Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

BENTENG JEPANG: TINGGALAN ARKEOLOGIS BERKAITAN DENGAN PENDUDUKAN JEPANG DI KOTA MEDAN

with 2 comments

Jufrida

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

During the period of Japanese occupation of Medan in particular and North Sumatera in general around 1942 – 1945, resulted a fortress as an archaeological remains. Now, it becomes as the adding of Japanese historical record in Medan.

Kata Kunci : Benteng Jepang, pendudukan Jepang, Kota Medan

I. Pendahuluan

Tidak jauh dari Jalan Gatot Subroto km 4,5, terdapat sebuah tinggalan arkeologis yang oleh masyarakat setempat disebut Benteng Jepang. Tepatnya berada di Gang Famili, Lorong Idris No. 9 D, Kelurahan Sei Putih Barat, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Bangunan tersebut hingga kini masih dalam kondisi baik dan bersih karena dimanfaatkan sebagai rumah keluarga Bapak Asnawi.

Catatan sejarah menyebutkan masuknya pasukan Jepang ke Sumatera Utara pada mulanya melalui Pantai Parupuk sebagai pendaratan pertama dan Tanjung Tiram sebagai pendaratan kedua. Walaupun pada awalnya Jenderal Nishimura memerintahkan Resimen 5 Infanteri mendarat di pantai Labuhan Ruku, Provinsi Sumatera Timur dengan tujuan untuk memasuki Kota Medan (Fusayama,1994:345). Masuknya pasukan Jepang ke wilayah tersebut antara lain ditandai dengan pembangunan benteng pertahanan di Pantai Parupuk, Kabupaten Batubara yang disebut dengan Lubang Jepang (Jufrida, 2007:45).

Berkaitan dengan penyebutan Benteng Jepang yang terdapat di Kota Medan belum ada informasi atau catatan sejarah lokal yang menyebutkan adanya pembangunan bangunan itu oleh pasukan Jepang. Tidak menutup kemungkinan bahwa bangunan tersebut memang dimanfaatkan oleh pasukan Jepang sehingga masyarakat lebih mengenal bangunan tersebut dengan sebutan Benteng Jepang. Makalah ini mencoba mengungkapkan fungsi bangunan tersebut dan latar belakang historisnya.

II. Benteng Jepang, bentuk bangunan dan fungsinya

Bangunan yang disebut Benteng Jepang ini berdiri pada lahan seluas sekitar 88,39 m2. Kini di sekitarnya merupakan permukiman yang padat. Tidak jauh dari bangunan itu sekitar 100 m ke arah timur dapat aliran Sungai Sei Sikambing. Di bagian selatan sekitar 200 m terdapat Jalan Gatot Subroto dan sekitar
250 m terdapat Yayasan Panca Budi (Universitas Panca Budi).

Bangunan ini berdenah persegi panjang berukuran 11,6 m x 5,5 m. Tinggi bangunan 6 m, berdinding dan beratap cor, serta berlantai semen. Disebutkan dahulu hanya berlantai tanah yang kemudian disemen oleh penghuni bangunan. Bentuk atapnya datar di sisi utara dan selatan, masing-masing berukuran 3 m x 5,5 m. Pada bagian tengah berbentuk lengkungan setengah lingkaran berukuran panjang 5,6 m dan diameter 5,5 m. Ketebalan tembok bangunan umumnya 1 m. Di depan bagian yang difungsikan sebagai pintu keluar-masuk dibangun tembok berbentuk trapesium, tebal 0,82 m dan panjang 2,80 m, sedangkan tingginya sekitar 3 m dan panjang bagian atas 1,8 m. Di bagian bawahnya terdapat sebuah lubang persegiempat berukuran 42 cm x 32 cm. Tembok ini berjarak 1,3 m dari bangunan utama (bangunan benteng). Kini tembok itu hanya terdapat di bagian timur, sedangkan di bagian barat sudah dihancurkan karena difungsikan sebagai jalan di Lorong Idris.

Pada dinding bangunan bagian timur terdapat dua lubang berbentuk segiempat, sedangkan di bagian barat hanya terdapat satu lubang. Adapun ukurannya 43 cm x 30 cm. Lubang itu semakin ke dalam semakin besar, berukuran 70 cm x 50 cm. Kemudian di bagian bawahnya terdapat deretan lubang lain yang lebih kecil berbentuk segiempat berukuran 9 cm x 8 cm, masing-masing empat lubang di dinding bagian timur dan empat lubang di bagian barat. Kini dua lubang besar itu diberi kawat kasa (kawat nyamuk) dan satu lubang ditutup dengan semen. Demikian juga dengan lubang kecil sebagian besar ditutup dengan semen, kecuali sebuah lubang yang hanya ditutup dengan tiga pipa besi yang disusun horisontal dengan posisi lubang menghadap keluar. Lubang lain terdapat di bagian atap berukuran 25 cm x 25 cm.

Pintu masuk terdapat di bagian barat dan timur berukuran 4,5 m x 1 m tanpa daun pintu. Saat ini hanya pintu di bagian barat yang dilengkapi daun pintu dan digunakan sebagai sarana keluar/masuk ke dalam ruangan oleh penghuni bangunan. Memasuki bagian dalam bangunan melalui pintu di bagian barat terdapat lorong pertama (bagian selatan) berukuran 4,5 m x 1 m. Selanjutnya berbelok ke utara terdapat ruangan pertama (bagian selatan) berukuran 2 m x 3,5 m. Antara lorong dengan ruangan tersebut disekat oleh tembok berukuran 1,25 m x 1 m di sisi timur dan barat, dengan bagian tengah berongga sebagai pintu masuk menuju ruangan pertama. Selanjutnya lebih ke utara terdapat tembok pemisah berukuran 2,5 m x 0,6 m, tepatnya berada di bagian tengah antara ruangan pertama (di selatan) dengan ruangan kedua (di utara). Menuju ke ruangan kedua melalui pintu berbentuk lengkung kurawal di bagian atasnya. Posisi pintu tersebut di bagian timur sejajar dengan tembok pemisah. Kemudian di bagian utaranya terdapat ruangan kedua berukuran lebih besar dibandingkan dengan ruangan pertama yaitu 3 m x 3,5 m. Demikian juga antara ruangan kedua dengan lorong di bagian utara terdapat penyekat berupa tembok di sisi timur
dan barat berukuran 1,25 m x 1 m dengan bagian tengah merupakan pintu masuk menuju ke lorong di bagian utara, juga sebaliknya dari lorong di utara menuju ke ruangan kedua. Antara lorong kedua (di utara) dengan lorong pertama (di selatan) berukuran sama, yaitu 4,5 m x 1 m. Di bagian timurnya terdapat pintu keluar/masuk. Antara pintu di bagian timur dengan tembok lain yang dibangun menghadap ke arah pintu (tembok berbentuk trapesium) kini ditutup dengan tembok baru dan difungsikan sebagai dapur oleh penghuni bangunan.

Melalui pengamatan terhadap kondisi bangunan itu diketahui bahwa bangunan dibuat sangat kokoh dengan ketebalan tembok rata-rata 1 m dan dicor, demikian juga dengan bagian atapnya. Melalui lepa pada dinding yang terkelupas diketahui bahwa material yang digunakan selain semen juga menggunakan bahan batu kerakal. Di bagian timur dan barat terdapat pintu keluar-masuk tanpa daun pintu, tetapi hanya ditutup dengan tembok berbentuk trapesium yang berada di bagian depannya. Tembok tersebut juga dilengkapi dengan lubang pengintaian. Demikian juga dengan bagian dalam bangunan sengaja dibuat simetris dan saling berhubungan antara lorong dan ruangan di bagian selatan
dengan lorong dan ruangan di bagian utara. Hal ini mengindikasikan bahwa bangunan tersebut diperuntukkan bagi kegiatan yang mudah untuk keluar-masuk dari sisi utara dan selatan. Tidak adanya daun pintu dan hanya dibuat tembok lain di depan pintu sebagai penghalang merupakan cara untuk menutupi segala aktivitas di dalam ruangan tanpa terlihat dari luar, namun tetap memudahkan untuk keluar-masuk ruangan. Kemudian dari bagian dalam mudah untuk melihat keluar melalui lubang pengintaian.

Ruangan di bagian dalam dibuat dengan ukuran yang sedikit berbeda, di selatan lebih kecil dibandingkan dengan ruangan di utara. Adapun lubang-lubang berbentuk segiempat yang berukuran besar maupun kecil yang terdapat pada dinding bangunan lebih berfungsi sebagai ventilasi udara, demikian juga sebuah lubang yang terdapat di bagian atap. Tidak menutup kemungkinan lubang yang berukuran besar di bagian dinding dimanfaatkan juga sebagai lubang pengintaian. Selain itu tampak luar bangunan tersebut cukup tinggi (6 m), demikian juga dengan ruangan maupun lorong di bagian dalam juga cukup lapang dengan tinggi 4,5 m, sehingga aktivitas yang dilakukan di dalam bangunan menjadi leluasa.

Dibandingkan dengan bangunan pertahanan yang terdapat di Pulau We, Provinsi NAD (Benteng Batre C di Desa Cot Ba’u) dan Sibolga, Provinsi Sumatera Utara (benteng di Lorong Sihopo-hopo, Kelurahan Aek Manis dan benteng di Jalan Melati, Desa Simare-mare, Kelurahan Sibolga Ilir), kondisinya tidak jauh berbeda bahkan sebagian komponen bangunannya memiliki kemiripan (Tim Penelitian,1996/1997; Tim Penyusun,2000). Selain denah yang digunakan umumnya segiempat, juga dilengkapi dengan lubang-lubang ventilasi di bagian dinding dan atapnya. Bangunan tersebut menggunakan cor di bagian dinding dan atapnya dengan ketebalan 50 cm – 69 cm sehingga bentuknya cukup kokoh. Benteng tersebut ada yang terdiri dari satu ruangan dan ada yang empat ruangan, demikian juga tingginya bervariasi dari 1,5 m, 2,5 m, dan 2, 75 m. Di dua benteng yang terdapat di Sibolga tersebut sebagian komponen bangunannya memiliki kemiripan dengan yang terdapat di Kota Medan, yaitu adanya tembok berbentuk trapesium dan atap melengkung setengah lingkaran.

Diinformasikan bahwa pada bangunan tersebut dahulu sebelum disemen lantainya juga dilengkapi dengan terowongan yang menuju ke luar bangunan (disebutkan bahwa terowongan itu cukup panjang, kini berada di areal Yayasan Panca Budi (Universitas Panca Budi) yang berjarak sekitar 250 m di arah selatan dari bangunan). Mengingat bentuk bangunan serta komponen bangunan yang melengkapinya diperkirakan dahulu bangunan tersebut difungsikan sebagai markas pasukan.

Komponen bangunan lain seperti lubang-lubang pengintaian dan pintu di bagian timur posisinya menghadap ke arah Sungai Sei Sikambing. Kemudian keletakan bangunannya tidak jauh dari Sungai Sei Sikambing memungkinkan dahulu difungsikan untuk memantau lalu lintas yang berlangsung di sungai tersebut. Pemanfaatan sungai sebagai jalur lalu lintas dimungkinkan mengingat kondisi sungai tersebut cukup lebar (15 m) dan dapat dilalui oleh perahu. Informasi lain menyebutkan bahwa di sekitar Sei Sikambing merupakan perkebunan tembakau Belanda hingga pertengahan abad ke- 20. Catatan Belanda (keterangan foto yang dibuat tahun 1880–1881) menyebutkan bahwa terdapat jembatan di atas Sungai Deli yang menuju ke perkebunan tembakau di Sungai Sikambing (http://132.229.193.133/kitlv/ servlet/proxy). Kemungkinan bangunan tersebut telah ada pada masa kolonial Belanda untuk memantau aktivitas di sekitar Sei Sekambing, kemudian ketika Belanda meninggalkan Kota Medan bangunan tersebut dimanfaatkan oleh pasukan Jepang. Seperti halnya bangunan sejenis yang ditemukan di daerah Polonia. Disebutkan bahwa bangunan tersebut merupakan kubu pertahanan peninggalan masa Hindia Belanda yang dibangun untuk mempertahankan lapangan udara dari serangan musuh yang ditujukan pada daerah itu. Pembangunannya diperkirakan baru pada masa kemudian –menjelang berkecamuknya PD II- (Tim Penyusun,2007:2). Catatan sejarah juga menyebutkan bahwa sebelum pasukan Jepang masuk ke Polonia, daerah tersebut telah dimanfaatkan sebagai markas pasukan Belanda (TWH,2005:25–26).


Peta situasi Benteng Jepang di Kota Medan

III. Catatan historis masuknya pasukan Jepang di Kota Medan

Masuknya pemerintahan Jepang ke Indonesia pada tahun 1942–1945 juga mewarnai wilayah Sumatera Utara umumnya dan Kota Medan khususnya. Pada awalnya kedatangan mereka mendapat sambutan baik dari masyarakat setempat yang menginginkan terjadinya suatu perubahan untuk mengakhiri penjajahan Belanda. Pasukan-pasukan Jepang yang menyerbu ke daerah Sumatera Utara adalah bagian dari pasukan ke-25. Pasukan itu berada di bawah komando Jenderal Toyuki Yamashita atau terkenal dengan julukan Malay To Tora (Harimau Malaya), karena berhasil menaklukan Semenanjung Malaya (Dep. P&K,1979/1980:7). Disebutkan Resimen 5 Infanteri diperintahkan mendarat di pantai Labuhan Ruku, Provinsi Sumatera Timur dengan tujuan memasuki ibukota Medan (Fusayama,1994:345).

Pada tanggal 12 Maret 1942 tengah malam dilakukan pendaratan pertama di muara sunyi, agak jauh dari pantai Labuhan Ruku, bagian timur Sumatera Utara. Tidak ada pasukan musuh di tempat tersebut. Kemudian dilanjutkan gelombang kedua Resimen 5 Infanteri bersama Markas Besar Divisi dan Korps Sandi mendarat di dermaga Tanjung Tiram, sebuah tangkahan nelayan di sebelah baratlaut Labuhan Ruku (Fusayama,1994:346–347). Selanjutnya pasukan tersebut sebagian mengunakan sepeda yang dibawa dan langsung bergerak menuju kota Medan, pasukan lainnya menggunakan mobil bawaan dan mobil yang telah diperbaiki menuju kota tersebut (Fusayama,1994:348–349). Pasukan-pasukan ini banyak mengalami kendala dengan rusaknya jembatan-jembatan yang sengaja dihancurkan dan bahkan dibom pihak kolonial Belanda sebelum mereka meninggalkan daerah tersebut. Namun pada akhirnya pasukan Resimen 5 Infanteri dapat menduduki Kota Medan pada tanggal 13 Maret 1942. Selanjutnya pasukan yang terlebih dahulu sampai ke Kota Medan menyediakan asrama di daerah Polonia, sebelumnya bekas tempat hunian pasukan Belanda yang telah mundur ke Tanah Karo (TWH, 2005:25–26).

Perubahan terjadi pada pemerintahan pada masa itu juga menyebabkan terjadinya kekacauan. Gejolak sosial dan krisis pangan terjadi di beragai tempat. Pada saat itu gudang-gudang pangan peninggalan Belanda dijarah oleh masyarakat. Dalam kondisi seperti ini pasukan Jepang mulai menunjukkan kekejamannya agar masyarakat takut. Tindakan awal dari kekejaman ini bermula dari peristiwa menjarahan massa terhadap gudang pangan yang berada di Jalan Irian Barat. Pada peristiwa itu lima pemuda Tionghoa dibunuh secara sadis dan dimakamkan di salah satu wihara di jalan Sutomo-Medan (Sinar,1991:109)

Pada saat pemerintahan Jepang di Kota Medan tidak banyak terjadi perubahan terutama dalam struktur pemerintahan, tetapi semuanya harus tertuju pada bidang kemiliteran dan harus mengabdikan diri kepada Kaisar
Jepang (Teno Heika). Dalam bidang pemerintahan sipil dijalankan oleh militer (Gunseikanbu) yang dipimpin oleh seorang yang berpangkat Cokang Kakka yang di zaman Belanda disebut residen. Sedangkan sebagai afdeling Bunsyuco dan onder-afdeling dipegang oleh seorang Fuku Bunsyuco. Demikian juga penguasa kota dipimpin oleh walikota yang disebut Sico. Sebagai penguasa di Sumatera Timur terkenal Gubernur Nakashima dan Walikota Medan Hayasaki (Dep. P&K, 1979/1980:8–9).

Pada awal-awal tahun pendudukan Jepang di Sumatera Timur, Jepang memprioritaskan menyusun kekuatan militer dengan cara mengikutsertakan masyarakat dalam membantu mereka menghadang pasukan Sekutu. Masyarakat desa mereka anggap sebagai inti kekuatan dalam perlawanan teritorial, maka di Sumatera Timur dibentuk Badan Oentuk Membantoe Pertahanan Asia (BOMPA) yang dipimpin oleh Mr. Muhd. Yusuf selanjutnya dipegang Abdul Xarim MS (Dep. P&K,1979/1980:19). Selanjutnya dibentuk pasukan semi militer bernama Tonari Gumi beranggotakan masyarakat
dan dipimpin
kepala desa yang bertugas sebagai pengawal dan penjaga keamanan desa. Kemudian para wanita juga turut dalam organisasi Fujinkai yang dikepalai oleh istri-istri dari setiap kepala desa untuk membantu pertolongan pertama dan dapur umum (Dep. P&K,1979/1980:22). Dibentuk juga pasukan semi militer lainnya seperti Taman Latihan Pemuda Tani (Talapeta) dan Nagahuta beranggotakan pemuda-pemuda tani yang dilatih ketrampilan bertani dan sebagai perantara pasukan Jepang secara kemiliteran (Dep. P&K,1979/1980:17–22). Daerah Juhar-Deli Serdang merupakan salah satu tempat pelatihan semi militer para pemuda tani, hingga daerah tersebut sekarang disebut daerah Talapeta. Selain itu juga dibentuk barisan Keibodan yang bertugas menjaga pengawasan dan keamanan lapangan terbang (Sinar,2005:113–114).

Pemerintahan Jepang juga membentuk barisan pengawasan keamanan di daerah pantai dan lautan disebut dengan Keijo Jikedan. Pasukan ini bertugas untuk melakukan patroli dengan menggunakan perahu-perahu kayu di sekitar perairan seperti perairan Belawan (Dep. P&K,1979/1980:24). Demikian juga barisan Sumatera Hokokai (Kebaktian Rakyat Sumatera) yang beranggotakan kaum intelek sebagai alat penunjang barisan-barisan yang telah dibentuk yaitu barisan Heiho. Barisan ini bertugas juga sebagai pengawal dan membantu pasukan Jepang dalam pengawasan lokasi minyak Pangkalan Brandan dan mengawal tawanan Belanda di Pulo Brayan (Dep. P&K, 1979/1980:23–25). Pada tahun 1943 dibentuk pula Gyu Gun barisan militer Indonesia dibimbing langsung oleh instruktur Jepang. Barisan Gyu Gun yang mayoritas beranggotakan pemuda yang berpendidikan sehingga mereka dibimbing untuk menjadi tamtama bahkan menjadi perwira seperti diantaranya Ahmad Thahir, Hopman Sitompul, M. Sukardi, Samaun Gaharu, Jamin Ginting, Ricardo Siahaan, dan lain-lain. Pelatihan untuk menjadi tamtama dipusatkan daerah Tapanuli dan Sibolga, sedangkan untuk menjadi perwira di Siborong-borong (Dep. P&K, 1979/1980:25). Pembentukan barisan-barisan di atas dimaksudkan sebagai persiapan untuk memperkuat pasukan di dalam menghadapi serangan dari luar (Sekutu).

Langkah selanjutnya adalah melakukan pembangunan sarana dan prasarana yang berkaitan dengan kemiliteran untuk memperkuat barisan dan pasukan yang ada, serta memudahkan untuk bergerak ke berbagai tempat. Sarana dan prasarana yang dibangun antara lain pangkalan udara, dok kapal, bangunan pertahanan, jalan, jembatan, dan lain-lain. Pembangunan itu umumnya menggunakan pekerja paksa (Romusha), sehingga kegiatan itu menimbulkan banyak korban (Dep. P & K,1979/1980:12; Penggabean,1995 dalam Tim Penyusun,2000:3). Kondisi tersebut menggambarkan kekejaman pemerintahan Jepang pada masa itu.

Perubahan juga terjadi pada bidang perekonomian yang semakin memprihatinkan. Di berbagai tempat terjadi kekurangan pangan dan sandang. Hampir semua hasil pertanian harus dijual melalui pemerintah Jepang dengan harga yang sudah ditetapkan. Hal ini sengaja dilakukan oleh pemerintah Jepang untuk memenuhi kebutuhan perbekalan pasukannya. Akibatnya masyarakat menjadi kekurangan pangan dan hanya bisa mengkonsumsi jagung, ubi, dan pisang sebagai pengganti beras. Para nelayan tidak diperbolehkan sembarangan menangkap ikan di laut bebas, karena telah dipasang ranjau oleh pasukan Jepang sehingga mengakibatkan para nelayan tidak mendapatkan hasil yang maksimal. Kondisi itu diperburuk dengan menyerahkan hasil tangkapan ikan kepada pasukan Jepang. Tidak mengherankan kemudian terjadi kemiskinan di berbagai tempat, serta banyak masyarakat yang meninggal karena kurang gizi dan kelaparan. Demikian juga untuk kebutuhan sandang masyarakat harus menggunakan goni, kulit kayu, atau karet karena tidak adanya bahan tekstil di pasaran. Penderitaan demi penderitaan yang dialami masyarakat menyebabkan kebencian terhadap pemerintahan Jepang semakin mendalam. Demikianlah kondisi yang mewarnai masuknya pasukan Jepang ke Kota Medan khususnya dan Sumatera Utara pada umumnya.

IV. Penutup

Benteng Jepang di Gang Famili, Lorong Idris No. 9 D, Kelurahan Sei Putih Barat, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu tinggalan arkeologis yang berkaitan dengan pendudukan pasukan Jepang di Kota Medan. Umumnya bangunan pertahanan lebih dikenal masyarakat sebagai bangunan pertahanan Jepang, karena pemanfaatan kemudian oleh pasukan Jepang. Tidak menutup kemungkinan bahwa bangunan tersebut telah ada pada masa kolonial Belanda, mengingat pendudukan Jepang dalam kurun waktu yang singkat menyebabkan tidak semua bangunan yang dimanfaatkan oleh pasukan Jepang dibangun oleh mereka. Diakui bahwa beberapa bangunan pertahanan seperti benteng dan gua-gua pertahanan yang berada di jalur strategis, serta daerah pertambangan bahan-bahan yang memperkuat kemiliteran juga dibangun oleh Jepang.

Namun demikian melalui data arkeologis tersebut menjelaskan bahwa bangunan yang kemudian lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Benteng Jepang itu merupakan tempat beraktivitas pasukan Jepang, sehingga keberadaannya dapat menjadi pelengkap catatan sejarah masuknya pasukan Jepang di Kota Medan khususnya dan Sumatera Utara pada umumnya.

Kepustakaan

Biro Sejarah Prima, 1976. Medan Area Mengisi Proklamasi. Medan: Badan Musyawarah Pejuang Republik Indonesia Medan Area

Fusayama, Takao, 1994. Runtuhnya Imperium Barat di Asia Tenggara Fajar Asia. Medan: Prima dan Lina Komputer Press

http://132.229.193.133/kitlv/servlet/proxy

Jufrida, 2001. Batubara, Perjalanan Sejarahnya di Pesisir Timur Sumatera, dalam Berkala Arkeologi Sangkhakala no. 09. Medan: Balai Arkeologi Medan, hal. 30–40

Jufrida, 2007. Lubang Jepang: Kubu Pertahanan Pasukan Jepang Di Kabupaten Batubara, dalam Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol. X No. 20, Medan: Balai Arkeologi Medan, hal. 37–46

Lubis, Abdull Mukti, 1979/1980. Sejarah Revolusi Kemerdekaan (19945-1949) Daerah Sumatera Utara. Medan: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Poesponegoro, Marwati Djoened, 1993. Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka

Ricklefs, M.C, 1993. Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2004. Jakarta: Serambi

Sinar, Tuanku Lukman,1991. Sejarah Medan Tempo Doeloe. Medan: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Seni Budaya Melayu

Syahnan, H.R, 1982. Dari Medan Area ke Pedalaman Dan Kembali Ke Kota Medan. Medan: Dinas Sejarah Kodam II/BB

Tim Penelitian, 1996/1997. Laporan Hasil Penelitian, Survei Peninggalan Masa Islam di Pulau We, Provinsi D.I. Aceh. Medan: Balai Arkeologi Medan (tidak diterbitkan)

Tim Penyusun, 2000. Laporan Survei Benteng dan Gua Peninggalan Jepang di Kotamadya Sibolga. Medan: Kanwil Depdiknas Prov. Sumatera Utara & Pemda Tk. II Kotamadya Sibolga

Tim Penyusun, 2007. Laporan Pelaksanaan Tugas, Survei Permukaan Terhadap Lokasi Penggalian Barang Antik di Kelurahan Polonia, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan. Medan: Balai Arkeologi Medan (tidak diterbitkan)

Thaib, Rustam dkk, 1997. 50 Tahun Kotapraja Medan. Medan: Djawatan Penerangan Kotapraja I Medan

TWH, Muhammad, 1991. Perjuangan Rakyat Sumatera Utara Dalam Gambar. Medan: Yayasan Pelestarian Fakta Perjuangan

————————-, 2005. Sebelum Dan Sesudah Proklamasi. Medan: Yayasan Fakta Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia

Wignjosoebroto, Soentandyo, 2005. Desentralisasi Dalam Tata Pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda. Malang: Bayumedia Publishing

Written by balarmedan

Juni 18, 2008 pada 3:44 am

Ditulis dalam Dra.Jufrida

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Informasi cukup bagus.

    candrian

    November 24, 2008 at 8:18 am

  2. Reblogged this on jemari riel…………………. and commented:
    cool..!!🙂

    Anthony Riel

    November 19, 2014 at 10:27 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: