Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

PENGELOLAAN SUMBERDAYA ARKEOLOGI SITUS KOTACINA

with 2 comments

Stanov Purnawibowo

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

Cultural Resources Management in Kotacina site must be build to recovery and defend it from lost. Three stakeholders were found in their management of site. They must cooporate their works and duties for built fine Cultural Resources Management.

Kata kunci: pengelolaan, situs, stakeholders

I. Pendahuluan

Kotacina merupakan situs yang memiliki potensi tinggalan arkeologis yang cukup bervariasi, baik yang bersifat monumental maupun yang bersifat fragmentaris. Situs Kotacina secara administratif masuk ke dalam wilayah Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Medan, Sumatera Utara. Koordinat geografis Situs Kotacina terletak pada N 03° 43′ 06.6″ — E 098° 39′ 00.2″ dan N 03° 43′ 22.2″ — E 098° 39′ 24.8″ di suatu lahan seluas kurang lebih 25 Ha. Lokasi situs berada di daerah dataran rendah dengan ketinggian 1.5 mdpl pada lahan rawa yang masih dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Lokasi situs berada di sebelah barat Sungai Deli, daerah tersebut merupakan bagian dari lembah Sungai Deli yang cukup subur.

Situs Kotacina berada di antara Sungai Belawan dan Sungai Deli yang berhulu di daerah Sibolangit yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Bukit Barisan. Kedua sungai tersebut bermuara ke Selat Malaka. Daerahnya merupakan bentanglahan (landscape) hasil bentukan material erosi sungai (fluvial sedimentation) di bagian hulu dan tengah yang diendapkan di daerah muara sehingga membentuk sebuah delta. Daerah muara menerima depositan endapan material paling banyak dibandingkan daerah lainnya sepanjang aliran kedua sungai tersebut. Diketahui bahwa sistem sungai di pesisir pantai timur Sumatera umumnya adalah unperenial yang berair sepanjang tahun dan dapat dilayari, termasuk Sungai Belawan dan Sungai Deli. Hingga saat ini keduanya masih dilayari walaupun hanya sampai ke permukiman nelayan di wilayah Kecamatan Medan Labuhan (Koestoro,2008:4).

Jenis tanah di pesisir timur pantai Sumatera pada umumnya adalah campuran lapukan batuan setempat dengan endapan rawa dan endapan alluvial hydryomorphic, yaitu tanah aluvial
bercampur tanah grey hydromorphic yang terbentuk pada jaman kuarter (10.000 hingga 1.000.000 tahun yang lalu). Keberadaan endapan aluvial di sepanjang pesisir pantai timur Sumatera bagian utara lebih sempit dibandingkan dengan di bagian selatan. Endapan alluvial yang membentang baratlaut–tenggara pesisir timur Sumatera merupakan bekas kipas alluvial ataupun bekas jejak sungai purba, sedangkan di sekitar pesisir pantainya membentang endapan rawa (Whitten,et al.,1984).

Permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah berkenaan dengan bagaimana seharusnya manajemen pengelolaan sumberdaya arkeologi di situs Kotacina yang relevan, agar mampu menampung aspirasi dari seluruh stakeholders yang berkepentingan dengan situs Kotacina. Salah satu alternatif tindakan yang dapat dilakukan dalam menangani permasalahan yang ada, dibutuhkan manajemen pengelolaan sumberdaya yang ada di sekitar situs, salah satunya adalah potensi Sumber Daya Arkeologi (SDA) yang merupakan salah satu bagian dari Manajemen Sumber Daya Budaya atau lebih dikenal sebagai Cultural Resources Management (CRM). Metode penalaran tulisan menggunakan alur penalaran induktif yang berawal dari data lapangan yang kemudian disintesiskan dengan model pengelolaan yang telah dilakukan pada beberapa situs yang telah dikelola dengan beberapa modifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi situs Kotacina kini.

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran situs Kotacina di masa lalu melalui data yang telah didapat, gambaran kondisi situs saat ini serta pandangan awal mengenai bentuk pengelolaan situs Kotacina yang relevan dengan situasi dan kondisi saat ini. Kondisi sekarang dapat dijadikan acuan untuk membuat pandangan awal dari sebuah atau beberapa bentuk pengelolaan kawasan situs yang baik. Bila kondisi situs Kotacina saat ini dibiarkan saja serta tidak dilakukan pengelolaan dengan baik oleh para stakeholders yang berkepentingan dengan situs Kotacina serta terus menerus dijadikan sebagai kawasan pengembangan permukiman daerah, maka tidak mustahil akan kehilangan jejak kebesaran masa lalu yang menjadi cikal bakal dari pluralitas berbagai etnis dan aktivitas khususnya di daerah Medan dan sekitarnya serta Nusantara pada umumnya.

II. Kotacina dan peninggalan masa lalunya

Sejarah situs Kotacina diawali berdasarkan cerita yang diperoleh, dikatakan bahwa di Kotacina terdapat batu berukuran besar dengan pertulisan yang tidak dapat dibaca penduduk setempat (Anderson,1971:294 dalam Koestoro,2008:2). Kelak pada tahun 1882 Controleur Labuhan Deli menyebutkan dalam Notulen van het Bataviaasch Genootschap (NBG) 1883 bahwa di sana tidak ada batu bertulis dimaksud, tetapi dijumpai sejenis batu lumpang yang diduga adalah yoni (yang bersama lingga biasanya dihubungkan dengan keberadaan candi) atau lapik arca (pedestal). Keberadaan situs itu kembali disampaikan pada tahun 1914, melalui penyebutan Kotacina dalam catatan singkat Oudheikundig Verslag (OV) 1914 (Koestoro,2008:3). Hingga saat ini batu bertulis tersebut belum ditemukan kembali, walaupun di daerah tersebut telah dilakukan beberapa aktivitas arkeologis. Aktivitas penelitian yang dilakukan di Situs Kotacina dimulai sejak tahun 1972, yang dilanjutkan dengan kegiatan berupa penelitian arkeologis dan geomorfologis hingga tahun 1989 serta remaping yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Medan tahun 2008 (McKinnon,1973; Wibisono,1981; Ambary,1984; Manguin,1989; Koestoro, 2008).

Kotacina berada di pesisir timur Pulau Sumatera yang langsung menghadap ke Selat Malaka, diduga merupakan salah satu bandar perdagangan ramai pada masanya. Masa lalu situs Kotacina, masih dapat ditelusuri jejaknya melalui temuan data arkeologisnya. Data budaya yang didapat dari Situs Kotacina yang bersifat fragmentaris berupa fragmen keramik asing (wares), fragmen gerabah dan terakotta, patung Buddha dari batu yang bergaya Cola Style dari India Selatan, manik-manik, fragmen yoni (simbol kelamin Dewi Parwati sakti dari Dewa Siwa), fragmen kaca, fragmen uang logam dengan lubang persegi empat di bagian tengahnya serta beberapa keping papan perahu yang diperkirakan berasal dari perahu yang berukuran kecil maupun besar (Manguin, 1989: 207). Adapun data budaya yang bersifat monumental beberapa di antaranya adalah dua struktur bangunan dari batu bata (diduga candi). Beberapa data arkeologis berkenaan dengan aktivitas maritim yang dapat dijadikan parameter untuk merujuk Kotacina sebagai sebuah lokasi eks bandar perdagangan yang ramai di masa lalu adalah: fragmen keramik asing, mata uang logam serta fragmen kepingan papan perahu dengan berbagai ukuran. Data tersebut didukung oleh data artefaktual baik yang bersifat fragmentaris maupun monumental serta data kontekstual lainnya yang ditemukan di sekitar situs Kotacina.

Keramik merupakan barang impor lintas wilayah yang memiliki makna tidak hanya sebagai barang yang berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari aliran barang (flow of goods) dari tempat produksinya sampai ke konsumennya (Harkantiningsih,2006:6). Keramik dapat membantu menggambarkan pola atau sistem dari aktivitas hubungan perdagangan masa lalu, walaupun secara langsung melainkan harus didukung oleh data kontekstualnya di dalam sebuah situs atau antar situs arkeologisnya. Perlu diketahui keramik merupakan barang komoditas perdagangan dari China yang ramai dipasaran internasional hingga sekarang. Selain karena tahan lama juga bentuk dan hiasannya yang artistik. Produksi keramik telah dilakukan secara turun temurun dan berkelanjutan hingga masa sekarang. Keramik diproduksi oleh beberapa kiln (tungku pembakaran keramik) terkenal di Negeri Tirai Bambu, salah satu kiln yang terkenal hingga sekarang adalah Dragon Kiln di Chen Te-zhen dan produksi keramiknya dikenal sebagai keramik Chen Te-zhen (Chen Te-zhen Wares).

Mata uang logam dengan berbagai ukuran yang ditemukan saat ini disimpan di Balai Arkeologi Medan. Mata uang logam yang ada di Balai arkeologi Medan berjumlah enam keping, memiliki ukuran yang terbesar berdiameter 3,4 cm dengan ukuran lubang persegi empat bagian tengah 0,8 cm x 0,8 cm, berjumlah 1 keping, lima keping memiliki ukuran yang relatif sama dengan diameter 2,8 cm dengan ukuran lubang persegi empat bagian tengah 2,8 cm x 2,8 cm. Tidak banyak informasi yang dapat diperoleh dari mata uang logam tersebut dikarenakan kondisinya sudah rusak karena patinasi, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh McKinnon dan kawan-kawan tahun 1978, koin mata uang tersebut berasal dari China masa Dinasti Tang awal (abad ke-10 Masehi) dan Dinasti Sung utara (abad ke-11 Masehi).

Selat Malaka kala itu dikenal sebagai jalur perdagangan laut yang ramai serta lokasi bandar-bandar pelabuhan yang menyediakan komoditas perdagangan yang laku keras di dunia perdagangan internasional. Komoditas perdagangan tersebut antara lain: berbagai jenis rempah-rempah, kapur barus, emas, beras, kemenyan, tuak, dan lain-lain. Selat Malaka merupakan jalur lalu lintas perdagangan dunia yang ramai pada awal masehi hingga saat ini. Selat Malaka merupakan “Jalur Sutera Laut” perdagangan dunia setelah dikenalnya teknologi navigasi pelayaran yang masih sederhana kala itu. Pemanfaatan angin munson yang dipakai oleh para pedagang yang memakai moda transportasi laut sebagai transportasi utama kala itu, sangat menunjang kegiatan perdagangan. Pedagang dapat singgah dan melakukan aktivitas perdagangan untuk jangka waktu tertentu sambil menunggu angin munson yang baik untuk kembali ke tempat asalnya sambil membawa komoditi perdagangan dari wilayah Nusantara. Situs Kotacina dapat dikatakan sebagai salah satu dari sekian banyak situs arkeologis yang menjadi saksi bisu dari kejayaan masa lalu sebuah bandar perdagangan di pesisir timur pulau Sumatera pada kurun waktu abad ke-12 hingga abad ke-14 Masehi.

III. Kotacina saat ini

Penamaan situs Kotacina diambil dari nama sebuah dusun yaitu Dusun Kotacina yang termasuk ke dalam wilayah administrasi Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Medan, Sumatera Utara. Saat ini situs Kotacina merupakan daerah permukiman penduduk yang memanfaatkan dan mengelola lahan di areal situs dengan berladang serta membuat tambak/kolam ikan. Tidak jauh dari lokasi situs terdapat danau buatan yang dikenal dengan nama Danau Siombak, difungsikan sebagai tempat rekreasi.


Danau Siombak di situs Kotacina dan beberapa sarana penunjang aktivitas pariwisata

Keberadaan permukiman yang mulai ramai di sekitar lokasi situs Kotacina saat ini tidak dapat dihindari lagi. Berdasarkan hasil remaping tim Balai Arkeologi Medan tahun 2008, lokasi yang mengandung temuan-temuan dari masa lalu secara administrasi termasuk di dalam wilayah lorong/lingkungan IX dan VII di Dusun Kotacina, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Adapun lokasi-lokasi tempat ditemukannya sumberdaya arkeologi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Lokasi temuan Arca Buddha besar yang terletak di petak kebun penduduk termasuk wilayah Lingkungan IX, Dusun Kotacina pada koordinat N 03° 43′ 00.2″ E 098° 39′ 22.8″. Lokasi saat ini merupakan areal kebun penduduk, lokasi temuan diberi tanda menggunakan pohon pisang, temuan saat ini disimpan sebagai koleksi Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara.
  2. Lokasi temuan Arca Buddha, lokasi di wilayah Lingkungan/Lorong IX Dusun Kotacina pada koordinat N 03° 43′ 00.6″ E 098° 39′ 22.1″. Lokasi saat ini merupakan areal kebun penduduk, lokasi temuan diberi tanda menggunakan pohon pisang, temuan saat ini disimpan sebagai koleksi Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara.
  3. Lokasi
    temuan Arca Laksmi terletak di pekarangan rumah Bapak Edi Sutrisno yang berada di wilayah Lingkungan IX, Dusun Kotacina pada koordinat N 03° 43′ 02.5″ E 098° 39″ 23.4″. Lokasi merupakan ladang yang ditanami umbi batang (ketela pohon).
  4. Lokasi temuan fragmen keramik dan bata yang berada di areal ladang milik Bapak Muhtar di wilayah Lingkungan IX, temuan berupa fragmen keramik dari masa Dinasti Sung dan Yuan berada pada koordinat N 03° 43′ 12.0″ E 098° 39′ 20.9″. Lokasi saat ini ladang yang ditanami pohon singkong dan pohon pisang disekitarnya.
  5. Lokasi temuan batu pahatan, lokasi berada di sisi jalan setapak ladang yang terletak di Lingkungan VII, Dusun Kotacina pada koordinat N 03° 43′ 14.3″ E 098° 39′ 22.1″. batu pahatan merupakan batuan beku yang berbentuk prisma segi empat dengan ukuran tinggi 50 cm, lebar atas 30 cm, lebar bawah 40 cm dan tebal 23 cm.
  6. Lokasi temuan batu pahatan, berada di dekat sebuah toapekong yang terletak di Lingkungan/Lorong VII, Dusun Kotacina pada koordinat N 03° 43′ 14.9″ E 098° 39′ 20.8″. Lokasi batu pahatan terletak di sisi kanan Tapekong, batu pahatan berbentuk balok batu dengan ukuran panjang 90 cm, lebar 30 cm dan tebal 28 cm.
  7. Lokasi penggalian E. E. McKinnon tahun 1979 ditemukan struktur bata dengan ukuran 10 m x 10 m, terletak di Lingkungan/Lorong VII berada pada koordinat N 03° 43′ 14.9″ E 098° 39′ 22.2″. Saat ini di sekitar lokasi ditanami pohon pisang.
  8. Lokasi penggalian H. M. Ambary 1982 ditemukan struktur bata ukuran 10 m x 10 m dan sebuah batu umpak. Berada di wilayah Lingkungan/Lorong VII berada pada koordinat N 03° 43′ 20.9″ E 098° 39′ 22.9″. Lokasi struktur bata saat ini terletak tepat di bawah sumur rumah warga bernama Bapak Edi Rahman.
  1. Lokasi Parit Belejang yang merupakan batas dusun antara Dusun Kotacina dengan Dusun Paya Pasir yang berada di Lingkungan/Lorong VII pada koordinat N 03° 43′ 22.2″ E 098° 39′ 24.8″. Pada kedua dinding parit masih tampak stratigrafi tanah yang berseling dengan lapisan cangkang kerang (Molusca) yang memanjang sepanjang lapisan stratigrafi dinding parit.
  2. Lokasi Danau Siombak tempat ditemukannya papan perahu yang diteliti oleh P. J. Manguin pada tahun 1989, berada pada wilayah Lingkungan/Lorong VII, Dusun Paya Pasir terletak pada sekitar koordinat N 3° 43′ 15.1″ E 098° 39′ 36.3″. (Purnawibowo dkk.,2008:2–3).

IV. Pengelolaan SDA situs Kotacina

Situs Kotacina memiliki tinggalan arkeologi yang banyak jumlah dan ragamnya, tersebar di beberapa tempat, baik yang masih berada di lahan kosong maupun di areal permukiman warga. Sumberdaya arkeologi sebagai kekayaan yang terkandung di situs Kotacina memiliki beberapa sifat, di antaranya: terbatas (finite), rapuh (fragile), unik (unique), dan tidak terbaharui (unrenewable). Oleh karena sifat-sifat itulah maka pengelolaan SDA harus arif dan bijaksana agar sumberdaya itu berdaya guna bagi banyak pihak. Pengelolaan SDA dirasa sangat penting, karena dari padanya terkandung nilai-nilai yang selaras dan tidak dapat dilepaskan dari makna kultural yang melekat padanya. Banyak makna yang terkandung dalam SDA, di antaranya adalah makna simbolik yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat pendukungnya, sedangkan nilai itu adalah nilai estetis, asosiatif, simbolik, informatif, dan ekonomis. (Atmosudiro,2004).

Manajemen pengelolaan sumberdaya arkeologi tidak dapat dipisahkan dari kepentingan dan peran serta dari semua stakeholders yang berkepentingan dengan situs Kotacina. Dalam pengelolaan sumberdaya arkeologi, dialog antar stakeholders menjadi kebutuhan mendasar, bahkan keharusan yang tidak dapat dikesampingkan. Luasnya batasan stakeholders menuntut tumbuhnya kebulatan persepsi dan pemahaman utuh dari banyak pihak mengenai arti, nilai, dan peran sumberdaya arkeologi bagi kepentingan luas (Yuwono,2006:1).

Saat ini, dapat dikatakan terdapat tiga stakeholders yang memiliki kepentingan dengan situs Kotacina, yaitu masyarakat yang berdomisili di sekitar situs, pihak pemerintah yang diwakili oleh beberapa instansi, baik instansi daerah maupun instansi pusat serta akademisi dan peneliti. Masyarakat sekitar situs adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberadaan situs itu sendiri, bahkan mereka memiliki ikatan batin yang kuat terhadap eksistensi keberadaan Situs Kotacina dalam melakukan seluruh aktivitas kehidupannya di lokasi situs. Pemerintah memiliki kewenangan yang didasarkan pada UU No.5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya yang memiliki tugas dan kewajiban secara garis besar untuk menjaga, melestarikan serta memanfaatkan potensi sumberdaya budaya yang ada, salah satunya adalah sumberdaya arkeologi yang ada di situs Kotacina. Sedangkan akademisi dan peneliti adalah pihak yang memanfaatkan situs demi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan baik sejarah, arkeologi, lingkungan dan lain sebagainya.


Peta wilayah situs saat ini dan lokasi temuan sumberdaya arkeologi

di situs Kotacina

Dalam manajemen pengelolaan sumberdaya arkeologi yang baik, bila dalam pelaksanaannya mampu menampung setiap aspirasi dari masing-masing stakeholders serta mampu menyelaraskan aspek pemanfaatan dan pelestarian dari sumberdaya arkeologi secara khusus, maupun sumberdaya budaya secara umum. Dalam manajemen pengelolaan sumberdaya arkeologi yang baik dibutuhkan peran aktif yang terorganisir dari masing-masing stakeholders yang ada. Permasalahan yang akan muncul di dalam pelaksanaannya harus terlebih dahulu ditemukan point-point solusinya agar tidak merugikan salah satu atau kedua belah pihak di kemudian hari dalam sebuah kerangka master plan pelaksanaan pengelolaan sumberdaya arkeologi di situs Kotacina.

V. Penutup

Pengelolaan sumberdaya arkeologi merupakan salah satu cara agar potensi sumberdaya arkeologi dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan tanpa melupakan beberapa aspek penting yang berkenaan dengan perlindungan dan pelestarian sumberdaya arkeologi itu sendiri. Belum banyak yang dapat dilakukan dalam kerangka besar pengelolaan sumberdaya arkeologi di situs Kotacina, tetapi langkah awal perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya arkeologi yang berada di situs Kotacina sudah dilaksanakan walaupun belum dikelola secara menyeluruh.

Hal tersebut dibuktikan dengan adanya usaha perlindungan dan pelestarian beberapa temuan dari sekitar situs Kotacina yang telah disimpan menjadi koleksi di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara. Hal tersebut sudah merupakan satu upaya tindakan nyata dalam rangka melestarikan dan melindungi sumberdaya arkeologi. Adapun Danau Siombak yang dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi merupakan sebuah usaha yang dilakukan masyarakat setempat dalam rangka memanfaatkan potensi sumberdaya alam yang ada di situs Kotacina. Baik disadari maupun tidak, tindakan yang telah dilakukan oleh Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara termasuk dalam sebuah upaya awal kerangka pengelolaan sumberdaya arkeologi serta masyarakat yang mengelola Danau Siombak telah melakukan upaya pengelolaan sumberdaya alam yang ada di lingkungan situs Kotacina. Dalam langkah ke depan, dapat ditambah lagi pengelolaannya dengan membuat perencanaan yang lebih matang terhadap bentuk pengelolaan sumberdaya arkeologi dan sumberdaya lainnya yang baik di situs Kotacina.

Kepustakaan

Ambary, Hasan Muarif, 1984. Further Notes On Classification Of Ceramics From The Excavation Of Kota Cina, dalam Studies On Ceramics, Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, hal. 63–72

Anderson, J, 1962. Mission to the East Cost of Sumatra in 1823. London: WMH Allen & Co.

Atmosudiro, Sumijati, 2004. Manajemen Sumberdaya Arkeologi Dan Kendala Penerapannya. Makalah disampaikan dalam Pelatihan Pengelolaan Sumberdaya Arkeologi Tingkat Dasar di Mojokerto. Jogjakarta.

Harkantiningsih, Naniek, 2006. Aspek Arkeologi Dalam Penelitian Keramik. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Arkeologi. Jakarta: Puslitbang Arkenas.

Koestoro, Lucas Partanda, 2005. Rempah Dan Perahu Di Perairan Sumatera Dalam Ungkapan Arkeologis Dan Historis, dalam Jurnal Arkeologi Indonesia No. 3. Jakarta: IAAI, hal. 41–64.

———————————-, 2008. Kotacina Dalam Sejarah Indonesia. Makalah dalam Seminar Arti Penting Situs Kotacina (Medan) Dalam Sejarah Indonesia Dan Pengintegrasiannya Dalam Pengajaran Sejarah Di SMP/SMA.
Medan.

Koestoro, Lucas Partanda dkk., 2006. Medan, Kota Di Pesisir Timur Sumatera Utara Dan Peninggalan Tuanya. Medan: Balai Arkeologi Medan.

Manguin, Pierre-Yves, 1989. The trading ships of Insular South-East Asia. New Evidence from Indonesian Archaeological Sites, dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi V (1). Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, hal. 200–220.

McKinnon, E Edwards, 1978. A Notes on Aru and Kota Cina. Indonesia, Oktober 26.

Purnawibowo, Stanov dkk., 2008. Laporan Remaping Situs Kotacina Di Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Medan: Balai Arkeologi Medan (tidak diterbitkan).

Sharer, Robert J. And Wendy Ashmore., 1993. Archaeology Discovering Our Past. Second Edition.
California: Mayfield Publishing Company.

Suleiman, Satyawati, 1976. Survei Sumatra Utara, dalam Berita Penelitian Arkeologi No. 4. Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional.

Wibisono, Sonny, 1981. Tembikar Kota Cina: Sebuah Analisis Hasil Penggalian Tahun 1979 Di Sumatera Utara, dalam Skripsi untuk gelar Sarjana dalam Ilmu Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Jakarta.

Whitten, Anthony J. dkk., 1984. The Ecology Of Sumatera. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Yuwono, J.Susetyo Edy, 2006. Peran Stakeholderss Dalam Pengelolaan Sumberdaya Arkeologi. Makalah disampaikan dalam Pelatihan Pengelolaan Sumberdaya Arkeologi Tingkat Dasar di Balai Arkeologi Jogjakarta. Jogjakarta.

Written by balarmedan

Juni 18, 2008 pada 4:54 am

Ditulis dalam Stanov Purnawibowo,S.S.

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kok kurang jelas petanya ya tolong perjelaskan donk agar saya bisa kesana

    josua

    Juni 11, 2009 at 9:47 am

    • anda berada dimana skrg, maaf kalo mau lebih jelas petanya silahkan datang ke kantor kami, karena tidak bisa diberikan secara langsung dr sini

      terima kasih

      balarmedan

      Juni 19, 2009 at 8:32 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: