Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

PERALATAN BERBAHAN CANGKANG M0LUSKA DARI GUA TÖGI NDRAWA, NIAS

leave a comment »

Ketut Wiradnyana
Balai Arkeologi Medan

1. Latar

Wilayah Sumatera Utara cukup banyak menyimpan situs dari masa mesolitik, baik yang berupa situs terbuka  seperti situs-situs bukit kerang maupun situs tertutup yaitu gua/ceruk. Keberadaan situs terbuka dan tertutup masa itu sebagian mengindikasikan budaya Hoabin, dengan ciri eksploitasi lingkungan laut dan peralatan batu yang sering disebut sumatralit. Karakteristik Sumatralit sama dengan alat batu yang sejaman hanya morfologinya yang berbeda. Adapun peralatan batu tersebut  diantaranya berupa kapak genggam, kapak perimbas, pemukul dan pipisan. Paralatan lain yang ditemukan berbahan tulang, teridentifikasi sebagai lancipan dan sudip. Temuan terbanyak pada situs Hoabinhian berupa cangkang moluska dari kelas Gastropoda dan Pelecypoda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cangkang moluska tersebut merupakan sisa aktivitas manusia sehari-hari (pengkonsumsian ) dan sebagian kecil daripadanya digunakan sebagai peralatan dan perhiasan.

Pada situs Gua Tögi Ndrawa di Desa Lölöwönu Niko’otanö, Kecamatan Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara juga ditemukan berbagai peralatan hidup berbahan batu, dan tulang. Diantara temuan berbahan batu dan tulang ditemukan juga artefak yang berbahan cangkang moluska namun jumlahnya hanya sedikit dibandingkan dengan peralatan berbahan lain. Kemungkinan peralatan berbahan cangkang moluska tersebut tidak sering difungsikan bila dibandingkan dengan peralatan berbahan batu.

Artefak di situs Gua Tögi Ndrawa menegaskan bahwa selain beraktivitas bagi pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari-hari dengan cara berburu dan meramu, mereka juga membuat perhiasan. Artefak berbahan batu maupun tulang yang ditemukan pada situs masa mesolitik umumnya telah mengalami pengerjaan. Hal yang menjadi pertanyaan berkenaan dengan keberadaan artefak berbahan cangkang moluska dari situs Gua Tögi Ndrawa adalah bentuk teknologi yang menghasilkan tipologi peralatan dan fungsi yang khas, kemudian kaitannya dengan peralatan lain dari situs yang sama. Uraian di bawah ini mencoba memberikan gambaran dari permasalahan tersebut.

2. Peralatan Berbahan Cangkang Moluska

Penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi Medan pada tahun 2000–2002 di Gua Tögi Ndrawa menghasilkan tinggalan arkeologis berupa peralatan batu diantaranya kapak perimbas, kapak genggam, alat serpih, pemukul dan pelandas yang umumnya berbahan andesitik. Peralatan lainnya yang ditemukan berbahan tulang diantaranya teridentifikasi sebagai sudip dan lancipan.

Peralatan berbahan cangkang moluska famili Arcticidae ditemukan sebanyak 6 buah, dan yang berupa cangkang moluska famili Astartidae hanya sebuah. Arcticidae merupakan filum moluska kelas Pelecypoda yang hidup di air payau atau pada lumpur di kawasan mangrove. Bentuknya membulat dan simetris, terdiri atas dua bagian cangkang (setangkup) dengan kondisi yang kuat dan pada bagian pinggiran sisinya (width) tipis dan tajam. Di bagian kulit luar cangkang (dorsal) terdapat alur-alur halus yang rapat, teratur, dan tipis serta memiliki engsel heterodont. Adapun Astartidae juga merupakan filum moluska kelas Pelecypoda yang hidup pada pasir laut yang dalam. Bentuknya membulat, dengan ukuran cangkang kecil dan simetris. Terdiri atas dua bagian cangkang (setangkup) dengan kondisi yang kuat dan pada bagian pinggiran sisinya (width) tipis dan tajam. Di bagian kulit luar cangkang (dorsal) terdapat alur-alur tipis melengkung horisontal (lebih tegas dibandingkan alur pada Arcticidae)  seperti halnya  famili Lucinidae, hanya saja alur pada cangkang famili  Lucinidae lebih jarang dan tegas. Umbo agak melingkar dan giginya heterodont (memiliki sebuah atau dua buah gigi pada ligament dan gigi panjang pada lateralnya).

Cangkang moluska dengan ciri kerusakan yang mengindikasi-kannya sebagai alat yang ditemukan di situs Tögi Ndrawa adalah sebagai berikut.

Pada Kotak A1 spit (1) ditemukan sebuah famili Arcticidae berukuran panjang 6 cm dan lebar 6,3 cm. Menyisakan perimping ber-ukuran besar pada bagian palial sinus. Di bagian dalam cangkang (ventral) mendekati perimping, kondisinya aus dan berkilap. Cangkang ini kemungkinan berfungsi khusus, mengingat kedalaman perimping dan ukuran antara perimping relatif sama.

Sebuah cangkang Arcticidae yang ditemukan di Kotak A1 spit (3) memiliki kerusakan pada bagian palial sinus. Kerusakkannya relatif halus dibandingkan cangkang pada Kotak A1 spit (1). Pada bagian dalam cangkang (ventral) mendekati palial sinus memiliki kilap yang berbeda dengan bagian lainnya.

Kotak C4 spit (6) menghasilkan alat berbahan cangkang Arcticidae. Indikasi cangkang sebagai alat tidak hanya ditunjukkan dengan bentuk perimpingnya yang halus akan tetapi juga ditunjukkan oleh keausan bagian sisi lebar (width), di bagian dalam (ventral) maupun di bagian luar (dorsal).

Sebuah cangkang famili Arcticidae yang terkait dengan fungsi ekonomis ditemukan pada Kotak C4 spit (7). Memiliki perimping di bagian sisi lebarnya (width) berlawanan dengan posisi palial sinus. Kerusakan  di bagian dalam cangkang (ventral) tampak dari bekas – bekasnya dengan posisi searah (tegak lurus).

Kotak C 4 spit (8) menghasilkan dua buah artefak berbahan cangkang moluska famili Arcticidae. Sebuah diantaranya, pada bagian sisi lebarnya (width), terdapat perimping dan di bagian yang mendekati palial line kerusakannya lebih intensif. Perimpingnya berukuran kecil dengan tajaman relatif runcing. Sebuah alat lainnya masih dari famili Arcticidae  memiliki letak kerusakan yang sama, namun ukuran perimpingnya lebih besar dan jarak perimpingnya satu dengan lainnya juga relatif sama. Bentuk perimping seperti itu mengingatkan akan bentuk mata gergaji yang sudah aus.

Sebuah cangkang famili Astartidae dari Kotak A1 spit (1), menyisakan ukuran panjang 3,3 cm dan lebar 3,9 cm. Pada seluruh bagian sisi lebarnya (width) terdapat perimping dan di bagian yang mendekati palial line   kerusakannya lebih intensif. Perimpingnya menunjukkan bentuk yang teratur serta garis – garis yang melengkung horisontal pada bagian luar cangkang (dorsal) sudah sangat tipis, hanya pada bagian yang mendekati palial sinus masih relatif utuh.

3. Morfologi, Teknologi dan Fungsi

Manusia memerlukan alat berbahan batu, tulang, tanduk, cangkang moluska dan kemungkinan juga kayu untuk mendukung kelangsungan hidup. Bahan peralatan dimaksud didapatkan dari sekitar lokasi huniannya. Alat yang berbahan batu biasanya didapatkan dari sungai yang berada di sekitar hunian, sedangkan bahan alat yang berupa tanduk, tulang dan cangkang moluska kemungkinan diambil dari sisa aktivitas manusia yaitu sisa dari aktivitas pengkonsumsian. Pemilihan bahan alat sisa aktivitas manusia biasanya mengalami proses tertentu. Fungsi alat disesuaikan dengan karakter bahan yang diperlukan. Sebagai contoh, tulang rusuk babi digunakan untuk membuat sudip dan lancipan karena memiliki bentuk yang pipih. Kadang kala tulang rusuk tersebut di panaskan pada api untuk menghasilkan karakter tulang yang lebih kuat dan kemudian diasah untuk menghasilkan bentuk yang diinginkan. Tanduk dan tulang binatang yang berukuran besar biasanya digunakan  sebagai alat penusuk, baik digunakan langsung ataupun dikerjakan terlebih dahulu dengan cara menggosok salah satu bagiannya untuk menghasilkan alat yang lebih tajam.

Cangkang moluska yang digunakan sebagai alat biasanya dipilih dari cangkang yang bentuknya membulat, setangkup (bivalvia) dan memiliki permukaan halus serta di bagian sisi cangkang tipis dan cukup tajam. Cangkang moluska yang memiliki karakter tersebut diantaranya adalah famili Arcticidae. Disamping karakternya sebagai alat terpenuhi, dagingnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewani dan mudah didapatkan di sekitar lokasi hunian. Alat berbahan cangkang moluska famili Arcticidae banyak ditemukan pada situs bukit kerang di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara maupun di Kabupaten Aceh Timur dengan ciri perimpingnya relatif halus tanpa pengerjaan. Beberapa alat yang ditemukan pada situs lain yang sejaman di Maluku Utara dihasilkan dari famili Tridacnidae. Memiliki cangkang setangkup, berukuran besar, tebal dan kuat serta bergelombang pada bagian kulit luarnya. Cangkang Tridacnidae yang digunakan sebagai alat, dengan menyiapkan bagian yang cembung pada sebuah cangkang untuk kemudian dibentuk menyerupai beliung (Goenadi NH, 1996).  Di situs-situs Asia Tenggara Kepulauan, penggunaan cangkang Tridacna sebagai beliung memiliki ciri pengerjaan dengan pengasahan pada bagian pinggir-pinggirnya (Bellwood, 2000).

Peralatan berbahan batu dan tulang memiliki bentuk spesifik yang terkait dengan teknologi maupun fungsinya. Bentuk sebuah peralatan dapat memberikan informasi akan budaya yang melatarbelakanginya, termasuk penggambaran kehidupan sosial masyarakatnya. Morfologi peralatan berbahan cangkang moluska dari situs Gua Tögi Ndrawa memiliki bentuk yang sama, yaitu membulat dan mengecil pada bagian proksimalnya serta bagian distalnya lebar. Persamaan bentuk tersebut dikarenakan bahan dasarnya tidak dirubah, hanya pada alat yang diretus untuk tajaman mengalami sedikit perubahan.  Peralatan cangkang moluska memiliki ukuran lebar width berkisar 7 cm dan tingginya berkisar 5 cm. Peralatan berbahan cangkang moluska dapat dibedakan menjadi dua, yaitu peralatan yang dikerjakan dan yang tidak dikerjakan. Peralatan yang dikerjakan disiapkan dari cangkang moluska Arcticidae dan Astartidae untuk kemudian diretus pada bagian sisi tengahnya atau salah satu ujung width. Ukuran antara mata tajaman pada perimping yang kasar, baik yang terletak di bagian tengah cangkang atau disalah satu ujung width  berkisar 0,3 cm. Perimping yang terletak di bagian tengah width ada yang halus dan ada juga yang kasar sedangkan primping pada salah satu ujung width berkarakter kasar. Peralatan yang tidak mengalami pengerjaan disiapkan langsung dari cangkang moluska Arcticidae. Perimpingnya halus dengan kilap pada bagian ujung  kedua sisi-sisinya.

Teknologi peralatan manusia masa  prasejarah sangat terbatas, sehingga akan mempengaruhi morfologi dan fungsi suatu alat. Oleh karena itu, morfologi peralatan dari berbagai bahan yang dihasilkan pada masa prasejarah akan memberikan gambaran teknologi maupun fungsinya. Kekhasan morfologi peralatan suatu daerah akan berbeda terkait dengan lingkungan hidupnya dan latar belakang budayanya. Cara pengerjaan peralatan berbahan cangkang moluska dari situs Gua Tögi Ndrawa yang memiliki tajaman bergelombang dimulai dengan menyiapkan cangkang famili Arcticidae dan famili Astartidae terlebih dahulu. Peretusan dilakukan dari bagian dalam cangkang ke arah proksimal sehingga kerusakannya lebih lebar berada di bagian luar cangkang. Peretusan kemungkinan menggunakan peralatan dengan ukuran kecil, sehingga hasilnya pun kecil berbentuk cembung dan persegi. Mengingat karakter cangkang padat dan mudah pecah, maka peretusan dilakukan dengan pukulan yang terukur dan kemungkinan menggunakan bantalan yang lembut sehingga akan membuat kerusakkan hanya pada bagian yang diinginkan.

Peralatan yang telah dihasilkan masyarakat pendukung  Gua Tögi Ndrawa merupakan hasil dari budaya yang berkembang pada masanya. Ide yang ada didalam pikiran masyarakatnya tentu tidak selalu terealisasi sempurna, mengingat keterbatasan teknologi dan bahan. Peralatan berbahan cangkang moluska yang memiliki tajaman bergelombang dari situs Gua Tögi Ndrawa tentunya memiliki fungsi yang khas karena bagian sisi lebarnya (width) cangkang moluska  tipis dan keras  serta ideal untuk memotong atau menyerut. Bentuk tajaman bergelombang seperti mata tajaman gergaji tersebut kemungkinan digunakan untuk memotong bahan yang lebih keras. Peralatan berbahan cangkang moluska dari Gua Tögi Ndrwa yang perimpingnya halus kemungkinan berkaitan dengan fungsinya untuk memotong ataupun menguliti. Fungsi untuk menguliti ditunjukkan dengan adanya kerusakan halus dan kedua bagian sisi cangkang mengalami keausan sehingga warna dan permukaan cangkang berbeda. Alat yang digunakan sebagai pemotong jelas terlihat pada cangkang famili Arcticidae yang ditemukan pada Kotak C4 pada spit (7). Memiliki perimping kasar dengan bekas penggunaan pada bagian sisinya (width) berlawanan dengan posisi palial sinus. Kerusakan berbekas pada bagian dalam cangkang (ventral) yang diakibatkan penggunaan intensif dengan pemakaian yang searah (tegak lurus). Pemakaian tegak lurus tersebut dapat dikaitkan dengan aktivitas pemotongan bahan makanan. Mengingat aktifitas memotong memerlukan bidang yang panjang maka kerusakannyapun akan cenderung panjang. Kerusakan di kedua bagian pinggir atau hanya salah satu bagian pinggirnya, kemungkinan digunakan untuk serut. Aktifitas penyerutan relatif lebih efektif menggunakan alat yang berbentuk lonjong dan tidak lebar yang terdapat pada bagian pinggir cangkang moluska tersebut. Penyerutan kemungkinan dilakukan pada daging binatang buruan yang masih lekat dengan tulang atau untuk menguliti binatang buruan dan umbi-umbian. Binatang buruan yang kemungkinan diperlakukan seperti tersebut diantaranya adalah biawak (Varanidae), kura-kura  (Testudinidae), babi (Suidae), rusa (Cervidae) dan lainnya.

Di Gua Tögi Ndrawa, alat berbahan batu berupa serpih dan pipisan cukup banyak ditemukan, kemungkinan berkaitan dengan proses pengkonsumsian bahan makanan berupa binatang buruan dan moluska. Ukuran pada bagian tajaman alat serpih  berbahan batu hampir sama dengan bagian sisi penampang terlebar dari moluska yaitu berkisar 3 – 5 cm. Ukuran dan bentuk tajamannya mengindikasikan fungsi yang sama dengan peralatan berbahan cangkang moluska yang berkaitan dengan pemotongan daging dan pengambilan daging dari tulang dengan teknik penyerutan. Pipisan kemungkinan juga berkaitan dengan pengkonsumsian bahan makanan dari moluska yaitu sebagai landasan tempat memotong bagian cangkang moluska, Pelecypoda dan Gastropoda untuk mendapatkan dagingnya, dan sekaligus di gunakan sebagai tempat untuk melembutkan dagingnya. Pipisan juga dimungkinkan sebagai tempat untuk menghancurkan daging yang keras/alot dari binatang buruan. Persamaan fungsi dari alat berbahan cangkang moluska dengan alat serpih berbahan batu tentunya disesuaikan dengan karakter bahan yang diolah. Seperti halnya daging yang dihasilkan dari binatang buruan yang berumur tua akan memiliki kekerasan lebih dibandingkan daging yang berasal dari binatang yang berumur muda sehingga diperlukan alat yang memiliki kekerasan yang lebih pula. Dari hal tersebut dapat diasumsikan bahwa peralatan berbahan cangkang moluska yang tidak dikerjakan kemungkinan fungsinya berkaitan dengan penyerutan daging binatang yang berumur muda, sedangkan  alat dengan tajaman bergelombang kemungkinan difungsikan sebagai pemotong daging. Peralatan berbahan cangkang moluska juga dimungkinkan penggunaannya pada bahan makanan lunak seperti menguliti umbi-umbian. Proses pengkonsumsian binatang buruan yang kulit tubuhnya memiliki bulu, seperti rusa atau babi diperlukan pembakaran untuk menghilangkannya. Peralatan yang ideal untuk membersihkan bulu setelah dibakar adalah cangkang moluska mengingat bentuk penampang sisinya lebar dan bagian umbo-nya tinggi yang memudahkan didalam pengoperasiannya.

4. Penutup

Cangkang moluska sisa makanan manusia dari Gua Tögi Ndrawa, sebagian kecil digunakan untuk peralatan. Bahan yang ideal untuk keperluan itu dipilih dari famili Arcticidae dan Astartidae. Bahan yang mudah didapat dengan bentuk cangkang yang membulat, memiliki penampang kuat, halus dan melebar menjadi pilihan karena dapat memberikan fungsi yang maksimal akan kebutuhannya.

Peralatan yang berbahan cangkang moluska dari Gua Tögi Ndrawa dapat dibedakan menjadi dua yaitu peralatan, yakni yang mengalami proses pengerjaan terlebih dahulu dan peralatan yang tidak mengalami proses pengerjaan. Peralatan yang dikerjakan memiliki tajaman bergelombang  seperti mata gergaji, yang dihasilkan dari peretusan. Letak tajamannya di bagian tengah sisi lebarnya atau di salah satu ujung sisi lebarnya (width) dan difungsikan sebagai alat pemotong. Peralatan yang tidak dikerjakan menyisakan perimping yang halus dengan kilap akibat penggunaan pada ke dua sisinya (ventral dan dorsal) dan difungsikan sebagai pemotong dan serut.

Di Gua Tögi Ndrawa, peralatan berbahan cangkang moluska memiliki fungsi yang sama dengan alat serpih berbahan batu, yaitu untuk memotong dan menyerut hanya saja obyeknya berbeda. Alat serpih berbahan batu cenderung digunakan untuk bahan yang lebih keras dibandingkan dengan alat serpih berbahan cangkang moluska.

KEPUSTAKAAN
Bellwood, Peter, 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Feinberg, Harold S (ed.), 1979. Guide to Shells. New York: Simon & Schuster Inc.
Goenadi, NH, 1996. Beliung Kerang Situs Golo, Pulau Gebe: Sebarannya di Maluku Utara dan Daerah Fasifik.  Makalah dalam Seminar Prasejarah Indonesia I di Yogyakarta
Heffernan, Ken, 1980. Molluscan Resources and Talaud Economy Ecological and Cultural Parameters in The Study of Refuse. A.N.U.
Henderson, Julia (ed.), 1998. Tropical Seashells. Singapore: Periplus Edition (HK) Ltd.
Inizan, Marie-Loise, 1992. Technology of Knapped Stones
Nias Dalam Angka. Gunung Sitoli: Badan Pusat Statistik Kabupaten Nias dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah TK II Nias
Soejono, RP (ed.), 1993. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta:Balai Pustaka

Whitten, AJ, et al., 1984. The Ecology of Sumatera. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Wiradnyana, K, Nenggih S & Lucas PK, 2002. Gua Tögi Ndrawa, Hunian Mesolitik di Pulau Nias, Berita Penelitian Arkeologi No. 8. Medan: Balai Arkeologi Medan
Wissema,Gustaaf Gerard, 1947.  Young Tertiary and Quarternary Gastropoda from the Island of Nias (Malay Archipelago). Leiden: N.V. Drukkerij en Uitgevers-Mij y/h.

Written by balarmedan

Mei 13, 2008 pada 4:24 am

Ditulis dalam Drs.Ketut Wiradnyana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: