai sarana lompat batu.

IV. Proses pembuatan

Tinggalan megalitik di Nias merupakan hasil dari upacara owasa/faulu yaitu upacara peningkatan status sosial bagi kalangan tertentu (bangsawan). Upacara ini dilakukan dengan memotong babi, jumlahnya disesuaikan dengan tingkatan upacara yang akan dilakukan dan juga status sosial orang tersebut. Bagi kalangan si’ulu (tingkatan bangsawan yang paling tinggi) maka babi yang dipotong dalam upacara tersebut lebih banyak dari kelompok bangsawan di bawahnya (si’ila). Pada akhir upacara tersebut didirikanlah bangunan megalitik di depan rumah orang yang melaksanakan upacara dimaksud.

Tinggalan megalitik di desa ini paling tidak terdiri dari 6 (enam) jenis dan sebagian di antaranya memiliki variasi sehingga ragamnya masih lebih banyak lagi. Keberadaan tinggalan megalitik di depan rumah adat di Desa Orahili Fau tentu mengalami proses dalam pendiriannya, sejak mulai dari bahan mentah hingga menjadi bentuk yang bermacam-macam atau dari tempat bahan ditemukan ke lokasi desa. Adapun proses pendirian bangunan megalitik yang terdapat di Orahili Fau adalah sebagai berikut:

IV.1. Pemilihan bahan

Bahan batu yang digunakan untuk tinggalan megalitik di desa ini didominasi dengan bahan batuan andesit. Bahan tersebut hanya didapatkan di bagian hulu Sungai Buaya. Sungai yang memiliki lebar sekitar 15 meter ini sebagian besar alirannya dipenuhi bahan batuan andesit berukuran besar dan sebagian lagi dari batu tufaan dan gamping. Batuan andesit di sungai ini relatif lebih muda dari biasanya sehingga berkarakter lunak dan mudah dalam upaya melepaskan batu dari kulitnya.


Untuk memilih bahan yang melimpah di sungai ini maka terlebih dahulu ditentukan bentuk dasar batu yang menyerupai bentuk yang akan diinginkan. Setelah ditemukan batu yang diinginkan oleh si pemahat, sesuai dengan kebutuhan termasuk aturan adat yang akan dilakukan seseorang pada akhir pendirian upacara owasa/faulu maka si pemahat akan menandai batu itu dengan pahatan pada bagian terbuka dari batu (bagian lebarnya) kemudian dipahatkan inisial orang yang akan melaksanakan upacara tersebut. Inisial yang digunakan biasanya berupa huruf depan marga orang yang akan melakukan upacara atau nama panggilan orang tersebut seperti AMA…. (ama artinya bapak). Selain itu juga ada yang memberi tanda dalam upaya pemilihan bahan dengan melakukan pemahatan dasar dari bentuk benda yang diinginkan, seperti memahat bagian batu dengan bentuk persegi dan di bagian tengahnya diberi inisial orang yang akan melakukan upacara tesebut. Pemilihan bahan biasanya dilakukan jauh sebelum upacara itu dilakukan, dan dalam pemilihan tersebut tentunya dilakukan juga upacara.

IV.2. Pengangkutan bahan

Kondisi lahan perkampungan yang cenderung lebih tinggi daripada aliran sungai dan bahan baku bangunan megalitik yang akan dibawa ke kampung cukup besar menjadikan upaya pemindahan bahan baku tersebut memerlukan sekelompok orang untuk memindahkannya. Adapun cara pemindahan batu tersebut yaitu dengan membuatkan beberapa bantalan kayu yang bulat dan diletakkan di bawah batu untuk kemudian digeser perlahan-lahan. Untuk batu yang berukuran besar selain diisi bantalan kayu, juga diikat, kemudian sebagian orang ada yang menarik dan sebagian lagi ada yang mendorong. Proses pemindahan batu seperti ini juga ditemukan pada proses pemindahan batu megalitik di Sumba, NTT.

Proses pemindahan batu dapat berlangsung cepat dan dapat berlangsung lambat sesuai dengan letak bahan di dasar sungai dan alur yang akan dilalui, selain besaran batu yang akan dipindahkan. Dalam pemindahan batu tersebut banyaknya babi yang dipotong sesuai dengan lamanya proses pemindahan. Semakin lama proses pemindahan maka semakin banyak babi yang harus dipotong. Pemotongan babi tersebut sebagai jamuan makan bagi masyarakat yang terlibat dalam proses pemindahan tersebut.

IV.3. Pengerjaan bahan

Setelah bahan baku bangunan megalitik dipindahkan dari Sungai Batu Buaya ke perkampungan, maka batu itu diletakkan di depan rumah orang yang akan melakukan upacara owasa/faulu. Kemudian barulah batu itu dikerjakan sesuai dengan kesepakatan bangsawan sebelum proses pemilihan batu dilakukan. Dalam pengerjaannya pemahat menggunakan peralatan pahat berbahan logam (besi). Pada saat batu dipahatkan maka bagian-bagian yang dipahat tesebut selalu disiram dengan air agar lebih lunak.

Tingkat kesulitan pemahatan sesuai dengan bentuk dan hiasannya. Bentuk-bentuk hiasan kadangkala berkaitan dengan pekerjaan orang yang melakukan upacara, seperti pahatan peralatan berbahan besi seperti tang, obeng, pahat dan lainnya menunjukkan orang yang melakukan upacara. Misalnya itu memiliki pekerjaan sebagai pemahat atau dapat juga sebagai tukang besi. Semakin rumit bentuk dan hiasannya maka semakin lama proses pengerjaannya dan semakin banyak babi yang harus dipotong bahan makanan pemahat. Biaya yang dikeluarkan untuk bangunan megalitik yang dipahat akan lebih banyak dibandingkan bangunan megalitik yang tidak dikerjakan.

IV.4. Pendirian/pengesahan

Setelah bangunan megalitik selesai dikerjakan sesuai dengan kesepakatan para bangsawan, barulah si pemilik bangunan megalitik tersebut melakukan upacara owasa/faulu.
Pada upacara itu pemotongan babi jauh lebih banyak daripada proses sebelumnya, karena upacara ini merupakan puncak dari upacara tersebut. Selanjutnya kedudukan sosial dan gelar yang didapatkan orang yang melakukan upacara tersebut dianggap sah, begitu juga dengan bangunan megalitik yang merupakan simbol status sosial. Kalau si pemiliknya belum memiliki cukup materi untuk melakukan puncak upacara owasa/faulu maka proses upacara terakhir tersebut dapat ditunda terlebih dahulu tanpa batas waktu, Kelanjutan upacara ini dapat dilakukan oleh anak cucunya. Dengan kata lain bangunan megalitik yang terdapat di Nias belum tentu semuanya telah diakhiri dengan melakukan upacara owasa/faulu secara tuntas (belum sah).

V. Proses sebagai sistem

Upaya memahami kebudayaan masyarakat Nias secara utuh diperlukan penjabaran yang memadai, sebab kebudayaan tidak saja dapat dilihat dari satu sudut atau salah satu unsur kebudayaannya belaka, akan tetapi unsur-unsur kebudayaan lain merupakan bagian dari satu sistem. Upacara owasa/faulu merupakan sebuah unsur kebudayaan yang di dalamnya terdiri dari berbagai subunsur. Rangkaian subunsur tersebut terdiri dari pemilihan bahan, pemindahan bahan, pengerjaan bahan, dan pendirian/pengesahan merupakan suatu sistem sehingga upacara owasa/faulu merupakan sistem.

Dalam upaya menjalankan suatu sistem dimaksud maka berbagai upaya dilakukan agar sistem pada upacara itu dapat berjalan dengan baik, sehingga harus diberlakukan ketat seperti sampai seberapa tinggi seseorang dapat menaikkan status sosialnya, seberapa besar dan tingginya bangunan megalitik boleh didirikan di depan rumah, dan seberapa banyak babi yang harus dikorbankan dalam kaitannya dengan pelaksanaan sub-unsur tersebut.

Agar sistem dapat dijalankan dan diterima oleh seluruh masyarakat maka dilakukan upaya melalui stratifikasi masyarakat. Stratifikasi itu memiliki tingkatan-tingkatan dalam masyarakat seperti adanya kelompok masyarakat yang memerintah dan adanya kelompok masyarakat yang diperintah, atau dapat juga ada masyarakat yang memberikan makan bagi pekerja dan ada masyarakat yang menerima makanan dari pekerjaan. Selain itu proses berjalannya sebuah sistem juga dapat dilakukan oleh organisasi sosial, yang didalamnya tentu juga terdapat stratifikasi masyarakat. Organisasi sosial ini dapat bersifat tertutup yang anggotanya hanya dari satu klan saja atau dari satu kampung saja.

Selanjutnya subunsur pemilihan bahan juga merupakan bagian dari sebuah sistem yang mengorganisasi batas-batasnya serta bersifat tertutup. Berbagai aturan yang ada padanya baik itu menyangkut bentuk bangunan megalitik yang harus ditentukan, pemilihan bahan yang ada (penyesuaian bahan), upacara dan lainnya merupakan rangkaian elemen-elemen dasar yang diproduksi oleh subunsur dalam upaya menjaga eksistensi kelompok masyarakat dan budayanya. Sifat tertutup pada batas-batas sistem yang ada pada elemen dasar dalam subunsur menjadikan rangkaian prosesi menjadi kaku namun dapat bertahan lama, karena kalau tidak demikian maka sistem yang terjalin menjadi hancur.

VI. Penutup

Berbagai bentuk bangunan megalitik yang ada di Orahili Fau bahannya diambil dari Sungai Batu Buaya yang lokasinya dekat dengan perkampungan. Bangunan megalitik yang ada di Orahili Fau merupakan salah satu hasil dari sistem upacara owasa/faulu yang berjalan pada masyarakat. Sistem tersebut memproduksi unsur-unsur yang saling kait mengkait dan di dalamnya juga terdapat subunsur. Adapun unsur-unsur yang diproduksi dari sistem upacara owasa/faulu adalah pemilihan bahan, pemindahan bahan, pengerjaan bahan dan pendirian bahan/pengesahan. Mengingat bangunan megalitik tersebut merupakan hasil dari sebuah sistem dan untuk menjalankan unsur-unsur dimaksud memerlukan waktu yang tidak terbatas maka tidak semua bangunan megalitk di Orahili Fau merupakan hasil dari seluruh proses upacara owasa/faulu, atau dapat dikatakan tidak semua bangunan megalitik di Orahili Fau merupakan hasil dari keseluruhan unsur dalam sistem yang harus dijalankan.

Kepustakaan

Agus, Bustanuddin, 2006. Agama Dalam Kehidupan Manusia, Pengantar Antropologi Agama. Jakarta: Radja Grafindo Persada

Baal, J. van, 1971. Symbols For Communication: An Introduction To The Anthropological Study Of Religion. Assen: Van Gorcum& Company N.V

Daeng. J, Hans, 2005. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan, Tinjauan Antropologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Danandjaja, James, 2002. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng dan Lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti

Hammerle. P. Johannes, 1986. Famato Harimao:Pesta Harimao-Fondrako-Boronadu dan Kebudayaan Lainnya di Wilayah Maenamolo-Nias Selatan. Medan: Abidin

_____________, 2004. Asal Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi. Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias

http://niasonline.net/eng/2005/04/13/nias-artifacts-damaged-in-powerful-earthquake/

http:// www.thejakartapost.com

Kusumohamidjojo, Budiono, 2000. Kebhinekaan Masyarakat di Indonesia, Suatu Problematika Filsafat Kebudayaan. Jakarta: Grasindo

Lucas, P.K. & Ketut Wiradnyana, 2007. Megalithic Traditions In Nias Island. Balar Medan& UNESCO

Mendrofa, Shokiaro Welther, 1981. Fondarko Ono Niha, Agama Purba – Hukum Adat–Mitologi-Hikayat Masyarakat. Jakarta: Inkultra Fondation

Putra, Heddy Shri Ahimsa, 2001. Strukturalisme Levi Strauss: Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Galang.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman, 2004. Teori Sosiologi Moderen. Jakarta: Prenada Media

Schroder.E.E.W., 1916. Nias, Catatan dan Studi Di Bidang Ethnografi, Geografi dan Sejarah (terjemahan).Tp.

Sonjaya, Jajang. A., 2008. Melacak Batu, Menguak Mitos. Petualangan Antar Budaya di Nias. Yogyakarta. Kanisius.

Soejono, R.P., 1993. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka

Sukendar, Haris, 1987.Description on the Megalithic of Indonesia, dalam Berkala Arkeologi Yogyakarta. Yogyakarta: Balar Yogyakarta

Tan. Mely.G., 1980. Masalah Perencanaan Penelitian, dalam Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.

Viaro, Alain, 1990. The Traditional Architectures of Nias: Nias Tribal Treasures Cosmic, Reflections in Stone, Wood and Gold.
Delft: Vokenkundig Museum Nusantara

Written by balarmedan

Juni 18, 2008 pada 4:05 am

Ditulis dalam Drs.Ketut Wiradnyana

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. nauty ajaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!

    jennifer

    Oktober 26, 2009 at 9:08 am

  2. Aku teringat dengan Desa saya,(orahili fau ).Kebetulan batu ukiran yang ada di profil itu tidak jauh dengan rumah saya.Aku rindu kesana …………… Dari ” Kardianus fau “

    Surel

    Mei 9, 2010 at 3:26 pm

  3. katanya ada bentuknya??? mana apa bentuknya bulat,lonjong,/segitiga

    Dayat Arbet

    Juli 26, 2011 at 12:27 pm

  4. ouh ,,,,,,, yayaya !!!!!
    jdi tau dch > >>>>>>>>>

    nanda dch. .

    September 21, 2011 at 2:37 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: