Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

GUA TOGI BOGI, HUNIAN BERCIRI MESOLITIK DI NIAS

with one comment

Ketut Wiradnyana
Balai Arkeologi Medan

Abstract
Togi Bogi’s one of the caves which located up to the hill around 75 metres from the surface of the sea. There was also an archaeological remains such as artefact and ecofact inside it, that had the same characteristics which was found in Togi Ndrawa’s cave. From the excavation, it’s found mollusk and other lithics that described the culture of the megalithic’s area. The result of the dating analysis using radiocarbon method on the mollusk and cinder indicated the activities at Togi bogi’s cave, Nias was about on 4960  130 BP untill 950  110 BP.

Kata kunci: Gua, mesolitik, kapak batu

I. Pendahuluan
Masa mesolitik di Indonesia dicirikan oleh tinggalan budaya besar yang terbagi atas empat budaya materi yaitu Hoabinhhian Sumatera, alat tulang Sampung, dan mikrolit Sulawesi serta rock painting, dan masing-masing memiliki ciri yang khas. Wilayah Sumatera Utara cukup banyak memiliki situs dari masa mesolitik, baik yang berupa situs terbuka seperti situs-situs bukit kerang maupun situs tertutup yaitu gua/ceruk. Adapun ciri dari budaya dimaksud yaitu masyarakatnya mengeksploitasi lingkungan laut dengan peralatan batu yang sering disebut sumatralith. Peralatan tersebut memiliki morfologi dan teknologi yang mengindikasikan kesamaan dengan budaya Hoabinh di Vietnam. Adapun peralatan batu yang dihasilkan budaya Hoabinh diantaranya berupa kapak genggam, kapak perimbas, pemukul, dan pipisan. Peralatan lain yang ditemukan berbahan tulang, diidentifikasi sebagai lancipan dan sudip. Temuan terbanyak pada situs Hoabinhian selain peralatan batu adalah cangkang moluska dari kelas Gastropoda dan Pelecypoda. Cangkang moluska tersebut merupakan sampah makanan dan sebagian kecil berupa peralatan dan perhiasan.
Keberadaan situs mesolitik di Sumatera Utara pada umumnya ditemukan di Sumatera daratan (mainland) dan sebagian lagi ditemukan di Pulau Nias. Situs mesolitik di Pulau Nias sebelumnya hanya ditemukan di Gua Togi Ndrawa, yaitu sebuah gua pada bukit kapur yang letaknya tidak jauh dari Kota Gunung Sitoli. Data baru mengenai situs mesolitik juga ditemukan di Gua Togi Bogi berupa artefak dan ekofak yang memiliki persamaan dengan yang terdapat di Gua Togi Ndrawa. Keberadaan Gua Togi Bogi memberikan gambaran yang lebih jelas akan kehidupan masyarakat masa lampau di Nias pada khususnya dan di Sumatera Utara pada umumnya sebagai upaya merekonstruksi kehidupan masa lampau.

II. Gua Togi Bogi, Data Permukaan dan Ekskavasi
Gua Togi Bogi berada di wilayah Desa Binaka, Kecamatan Gunung Sitoli Idanoi, berjarak sekitar 18 Km dari kota Gunung Sitoli. Gua tersebut berada pada koordinat 01º 09’ 38 ” LU dan 97º 41’ 45 ’’ BT, keletakannya pada lereng bukit dengan ketinggian berkisar 75 meter dari permukaan air laut. Pada bagian selatan situs merupakan dataran rendah yang langsung berhadapan dengan laut. Gua ini pada bagian depannya memiliki lantai yang kering berukuran 6 x 6 m². Bagian yang digali adalah sisi timur sekitar 0,5 meter mendekati dinding gua.
Gua Togi Bogi
II.1. Temuan Permukaan
Di bagian dalam gua mendekati dinding timur, pada permukaan tanahnya banyak ditemukan fragmen gerabah yang kemungkinan merupakan hasil aktivitas binatang. Asumsi tersebut dihasilkan dengan ditemukannya fragmen gerabah yang posisinya tidak jauh dari singkapan tanah yang tergali tersebut. Selain itu, di sekitar singkapan tanah tersebut juga ditemukan sebuah kapak batu yang masih menyisakan tajaman/pangkasan pada salah satu bagian ujungnya.

Kapak batu dari Gua Togi Bogi
II.2. Temuan Ekskavasi
Ekskavasi yang dilakukan di Gua Togi Bogi menghasilkan berbagai macam artefak dan juga ekofak. Variasi ekofak seperti moluska yang ditemukan di setiap spit pada prinsipnya sama, hanya didominasi famili tertentu setiap spitnya. Pada spit (1) didominasi famili Arcticidae sedangkan pada spit (2) didominasi Telescopium-telescopium. Begitu juga dengan kondisi moluskanya dari spit awal sampai ke spit (10) kondisinya semakin hancur. Selain temuan tersebut di atas juga ditemukan debu sisa pembakaran, arang, dan tulang.
Adapun sisa cangkang moluska pada situs Gua Togi Bogi di antaranya adalah moluska yang hidup di air tawar, payau, air asin, dan moluska darat. Adapun karakteristik moluska yang sementara teridentifikasi adalah:
a. Kelas Pelecypoda
NO SUKU LINGKUNGAN
MAKRO MIKRO
1. Arcidae Laut Daerah pasang surut yang terdapat pasir, terumbu karang atau lumpur
2. Arcticidae Laut Daerah pasang surut yang terdapat pasir, terumbu karang atau lumpur
b. Kelas Gastropoda
NO SUKU LINGKUNGAN
MAKRO MIKRO
1. Neritidae Laut Pantai berpasir, berlumpur atau terumbu karang
2.
Potaminidae Laut Tempat berpasir atau berlumpur, air payau dan hutan mangrove
3. Thiaridae Air tawar Sungai dan danau
4. Helicidae Laut Pantai berpasir, berlumpur atau terumbu karang
5. Melongenidae Laut Laut yang dangkal
Pada spit (7) dan (8) masing – masing ditemukan sebuah batuan kalsedon. Pada spit (8) batuan tersebut diidentifikasi sebuah perkutor yang dikaitkan dengan fungsinya untuk pemukul alat-alat serpih. Indikasi pemanfaatannya diketahui melalui sisa-sisa kerusakan batu berupa goresan–goresan/kerusakan akibat aktivitas pemukulan. Pada spit (9) ditemukan sebuah alat serpih yang morfologinya menyerupai mata panah Maros dan sebuah fragmen kristal (tatal).

Alat serpih (mata panah) dan perkutor

III. Geologis
Selama jaman glasial (2,5 juta tahun yang lalu) berlangsung, umumnya temperatur lebih dingin, air terkumpul dalam bentuk es di daerah-daerah yang bergaris lintang tinggi sehingga mengakibatkan muka air laut menjadi turun. Sebagai contoh, pada puncak jaman glasial terakhir yang terjadi sekitar 18.000 tahun yang lalu muka air laut terletak 100 meter lebih rendah dari sekarang. Perubahan tersebut sangat mempengaruhi bentuk kepulauan Indonesia. Laut Jawa dan sebagian Laut Cina Selatan menjadi surut sehingga memunculkan jembatan darat yang luas di atas Paparan Sunda yang menghubungkan pulau bagian barat Indonesia dengan Daratan Asia. Jembatan daratan inilah yang memungkinkan berlangsungnya proses migrasi awal dari Daratan Asia menyebar ke Jawa (Semah, 1990).
Data geologi yang penting untuk dipaparkan yaitu pada masa glasial akhir, Pulau Nias tidak terendam oleh lautan (Whitten,2000 :3). Kondisi geologis tersebut memberi kemungkinan pulau tersebut pernah dijadikan daerah hunian. Indikasinya selain masih terhubungnya Pulau Sumatera dengan Daratan Asia, yang memungkinkan terjadinya migrasi dengan memanfaatkan jalan darat tersebut, juga dengan ditemukannya alat litik yang mengacu kepada budaya Paleolitik, Mesolitik dan Neolitik yang mengindikasikan migrasi masih terus berlanjut ke pulau-pulau di Indonesia.
Di bagian tengah terdapat terban besar yang mengarah baratlaut–tenggara, searah dengan poros Pulau Nias. Terban ini disebabkan oleh struktur sesar yang terjadi pada kala akhir Miosen Tengah. Selanjutnya pada kala Plestosen Atas umumnya terendap sedimen sungai purba, dan undak-undak sungai purba terbentuk oleh kikisan Sungai Muzoi yang terletak pada bagian tengah terban tersebut. Diketahui pula bahwa pada terban itu dijumpai paling tidak 2 sampai 3 undak sungai purba yang endapannya terdiri atas kerakal dan kerikil polimik, diantaranya fosil kayu, kuarsa susu, rijang, batu gamping kersikan. fosil koral kersikan, batu gamping, foraminifera dan batuan gnes (Djubiantono,1985:1027).

IV. Migrasi
Data yang dihasilkan dari masa Mesolitik di Sumatera Utara, didominasi oleh situs bukit kerang/Kitchen Midden. Situs-situs tersebut ditemukan di pesisir timur Pulau Sumatera terbentang sejauh 270 Km dari Kabupaten Deli Serdang dan Langkat di Provinsi Sumatera Utara sampai Kabupaten Aceh Timur dan Lhok Seumawe di Provinsi NAD. Bukit kerang merupakan tumpukan cangkang moluska yang merupakan sisa makanan dan terakumulasi di suatu tempat dalam skala waktu yang relatif lama. Tumpukan cangkang moluska tersebut biasanya bercampur dengan kerangka manusia, alat-alat litik, alat- alat tulang, dan tulang binatang. Dari teknologi dan morfologinya, peralatan batu yang ditemukan pada situs bukit kerang di Indonesia menunjukkan persamaan dengan peralatan batu di Hoabinh–Vietnam yang dikenal dengan budaya Hoabinh (Hoabinhhian). Situs bukit kerang tidak saja ditemukan di Vietnam dan Indonesia akan tetapi juga ditemukan di Cina Selatan dan sebagian negara-negara di daerah Asia Tenggara. Peter Bellwood menyatakan bahwa budaya Hoabinh pada bukit kerang berasal dari daerah Hoabinh, Vietnam, sehingga diperkirakan migrasi manusia pada masa Mesolitik bermula dari daerah Vietnam ke Cina Selatan dan kemudian ke daerah Asia Tenggara.

V. Gua Togi Ndrawa dan Gua Togi Bogi
Masa Mesolitik di Pulau Nias diindikasikan dari data ekskavasi yang dihasilkan di Gua Togi Ndrawa, Dusun II, Desa Lolowonu Niko’otano, Kecamatan Gunung Sitoli. Adapun artefak berbahan batu yang ditemukan pada situs ini berupa alat serpih, pelandas, dan pemukul. Artefak berbahan tulang diantaranya berupa lancipan dan spatula, kemudian peralatan berbahan cangkang kerang dan berbahan tanah berupa fragmen gerabah yang ditemukan pada lapisan permukaan. Hasil analisa morfologi dan terminologi pada data ekofak menghasilkan filum moluska dari berbagai famili, filum vertebrata dari berbagai kelas dan filum Arthropoda ditemukan berupa spesies Skila serrata.
Cangkang moluska dan fragmen tulang yang ditemukan pada penelitian di Gua Togi Ndrawa umumnya dalam keadaan fragmentaris merupakan indikasi dari sampah makanan. Kemudian data berupa fragmen gigi dan tulang manusia menggambarkan adanya kelompok manusia penghuni gua yang mengkonsumsi moluska sebagai makanan utamanya dan berburu untuk menambah kebutuhan akan makan. Mereka sudah mengenal api yang terbukti dari abu pembakaran serta fragmen tulang dan cangkang Moluska yang terbakar. Peralatan yang digunakan untuk mendukung kehidupan sehari-hari berupa peralatan batu dan tulang.
Hasil analisis pertanggalan dengan metode radiokarbon (C 14) pada sampel berupa cangkang kerang yang ditemukan pada ekskavasi di situs tersebut pada kedalaman -10 cm yaitu 850 ± 90 B.P., kedalaman -40 cm yaitu 1330 ± 80 B.P., dan pada kedalaman -50 — -60 cm yaitu 1540 ± 100 B.P. Selanjutnya pada kedalaman -90 cm yaitu 3540 ± 100 B.P., kedalaman -220 cm yaitu 7890 ± 120 B.P., dan pada kedalaman -400 cm yaitu 12170 ± 400 B.P. Melalui hasil pertanggagan tersebut diketahui bahwa aktivitas di Gua Togi Ndrawa, Nias berlangsung sekitar 12170 ± 400 B.P. sampai dengan 850 ± 90 B.P.
Penghuni Gua Togi Bogi melakukan upaya pemilihan tempat tinggal dengan memanfaatkan lantai gua yang kering dan cukup mendapatkan sinar matahari, sehingga mampu memberikan kenyamanan untuk melakukan aktivitas yang lebih lama di dalam gua. Lokasi yang dipilih adalah bagian yang mendekati mulut gua. Kemudian dalam upaya melangsungkan hidupnya dipilih bahan makanan yang melimpah di sekitar situs yang mudah didapat seperti moluska. Berbagai jenis moluska dimungkinkan hidup di sekitar situs, mengingat keletakkan situs yang berdekatan dengan laut dan sungai-sungai sehingga menghasilkan lingkungan manggrove yang ideal bagi habitat berbagai jenis moluska.
Variasi moluska yang ditemukan di gua tersebut menunjukkan bahwa penghuni gua telah menjalankan strategi adaptasi dengan memanfaatan bahan makanan di lingkungannya. Kemudian juga diketahui pola pengkonsumsiannya yang disesuaikan dengan musim yang berlangsung di wilayahnya, sehingga jenis moluska yang hidup dan berkembang pada musim tertentu menjadi bahan makanan yang utama. Hal tersebut tampak dari lapisan moluska pada kotak ekskavasi yang didominasi oleh jenis moluska tertentu pada setiap lapisannya. Demikian juga melalui kuantitas moluskanya menunjukkan adanya dominasi jenis moluska tertentu pada setiap spitnya. Kondisi tersebut diperoleh dari hasil pengalian di Gua Togi Ndrawa dan Gua Togi Bogi.
Melalui sisa cangkang di kedua gua tersebut juga diketahui bahwa moluskanya sebagian dikonsumsi langsung (mentah) dan sebagian diolah dengan cara dibakar. Moluska jenis Pelecypoda ketika dibakar maka cangkangnya akan terbuka dengan sendirinya sehingga dagingnya langsung dapat diambil, sehingga cangkang yang ditemukan umumnya utuh. Sedangkan cangkang kerang yang ditemukan dalam keadaan rusak pada bagian ventralnya dan tidak terbakar, menggambarkan moluska tersebut diambil dagingnya dengan cara memukul bagian cangkangnya dan mengkonsumsi langsung (mentah).
Keterbatasan peralatan berbahan tulang dan batu yang ditemukan di Gua Togi Ndrawa dan Gua Togi Bogi diperkirakan akibat terbatasnya bahan baku. Kemudian berkaitan dengan temuan peralatan masif memberikan gambaran bahwa peralatan tersebut merupakan alat untuk berburu sebagai upaya strategi adaptasi hidup penghuni gua. Sedangkan melalui fragmen gerabah pada lapisan atas di kedua situs menggambarkan adanya evolusi kebudayaan dari mesolitik ke neolitik. Kondisi tersebut juga didukung oleh hasil pertanggalan di situs Gua Togi Ndrawa dan Gua Togi Bogi dari lapisan paling bawah hingga lapisan atas.
Hasil analisis pertanggalan dengan metode radiokarbon (C 14) pada sampel cangkang kerang dan abu pembakaran yang ditemukan pada ekskavasi di situs Gua Togi Bogi pada kedalaman -10 — -20 cm yaitu 950 ± 110 B.P., kedalaman -40 — -50 cm yaitu 2000 ± 120 B.P., dan pada kedalaman -80 — -90 cm yaitu 4960 ± 130 B.P. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa aktivitas di Gua Togi Bogi, Nias berlangsung sekitar 4960 ± 130 B.P. sampai dengan 950 ± 110 B.P. (kemungkinan aktivitas manusia di Togi Bogi lebih lama dari itu, mengingat dating yang dilakukan baru pada kedalaman -1 meter).
Melalui hasil pertanggalan tersebut dapat diketahui bahwa kedua gua tersebut dihuni pada masa yang relatif sama, sampai sekitar abad ke- 12 Masehi.

VI. Penutup
Togi Bogi merupakan gua yang terdapat di Nias selain Gua Togi Ndrawa, yang memiliki sisa aktivitas manusia masa lampau. Artefak dan ekofak yang dihasilkan dari Gua Togi Bogi memiliki persamaan variasi temuan seperti moluska, tulang binatang, alat serpih (dominan), dan gerabah (di lapisan atas), serta penggunaan api.
Pertanggalan yang dihasilkan sampai kedalaman -1 meter di Gua Togi Bogi menunjukkan bahwa aktivitas yang berlangsung di situs tersebut sekitar 4960 ± 130 B.P. sampai dengan 950 ± 110 B.P., dan kemungkinan masih lebih tua dari itu. Hasil pertanggalan di Gua Togi Bogi dan Gua Togi Ndarawa menunjukkan bahwa masyarakat di kedua situs tersebut memiliki pembabakan masa mesolitik yang relatif sama dan cara hidup di gua masih berlangsung hingga sekitar abad ke- 12 Masehi.

Kepustakaan
Bellwood, Peter, 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia, Edisi revisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Djubiantono, T, 1985. “Posisi Stratigrafi Artefak di Lembah Muzoi, Nias”, dalam PIA III. Jakarta: Puslit Arkenas, hal. 1026—1033
Driwantoro, Dubel, dkk, 2003. Potensi Tinggalan – Tinggalan Arkeologi di Pulau Nias, Prov. Sumatera Utara. Jakarta: Puslit Arkenas dan IRD (tidak diterbitkan)
Feinberg, Harold.S (Ed), 1979. Guide to Shells. New York: Simon & Schuster inc.
Goenadi, NH, 1996. Beliung Kerang Situs Golo, Pulau Gebe: Sebarannya di Maluku Utara dan Daerah Fasifik. Makalah dalam Seminar Prasejarah Indonesia I, Yogyakarta: tidak terbit
Hammerle. P. Johannes 2001. Asal Usul Masyarakat Nias, Suatu Interpretasi. Gunung Sitoli : Yayasan Pusaka Nias
Heffernan, Ken, 1980. Molluscan Resources and Talaud Economy Ecological and Cultural Parameters in The Study of Refuse. A.N.U.
Henderson, Julia (ED), 1998. Tropical Seashells. Singapore: Periplus Edition (HK) Ltd.
Semah, F. dkk.1990. Mereka Menemukan Pulau Jawa. Jakarta: Puslit Arkenas
Soejono, R.P. (ed.), 1990. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Whitten, Tony, et.al, 2000. The Ecology of Sumatera. Hongkong: Periplus Editions (HK) Ltd.
Wiradnyana, K., Nenggih S. & Lucas.P.K, 2002. Gua Togi Ndrawa, Hunian Mesolitik di Pulau Nias, BPA No. 8. Medan: Balai Arkeologi Medan
Wiradnyana, Ketut. Dominique Guillaud & Hubert Forestier, 2006. Laporan Penelitian Arkeologi, Situs Arkeologi di Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara.Medan: Balar Medan dan IRD (belum diterbitkan)
Wissema,Gustaaf Gerard, 1947. Young Tertiary and Quaternary Gastropoda from the Island of Nias, (Malay Archipelago). Leiden: N.V. Drukkerij en Uitgevers-Mij y/h

 

Written by balarmedan

Mei 2, 2008 pada 2:48 am

Ditulis dalam Drs.Ketut Wiradnyana

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Kapan ada ekskursi ke Nias ?

    Nanang Saptono

    April 22, 2009 at 6:48 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: