Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

BATU DAKON DAN LUMPANG PADA CERUK-CERUK DI KENAGARIAN ANDALEH, KABUPATEN LIMA PULUH KOTA: BENTUK ADAPTASI MANUSIA TERHADAP LINGKUNGAN

with one comment

Nenggih Susilowati
Balai Arkeologi Medan

1. Pendahuluan

Kehidupan manusia tidak dapat terlepas dari lingkungannya. Manusia cenderung menyesuaikan diri dan memanfaatkan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berbagai upaya dilakukan oleh manusia agar kegiatan yang diselenggarakannya dapat berjalan dengan baik. Dalam kegiatan pertanian misalnya, manusia berusaha menciptakan peralatan, mengenal iklim/musim, dan memilih lahan yang subur. Demikian halnya dengan aspek lain yang bersifat batiniah, seperti religi juga berperan dalam kegiatan itu. 

Penyelenggaraan kegiatan manusia di masa lalu dapat diketahui melalui budaya materi yang di dalammya terkandung ide-ide penciptanya. Penciptaan budaya materi itu juga berkaitan dengan pengetahuan dan religi penciptanya. Melalui budaya materi yang ditinggalkan selain menggambarkan aktivitas manusianya, juga mencerminkan cara adaptasi manusia dengan lingkungannya.

Berangkat dari pemikiran tersebut maka melalui tulisan ini akan dicoba mengungkapkan latar belakang keberadaan batu dakon dan lumpang yang dipahatkan pada ceruk-ceruk di Andaleh, dan beberapa permasalahan yang melingkupinya seperti kaitan temuan itu dengan fungsi ceruk serta bentuk aktivitas yang berlangsung.

2. Kondisi lingkungan dan budaya materi

Lingkungan situs berupa ceruk-ceruk berada pada lereng perbukitan berkarakter sedang sampai terjal di wilayah Jorong Balik Bukit, Kenagarian Andaleh, Kecamatan Luhak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Ceruk-ceruk ini terbentuk di lingkungan batuan yang mengandung kapur dan endapan kerikil. Perbukitan di wilayah ini terdiri dari bukit-bukit kecil maupun besar yang dikelilingi oleh dataran yang dimanfaatkan sebagai areal persawahan dan permukiman. Ketinggian perbukitan di wilayah ini bervariasi yaitu  pada kisaran 540–654 meter  dari permukaan laut. Demikian halnya dengan keletakan ceruk-ceruk pada perbukitan ini juga bervariasi antara 529–574 m dpl. Antara perbukitan dan bagian dataran yang mengelilinginya menggambarkan perbedaan kontur yang cukup menyolok. Bagian datarannya berada pada kisaran ketinggian 500–525 m dpl.

Secara umum lingkungan situs yang terdiri dari bagian bukit, lembah, dan dataran terdapat perbedaan vegetasi yang menggambarkan perbedaan kondisi kesuburannya. Bagian lembah dan datarannya merupakan areal yang cukup subur dibandingkan dengan kondisi umum bukit-bukit tersebut yang tidak subur. Kesuburan lahan-lahan di bagian lembah dan datarannya ditunjukkan dengan adanya aktivitas pertanian yang berlangsung hingga saat ini. Di bagian lembah dimanfaatkan sebagai areal perkebunan rakyat dan bagian datarannya dimanfaatkan sebagai areal persawahan. Kegiatan pertanian di daerah itu selain ditunjang oleh keadaan tanah yang subur, juga didukung oleh iklim yang memadai seperti kelembaban dan curah hujan yang cukup, sehingga penyelenggaraan kegiatan pertanian dapat dilaksanakan secara intensif. Di samping itu lingkungan situs berdekatan dengan sumber air berupa sungai yaitu Batang Sinamar dan anak-anak sungainya yang berjarak sekitar 900 m, serta Batang Tabik yang berjarak sekitar 2 km. Di Batang Tabik juga terdapat material berupa kerakal maupun boulder. Diketahui bahwa jenis material itu merupakan bahan dasar yang dapat digunakan untuk membuat peralatan batu di masa lalu.

Survei yang dilaksanakan oleh tim penelitian Balai Arkeologi Medan pada tahun 2002 memperlihatkan bahwa ceruk-ceruk yang berada pada lereng perbukitan di wilayah ini berjumlah 17 buah (Susilowati,2002). Saat ini 8 buah diantaranya dimanfaatkan sebagai kandang ternak. Berkaitan dengan lingkungannya, maka beberapa ceruk seperti Ngalau Bukit Panjang I merupakan ceruk yang berada pada lereng bukit yang terjal, kemudian Ngalau Bukit Gadang II dan III merupakan ceruk yang berada pada lereng bukit yang dekat dengan permukaan di sekitarnya. Kemudian berkaitan dengan kondisi ceruknya, beberapa ceruk seperti Ngalau Bukit Panjang I merupakan ceruk yang dangkal, kering, dengan pencahayaan sedang, sedangkan Ngalau Bukit Gadang II dan III merupakan ceruk yang agak luas, agak lembab, dan pencahayaan kurang.

Dilihat dari kondisi lingkungan dan ceruknya, ketiga ceruk ini kurang memungkinkan dimanfaatkan sebagai hunian terutama jika dikaitkan dengan hunian pada masa prasejarah karena tidak memiliki beberapa kondisi yang dibutuhkan sebagai ceruk hunian. Misalnya kondisi permukaan tanahnya kering, ruangannya agak luas dan pencahayaan sedang, serta keberadaannya pada lereng bukit yang agak landai sehingga mudah untuk mencapainya. Di samping itu juga tidak ditemukan temuan permukaan yang dapat mendukung sebagai gua hunian pada masa prasejarah seperti temuan fragmen cangkang moluska atau fragmen tulang. Temuan permukaan pada beberapa ceruk di wilayah itu antara lain berupa fragmen tembikar, fragmen keramik, dan fragmen kaca. Hasil analisis terhadap beberapa temuan itu menunjukkan bahwa fragmen tembikar umumnya menggunakan roda putar dan sudah diupam di bagian luarnya kemungkinan merupakan tembikar yang diproduksi oleh pengrajin lokal sekitar abad ke- 20. Demikian halnya dengan temuan fragmen keramik diperkirakan berasal dari Cina masa Dinasti Ching akhir sekitar abad ke- 20, selain itu fragmen kaca diketahui merupakan kaca baru yang banyak dijumpai saat ini.

Namun demikian pada ketiga ceruk itu diketahui terdapat jejak aktivitas manusia masa lalu yang ditunjukkan oleh keberadaan berbagai temuan sebagai berikut;

a. Batu Dakon di  Ngalau Bukit Gadang II

Batu dakon ini terdapat di bagian luar ceruk yaitu pada sebuah bidang agak datar berupa bedrock ceruk yang agak menjorok ke timur, berukuran panjang 170 cm, lebar 25 cm dan tinggi dari permukaan tanah sekitar 1,2 m. Pahatan itu terdiri dari empat kelompok lubang dakon beraturan yang letaknya berderet memanjang timurlaut – baratdaya, dan beberapa lubang dakon tidak beraturan yang terletak diantara kelompok-kelompok itu (lihat Gambar). Jumlah lubang dakon pada tiap-tiap kelompok bervariasi antara sebelas hingga empat belas. Masing-masing terdiri dari dua deretan yang saling berhadapan dan di bagian ujung kedua deretan itu terdapat satu atau dua buah lubang lainnya. Ukuran lubangnya berdiameter antara 3–6 cm dan kedalaman antara 1,5–3 cm.

b. Batu Dakon dan Lumpang batu di Ngalau Bukit Gadang III

Tinggalan ini terdapat di bagian dalam ceruk yaitu pada bidang yang agak datar, berukuran panjang 3 meter, lebar 1,4 meter, dan tinggi dari permukaan tanah di bagian depan ceruk sekitar 2 meter. Bidang ini merupakan bedrock ceruk yang menjorok ke utara. Posisi pahatan pada bidang letaknya tidak beraturan dan memanjang ke arah baratlaut – tenggara (lihat Gambar). Di bagian baratlaut terdapat lumpang yang disekitarnya terdapat tujuh buah lubang dakon yang tidak beraturan. Kemudian di bagian tenggaranya berderet empat buah lubang dakon yang membujur ke arah utara – selatan. Selanjutnya di bagian tenggaranya terdapat lumpang lain yang berukuran cukup besar dan di sekitarnya terdapat empat buah lubang dakon dan pahatan garis-garis. Di bagian timurlaut dan baratlaut lumpang terdapat pahatan garis-garis dengan bentuk, ukuran, dan posisi yang bervariasi. Dua garis yang terdapat di bagian baratlaut lumpang bagian ujungnya bertemu sehingga bentuknya hampir menyerupai paruh burung. Sebuah garis yang membujur utara — selatan itu berakhir pada tepi batuan, demikian halnya dengan lima buah garis lain yang posisinya hampir sejajar berderet baratlaut – tenggara. Kemudian garis-garis yang lainnya berada disekitar garis yang membujur utara — selatan itu. Ukuran kedua lumpang itu berdiameter 23 cm dan 27 cm, serta kedalaman 26 cm dan 37 cm. Sedangkan lubang dakon berdiameter antara 4 –12 cm dan kedalaman antara 0,5 –10 cm, kemudian pahatan garis-garis itu berukuran panjang antara 12–62 cm, lebar 2–10 cm, dan kedalaman 1–3 cm.

c. Batu Dakon di Ngalau Bukit Panjang I

Batu dakon ini terdapat di bagian dalam ceruk yaitu pada sebuah bidang datar yang merupakan bedrock ceruk. Di bagian samping bidang ini terdapat cekungan-cekungan menyerupai anak tangga yang sudah aus akibat sering dimanfaatkan. Selain pahatan juga terdapat goresan yang berupa tulisan baru yang menunjukkan adanya pengrusakan (vandalisme). Bidang datar tersebut berukuran panjang 410 cm dan lebar 70 cm dan tinggi dari permukaan tanah sekitar 2 m. Lubang-lubang dakon itu terdiri dari enam kelompok lubang dakon beraturan yang letaknya berderet memanjang utara — selatan. Selain itu juga terdapat beberapa lubang dakon tidak beraturan yang terletak diantara kelompok-kelompok itu (lihat Gambar). Jumlah lubang dakon pada tiap-tiap kelompok bervariasi antara delapan hingga dua belas. Masing-masing terdiri dari dua deretan yang saling berhadapan dan di bagian ujung kedua deretan itu terdapat satu atau dua buah lubang lainnya. Ukuran lubangnya berdiameter antara 3–6 cm dan kedalaman antara 1,5–3 cm.

3. Pengaruh lingkungan terhadap tampilan budaya materi

Keberadaan beberapa tinggalan di Ngalau Bukit Panjang I, Ngalau Bukit Gadang II, dan Ngalau Bukit Gadang III, mengindikasikan ceruk ini pernah menjadi tempat aktivitas manusia pada waktu pembuatan tinggalan itu. Kemungkinan adanya kaitan langsung dengan hunian ceruk pada masa itu, masih menjadi pertimbangan berkaitan dengan kondisi ceruknya. Pertama, ceruk tempat temuan itu berada bukan ceruk yang nyaman untuk dihuni karena tidak berada pada tempat yang mudah dijangkau dan cocok sebagai hunian, seperti Ngalau Bukit Panjang I. Ngalau ini merupakan ceruk yang sempit dan dangkal, sehingga tidak memungkinkan untuk dihuni karena manusia tidak dapat bergerak dengan leluasa didalamnya untuk melakukan aktivitas. Selain itu tinggalan berupa batu dakon berada di bagian lantainya. Kedua, walaupun berada pada tempat yang mudah dijangkau yaitu pada lereng bukit yang dekat dengan permukaan di sekitarnya, seperti Ngalau Bukit Gadang II dan III, kondisi ceruk ini agak lembab dan pencahayaannya kurang, sehingga tidak nyaman untuk dihuni. Kondisi lain yang menyebabkan ceruk ini kurang nyaman untuk dihuni juga ditemui di Ngalau Bukit Gadang II karena di bagian dalamnya penuh dengan batuan (bedrock) yang tidak beraturan. Kemudian kemungkinan adanya keterkaitan dengan hunian ceruk jika dihubungkan dengan keberadaan temuan permukaannya juga masih menjadi pertimbangan mengingat temuan permukaannya hanya berupa fragmen tembikar dan fragmen kaca yang berasal dari abad ke- 20, selain itu juga tidak ditemukan dalam jumlah banyak.

Tinggalan berupa batu dakon dan lumpang di ketiga ceruk itu merupakan salah satu unsur budaya megalitik karena di beberapa tempat lain di Indonesia ditemukan pada situs-situs pemujaan maupun penguburan, sehingga keberadaannya sering dikaitkan dengan upacara-upacara yang dilaksanakan di situs itu. Misalnya yang terdapat di Salakdatar dan Tugugede, Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, serta Desa Sakkal, Kecamatan Simamindo, Pulau Samosir, Provinsi Sumatera Utara (Sukendar,1977:9 ; Handini,1996:37). Selain itu juga disebutkan bahwa ada kaitan antara batu dakon dengan upacara kematian, karena sering ditemukan di sekitar bangunan megalitik yang merupakan kuburan (Teguh Asmar dalam Sumijati,1980:105).

Keberadaan batu dakon dan lumpang di ketiga ceruk itu cukup menarik karena pada situs lain batu dakon maupun lumpang biasanya dipahatkan pada sebongkah batu, sedangkan di ketiga ceruk itu dipahatkan pada batuan yang merupakan bedrock ceruk. Jika diperhatikan temuan lain yang berunsur budaya megalitik selain batu dakon dan lumpang tidak ditemukan, sedangkan di situs lain keberadaan batu dakon dan lumpang batu biasanya bersama-sama dengan bangunan megalitik lainnya seperti dolmen, arca batu, atau punden berundak. Tidak terdapatnya bangunan megalitik lain di daerah ini diperkirakan ada dua penyebabnya. Kemungkinan pertama disebabkan pengaruh budaya megalitik di situs ini sudah berkurang, dan kemungkinan kedua karena tidak banyak batuan besar yang tersedia sebagai bahan untuk membuat bangunan megalitik seperti halnya situs lain sehingga masyarakat pada waktu itu menuangkan idenya pada batuan yang tersedia. Berkurangnya pengaruh budaya megalitik di situs ini dapat dikaitkan dengan keberadaan tinggalannya yang diperkirakan berasal dari masa yang lebih muda. Indikasinya diketahui dari temuan lepas di sekitar batu dakon dan lumpang itu yang berasal dari abad ke- 20. Berkaitan dengan kemungkinan kedua, pemanfaatan batuan ceruk diperkirakan juga merupakan sebuah kesengajaan untuk membuat benda yang mempunyai arti khusus. Adanya temuan lepas berupa lumpang batu yang masih digunakan maupun sudah tidak digunakan, menggambarkan bahwa peralatan sehari-hari tidak menggunakan batuan ceruk yang jenis batuannya agak lunak. Kemudian pemanfaatan bongkahan batu berukuran sedang yang hanya cukup untuk satu lubang pada lumpang-lumpang itu juga menggambarkan sulitnya perolehan bahan batuan besar. Diperkirakan sumber batuan untuk pembuatan peralatan itu dari Batang Tabik yang berjarak sekitar 2 km karena mengandung material berupa kerakal maupun boulder.

Keberadaan batu dakon dan lumpang yang tidak hanya pada ceruk-ceruk yang mudah dijangkau, melainkan juga pada ceruk yang sulit dijangkau – seperti di Ngalau Bukit Panjang I – jelas diperuntukkan bagi tujuan tertentu. Selain itu walaupun ditempatkan pada ceruk yang mudah dijangkau, batu dakon yang terdapat di Ngalau Gadang II dipahatkan pada bidang yang agak miring, sehingga kemungkinan tidak berfungsi praktis seperti untuk permainan dakon pada umumnya. Demikian halnya dengan lubang dakon dan lumpang di Ngalau Bukit Gadang III dipahatkan dengan garis-garis yang diperkirakan memiliki arti tertentu. Kondisi di atas menggambarkan bahwa keberadaan tinggalan tersebut kemungkinan tidak berkaitan dengan fungsi praktis batu dakon atau lumpang pada umumnya, namun memiliki tujuan atau fungsi tertentu pada masa lalu.

Telah disampaikan di atas bahwa keberadaan temuan ini kemungkinan tidak berhubungan dengan hunian ceruk, kedekatannya dengan lingkungan tempat aktivitas pertanian memungkinkan keberadaannya berkaitan dengan aktivitas itu. Diperkirakan kondisi lingkungan pada saat pembuatan temuan itu tidak jauh berbeda dengan kondisinya sekarang. Adanya lahan yang subur di sekitar situs yang diketahui dari vegetasi yang tumbuh dan pemanfaatan lahan sebagai lahan pertanian oleh masyarakat saat ini, memungkinkan pada masa lalu lahan di sekitar situs juga subur sehingga dapat dimanfaatkan sebagai tempat aktivitas pertanian. Hal ini mengingat adanya suatu pendapat bahwa pada prinsipnya keadaan lingkungan fisik masa sekarang dapat dijadikan dasar untuk memberikan gambaran tentang keadaan lingkungan masa lalu (Mundardjito,2002). Seperti diketahui bahwa perkembangan budaya megalitik berkembang pada masa manusia sudah mengenal bercocok tanam, kurun waktu tertua sekitar 2500–1500 SM, dan berkembang hingga masa-masa kemudian (Soejono, 1993:224). Kurun waktu itu memungkinkan kondisi lingkungannya tidak jauh berbeda, apalagi jika dikaitkan dengan kemungkinan temuan itu berasal dari masa yang lebih muda mengingat keberagaman temuannya lebih sedikit dibandingkan dengan situs megalitik lain yang umumnya lebih kompleks.

Dihubungkan dengan lingkungan sekitarnya, maka diperkirakan temuan itu pemanfaatannya berkaitan dengan upacara-upacara dalam pertanian. Dari data etnografi diketahui bahwa dakon mempunyai fungsi yang cukup beragam sesuai dengan upacara yang dilaksanakan di suatu tempat. Misalnya di Sulawesi Selatan pada waktu orang meninggal sering diadakan permainan dakon dan di Flores dakon dimanfaatkan untuk mencari musim tanam yang baik (Sukendar,1985:53; 1991:67). Keberadaan batu dakon di Ngalau Bukit Panjang I dan Ngalau Bukit Gadang II yang berada pada lingkungan pertanian, kemudian dikaitkan dengan kondisi ceruk, keletakannya, dan bidang tempat batu dakon itu seperti yang diuraikan di atas, diperkirakan bahwa batu dakon itu berfungsi sebagai alat permainan dakon untuk mencari musim tanam yang baik. Adapun lubang dakon, lumpang batu serta motif geometris berupa garis-garis di sekitarnya yang  terdapat di Ngalau Bukit Gadang III kemungkinan dimanfaatkan dalam upacara meminta kesuburan. Analogi ini berasal dari adanya bentuk garis di sekitar lubang lumpang yang yang membujur utara — selatan dan berakhir pada tepian batu. Garis ini diperkirakan berfungsi untuk mengalirkan air dalam upacara kesuburan sehingga menjadi air kesuburan. Adanya garis-garis yang berakhir pada tepian batu juga dijumpai pada batu dakon di Bukit Parasi. Garis-garis ini dibuat untuk menghubungkan lubang-lubang dakon dan bentuk menyerupai vagina. Diperkirakan tinggalan ini berfungsi untuk mengalirkan air dalam upacara meminta kesuburan. Selain karena berada pada lingkungan pertanian, juga mengingat bentuk vagina yang sering digambarkan sebagai lambang kesuburan. Begitupun dengan bentuk garis lain di bagian baratlaut lumpang di Ngalau Bukit Gadang III yang menyerupai bentuk kepala dan paruh burung, semakin menguatkan bahwa temuan ini diperuntukkan dalam upacara-upacara yang berkaitan dengan pertanian. Seperti diketahui burung merupakan salah satu hama yang sering mengganggu dalam kegiatan pertanian, sehingga bentuknya menjadi simbol dalam kegiatan itu.

Keberadaan tinggalan berunsur budaya megalitik ini tentu didukung oleh permukiman di sekitarnya, mengingat keberadaan megalit pada suatu situs sering dikaitkan dengan komunitas masyarakat yang hidup menetap dan mengembangkan bidang pertanian sebagai mata pencahariannya. Secara umum kondisi lingkungan di sekitar ceruk ini memenuhi persyaratan sebagai lokasi permukiman dan pertanian di masa lalu, ketika masyarakatnya masih mengenal budaya itu. Dikatakan bahwa pertimbangan faktor ekologi selalu digunakan dalam berbagai tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya baik yang berkenaan dengan perolehan makanan dan perlindungan diri maupun penempatan dirinya di muka bumi, meliputi penempatan bangunan untuk menyelenggarakan kegiatan (Mundardjito,2002). Dengan demikian dalam memilih lokasi permukiman pada suatu bentang lahan, manusia juga mempertimbangkan faktor ekologi di samping berbagai faktor lain yang berkaitan dengan kebutuhan hidupnya. Permukiman merupakan bentang ruang hidup, dimana manusia menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk memenuhi kebutuhannya, baik yang bersifat material maupun spiritual (Azis,1986). Di daerah ini memungkinkan dimanfaatkan sebagai permukiman sejak dahulu karena lingkungannya memiliki beberapa variabel yang dibutuhkan bagi sebuah permukiman, antara lain; sumber air, sumber makanan, dan prasarana transportasi. Sumber air dan prasarana transportasi di masa lalu di daerah ini kemungkinan memanfaatkan Sungai Sinamar dan anaksungai-anak sungainya. Sedangkan sumber makanan diusahakan melalui kegiatan pertanian.

4. Penutup

Pemanfaatan bedrock ceruk sebagai dakon maupun lumpang menggambarkan adanya adaptasi manusia terhadap alam sekitarnya di dalam memanfaatkan bahan yang ada. Tidak mudahnya perolehan bahan batuan tidak menghalangi penuangan ide, sehingga ada perbedaan dalam menggunakan bahan untuk membuat peralatan. Peralatan yang digunakan sehari-hari menggunakan batuan sungai, sedangkan untuk keperluan khusus menggunakan bedrock ceruk. Lingkungan di sekitarnya selain memiliki beberapa variabel yang dibutuhkan bagi sebuah permukiman juga merupakan areal yang cocok untuk kegiatan pertanian. Pemanfaatan lahan sebagai areal pertanian kemungkinan berlangsung sejak dahulu hingga sekarang. Keberadaan batu dakon dan lumpang batu pada bedrock ceruk menggambarkan bahwa kegiatan pertanian yang berlangsung diperkirakan juga disertai upacara-upacara untuk kepentingan tertentu, seperti mencari musim tanam yang baik atau meminta kesuburan.

Kepustakaan
Azis, Halina Budi Santosa, 1986. Kemungkinan dan Keterbatasan Nisan Kubur Masa Indonesia Islam sebagai Indikator Permukiman, Studi Kasus di Daerah Jakarta, dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, hal. 241-251
Handini, Retno dkk., 1996. Laporan Penelitian Samosir. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Medan (tidak diterbitkan)
Hoop, ANJ Th.a. Th van der, 1932. Megalithic Remains in South Sumatra. Zuthpen, Netherland
Mundardjito, 2002. Pertimbangan Ekologis Penempatan Situs Masa Hindu- Budha di Daerah Yogyakarta. Jakarta: Wedatama Widya Sastra, Ècole Française D’Extrême- Orient
Rambung, Rosalina & Budi Istiawan, 1998. Survei Pendataan Gua-gua Prasejarah di Balik Bukit, dalam Amoghapasa No. 8. Batusangkar: SPSP Batusangkar, hal: 32-40
Soejono, RP (ed.), 1993. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka
Subroto, Ph., 1995. Pola-Pola Zonal Situs-Situs Arkeologi, dalam Manusia dalam Ruang Studi Kawasan dalam Arkeologi, Berkala Arkeologi Tahun XV-Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta:133–138
Sukendar, Haris 1977. Penelitian Prasejarah di daerah Jampang Kulon dan sekitarnya (Jawa Barat), Berita Penelitian Arkeologi no. 10. Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional
…………..……, 1985. Peninggalan Tradisi Megalitik di daerah Cianjur, Jawa Barat. Jakarta: Puslit Arkenas
…………..……, 1991. Mata Pencaharian, Kemahiran Teknologi dan Sumber Daya Alam dalam Hubungan dengan Eksistensi Megalit di Dataran Tinggi Pasemah, Analisis Hasil Penelitian Arkeologi II. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Sumijati, 1980. Tinjauan tentang beberapa tradisi Megalitik di daerah Purbalingga (Jawa Tengah), Pertemuan Ilmiah Arkeologi I. Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, Hal: 98-109
Susanto, RM & Marsis Sutopo, 1996. Laporan Hasil Penelitian Arkeologi. Survai Arkeologi Situs Lima Puluh Kota, Prov. Sumatera barat. Medan: Balai Arkeologi Medan (tidak diterbitkan)
Susilowati, Nenggih & Repelita W Oetomo, 2002. Laporan Penelitian Arkeologi. Penelitian di Gua-gua Kecamatan Harau dan Kecamatan Luhak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Medan: Balai Arkeologi Medan (tidak diterbitkan)

Written by balarmedan

Mei 13, 2008 pada 4:30 am

Ditulis dalam Dra.Nenggih Susilowati

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. lampirkan dong gambarnya…supaya jelas……….thnk’s………..

    Yurneli (@cekyur)

    Juli 16, 2014 at 11:40 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: