Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

PEMUKIMAN PENDERITA KUSTA DAN FASILITASNYA DI DESA LAU SIMOMO, KABUPATEN TANAH KARO

with 7 comments

Deni Sutrisna
Balai Arkeologi Medan

Abstract                                                                                                                                      Settlement in Lau Simomo, Tanah Karo described the human history regarding the residential area for lepers. The building of this area supported the lepers in order to get a reasonably comfortable life. The other facilities which part of the important things for treatment of leprosy or character building are hospital and church.
1. Latar belakang

Pemukiman merupakan tempat berlangsungnya proses kehidupan yang dibutuhkan oleh setiap manusia maupun kelompok manusia. Proses perubahannya cenderung sejalan dengan kebutuhan hidup manusia. Terbentuknya pemukiman baru pada masyarakat Batak tradisional misalnya, umumnya disebabkan oleh berbagai hal yang terjadi pada pemukiman lama, antara lain: lahan pertanian yang semakin sempit, lokasi yang sudah padat, munculnya penyakit yang membawa banyak kematian, pertikaian sosial sesama penduduk, dan untuk mencari serta membentuk penghidupan di luar pemukiman lama (Simanjuntak & Situmorang, 2004:34). Demikian halnya dengan pemukiman penderita kusta yang terdapat di Desa Lau Simomo, Kecamatan Kaban Jahe, Kabupaten Tanah Karo, Provinsi Sumatera Utara. Pendiriannya dilandasi oleh alasan tertentu sehingga lokasinya agak jauh dari permukiman penduduk biasa.

Pemukiman itu berada pada areal tanah yang luas, berhawa sejuk, dengan pemandangan Gunung Sibayak yang letaknya dikelilingi oleh Desa Singa, Desa Guru Benua, Desa Kuta Great dan Desa Kandibata (Sinuraya,2000:34). Lokasi yang dipilih tentunya dengan mempertimbangkan kebutuhan para penderita kusta maupun kebutuhan penduduk biasa di sekitarnya. Seiring dengan perjalanan sejarah, pemukiman penderita kusta di Desa Lau Simomo ini tumbuh dan berkembang dengan berbagai fasilitas yang melengkapi sebuah pemukiman. Kini pemukiman penderita kusta di Lau Simomo cukup dikenal tidak hanya di Kabupaten Tanah Karo, tetapi juga di Provinsi Sumatera Utara. Terbentuknya sebuah pemukiman tentunya tidak lepas dari proses permukimannya. Bagaimana sejarah pertumbuhan dan perkembangannya hingga kini akan diuraikan dalam tulisan ini.

2. Sejarah singkat pendirian permukiman penderita kusta

Permukiman penderita kusta di Desa Lau Simomo diprakarsai oleh Pendeta E.J. Van den Berg, seorang misionaris Belanda yang tergabung dalam NZG (Nederlandsche Zendeling Genootschap) sebuah lembaga pekabaran injil Belanda dengan tugas utama memberikan pelayanan kerohanian. Pendeta E.J. Van den Berg datang pertama kali ke Tanah Karo tepatnya di Buluhawar pada bulan April 1903, menggantikan misionaris sebelumnya, Pendeta H.C. Guillaume yang telah bertugas di sana selama lima tahun, yaitu sejak tahun 1899-1904 (Sinuraya, 2000:22). Masih menurut Sinuraya (2000:25), semula para penderita kusta dirawat dan menginap di rumah Pendeta E.J. Van den Berg di Kaban Jahe menggunakan sebagian fasilitas kamarnya untuk menampung sementara para penderita. Selain sebagai tempat penampungan, rumah tersebut juga dilengkapi dengan apotek. Akibat dari banyaknya pasien yang datang ke tempat tersebut maka kamar yang tersedia tidak dapat lagi menampung pasien, sehingga pendeta E.J. Van den Berg mengusulkan pendirian permukiman baru di suatu tempat tidak jauh dari tempat semula yang kemudian disebut Desa Lau Simomo.

Usulan pendeta E.J. Van den Berg itu tidak disetujui oleh Asisten Residen Tapanuli, Western Berg. Menurut Asisten Residen permukiman para penderita kusta sebaiknya dibangun di daerah Huta Salem di Laguboti, Tapanuli karena sebelumnya di sana pada tanggal 5 September 1900 telah dibangun permukiman oleh Rheinsche Zending, sehingga sangat memudahkan pelayanan kerohanian maupun kesehatan (Sinuraya, 2000:26). Namun pendeta E.J. Van den Berg menentang pendapat tersebut karena lokasinya jauh dan bukan di Tanah Karo dan menurutnya itu sebagai bentuk pengasingan. Untuk menyelesaikan permasalahan itu maka diadakan Sidang Kerapatan Raja Bale Berempat dengan menghadirkan Asisten Residen Tapanuli dan Raja-raja Karo (para Sibayak). Di dalam sidang, uraian dan alasan memilih tempat permukiman yang disampaikan oleh pendeta E.J. Van den Berg sangat menarik dan menggugah para peserta sidang, sehingga sidang dengan persetujuan para peserta yang hadir menghasilkan keputusan untuk membangun permukiman penderita kusta ditempat yang diinginkan.

Selanjutnya pada tanggal 25 Agustus 1906 dimulailah pembangunan permukiman penderita kusta di tempat baru tersebut. Pada saat itu pulalah pertama kali nama Lau Simomo yang dalam bahasa Karo, Lau berarti air atau sungai dan Momo berarti pengumuman (Sinuraya, 2000:34). Selanjutnya  orang-orang yang bermukim di permukiman itu juga menyebut tempat mereka dengan Kuta Keriahen atau desa sukacita. Pembangunan permukiman dan fasilitas penderita kusta di Desa Lau Simomo dilaksanakan melalui beberapa tahap. Pembangunannya sekaligus bertujuan untuk mencegah penularan penyakit yang lebih luas kepada masyarakat, mempermudah perawatan dan pengobatan, termasuk merawat dan membina mentalnya.

3. Permukiman dan fasilitasnya

Secara astronomis permukiman ini terletak pada N 030  04.610’ dan E 0980  26.751’. Permukiman ini dibangun seperti layaknya sebuah permukiman pada masyarakat Batak Karo umumnya yang terdiri dari rumah-rumah hunian dan berbagai fasilitas sosial seperti jambur, rumah sakit, dan gereja.

a. Kompleks rumah hunian penderita kusta

Kompleks ini berada pada lahan seluas 4500 m2. Lokasinya di bagian barat Gereja Batak Karo Protestan. Awalnya bentuk permukiman di Desa Lau Simomo hanya berupa pondok-pondok darurat yang dibangun oleh para penderita kusta sendiri dengan memanfaatkan bahan-bahan bangunan dari lingkungan sekitarnya (Sinuraya,2000:38). Bangunan yang didirikan walaupun sederhana tapi tetap memperhatikan faktor lingkungan alam. Pondok berlantaikan tanah, bertiang dan berdinding dari bambu serta beratapkan ilalang (lihat foto 1). Udara disekitar tempat bermukim cukup dingin sehingga untuk mencegah masuknya udara dingin tersebut bagian dinding pondok diolesi dengan lumpur.

Pada perkembangan selanjutnya pondok-pondok darurat direhab, bagian lantai dan dinding diberi pelapis dari bambu yang dibelah-belah (salimar). Pada waktu itu jumlah pondok yang dibangun sangat terbatas sehingga para penderita kusta belum banyak yang tertampung di pondok-pondok tersebut dan sebagian masih tinggal di hutan.

Kini di kompleks ini terdapat sekitar 17 rumah, yang terdiri dari 15 rumah berkonstruksi panggung berciri rumah adat Batak Karo, dan 2 buah lainnya sudah direhab seperti layaknya rumah modern kini. Rumah-rumah berciri adat Karo ini sebagian merupakan karya Hengky Neuman pada sekitar tahun 1948 setelah bebas dari tawanan Jepang. Salah satunya disebut rumah Kurung Manik (lihat Foto 2). Rumah ini berukuran 2,5 m x 2 m. Disebut rumah Kurung Manik karena rumah ini ditandai dengan penggunaan 2 ayo-ayo yaitu suatu bidang berbentuk segitiga sama kaki yang berfungsi sebagai penutup bagian depan dan belakang atap sekaligus sebagai hiasan, serta bagian atap berbentuk pelana yang dilengkapi tanduk kerbau pada bagian ujungnya (Ginting dan Sitepu, 1995:7). Rumah-rumah yang terdapat di Desa Lau Simomo umumnya masih memiliki ciri seperti rumah adat Karo pada umumnya dengan bagian atap menggunakan ijuk tetapi tidak dilengkapi dengan tanduk kerbau di bagian ujungnya.
 
Beban bangunan ditopang oleh sejumlah tiang kayu. Untuk memperkuat tiang, bagian ruas-ruas tiang dipasang palang-palang kayu yang diletakan dalam posisi horisontal. Teknik sambungan tiang dan palang adalah dengan menggunakan teknik tusuk atau lebih dikenal dalam bahasa Karo dengan sendi.

Bagian dinding dibuat dari sederetan papan-papan yang disusun secara vertikal. Bagian tubuh bangunan dilengkapi komponen berupa pintu kayu, dan jendela kayu (pintu perik) yang terletak di bagian depan, kiri dan kanan. Untuk masuk ke bagian dalam bangunan dihubungkan dengan tangga kayu (redan). Setelah tangga dilalui sampailah ke bagian pintu masuk yang sebelumnya terlebih dulu melewati beranda (ture). Hiasan berbentuk cecak yang disebut pangret-ret dijumpai pada bagian dinding bangunan. Di daerah Tanah Karo keberadaan hiasan pangret-ret dianggap sebagai simbol kekuatan, penangkal setan dan persatuan masyarakat untuk menyelesaikan masalah (Ginting dan Sitepu, 1995:26). Disamping fungsi magis, hiasan ini berguna untuk memperkuat dinding dengan cara mengikat bagian bilah-bilah papan (pengganti paku).

b. Rumah Sakit

Rumah sakit berada pada lahan seluas 8100 m2 di bagian timur gereja GBKP. Pada awalnya pendirian rumah sakit di Lau Simomo dipicu oleh kebutuhan akan perawatan secara khusus dan intensif bagi para penderita kusta. Setahun setelah permukiman penderita kusta Lau Simomo diresmikan (tahun 1907), sebuah badan pekabaran Injil NZG merencanakan melengkapi permukiman ini dengan peralatan medis. Rencana ini didukung oleh seorang pimpinan perkebunan Deli Mij dengan memberi dana bagi pembangunan sebuah bangsal sebagai ruang rawat inap (Sinuraya,2000:55). Bangunan tersebut dibuat dari papan dan beratapkan seng terdiri dari dua ruangan yaitu ruangan pria dan ruangan wanita. Direncanakan setiap ruangan dapat menampung sekitar dua belas tempat tidur. Sebelum bangsal itu dapat dioperasikan dan dilengkapi dengan peralatan serta tenaga medis maka perawatan penderita kusta masih dilakukan di Kabanjahe. Kendala yang dihadapi pada waktu itu adalah tidak adanya sarana jalan yang memadai sehingga harus berjalan kaki dan harus menyeberangi sungai Lau Biang yang cukup curam dan deras.

Perawatan dan pengobatan bagi penderita kusta semula dilakukan di poliklinik yang dinamakan Kamar Obat Lau Cimba, di Kabanjahe pada tahun 1905. Kemudian pada tahun 1908 namanya dirubah menjadi Poliklinik Bataksche Instituut yang menjadi cikal bakal dari Rumah Sakit Zending NZG di Kabanjahe. Namun kebutuhan akan perawatan para penderita kusta masih dirasakan kurang sehingga perlu didirikan poliklinik khusus di Lau Ratah dan dinamakan Rumah Sakit Pembantu pada tahun 1913. Sebelum didirikan ruang rawat inap para penderita kusta tinggal di rumah terbuat dari tanah yang disebut gulbak. Selanjutnya pada tahun 1915 kegiatan perawatan para penderita kusta dapat dilaksanakan di Lau Simomo setelah dibangun jembatan gantung di Desa Kandibata. Ketika itu perawatan dilakukan oleh paramedis dari Rumah Sakit Deli Mij Medan dan Rumah Sakit Sinumbah Mij Tanjung Morawa (Sinuraya, 2000).

Ruang rawat inap di Lau Simomo yang digunakan pada malam hari oleh para penderita kusta disebut sebagai rumah berngi, sedangkan rumah pribadi tempat melaksanakan kegiatan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup yang dilaksanakan di siang hari disebut rumah suari yang artinya siang. Setelah 25 tahun kemudian yaitu pada tanggal 29-30 Agustus 1931 dalam kegiatan Jubilium berhasil dikumpulkan dana bagi pembangunan ruang rawat inap dan ruang operasi yang lebih memadai dibandingkan sebelumnya. Kini rumah sakit ini sudah lebih modern dengan bangunan tembok bercat putih dan beratap seng. Rumah sakit ini juga telah didukung peralatan yang lebih modern dan paramedisnya. Paramedis di rumah sakit ini kini juga tinggal di perumahan yang lokasinya tidak jauh dari rumah sakit sekitar 20 m.

c. Gereja Batak Karo Protestan/GBKP

Pembangunan gereja pada awalnya juga didasari kebutuhan kerohanian para penderita kusta. Semula hanya berupa ruangan kebaktian yang kemudian pada tahun 1915 ketika Pdt. L Bodaan menggantikan tugas  Pdt. J.P. Talens dimulai pembangunan gedung gereja. Bangunan ini berdinding papan yang disusun secara sederhana dan beratap seng. Pembangunannya secara swakarsa dan bergotong-royong yang dilakukan oleh para penderita kusta. Kemudian pada tahun 1923 ketika di bawah pimpinan H.G. Van Eelen gereja mulai dibangun dengan konstruksi seperti sekarang ini dan diresmikan pada tanggal 9 Desember 1923.

Bangunan gereja berada pada sebidang lahan yang relatif datar dan dikelilingi oleh halaman berumput berukuran sekitar 1800 m2. Di bagian barat gereja ditanami dengan pohon bambu sebagai pembatas areal gereja. Posisi gereja ini di bagian tengah areal permukiman berbatasan dengan rumah sakit di bagian timur, perkebunan kelapa sawit di bagian selatan, perumahan penderita kusta di bagian barat, serta jalan dan perumahan paramedis di bagian utaranya. Bangunan gereja menghadap ke arah jalan di bagian utara. Ciri-ciri sebagai bangunan kolonial terlihat dari tampilan arsitekturnya. Bangunan  ini berdinding papan bercat kuning dan beratap seng bercat merah. Secara detail deskripsinya sebagai berikut;

Bangunan menggunakan pondasi masif (padat) dengan tinggi sekitar 50 cm dari permukaan tanah. Di bagian bawah sisi luar dinding bangunan terdapat selasar dari semen dengan lebar sekitar 1 m. Dinding bangunan menggunakan bilah-bilah papan yang disusun berderet secara vertikal. Pada dinding tersebut terdapat komponen bangunan berupa pintu, jendela dan ventilasi udara. Pintu masuk gereja posisinya berada di keempat sudut bagunan, masing-masing terdiri dari dua buah pintu berdaun pintu satu. Di depan pintu masuk terdapat beranda beratapkan seng yang ditopang oleh sebuah tiang kayu. Pintu berukuran tinggi 225 cm dan lebar 95 cm, pada bagian pinggirnya dihiasi dengan ragam hias bingkai cermin. Handle atau pegangan pintu terbuat dari kuningan berbentuk seperti spiral. Demikian halnya dengan  engsel pintu juga menggunakan kuningan. Sejumlah jendela kaca juga terdapat pada dinding bangunan yaitu 5 buah bagian utara, 4 buah di bagian timur, 1 buah di bagian barat dan 2 buah di bagian selatan. Jendela-jendela ini berbentuk lengkungan (arch) tanpa daun jendela. Adapun ukurannya tinggi 192 cm dan lebar 56 cm. Kaca jendela dihiasi dengan hiasan geometris kaca patri (vitrum) berwarna merah, hijau, dan biru. Hiasan tersebut memenuhi hampir seluruh luas bidang kaca. Penggunaan kaca berwarna ini dimaksudkan untuk mengurangi intensitas cahaya matahari masuk ke dalam ruangan, namun tetap memberikan kesan terang.

Bagian atap bangunan terbuat dari seng berbentuk pelana dan di bagian lisplang (papan yang mengakhiri bagian ujung atap) terdapat hiasan berbentuk kurawal. Empat buah atap berbentuk pelana dengan posisi bagian belakang saling menyiku manaungi seluruh bagian dalam dan luar gereja. Pada atap siku bagian tengah muncul menara kecil beratapkan seng berbentuk segitiga sama kaki/runcing. Bangunan menara ini memiliki fungsi untuk masuknya sirkulasi  udara ke bagian dalam atap utama gereja. Ini ditandai dengan keberadaan dua buah jendela kayu dikeempat sisi bagian tubuh bangunannya. Bagian kemuncak atap menara diakhiri mustaka berbentuk salib.

Bagian dalam ruangan gereja didominasi dengan konstruksi kayu. Di bagian depan (selatan) terdapat podium dengan mimbar menghadap ke bagian utara. Di podium ini juga terdapat piano dan beberapa bangku. Di bagian utara berhadapan dengan podium terdapat bangku kayu diletakkan berjajar dan berderet ke belakang sebagai tempat duduk para jemaat. Di bagian timur dan barat juga terdapat deretan bangku yang posisinya masing-masing menghadap ke deretan bangku yang terdapat di bagian tengah gedung gereja. Demikian juga di bagian atasnya yaitu pada balkon yang terdapat di bagian timur dan barat juga terdapat deretan bangku kayu. Bagian balkon dibatasi pagar kayu, sedangkan tangga naik ke balkon terdapat di bagian tenggara dan baratdaya. Pada dinding bagian belakang balkon terdapat sebuah jendela kaca bulat berhiaskan kaca patri berbentuk bunga padma yang sedang mekar.

Langit-langit ruangan utama berbentuk setengah lingkaran. Bagian sisi langit-langit ditopang oleh sejumlah tiang kayu. Selain diperkuat tiang, langit-langit juga diperkuat dengan rangka kayu yang dibuat bersilang di bagian tengahnya. Di bagian atas tiap ruas tiang kayu penopang langit-langit diperkuat lagi dengan balok-balok horizontal. Adapun ukuran tebal tiang adalah 16,5 cm dan tinggi sekitar 2,5 m. Teknik untuk menyambung antar sambungan tiang adalah menggunakan baut dari baja. Di keempat balok horizontal yang memperkuat ruas tiang ruang utama terdapat pertulisan dalam aksara Latin berbahasa Karo. Tulisan-tulisan tersebut diambil dari beberapa ayat Alkitab.

Gereja Batak Karo Protestan/GBKP merupakan bangunan modern bergaya arsitektur Klasik Eropa. Bentuk atapnya yang meninggi dengan kemiringan atap yang tajam menjulang ke atas merupakan ciri khas gaya arsitektur Klasik Eropa. Gaya ini sangat umum digunakan pada gereja di wilayah lain seperti Gereja HKBP Sibolga Julu di Kecamatan Sibolga Utara, Kotamadia Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah yang dibangun pada tahun 1925 (Koestoro dkk, 2001:27). Namun terdapat sedikit perbedaan terutama pada bagian atapnya. GBKP hanya memiliki satu atap, sedangkan Gereja HKBP Sibolga Julu bagian atapnya terdiri dari dua susunan atap, atap paling atas berbentuk pelana. Kesan meninggi pada bangunan ini didapatkan dari bentuk atap pelana yang didukung oleh bentuk menara yang menjulang tinggi di bagian tengah bangunan gereja. Posisi menara tepat di bagian tengah karena bagian tengah merupakan titik sentral pertemuan dari keempat bagian belakang atap pelana bangunan. Gedung gereja ini hingga kini masih digunakan sebagai tempat beribadat tetapi hanya pada hari-hari tertentu saja, sedangkan gereja yang rutin digunakan adalah dua buah gereja baru yang letaknya tidak terlalu jauh dari GBKP.

4. Pemukiman penderita kusta dan fasilitas pendukungnya

Pemukiman di Desa Lau Simomo menggambarkan sejarah panjang tumbuh kembangnya sebuah permukiman bagi para penderita kusta di sana. Pada awalnya hanya berupa pondok-pondok sederhana hingga menjadi permukiman yang layak huni dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti rumah sakit dan gereja. Pemukiman ini juga menggambarkan perjuangan panjang para penderita kusta untuk mendapatkan kehidupan yang layak seperti orang-orang lain yang sehat. Perjuangan ini juga tidak lepas dari peran para pendeta yang berusaha mewujudkan sebuah pemukiman yang layak bagi penderita kusta.

Terwujudnya pemukiman di Lau Simomo juga tidak lepas dari perjuangan para pendeta yang turut mengupayakan keberadaannya. Selain itu pemukiman ini juga merupakan wujud dari cita-cita pendeta E.J. Van den Berg dalam membuat pemukiman yang dapat menyentuh kebutuhan para penderita kusta sebagai manusia. Seperti kebutuhan bionetis (kebutuhan makanan, pakaian, perumahan, pengobatan), sosionetis (kebutuhan membentuk sistem sosial dan adapt budaya asalnya, melakukan pernikahan, serta mengembangkan budaya dan ekonomi), dan teonetis (kebutuhan rohani yang membangkitkan rasa percaya diri). Pemukiman ini juga merupakan sebuah bentuk pengobatan dan perawatan secara terpadu bagi para penderita kusta. Pembangunannya pada masa itu juga tidak lepas dari campur tangan Nederlandsche Zendeling Genootschap (NZG), pihak perkebunan Deli Mij, serta Rumah Sakit perkebunan Deli Mij Medan dan Rumah Sakit Sinumbah Mij Tanjung Morawa.

Bentuk pengobatan dan perawatan terpadu jelas terlihat dari sarana yang ada hingga kini seperti rumah-rumah hunian berarsitektur adat Karo, Rumah Sakit yang kini sudah memiliki gedung yang kokoh dan dilengkapi dengan peralatan yang modern, serta bangunan gereja yang hingga kini tetap berfungsi sebagai tempat pembinaan rohani bagi para penderita kusta. Kebun-kebun yang diusahakan juga merupakan bagian dari permukiman para penderita kusta, serta rumah-rumah bagi paramedis yang bertugas di rumah sakit itu turut melengkapi kawasan pemukiman ini. Keberadaan bangunan-bangunannya juga menggambarkan adanya upaya-upaya memperlakukan para penderita kusta seperti orang-orang lain yang sehat. Seperti pendirian rumah-rumah berarsitektur adat Karo jelas ditujukan untuk membuat para penghuninya yang berasal dari Tanah Karo betah tinggal di dalamnya. Upaya-upaya lainnya adalah mengembangkan seni budaya masyarakatnya, pemerintahan desa, dan pembuatan jambur (balai desa) (Sinuraya,2000). Kontak dengan masyarakat lain yang sehat juga dilakukan agar tidak merasa terasing, namun tetap dijaga agar tidak terjadi penularan. Fasilitas yang dibuat adalah ruangan untuk menerima tamu dan penginapan bagi tamu, serta menyediakan tempat yang terpisah di ruangan dalam gereja bagi orang-orang yang sehat dan para penderita kustanya. Informasi yang diperoleh berkaitan dengan posisi bangku di dalam ruangan gereja adalah di bagian barat diperuntukkan bagi perempuan sehat, deretan bangku bagian timur diperuntukkan bagi laki-laki sehat, sedangkan yang berada di tengah menghadap ke arah podium diperuntukkan bagi para penderita kusta. Posisi duduknya juga dipisahkan antara penderita kusta laki-laki dan perempuan. Pemanfaatan gereja bagi para penderita kusta dan orang-orang yang sehat selain dapat memberikan semangat bagi para penderita kusta, sekaligus mengingatkan bagi orang-orang yang sehat bahwa para penderita kusta juga merupakan bagian dari masyarakat yang perlu mendapat perhatian.

5. Kesimpulan

Pemukiman dan fasilitasnya di Desa Lau Simomo merupakan gambaran dari sebuah kisah perjalanan kemanusiaan yang cukup panjang di awal abad ke-20. Melalui sejarah pembangunan pemukiman ini diketahui adanya upaya para penderita kusta untuk mempertahankan hidup sekaligus beradaptasi dengan lingkungan barunya, serta harus melewati proses panjang hingga keberadaannya kini. Pembangunan pemukiman dan fasilitasnya pada lingkungan yang bagus merupakan bentuk pengobatan dan perawatan secara terpadu, sehingga mendukung bagi upaya penyembuhan baik secara jasmani maupun rohani.

Kepustakaan

Ginting, Samaria, dan AG Sitepu, 1995. Ragam Hias (Ornamen) Rumah Adat Batak Karo. Medan: Dirjen Kebudayaan, Depdikbud

Harahap, Basyral Hamidy dan Hotman M. Siahaan, 1987. Orientasi Nilai-Nilai Budaya Batak. Jakarta: Sanggar Willem Iskandar

Koentjaraningrat, 1999. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan
Koestoro dkk, 2001. Penelitian Arkeologi Di Kotamadia Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara, dalam Berita Penelitian Arkeologi No. 06. Medan: Balai Arkeologi Medan

Neumann, J.H, 1972.  Sejarah Batak-Karo, Sebuah Sumbangan. Jakarta: Bhratara

Prinst, Darwin, 2002.  Kamus Karo-Indonesia. Medan: Bina Media

——————-, 2004.  Adat Karo. Medan: Bina Media Perintis

Simanjuntak, Bungaran Antonius dan Saur Tumiur Situmorang, 2004. Arti dan Fungsi Tanah Bagi Masyarakat Batak. Parapat: Kelompok Studi dan Pengembangan Masyarakat (KSPM)

Sinuraya, P, 2000. Sejarah Permukiman dan Rumah Sakit Kusta Lau Simomo. Sukamakmur: Biro Partisipasi Pembangunan Moderamen GBKP

Tjandrasasmita, Uka (ed), 1993. Sejarah Nasional Indonesia III, Jaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Written by balarmedan

Mei 14, 2008 pada 7:20 am

Ditulis dalam Deni Sutrisna,S.S.

7 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Dear Pak Deni,

    Thanks atas artikel di atas. Saya sangat menghargai usaha Bapak untuk memuatnya di sini dan cukup komprehensif. Membantu saya memahami Lao Simomo dari jauh, karena saya belum pernah ke sana secara fisik.
    Sedikit usul, untuk next time, ada baiknya Bapak tidak lagi menggunakan kata ‘l-p-r’ untuk istilah kusta dalam bahasa Inggris, seperti pada kata terakhir kalimat pertama pada Abstract di atas. Hal ini mengingat seruan dari para penggiat kusta Internasional untuk menghilangkan kata tersebut dari istilah kusta karena berkonotasi negatif dan terkesan sangat stigmatis. Untuk di artikel ini saya memakluminya, tapi usahakan untuk artikel berikut kata tersebut tidak digunakan lagi.
    Memang di internet kata l-p-r masih digunakan, dan itu hanya karena mereka tidak mengerti betapa kata itu berkonotasi merendahkan dan menambah beban stigma pada tiap mantan penyandang kusta.
    Sebagai pengganti istilah tersebut kita bisa menggunakan kata ‘person/people affected by leprosy’.
    Sekali lagi saya sangat menghargai apa yang Bapak sampaikan di artikel ini, dan informasi yang Bapak sampaikan sangat berharga bagi saya dan masyarkat luas.
    Selamat bekerja pak.

    Jakarta, Maret 2009
    Salam,
    Alexander Mutak
    Anddota Dewan Pembina Yayasan Transformasi Lepra Indonesia, Jakarta.

    blogalexandermutak

    Maret 18, 2009 at 1:31 am

    • Terima kasih atas kritikannya yang membangun. Sebagai moderator blog ini, saya akan sampaikan langsung ke Pak Deni sebagai penulis artikel ini.

      Salam Hangat
      Balai Arkeologi Medan

      balarmedan

      Maret 18, 2009 at 5:10 am

  2. Terima Kasih atas laporan mengenai Lau Simomo. Saya pelajar PhD dari Universitas di Jepang. Saya kini sedang membuat kajian mengenai Sejarah Petempatan Kusta di di negeri-negeri kolonia Asia. Saya dipahamkan bahawa Lao Simomo adalah perintis “enlightened policy” yang membawa perubahan cara perubatan pesakit Kusta ke era yang lebih kemanusiaan, dan telah mempengaruhi petempatan-petempatan kusta di Malaysia, Brazil dan India dari 1920-40s. Saya ingin membuat lawatan ke Lau Simomo pada bulan September ini. Saya ada beberapa soalan mengenai Lau Simomo.

    1. Berapa jaraknya dari Kaban Jahe?
    2. Kini terdapat berapa ramainya penduduk di Lau Simomo?
    3. Bisa dapat foto-foto dari website? Keadaan kini

    Ribuan Terimakasih
    Komaba

    Komaba

    Juni 19, 2009 at 7:40 am

    • dicoba dijawab :
      1.Jarak dari kabanjahe kira2 1-2 jam (maaf yg membuat tulisan ini lg tidak berada di kantor)
      2. Banyak penduduk kurang tahu
      3.foto2 dr website mgkn tidak ada

      saran : sebaiknya anda coba menanyakan ke pemkab.tanah karo
      maaf kalo jawaban kurang memuaskan
      terima kasih

      balarmedan

      Juni 19, 2009 at 8:30 am

      • terima kasih Pak Deni

        Komaba

        Juni 21, 2009 at 3:16 am

  3. Dear Pak Deni,

    Terimakasih banyak untuk artikelnya. Saya putra kelahiran lausimomo dari keluarga bekas penderita kusta. Selama ini saya mencoba mengumpulkan sejarah tentang Lausimomo dan artikel Bapak sangat membantu.

    Komaba:
    Lausimomo sekitar 20-15 km dari Kabanjahe hanya butuh 15-20 menit dengan mobil. Saat ini desa Lausimomo telah berkembang menjadi sebuah desa yang cukup besar tidak lagi hanya menjadi tempat tinggal penduduk bekas penderita kusta. Kalau tidak salah sampai saat ini masih ada sekitar 70 kepala keluarga penderita kusta sedangkan sekitar 100 an lebih kepala keluarga bukan penderita kusta.
    Terimakasih

    Damen

    Januari 6, 2010 at 9:04 am

  4. saya penduduk asli desa singa yang berbatasan langsung dengan desa lau simomo. saya tumbuh dan besar bersama anak anak penderita kusta desa lau simomo.saya sekolah dan beribadah di komplek desa tsb berbaur dgn msyrkt desa lainnya krn fasilitas ini dulu blm ada didesa sktr lausimomo. mnrt saya deskripsi diatas sdh benar tapi ingin saya tambahkan bahwa desa lausimomo berjarak lk.11 km dari kota kabanjahe melalui desa kandibata dengan waktu tempuh setengah jam, tapi melalui desa singa jaraknya 6,6 km ditempuh dg waktu 15 mnt. di desa lausimomo pd awalny terdapat 6 kesain yitu kelompok pemukiman yg terdiri dari lk 25 kk, tp belakangan sebagian kesain tsb beruban jd lahan prtnian sdngkam pemukiman penderita pindah ke arah utara lk 300mtr yg sebelumnya hutan pinus. pemukiman baru ini. kabarnyadibangun dinas sosial shga disebut komplek sosial. anak penderita yg sdh berkeluarga bnyk yn bermukim di dusun iv desa singa yg hanya berbatas jalan dgn desa lausimomo.saat ini fasilitas rumah sakit di lausimomo sdh baik.

    drs.idris ginting munthe

    September 27, 2012 at 4:46 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: