Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

ARTI STRATEGIS SIBOLGA DAN DAERAH TELUK TAPANULI BAGI PERTAHANAN PANTAI BARAT PULAU SUMATERA

with 4 comments

Ery Soedewo
Balai Arkeologi Medan

1. Hasil Pengamatan

Pada awal bulan April tahun 2001 tim dari Balai Arkeologi Medan mengadakan survei kepurbakalaan di wilayah administrsi Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kotamadya Sibolga. Sejumlah data berhasil dihimpun selama survei itu, beberapa diantaranya adalah bangunan-bangunan pertahanan yang berupa kubu-kubu perlindungan (bungker), gua-gua, serta parit-parit pertahanan.

Sebuah meriam pantai yang masih melekat pada bagian landasannya yang terbuat dari semen, ditemukan berada di atas sebuah bukit di tepi pantai barat Pulau Sumatera. Meriam ini dibuat dari bahan logam, dengan panjang keseluruhan 7,16 meter; diameter bagian memasukkan amunisi 46 cm; diameter lingkar terluar bagian memasukkan amunisi 64,5 cm; diameter moncong meriam 27 cm; dan diameter laras meriam 15 cm. Pada bagian memasukkan amunisi terdapat inskripsi: I. BL. 6IN WIRE. VII. E.O.C.A 1900 No 1210. Inskripsi lain diterakan pada sebuah simbol (emblem) berbentuk lingkaran berpita serta hiasan berupa mahkota diatasnya, yang terdapat pada bagian punggungan meriam: HONI•SOIT•QUI•MAL•Y•PENSE. Inskripsi berikut terdapat pada sisa-sisa bagian pengatur arah dan sudut tembakan: R11622 R, di bawahnya diterakan angka 15659, dibawahnya lagi diterakan No 14895. Secara umum meriam ini dapat dibagi dalam beberapa bagian yang mempunyai fungsi sendiri-sendiri, yakni:

1. Bagian memasukkan amunisi yang terletak di bagian ujung belakang meriam     berukuran lebih besar dari lobang laras meriam. Ukuran yang lebih besar di bagian belakang dibanding laras meriam adalah suatu hal yang biasa pada persenjataan berat modern, karena tempat memuat (memasukkan amunisi) tersebut disesuaikan dengan diameter selongsong amunisi yang lebih besar daripada diameter peluru/proyektilnya sendiri.
2. Bagian laras meriam diameternya lebih kecil daripada bagian memasukkan amunisi, disesuaikan dengan diameter peluru/proyektil yang dilontarkan melaluinya.  

3. Bagian pengatur sudut arah tembakan. Sayangnya bagian ini hanya sedikit yang tersisa, yakni yang terdapat di sisi kiri dan kanan badan meriam.
    
Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Kasi. Binmatsus. Pusat Kesenjataan Artileri Cimahi, Kapten (Art.) Sonny Septiono diketahui bahwa meriam yang ditemukan di semenanjung Stardas adalah sebuah meriam pantai V, 4 inch, kaliber 10 cm buatan Inggris tahun 1918, meriam jenis ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Amerika Serikat pada tahun 1919 diantaranya dengan ditambahkannya roda penggerak untuk mobilitasnya. Meriam jenis ini pada dasarnya adalah artileri medan (permukaan ke permukaan/surface to surface), yang difungsikan sebagai meriam pantai (karena ditempatkan di daerah pantai) untuk menembak sasaran-sasaran yang tampak di permukaan baik darat maupun perairan.

Sebuah sumuran yang bagian tepinya dibuat dari bahan semen, bagian dalamnya dari bahan logam berdiameter 60 cm, terletak di sebelah baratdaya meriam pantai. Ketinggian sumuran dari bahan besi 35 cm, lebar bagian semen yang menjadi tepi/bibir sumuran 30 cm, terdapat pasak/paku besi sepanjang 8 cm dalam kondisi berkarat melekat pada sumuran logam. Berdasarkan data analogi diperkirakan sumuran ini berfungsi sebagai landasan senjata mortir.

Sekonteks dengan temuan meriam pantai tersebut di atas, ditemukan pula bungker-bungker (lobang-lobang perlindungan). Berada di sebuah bukit yang ditumbuhi ilalang, nyaris tanpa pepohonan, sehingga bukit ini terkesan gersang. Konstruksi bungker-bungker yang berada di bawah tanah ini dibuat dari bahan semen. Di bukit ke-1 tempat meriam ditemukan, terdapat 4 bangunan bungker yang satu dengan lainnya dihubungkan oleh parit-parit perlindungan berkedalaman rata-rata 1,5 meter dan lebar 1 meter. Sebagian besar parit-parit perlindungan ini telah ditutupi oleh lebatnya belukar, sehingga tidak tampak kalau hanya dilihat. Di bukit ke-2 di sebelah selatan bukit ke-1 ditemukan pula sebuah bungker yang dibuat lebih kompleks dibanding bungker-bungker di bukit ke-1 yang beruang tunggal. Bungker di bukit ke-2 ini dibuat dari bahan semen, dengan dua ruangan terpisah (ruangan ke-2 terletak lebih dalam dibanding ruangan ke-1) masing-masing dengan lobang pengintaian.

 
Gbr
Bangunan Pertahanan di Semenanjung Stardas

Bangunan pertahanan lain berasal dari masa yang lebih muda, ditemukan di Kampung Mela Pasir, Dusun I, Kecamatan Tapanuli, yang dikenal oleh penduduk setempat sebagai Lubang Jepang. Istilah lubang ini mengacu pada suatu tempat yang dibentuk dengan cara melubangi bagian dinding bukit/gundukan tanah. Bagian dalam lubang merupakan lorong berbentuk persegipanjang dengan mulut di sebelah utara dan bagian akhir lubang, buntu di sebelah selatan. Lubang berada di bagian bawah gundukan, mulut lubang mengarah ke jalan raya Sibolga-Barus (sekitar 2 m dari pinggir jalan raya). Bagian selatan gundukan berbatasan dengan  jurang berkedalaman sekitar 25 meter dari permukaan tanah gundukan. Dasar jurang adalah pantai Teluk Tapanuli yang permukaannya berupa karang. Rumah penduduk berada di bagian barat dan timur lubang. Permukaan gundukan tanah ditumbuhi oleh ilalang (Imperata cylindrica) dan pohon bambu (Bamboo sp). Mulut lubang berbentuk persegi panjang berukuran 128 cm x 80 cm. Bagian lantai lubang berupa batu padas, sedangkan dinding serta langit-langitnya berupa tanah warna merah yang permukaannya rata. Tekstur tanah kasar dan selalu basah, dengan kondisi udara dalam ruangan lubang lembab. Struktur bangunan semen ditemukan di bagian belakang gundukan. Bagian dalam lubang tidak diperkuat dengan semen. Rata-rata ukuran lebar lorong lubang adalah 82 cm dan tinggi 56 cm, sedangkan panjang lorong lubang dari mulut hingga bagian akhir dinding 280 cm (Koestoro dkk.,2001:15).

Bangunan pertahanan ketiga diperkirakan berasal dari masa yang sama dengan bangunan kedua. Bangunan ini Secara administratif berada di Kelurahan Angin Nauli, Kecamatan Sibolga Utara, Kotamadia Sibolga. Gua terletak di perbukitan Simarbaion. Untuk sampai ke mulut gua, medan yang ditempuh cukup sulit karena melewatii perkebunan ketela pohon, jeruk, dan pohon karet yang sangat lebat. Mulut gua berada pada bagian lereng bukit yang terjal dengan kemiringan sekitar 450. Arah hadap mulut gua ke selatan. Dari informasi tempatan diperoleh keterangan gua tersebut merupakan kubu pertahanan bagi tentara Jepang semasa PD II.  Kondisi tanah bagian atas mulut gua sebagian telah runtuh hingga menutupi setengah ukuran mulut gua. Hal lain adalah bagian atas mulut gua dipenuhi akar-akaran yang menyembul sehingga mempersulit untuk masuk ke bagian dalam gua dan juga riskan runtuh. Mulut gua yang terbuka akibat longsoran tanah hanya menyisakan ukuran tinggi 1,75 m dan lebar 2 m. Dari hasil suvei diperoleh gambaran tentang bagian dalam gua tidak tembus ke bagian lereng bukit sebelah utara (buntu). Jalan buntu itu ditandai dengan permukaan tanah yang sedikit tergenang air dan dinding berupa batu cadas. Keseluruhan panjang lorong gua adalah 26 m dan tinggi langit-langit 2 m dari permukaan tanah gua dibawahnya. Pada jarak 10 m dari mulut gua ke bagian dalam lorong terdapat ceruk di bagian kiri dan kanan dinding gua. Keadaan permukaan tanah, dinding, dan langit-langit gua lembab, warna coklat kekuningan, dan tekstur kasar. Di bagian akhir lorong gua, permukaan tanahnya digenangi air seluas 2 m x 2 m, dan kedalaman 50 cm. Ada semacam parit sepanjang sekitar 10 m dan lebar 1 m di bagian kanan mulut gua memapas lereng bukit bagian atas (Koestoro dkk.,2001:26).
 
Gbr.Lubang Jepang di Kampung Mela Pasir

2.  Teluk Tapanuli dan Kota Sibolga, Salah Satu Pintu Barat Pulau Sumatera

Secara geografis Teluk Tapanuli merupakan pintu gerbang untuk menuju ke pelabuhan utama di wilayah tersebut yakni Kota Sibolga. Sebagai sebuah tempat yang berada di daerah pesisir barat Pulau Sumatera, kota ini mempunyai arti strategis bagi daerah di sekitarnya. Sebab, melalui pelabuhan di Sibolga lah berbagai komoditi penting hasil wilayah pedalaman di perdagangkan untuk keperluan setempat maupun eksport. Selain berfungsi sebagai pintu keluar utama/main exit bagi komoditi wilayah di sekitarnya, Sibolga juga menjadi pintu masuk utama/main entrance bagi berbagai komoditi yang datangnya dari luar. Kota Sibolga berada pada sebuah teluk yang diapit dua semenanjung dengan sebuah pulau besar yakni Pulau Musala serta pulau-pulau kecil yang bertebaran berada di mulut teluk ini. Kondisi alam yang demikian menjadikan perairan di Teluk Tapanuli menjadi relatif tenang sehingga aman untuk dilayari dan memudahkan kapal-kapal yang hendak merapat karena tidak terhambat oleh gelombang besar, disebabkan adanya barrier alam yang ideal.  

Menyangkut Kotamadya Sibolga, sebelumnya daerah ini lebih dikenal sebagai ibukota Kabupaten Tapanuli Tengah. Pengembangannya sebagai kotamadya menjadikannya sebuah daerah yang dapat dikatakan terkepung oleh wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah. Secara astronomis wilayah Kotamadya Sibolga terletak sekitar 10 44’ Lintang Utara dan 98047’ Bujur Timur dengan batas sebelah utara, selatan, dan timur dengan Kabupaten Tapanuli Tengah, dan sebelah barat dengan Samudera Indonesia. Daerah Sibolga adalah dataran rendah yang berasal dari rawa-rawa yang ditimbun dengan ketinggian sekitar 3 meter dari permukaan laut dan merupakan kota pelabuhan di pantai barat Sumatera Utara.

Pemerintahan Kotamadya terbagi atas tiga Kecamatan, masing-masing adalah Kecamatan Sibolga Utara, Sibolga Kota, dan Kecamatan Sibolga Selatan, yang seluruhnya mencakup 16 Kelurahan. Penduduk terdiri dari berbagai suku yaitu: Melayu, Batak, Minangkabau, Nias, Jawa dan lain-lain dengan adat istiadat serta kebudayaannya masing-masing.

Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, berdasarkan Staatsblad No. 193 tahun 1884, Sibolga merupakan salah satu dari empat daerah afdeling di Karesidenan Tapanuli. Afdeling Sibolga dibagi lagi menjadi empat wilayah onder-afdeling yakni: Sibolga dan sekitarnya, Distrik Batang Toru, Pakkat dan Barus, serta Singkil. Namun sejak keluarnya Staatsblad no. 1906, status Tapanuli yang sebelumnya menjadi bagian Sumatera Barat beralih menjadi daerah di bawah Gubernur Sumatera yang berkedudukan di Medan yang membagi wilayah Keresidenan Tapanuli dalam 5 afdeling. Pembagian tadi meliputi: Afdeling Natal dan Batang Natal, Afdeling Sibolga dan Batang Toru, Afdeling Padang Sidempuan, Afdeling Nias, dan Afdeling Tanah Batak. Afdeling Sibolga diperintah oleh seorang Controleur dengan wilayah meliputi 13 Kakurian dan masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala Kuria.

Sesuai dengan kondisi alamnya maka potensi yang paling menonjol adalah perikanan laut dengan areal laut seluas 10.000 ha. Potensi kedua adalah sektor perdagangan karena letak geografis kota Sibolga merupakan penghubung atau pintu gerbang ke daerah pantai barat Sumatera Utara dan daerah pedalaman serta tersedianya fasilitas pelabuhan. Potensi di sektor perdagangan lebih menonjol lagi sejak dipilihnya Kota Sibolga sebagai pusat pengembangan (growth pole) daerah pantai barat Sumatera Utara. Disamping itu untuk meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat, telah dibangun berbagai proyek bidang pendidikan, kesehatan, air minum dan lain-lain (Koestoro dkk.,2001:4).

Menilik kondisi tata ruang kota tersebut, tentu tidak lepas dari aspek kesejarahan pertumbuhannya yang berkaitan dengan pengaruh pasang-surut hegemoni kekuasaan, terutama pengaruh pemerintahan asing (Belanda). Bukti yang nampak hingga saat ini adalah banyaknya bangunan gedung yang dibangun pada tahun 1930-an, seperti kompleks pertokoan dengan tiang-tiang besar di bagian depannya (Studi Pertumbuhan dan Pemudaran Kota Pelabuhan: Kasus Barus dan Sibolga,1995:13–14). Kompleks pertokoan ini dikenal sebagai Pecinan yang berada di sepanjang Jalan Ahmad Yani dan sekitarnya, yang sekarang lebih dimanfaatkan sebagai tempat tinggal daripada kegiatan ekonomi. Tempat kegiatan ekonomi berupa pasar dan pertokoan telah dipindahkan ke daerah Pancurangerobak. Bangunan lama lainnya adalah rumah penjara, gudang di daerah pelabuhan, dan beberapa gedung perkantoran maupun bangunan yang sekarang digunakan sebagai bank (Koestoro dkk., 2001:4).   

Pada masa kolonial Belanda, di kota Sibolga pernah hidup beberapa perusahaan dagang yang mempunyai nama besar pada masanya, seperti: Geo Wehry, Guntzel & Schumacher, Henneman, serta Lim Kim Tjhay dan putranya Lim Hong Lap. Kebesaran perusahaan-perusahaan tersebut dikarenakan tingginya nilai mata dagangan yang banyak dihasilkan oleh perkebunan-perkebunan partikelir besar di sekitar Sibolga yang menghasilkan karet, kelapa, dan kelapa sawit, serta produk-produk dari perkebunan rakyat dan hutan seperti: kulit manis, cengkeh, dan kemenyan di pasaran internasional. Kemudahan transportasi hasil bumi dari wilayah pendukung Sibolga didukung oleh adanya jalan yang menghubungkan antara daerah-daerah penghasil mata dagangan dengan Sibolga sebagai tempat penumpukan dan penjualannya. Di Kota Sibolga-lah bertemu jalan yang menghubungkannya dengan kota-kota di pantai barat Sumatera  (Padang di selatan dan Singkil di utara) serta jalan yang menghubungkan Sibolga dengan kota-kota di pedalaman (Balige, Tarutung, serta Pematang Siantar) dan kota-kota pantai timur Sumatera Utara seperti Medan, Pangkalan Brandan, dan Tanjung Tiram.

3. Arti Strategis Teluk Tapanuli dan Kota Sibolga

Secara umum strategi dapat diartikan sebagai ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam perang dan damai. Sementara dalam konteksnya dengan dunia kemiliteran strategi dapat diartikan sebagai ilmu dan seni memimpin bala tentara untuk menghadapi musuh dalam perang, dapat juga diartikan sebagai tempat yang baik menurut siasat perang (Kamus Besar Bahasa Indonesia,1994:264).
Dalam dunia kemiliteran dikenal adanya beberapa elemen strategi, yang terdiri dari (Clausewitz,1993:215):

1. Hal-hal yang berkaitan dengan moral, yang meliputi segala aspek berkaitan dengan kualitas intelektual maupun psikologis.
2. Hal-hal yang sifatnya fisik, mencakup hal-hal yang berkaitan dengan besaran pasukan bersenjata, komposisinya, persenjataan, dll.
3. Hal-hal yang sifatnya matematis/geometris, meliputi bentuk dan pola penggelaran pasukan di medan tempur, yang akan berpengaruh terhadap penyerangan maupun pertahanan. 
4. Hal-hal yang berkaitan dengan faktor geografis, mencakup pengaruh pemilihan lokasi seperti letak pusat komando, gunung, sungai, hutan, dan jalan.
5. Hal-hal yang berkaitan dengan statistik, meliputi dukungan dan perawatan peralatan serta pasukan.

Kelima hal tersebut akan berpengaruh dalam pengambilan keputusan oleh para pemimpin pasukan dalam peperangan, apakah mengambil posisi menyerang (ofensif) ataukah bertahan (defensif). Sun Tzu dalam karyanya tentang Seni Perang mendefinisikan tentang posisi bertahan dan posisi menyerang dalam peperangan.(Hart, 1978:29) “Kekuatan terletak pada kokohnya pertahanan, sedang kemenangan -kemungkinannya lebih besar- dapat diraih melalui serangan. Salah satu pihak bertahan jika dilihatnya kekuatannya terbatas, sedang yang merasa kekuatannya lebih besar melakukan serangan.”

Pada masa menjelang PD I kekuatan Hindia Belanda bertumpu pada KNIL (Koninklijke Nederlands-Indische Leger) sebagai pasukan regulernya. Oleh sebab itu berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan pertahanan wilayah maka diumumkanlah mobilisasi umum pada 1 Agustus 1914 oleh Kerajaan Belanda. Selama berlangsungnya Perang Dunia I itu Belanda sebenarnya berada dalam posisi netral, tidak memihak pada salah satu pihak, yakni poros/as yang terdiri dari negara-negara Jerman, Austria, dan Turki maupun Sekutu yang terdiri dari negara-negara Perancis, Inggris, Belgia, dan Amerika Serikat. Namun, apabila diserang oleh salah satu pihak maka Belanda akan mempertahankan wilayahnya. Menyadari akan lemahnya posisi dan kekuatan angkatan perangnya, sudah wajar bila kemudian Belanda mengambil sikap netral dan posisi defensif selama terjadinya PD I. Sikap netral Belanda itu sebenarnya telah dimulai sejak masa perang Napoleon dan terus dipertahankannya hingga tahun 1940. Politik luar negeri Hindia Belanda di Asia otomatis mengikuti garis kebijaksanaan negeri induknya di Eropa yang menganggap netralitas sebagai jalan teraman (Onghokham,1989:170)

Luas wilayah Hindia Belanda yang mencakup hampir seluruh Kepulauan Nusantara tidak sebanding dengan kekuatan angkatan perangnya saat itu, sehingga pemerintah waktu itu memutuskan untuk membangun tempat-tempat pertahanan di daerah yang dianggapnya strategis. Pembangunan tempat pertahanan di daerah terpilih oleh pemerintah kolonial Belanda tampaknya didasari oleh ungkapan Frederick II atau Frederick The Great (1712–1786) raja ketiga kerajaan Prusia yang mengatakan, “ He who attempts to defend everywhere, is weak everywhere” (siapa mencoba mempertahankan seluruh wilayahnya, akan lemah di seluruh garis pertahanannya). Oleh karena itu tidak mengherankan bila kemudian Belanda memilih daerah Teluk Tapanuli sebagai salah satu titik strategis di Kepulauan Nusantara.

Di masa lalu, perbentengan – kastil dan kota yang dikelilingi tembok (citadel) – merupakan bentuk sederhana bagi perlindungan penghuninya (Clausewitz,1993:471). Suatu bangunan pertahanan yang efektif, memiliki dua elemen yang bersifat aktif dan pasif. Elemen aktif mengacu pada fungsi perlindungan yang diberikan oleh bangunan pertahanan terhadap wilayah di sekitarnya dengan segala isinya, sedangkan elemen pasifnya merupakan akibat dari keberadaan serta daya tembak artileri yang ada di dalam bangunan pertahanan terhadap daerah sekelilingnya (Clausewitz,1993:472). Untuk daerah Teluk Tapanuli, pemerintah Hindia Belanda memilih Semenanjung Stardas yang berada di baratdaya Kota Sibolga. Pemilihan semenanjung ini sebagai tempat pertahanan tampaknya didasari oleh konsep Clausewitz tentang fungsi bangunan pertahanan yakni sebagai (Clausewitz,1993: 487):

1.Depot pengaman
2.Pelindung bagi kota-kota besar dan makmur
3.Penghalang
4.Titik dukung taktis
5.Pos perantara
6.Tempat pengunduran diri bagi unit-unit pasukan yang dipukul mundur musuh.

Berdasarkan kelima hal itu, jelas pilihan pemerintah Hindia Belanda saat itu sangatlah tepat, sebab fasilitas yang disediakan dalam kompleks pertahanan di Semenanjung Stardas sangat mendukung. Sebagai suatu depot pengaman, di tempat ini dapat dijumpai beberapa bungker yang ukurannya relatif besar dan kuat sehingga diperkirakan mampu menampung dan melindungi perbekalan, utamanya bagi pasukan yang mempertahankan kompleks pertahanan ini. Sebagai pelindung bagi kota besar dan makmur, pemilihan lokasi tempat pertahanan di Semenanjung Stardas ini sangat ideal mengingat lokasinya berada di ketinggian suatu semenanjung sehingga pandangan luas terhadap pulau-pulau dan wilayah perairan di sekitarnya tampak dengan jelas. Penempatan persenjataan berat pada bangunan pertahanan di Stardas ini memungkinkannya untuk menghalangi musuh yang mencoba menginvasi daerah Teluk Tapanuli. Keberadaan bangunan pertahanan dengan persenjataan berat di semenanjung ini telah menjadikan tempat ini menjadi titik dukung taktis dalam strategi pertahanan di Kepulauan Nusantara. Letaknya yang berada diantara tempat-tempat penting di pantai barat Sumatera (Padang, Singkil, dan Sabang), menjadikannya sebagai pos perantara yang menghubungkan tempat-tempat tersebut. Fungsinya sebagai tempat pengunduran diri bagi unit-unit yang mengundurkan diri, benar-benar menjadi kenyataan ketika terjadi Perang Dunia II.   

Salah satu hal yang melatarbelakangi pemerintah kolonial Belanda mendirikan bangunan pertahanan di daerah Teluk Tapanuli, tampaknya didasari oleh alasan yang hampir sama dengan perkuatan daerah Cilacap di pantai selatan Pulau Jawa. Tidak dapat dipungkiri bahwa daerah pantai utara Pulau Jawa memiliki arti strategis lebih bila dibandingkan dengan pantai selatan Pulau Jawa, demikian pula halnya telah disadari bahwa daerah sepanjang pantai timur Pulau Sumatera (Selat Malaka) memiliki arti strategis yang lebih bila dibandingkan pantai baratnya. Namun, perhatian lebih itu berubah ketika terjadi beberapa peristiwa yang menyebabkan pemerintah kolonial Belanda menyadari akan arti strategis daerah pantai selatan Jawa dan pantai barat Sumatera. 

Untuk daerah Cilacap, arti strategis tempat ini dimulai ketika VOC mendapat laporan adanya sebuah kapal Inggris, Royal George, yang berlabuh di sana (Zuhdi, 2002:159). Peristiwa kedua terjadi ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda menduga kuat telah terjadi perdagangan senjata dari Kepulauan Cocos (Inggris) kepada pasukan Diponegoro (selama berlangsungnya perang Jawa 1825–1830) di daerah Cilacap (Zuhdi,2002:160). Sejak akhir abad ke-19 pemerintah Hindia Belanda telah menetapkan Cilacap sebagai pelabuhan tempat pengungsian (vluchthavendienst). Guna keperluan itu direncanakan pula untuk memperkuat pertahanan di Cilacap diperlukan sejumlah perintang di pintu masuk pelabuhan Cilacap (Zuhdi,2002:164–165). Pada tahun 1902 pertahanan daerah Cilacap diperkuat dengan ditempatkannya satu meriam pantai dan empat meriam 17 cm (Zuhdi,2002:165).

Arti strategis daerah pantai barat Sumatera tampaknya telah disadari sejak masa penguasaan VOC. Orang-orang Belanda mulai mengeksploitasi daerah pantai barat Sumatera setidaknya sejak abad ke-18 yang bukti keberadaannya dapat dilihat hingga kini di daerah Painan, Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Koestoro dkk.,2000:20–23). Hampir bersamaan waktunya orang-orang Inggris-pun tertarik untuk mengeksploitasi daerah pesisir barat Sumatera setidaknya sejak 1684 (berselang 22 tahun kemudian dari kehadiran VOC di Salido). Keberadaan orang-orang Inggris di daerah pesisir barat Sumatera secara langsung menjadi pesaing sekaligus ancaman bagi VOC. Ancaman itu menjadi kenyataan ketika pada tahun 1781 Inggris menghancurkan loji Belanda di Pulau Cingkuk (Amran,1988). Berdasarkan Traktat London 1824 Inggris menyerahkan Sumatera kepada Belanda dan sebagai imbalannya Belanda menyerahkan Semenanjung Malaya pada Inggris. Peran penting Sibolga sebagai suatu pelabuhan dimulai ketika pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahannya dari Pulau Poncan Ketek ke Sibolga pada tahun 1842. Bila sebelumnya Sibolga hanya merupakan sebuah kampung, maka sejak itu Sibolga berkembang sebagai sebuah kota dengan dibangunnya tangsi-tangsi tentara Belanda, pasar, dan kediaman Residen Tapanuli (Purba & Purba,1998).

Pada tahun 1927 pemerintah Belanda mengeluarkan ketetapan Defensie Grondslagend (Dasar-dasar Pertahanan) yang selanjutnya dijadikan pedoman pelaksanaan dalam bidang pertahanan Hindia Belanda. Pokok-pokoknya antara lain (Djajusman,1978:26–27) :

a.Tugas Angkatan Perang Hindia Belanda adalah:
1.Mempertahankan kekuasaan Belanda terhadap ancaman dari dalam serta mempertahankan keamanan dan ketentraman (tugas ke dalam).
2.Memenuhi kewajiban sebagai anggota Volkenbod atau Liga bangsa-bangsa (tugas ke luar).
b.Jika politik netralitas tidak dapat dipertahankan, maka angkatan perang harus mempertahankan wilayah Hindia Belanda sekuat tenaga sambil menunggu kemungkinan datangnya balabantuan.

Persiapan pemerintah Hindia Belanda untuk menjadikan Cilacap dan Sibolga sebagai pelabuhan tempat pengungsian (vluchthavendienst) menjadi kenyataan ketika pasukan sekutu di Hindia Belanda tidak mampu lagi menahan serangan balatentara Kekaisaran Jepang, mereka lalu memutuskan mengambil langkah pengunduran diri dan evakuasi terhadap aparat birokrasi, pasukan, dan para tawanan perangnya. Namun rencana tersebut tampaknya tidak berjalan lancar seperti yang diperkirakan. Ketika itu Belanda berharap pasukan KNIL di Sumatera Tengah dan Utara dapat bertahan cukup lama untuk mempersiapkan evakuasi lewat laut seperti evakuasi pasukan Inggris di Dunkirk (Belgia) dan Kreta (Yunani). Untuk daerah Sumatera Barat dan Tapanuli, pengamanannya dipercayakan pada 1 batalion pasukan KNIL – di bawah pimpinan Letkol. KNIL J.H.M. Blogg – yang dibagi menjadi 2 garnisun yakni Garnisun 1 berkedudukan di Fort de Kock, Bukit Tinggi dan Garnisun 2 berkedudukan di Sibolga, masing-masing berkekuatan 1 kompi (Djajusman,1978:93). Pasukan itu diperkuat lagi oleh 1 kompi stadswacht (pengawal kota) di Padang dan 1 seksi stadswacht di Sibolga.

Pada kenyataannya Jepang bergerak lebih cepat dari perkiraan pasukan sekutu. Begitu mendarat di Tanjung Tiram, Asahan pada 12 Maret 1942 mereka langsung mendesak masuk hingga ke Pematang Siantar, terus ke Balige, lalu Tarutung sehingga memotong jalur pengunduran diri setiap pasukan KNIL yang mencoba mengundurkan diri dari Medan ke arah Sibolga. Pasukan Jepang tidak berhenti sampai di Tarutung, mereka lalu meneruskan gerak majunya hingga ke Sibolga (jatuh pada 14 Maret 1942) terus ke arah selatan dengan tujuan kota Padang yang jatuh pada 15 Maret 1942 (Djajusman,1978:91). Otomatis dengan dikuasainya dua kota pelabuhan di pantai barat Sumatera itu maka lenyaplah sudah jalur tersisa yang menghubungkan Hindia Belanda dengan dunia luar.

Bahkan bagi mereka yang berhasil meninggalkan pelabuhan Sibolga sebelum kedatangan Jepang, nasibnya pun tidak lebih baik dibanding mereka yang terjebak di Sumatera. Sebagai contohnya adalah para pastor dan bruder Jerman di Hindia Belanda. Ketika pada 10 Mei 1940 pasukan Jerman menginvasi negeri Belanda, sebagai akibatnya maka orang-orang Jerman di Hindia Belanda ditahan oleh pemerintah kolonial Belanda, diantara para tawanan itu terdapat beberapa orang pastor dan bruder. Mereka kemudian diangkut ke Pulau Onrust di Teluk Jakarta, lalu dipindahkan ke Lembah Alas. Ketika pada bulan Desember 1941 medan perang dunia ke-2 semakin meluas ke Pasifik, maka para tawanan Jerman tersebut rencananya akan diseberangkan ke India lewat pelabuhan Sibolga, karena jalur ini dianggap lebih aman. Para tawanan Jerman ini diangkut dengan kapal “Van Imhoff”, yang merupakan gelombang ke-3 pengangkutan. Nasib mereka tidak seberuntung dua gelombang sebelumnya, sebab “Van Imhoff akhirnya tenggelam di tengah perjalanannya menuju India, akibat bombardemen Jepang.

Setelah pasukan sekutu di Kepulauan Nusantara menyerah, balatentara Jepang kemudian menguasai daerah yang kaya bahan baku ini. Arti strategis daerah Teluk Sibolga juga disadari oleh penguasa baru ini, sehingga perkuatan pertahanan dipersiapkan pula oleh mereka. Superioritas Jepang atas pasukan sekutu di daerah Pasifik tidak bertahan lama. Sejak tahun 1943 mereka berada di posisi defensif. Guna keperluan pertahanan atas wilayah yang dikuasainya, Jepang membangun suatu sistem pertahanan yang tidak umum digunakan oleh pihak-pihak yang berperang di Eropa maupun Afrika Utara selama PD II. Bentuk pertahanan yang dipilih oleh Jepang ini -memang lebih sesuai diterapkan di daerah tropis, seperti di Kepulauan Nusantara- berupa pemanfaatan gua-gua alam (seperti pada Gua Simarbaion) serta pembuatan lubang-lubang perlindungan dengan melobangi lapisan bumi sehingga terbentuklah gua buatan. Fungsi gua-gua pertahanan ini lebih digunakan sebagai tempat pengunduran diri serta perlindungan bagi balatentara Jepang. Menyadari kekuatan mereka tidak sekuat di awal peperangan – serta di berbagai front sekutu mendesak pasukan Jepang – maka diputuskan strategi perang mengambil bentuk perang gerilya. Dalam sistem perang demikian, penyerangan dilakukan dengan cara hit and run, sehingga diperlukan suatu tempat tersembunyi yang dimanfaatkan sebagai tempat pengunduran diri dan berlindung dari kejaran musuh.

Bila melihat kondisi fisik lubang Jepang di Kampung Mela Pasir yang tidak terlalu besar, tampaknya fungsi bangunan ini lebih sebagai sebuah pos perantara atau sebagai tempat berlindung bagi satu regu pengintai pasukan Jepang yang ditempatkan di pantai Teluk Tapanuli. Posisinya yang berada pada tepi jurang di atas bibir pantai Teluk Tapanuli, memudahkan bagi regu pengintai yang bertugas untuk mengawasi daerah perairan yang membentang di hadapan mereka. Bila sewaktu-waktu posisi mereka diketahui oleh musuh yang datang dari arah perairan dan dibombardir oleh kapal-kapal musuh, maka regu pengintai dapat berlindung masuk ke dalam lubang perlindungan yang telah dipersiapkan. Sedangkan Gua Simarbaion, tampaknya pernah difungsikan sebagai tempat perlindungan dan pertahanan bagi pasukan dengan jumlah yang lebih besar jika dibandingkan dengan lubang Jepang di Kampung Mela Pasir. Dilihat dari ukurannya sepanjang 26 meter, lebar 2 meter, dan ketinggian langit-langit gua 2 meter dapat diperkirakan bahwa gua ini mampu menampung antara 30 hingga 40 orang prajurit (1 peleton). 

4. Penutup

Sejak masa kolonial Belanda daerah Teluk Tapanuli telah berperan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan Kota Sibolga. Arti penting daerah ini menyebabkan para penguasa dari masa yang berbeda berupaya mempertahankan daerah strategis tersebut. Untuk itu dibangunlah suatu sistem pertahanan yang cukup kompleks oleh pemerintah Hindia Belanda maupun balatentara Kekaisaran Jepang. Pemilihan lokasi bangunan pertahanan di daerah Teluk Tapanuli didasari oleh beberapa pertimbangan taktis maupun strategis.    

Meskipun pada prakteknya bangunan-bangunan pertahanan di Teluk Tapanuli tidak banyak berfungsi untuk mempertahankan daerah ini – dikarenakan beberapa faktor kejutan yang tidak diperhitungkan – namun kedudukannya sebagai unsur penting bagi pertahanan Teluk Tapanuli tidak dapat diabaikan begitu saja. Hal itu terbukti ketika pasukan Jepang yang hendak menguasai pantai barat Sumatera tidak menyerang langsung ke sasaran melalui perairan Samudera Hindia, namun lebih memilih mendarat di pantai timur, tepatnya di Tanjung Tiram dan melalui jalur darat menusuk pertahanan di pantai barat dari arah belakang.  
 
Kepustakaan
Amran, Rusli, 1988. Padang Riwayatmu Dulu. Jakarta: Yasaguna.
Anonim, 1994-1995. Studi Pertumbuhan dan Pemudaran Kota Pelabuhan: kasus Barus dan Sibolga. Jakarta: Proyek P2NB
Clausewitz, Karl von, 1993. On War. London: David Campbell Publishers Ltd.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Djajusman, 1978. Hancurnya Angkatan Perang Hindia Belanda (KNIL). Bandung: Penerbit Angkasa
Hart, Adrian Liddell, 1978. The Sword and The Pen. London: Cassell and Company Limited.
Koestoro, Lucas Partanda dkk., 2000. Berita Penelitian Arkeologi No. 3 Peninggalan Arkeologis Di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Medan: Balai Arkeologi Medan.
…………………….., 2001. Berita Penelitian Arkeologi No. 6 Penelitian Arkeologi di Kotamadya Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Prov. Sumatera Utara. Medan: Balai Arkeologi Medan.
Onghokham, 1989. Runtuhnya Hindia Belanda. Jakarta: Penerbit P.T. Gramedia.
Purba, OHS & Elvis F Purba,1998. Migran Batak Toba Di Luar Tapanuli Utara: Suatu Deskripsi. Medan: Monora
Zuhdi, Susanto, 2002. Cilacap 1830 – 1942 Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Written by balarmedan

Mei 13, 2008 pada 4:23 am

Ditulis dalam Ery Soedewo,M.Hum.

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Kepada pengelola web balarmedan saya;

    Saya sangat senang ketemu web ini,pengetahuan tentang Sibolga dan Tapanuli Tengah semakin bertambah.
    Kalau boleh saya mengusulkan artikel tentang Sibolga dan Tapuli Tengah diperbanyak lagi dimuat di web ini.

    Thx

    Zulfahri

    Oktober 7, 2008 at 7:03 am

  2. buat saudara Zulfahri, terima kasih atas respon n supportnya.
    Saran akan disampaikan ke penulis artikel ini

    balarmedan

    Oktober 8, 2008 at 7:03 am

  3. Boleh kah saya muat artikel ini di web blog saya ???

    Zulfahri

    Januari 14, 2009 at 5:30 am

    • Sepanjang mengikuti etika dalam memuat sumber aslinya, silahkan saja.Terima kasih

      balarmedan

      Januari 29, 2009 at 3:47 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: