Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

PENGUMUMAN PEMENANG Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja Tingkat SMU Se-Sumatera Utara Tahun 2015

leave a comment »

pengumuman

Written by balarmedan

Agustus 14, 2015 at 6:27 am

Ditulis dalam Uncategorized

Lomba Karya Ilmiah Remaja Tingkat SMU Se-Sumatera Utara Tahun 2015

with 7 comments

poster ukuran a3_final_2

Balai Arkeologi Medan selaku UPT di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang salah satu tugas dan fungsinya adalah melaksanakan bimbingan edukatif kultural kepada masyarakat tentang situs dan benda-benda arkeologi di wilayah kerjanya (Permendikbud Nomor 33 Tahun 2013, pasal 1 butir k), akan menyelenggarakan Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja Tingkat SMU Se-Sumatera Utara  Tahun 2015. Adapun tema lomba adalah : “Kepurbakalaan di sekitar kita”. Tujuan kegiatan adalah untuk mengetahui apresiasi anak didik terhadap kemampuan siswa dalam menganalisa permasalahan di bidang kepurbakalaan yang ada disekitarnya, serta sebagai upaya untuk menjaring data kepurbakalaan yang ada di Provinsi Sumatera Utara sebagai upaya turut memeriahkan HUT Kemerdekaan RI Ke-70. Setiap peserta harus mengikuti semua persyaratan yang tercantum di bawah ini :

Persyaratan 

  • Siswa SMA atau sederajat, berusia maksimal 19 tahun terhitung pada tanggal 17 Agustus 2015.
  • Perorangan atau kelompok maksimal 2 (dua) orang.
  • Karya orisinil, hasil karya belum pernah dilombakan pada lomba lain.
  • Melampirkan surat keterangan data diri (Lihat dibawah Lampiran-1)

Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah

  • Judul bebas (dalam konteks obyek bidang arkeologi, dengan tema : Kepurbakalaan di sekitar kita).
  • Bahasa Indonesia yang digunakan baku, tata bahasa dan ejaan yang disempurnakan. Materi isi penulisan karya ilmiah merupakan karya orisinil yang ditulis dengan metode ilmiah dengan kaidah penulisan yang benar, memakai template yang telah ditentukan meliputi ketentuan penulisan : 1. Naskah diketik di kertas ukuran A4 dengan margins normal (jarak pengetikan 4 cm dari samping kiri, 3 cm dari samping kanan, 3 cm dari batas atas, dan 3 cm dari batas bawah),  2. Diketik dengan jenis huruf roman time style, dan font size 12 dengan jarak baris 1,5 spasi, 3. Banyak halaman 10 – 20 halaman dgn komponen karya tulis (Lihat dibawah lampiran-2 ), 4. Karya tulis Karya tulis dikirimkan dalam bentuk softcopy (CD) dan hardcopy ke :  Panitia Lomba Karya Ilmiah Remaja Tingkat SMU Se-Sumatera Utara Tahun 2015, Jl. Seroja Raya, Gang Arkeologi, Medan Tuntungan, Medan 20134 telp. (061) 8224365, 8224363, atau bisa dikirimkan secara elektronik melalui email panitia : panitia_lkirtsmu2015@yahoo.co.id selambatnya tanggal 3 Agustus 2015.
  • Sistematika penulisan :     JUDUL     I. PENDAHULUAN          II. RUMUSAN MASALAH                      III. PEMBAHASAN        IV. PENUTUP   V. DAFTAR PUSTAKA       VI. LAMPIRAN GAMBAR FOTO & PETA (opsional, gambar foto dan peta bisa dimuat dalam tulisan)
  • Penilaian Dewan Juri berlangsung dari tanggal 4 – 15 Agustus 2015, selanjutnya para pemenang akan dihubungi terlebih dahulu secara personal dan diumumkan secara resmi pada saat selesai upacara HUT Kemerdekaan RI Ke – 70 tanggal 17 Agustus 2015 halaman Kantor Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sumatera Utara, Alamat: JL. Bunga Raya, No. 96, Asam Kumbang, Sunggal – Medan.
  • Keputusan Panitia dan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat. Panitia berhak mencabut hak pemenang apabila dikemudian hari diketahui telah melanggar persyaratan yang telah ditetapkan.

contact person panitia : 085262981483 (stanov), 081361265620 (Jufrida), 081265999279 (defri).

Lampiran (buat dalam satu halaman terpisah dari karya tulis)

FORMULIR PENDAFTARAN

Lomba Karya Ilmiah Remaja Tingkat  SMU Se-Sumatera Utara Tahun 2015

 

JUDUL KARYA TULIS                                       :

 

Nama Lengkap                                                  :

Jenis Kelamin                                                    :

Tempat, tanggal lahir                                      

Nama Sekolah (SMA / SEDERAJAT)          :

Alamat Sekolah                                                   :                                                                           ­                    

No HP                                                                    :                                                                                        

Email                                                                    :                                                                                         

Facebook (kalo ada)                                        :                                         

                                                 

*Nama partner penulis (kalau ada, maksimal hanya satu orang)

Nama Lengkap                                                  :

Jenis Kelamin                                                    :

Tempat, tanggal lahir                                      

Nama Sekolah (SMA / SEDERAJAT)          :

Alamat Sekolah                                                   :                                                                           ­                    

No HP                                                                    :                                                                                        

Email                                                                    :                                                                                         

Facebook (kalo ada)                                        :                                                                                           

Dengan ini menyatakan bahwa karya tulis yang kami buat adalah asli, tidak menjiplak atau meniru dari karya tulis manapun. Kami bersedia mengikutkan karya tulis ini ke ajang Lomba Karya Ilmiah Remaja Tingkat  SMU Se-Sumatera Utara Tahun 2015 yang diselenggarakan oleh Kantor Balai Arkeologi Medan.  Apabila karya tulis ini menang dalam ajang lomba tersebut, kami mengijinkan tulisan tersebut dipublikasikan. Apabila karya tulis ini tidak menang dalam ajang lomba tersebut, hak dan tanggung jawab sepenuhnya kembali milik kami.

 

Mengetahui

Kepala sekolah/ Wali Kelas (CAP SEKOLAH)                                                                                       Peserta Lomba,

 

 

(….………………….……….)                                                                                                                                  (….…………………….)  NIP (bila ada) & No HP

Contoh formulir pendaftaran dibawah ini :

formulir pendaftaran_LKIR

 

perpanjangan LKIR

Written by balarmedan

Mei 15, 2015 at 4:53 am

Ditulis dalam Uncategorized

KOTA CINA DAN PULAU KOMPEI: PERBANDINGAN TEMUAN ARKEOLOGIS AKTIVITAS PERDAGANGAN DI BANDAR-BANDAR PESISIR TIMUR SUMATERA

with 13 comments

Stanov Purnawibowo

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

Trade activities in Kota Cina and Pulau Kompei in east coast Sumatera, have a growth approximately 13th — 16th Centuries. The comparison of archaeological records between Kota Cina and Pulau Kompei may gave a few conclution about growth and disappeared an anchorages.

 

Kata kunci: keramik, koin, maritim, perdagangan

I. Pendahuluan

Pesisir pantai timur Sumatera secara geografis sangat strategis dan terbuka terhadap kontak dan interaksi dengan dunia luar. Berada tepat menghadap langsung ke Selat Malaka yang menjadi jalur lalu lintas perdagangan internasional, menjadikan beberapa tempat di sekitar pesisir pantai timur Sumatera pernah menjadi bandar dagang yang cukup ramai pada masanya. Keterbukaan lokasi bandar-bandar dagang tersebut, mempengaruhi karakteristik masyarakat bahari bersifat lebih terbuka, baik dalam adaptasinya dengan segala sesuatu yang baru maupun keterbukaannya dalam menerima aspek-aspek kebudayaan baru yang sebelumnya tidak mereka miliki serta memiliki orientasi kehidupan ekonominya dari perdagangan (Ambary,2000:12).

Selat Malaka menjadi jalur perdagangan yang ramai sejak permulaan abad pertama, yang sering disebut sebagai jalur sutera kedua. Berada pada jalur penghubung yang menghubungkan antara daerah luar bagian barat dengan wilayah kepulauan Nusantara sebagai daerah penghasil rempah-rempah dan hasil bumi lainnya yang pada masa itu sangat laku di dalam dunia perdagangan internasional.

Beberapa bandar perdagangan serta aktivitas maritim yang ada di sepanjang pesisir timur pantai Sumatera mulai dari wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam hingga wilayah Provinsi Lampung mengalami fase tumbuh berkembang dan mundur, digantikan perannya oleh bandar perdagangan lain yang lebih menguntungkan serta adanya jaminan keamanan dari penguasa wilayah bandar perdagangan baru tersebut. Beberapa tempat di pesisir timur pantai Sumatera yang masuk dalam wilayah Provinsi Sumatera Utara menyisakan jejak aktivitas maritim dan perdagangan melalui tinggalan arkeologis, antara lain situs Pulau Kompei dan Kota Cina. Pengkajian dan penelitian terhadap kedua situs tersebut telah banyak dilakukan antara lain oleh Milner (1978), McKinnon dan Sinar (1981), Ambary (1984), serta Manguin (1989).

Keberadaan dua situs tersebut mungkin masih jauh dari upaya menggeneralisir aspek kehidupan maritim dan perdagangan masa lalu di wilayah pesisir pantai timur Sumatera. Tetapi melalui deskripsi serta penjelasan singkat, dengan mengambil sampel dua situs perdagangan di wilayah Provinsi Sumatera Utara, dapat dijadikan data tambahan bagi kajian arkeologi maritim dan perdagangan yang telah ada sebelumnya. Secara bertahap, jejak aktivitas perdagangan dan aktivitas maritim masa lalu di kedua situs tersebut dapat ditelusuri melalui temuan data arkeologis yang diindikasikan sebagai bukti adanya kontak dagang dengan daerah luar. Temuan tersebut adalah berupa fragmen keramik asing serta mata uang logam asing.

Permasalahan yang dibahas dalam tulisan ini berkenaan dengan temuan artefaktual berupa fragmen keramik dan koin Cina dari situs Kota Cina dan Pulau Kompei yang diindikasikan sebagai jejak aktivitas maritim dan perdagangan. Adapun perbandingan yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui: jenis artefak, keramik dan koin yang ditemukan di situs tersebut serta masa tumbuh kembang dan mundurnya kedua situs tersebut. Bagaimanapun, dapat dikenali bahwa keramik asing khususnya dari Cina merupakan bukti kuat adanya pertukaran barang dari daerah produksi ke daerah pemasaran, sedangkan koin merupakan bukti adanya proses tukar menukar dengan menggunakan alat pembayaran yang sah dan diakui oleh para pelaku dagang di tempat dan masa itu.

II. Kota Cina

Kota Cina merupakan salah satu situs maritm yang potensial di pesisir timur Sumatera. Secara administratif terletak di Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Medan, Provinsi Sumatera Utara. Secara astronomis Kota Cina terletak pada 3° 43′ LU dan 98° 38′ BT yang berada di daerah aliran dua sungai besar yang bermuara di Selat Malaka dengan luas wilayah situs 25 Ha (McKinnon,1978:1–5). Dua sungai tersebut adalah Sungai Deli dan Sungai Belawan yang berhulu dari daerah pegunungan Bukit Barisan dan bermuara di pesisir timur Pulau Sumatera.

Letak Kota Cina yang strategis, sebelum langsung menuju laut lepas merupakan tempat yang cocok untuk berlabuh dan singgah para pedagang. Dalam sejarah perdagangan dunia, dicatat bahwa Selat Malaka merupakan wilayah perairan yang paling ramai dalam kurun waktu awal hingga sekarang. Selat Malaka merupakan jalur perdagangan laut yang ramai dan sering disebut sebagai Jalur Sutera Laut atau Jalur Sutera Kedua. Adapun
komoditas yang diperdagangkan berasal dari berbagai wilayah di Nusantara, Cina, Eropa, India dan Timur Tengah.

Beberapa temuan artefaktual yang ditemukan di lokasi situs Kota Cina antara lain fragmen keramik Cina, arca dari bahan batu dan logam dengan ciri Cola style dari India Selatan, struktur bangunan bata (diduga candi), koin logam dengan lubang persegi di bagian tengahnya, fragmen gerabah, fragmen kaca, manik-manik serta sisa papan perahu yang ditemukan di situs Kota Cina dapat diindikasikan sebagai sisa aktivitas kemaritiman masa lalu di Kota Cina dan di pesisir timur Pulau Sumatera umumnya (Koestoro, dkk.,2004:31).

Jumlah sampel yang diambil adalah 3027 fragmen keramik berbagai jenis. Jenis pertama adalah keramik Chingpai yang merupakan jenis keramik, identik dengan bentuk wadah yang ukurannya relatif kecil dan tipis. Bahan dasarnya menggunakan stoneware dengan glasir warna putih/bening yang dihasilkan dari mineral silika (Si) yang terkadang mengalami efek samping dari pembakaran pada suhu yang tinggi, berupa retakan halus pada permukaan wadah yang sering disebut pecah seribu. Keramik Chingpai menjadi komoditas perdagangan setelah masa keemasan keramik celadon, keramik Chingpai diproduksi pada masa Dinasti Sung hingga Dinasti Yuan yang berkisar antara abad ke-12 hingga akhir abad ke-14 (Ambary,1984:69).

Jenis berikutnya adalah Celadon (green-glazed wares), yaitu jenis keramik yang memiliki ciri-ciri umum berwarna hijau dengan bahan dasar utama stoneware. Warna hijau dihasilkan dari bahan utama mineral tembaga (Cu). Motif hias dengan teknik gores dan oles yang terdapat di bawah lapisan glasir (underglaze ornament) dengan motif hias flora ataupun fauna, biasanya pada bagian dasarnya tidak semuanya terglasir, hal ini disebabkan oleh proses pemberian glasir pada wadah yang ditumpuk. Keramik celadon yang ditemukan di situs Kota Cina berasal dari daerah Provinsi Chekiang di Cina, terutama dari kiln (tungku pembuatan keramik) di Lung Chuan.

Selanjutnya adalah Te Hua wares, salah satu jenis keramik yang hampir mirip dengan keramik Chingpai/white glaze wares namun berbeda pada tingkat kekasaran perekat bahan serta kurang baiknya proses pembentukan akhir. Keramik jenis ini banyak diproduksi pada masa Dinasti Yuan sekitar abad ke-14 (Ambary,1984:69). Jenis lain adalah Coarse stone wares, yakni jenis keramik yang masih kasar dalam proses pembentukannya sehingga butiran-butiran (biscuit) pada bahan dasar yang berupa stoneware masih nampak, yang memberikan kesan kasar pada bagian badan wadah. Jenis keramik ini biasanya disebut wadah air raksa/mercury jar.

Objek arkeologi lain yang ada di situs ini adalah dua arca Buddha yang terbuat dari bahan batu granit.
Arca Buddha pertama dikenali sebagai Buddha Amithaba dengan sikap tangannya dhyanamudra, arca Buddha berikutnya juga dikenali sebagai Buddha Amitabha juga dengan sikap tangan dhyanamudra dengan Usnisa (sebuah lidah api yang muncul dari puncak kepala), pada bagian tangan dan kaki lapisan kainnya dilipat tebal sehingga menyerupai gelang. Kedua arca Buddha tersebut memiliki gaya khas India Selatan (cola style)
yang berasal dari abad ke-12–13 Masehi (McKinnon,1993/1994:59–60). Selain itu ditemukan juga arca bersifat Hindu yang diduga merupakan arca Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi tanpa bagian kepala. Temuan lain adalah lingga dan yoni, sekarang disimpan sebagai koleksi di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara. Selain temuan arca, McKinnon (1978:68) dalam penelitiannya menemukan beberapa struktur bangunan dari batu bata, fragmen kaca, fragmen gerabah, dan kepingan koin Cina yang berasal dari abad ke-11 — 13 serta manik-manik. Banyak koin ditemukan tetapi hanya beberapa yang dapat diidentifikasi, antara lain yang berasal dari masa Dinasti Tang abad ke-8 — 10, Dinasti Sung selatan abad ke-12–13, sebagian dari masa Dinasti Sung utara abad ke-11–12 (Milner,1978:28).


 

 

 

 

 

 

 

 

 

Temuan lain berupa sisa moda transportasi air yang diteliti oleh Manguin (1989) meliputi beberapa keping papan kayu perahu, memungkinkan pengenalan akan keberadaan perahu dagang dari berbagai ukuran. Berdasarkan hasil analisis C14 (carbon dating), perahu-perahu tersebut diketahui dibuat pada abad XII–XIII (Manguin,1989:217). Keberadaan temuan 17 keping papan perahu dengan berbagai macam ukuran dan bentuk, berasal dari jenis perahu yang berfungsi sebagai perahu dagang (trading ships) (Manguin,1989:205–208), menguatkan indikasi Kota Cina sebagai lokasi aktivitas perdagangan dan maritim masa lalu.

III. Pulau Kompei

Pulau Kompei secara geografis terletak di sekitar Teluk Aru, lokasinya terpisah dari daratan pulau Sumatera oleh Sungai Serangjaya. Posisi pulau yang berada di pesisir timur pantai Sumatera ini menghadap langsung ke selat Malaka. Bentang lahan pulau berupa daerah berrawa yang banyak ditumbuhi mangrove (Rhizophora Sp.). Secara astronomis Pulau Kompei terletak pada 4º 12′ LU dan 98º 15′ BT. Pulau Kompei secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara (McKinnon,1981:51).

Peta Lokasi Kota Cina dan Pulau Kompei

(Sumber: McKinnon, 1981: 55, diperbaharui seperlunya)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam sumber sejarah, daerah Teluk Aru pada awal abad ke-16 berada di bawah kekuasaan Aceh, kemudian pada kurun waktu antara tahun 1795 hingga tahun 1811 dikuasai oleh Siak (Schader,1918:2 dalam McKinnon,1981:52). Pada abad ke-19 daerah Teluk Aru masuk dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Langkat yang meliputi lima daerah administratif subdistrik, yaitu Pulau Kompei, Besitang, Lepan, Babalan dan Pulau Sembilan (McKinnon,1981:52).

Beberapa fakta arkeologi yang ditemukan pada kegiatan survey permukaan di situs Pulau Kompei antara lain fragmen keramik Cina, gemstone, fragmen kaca, pecahan wadah yang terbuat dari tanah, manik-manik (glass beads of cornelian) dari India Selatan, koin asing (Cina), pecahan bata merah, dua pecahan batu granit serta beberapa patung kecil terbuat dari perunggu. Pada beberapa tempat terdapat lapisan cangkang kerang tipis dari jenis yang oleh orang setempat dinamakan seteng (Placuna Sp.) (McKinnon,1981:56, Sinar,tt:7).

Temuan fragmen keramik di situs Pulau Kompei terdiri dari beberapa bentuk wadah dalam berbagai ukuran. Sebuah mangkuk stoneware utuh serta 95 pecahan fragmen keramik diduga dari berbagai macam wadah dengan bentuk dan ukuran yang beragam. Beberapa di antaranya merupakan jenis keramik Chingpai
glazed
porcelain, green-glazed Lungchuan (celadon) ware, greyish-yellow glazed porcelain, clear-glazed stoneware bowl dengan warna slip putih, white glazed stoneware bowl. Beberapa temuan bata mirip dengan temuan di situs Kota Cina. Ditemukan pula sebanyak 36 keping koin logam yang telah mengalami korosi, koin tersebut terdiri atas 5 koin dari masa Dinasti Tang abad ke- 8–10; 27 koin dari masa Dinasti Sung Utara abad ke- 11–12; 3 koin tidak teridentifikasi, serta satu buah koin Hindia Belanda dengan angka tahun 1907 (McKinnon,1981:73). Disamping itu ada pula temuan mata uang yang berasal dari zaman Dinasti Ming (Sinar,tt:7).

Keberadaan keramik asing, terutama berasal dari daratan Cina dapat diidentifikasi untuk mendapatkan umur relatifnya. Keramik Chingpai merupakan jenis keramik yang identik dengan bentuk wadah yang relatif kecil ukurannya dan tipis. Bahan dasarnya menggunakan stoneware dengan glasir warna putih/bening yang dihasilkan dari mineral silika (Si) yang terkadang mengalami efek samping dari pembakaran pada suhu yang tinggi, berupa retakan halus pada permukaan wadah yang sering disebut pecah seribu. Keramik Chingpai diproduksi pada masa Dinasti Sung hingga Dinasti Yuan berkisar antara abad ke-12 hingga akhir abad ke-14. Kemudian jenis keramik Lungchuan
green-glazed ware (celadon), yaitu jenis keramik yang memiliki ciri-ciri umum berwarna hijau berbahan dasar utama stoneware dengan pembakaran pada suhu 900˚C–1200˚C. Warna hijau dihasilkan dari bahan utama mineral tembaga (Cu). Diproduksi massal untuk kebutuhan perdagangan dan ekspor Cina masa Dinasti Sung abad ke-11–12 Masehi (Ambary,1984:66). Walaupun demikian ada beberapa kiln Lungchuan sudah berproduksi pada akhir masa Dinasti Tang abad ke-10. Keramik jenis grayish-yellow
glazed porcelain, clearglazed stoneware dengan warna slip putih, white
glazed stoneware merupakan karakteristik yang dimiliki keramik masa Dinasti Tang dari abad ke-9–10 dengan ciri ornamen hiasan sederhana, warna underglazed serta teknologi glasirnya yang masih kasar.

IV. Kota Cina dan Pulau Kompei dalam perbandingan

Dari uraian di atas kita dapat melihat perbandingan atas jenis temuan fragmen keramik dan koin, serta ragam jenis temuan fragmen keramik dan koin yang ditemukan di kedua situs tersebut. Perbandingan tersebut ditujukan untuk melihat ragam jenis temuan, asal serta periode dinasti dari artefak di situs Kota Cina dan Pulau Kompei. Hal tersebut dapat memberi sedikit penjelasan tentang rentang waktu aktivitas perdagangan yang ada di kedua situs tersebut.

No. 

Jenis, asal dan periode 

Kota Cina 

Pulau Kompei 

Ada 

Tidak 

Ada 

Tidak 

1. 

Lungchuan (celadon), Cina abad X — XII M

v 

 

v 

 

2. 

Chingpai, Cina abad XII — XIII M

v 

 

v 

 

3. 

Te Hua wares, Cina abad XIV M 

v 

 

 

v 

4. 

Coarse stone wares, Cina abad XIII — XIV M 

v 

 

 

v 

5. 

Grayish-yellow glazed porcelain, Cina abad IX — X M 

 

v 

v 

 

6. 

Clear glazed porcelain, Cina abad IX — X M

 

v 

v 

 

7. 

White glazed porcelain, Cina abad IX — X M 

 

v 

v 

 

Tabel perbandingan keramik: jenis, asal dan periode

Dari tabel di atas dapat dilihat, data jenis keramik yang ditemukan di kedua situs memiliki persamaan dan perbedaan jenis serta asalnya. Temuan keramik di situs Kota Cina berasal dari rentang masa abad ke-10 hingga abad ke-14. Sedangkan temuan keramik di situs Pulau Kompei berasal dari rentang masa abad ke-9 hingga abad ke-13. Berdasarkan tabel di atas secara kuantitas jenis keramik yang ditemukan di situs Pulau Kompei lebih banyak serta berasal dari masa yang lebih tua bila dibandingkan dengan temuan keramik di situs Kota Cina.

No. 

Asal dan periode 

Kota Cina 

Pulau Kompei 

Ada 

Tidak 

Ada 

Tidak 

1. 

Dinasti Tang abad VIII — X M. 

v 

 

v 

 

2. 

Dinasti Sung Utara X — XII M. 

v 

 

v 

 

3. 

Dinasti Sung Selatan XII — XIII M. 

v 

 

 

 

4. 

Dinasti Ming XIV — XVII M. 

 

v 

v 

 

Tabel perbandingan koin: asal dan periode

Perbandingan ragam koin Cina menunjukkan lebih banyak dari situs Kota Cina dibandingkan dengan temuan dari Pulau Kompei. Asal serta jenis koin Cina yang ditemukan di situs Kota Cina berasal dari masa Dinasti Tang abad ke-8 hingga masa Dinasti Sung Selatan abad ke-13. Sedangkan temuan di situs Pulau Kompei berasal dari masa Dinasti Tang abad ke-8 hingga masa Dinasti Sung Utara abad ke-12 serta temuan koin dari masa Dinasti Ming sekitar abad ke-14–17. Dari data tersebut didapat gambaran variabel data yang relatif sama di antara kedua situs tersebut. Perbedaan terletak pada beberapa jenis temuan koin yang berasal dari masa Dinasti Sung Selatan abad ke- 12–13 yang tidak ditemukan di situs Pulau Kompei dan koin dari masa Dinasti Ming abad ke- 14–17 yang tidak ditemukan di situs Kota Cina.

Perbedaan ragam temuan memberikan sedikit penjelasan kondisional kedua situs tersebut. Penjelasan sementara berdasarkan data pembanding di atas, situs Pulau Kompei pernah menjadi tempat perdagangan pada masa yang lebih awal dibandingkan dengan situs Kota Cina yaitu sekitar rentang waktu abad ke- 9–13. Lalu pada rentang masa abad ke- 12–13 mengalami sebuah kekosongan peran sebagai sebuah bandar dan muncul kembali pada rentang masa abad ke- 14–17 dengan indikasi ditemukannya koin dari masa Dinasti Ming. Situs Kota Cina pernah menjadi tempat perdagangan pada rentang masa antara abad ke- 10–14. Hal tersebut memberikan sedikit gambaran awal babakan masa relatif pemakaian kedua situs tersebut yang ditinjau berdasarkan temuan jenis keramik dan koin Cina.

V. Penutup

Jumlah temuan masing-masing variabel pembanding masih lebih banyak ditemukan dari situs Kota Cina dibandingkan dengan yang berasal dari situs Pulau Kompei. Adapun upaya perbandingan yang telah dilakukan memang belum dapat memastikan bahwa situs Pulau Kompei lebih awal menjadi sebuah tempat perdagangan sekitar abad ke-9 hingga ke-13, lalu mengalami masa penurunan aktivitas pada rentang masa abad ke-14. Justru pada masa itu Kota Cina masih menjadi tempat perdagangan yang ramai. Setelah abad ke-14 barulah Kota Cina tampak mengalami kemunduran dan sebaliknya Pulau Kompei muncul kembali sebagai tempat aktivitas perdagangan pada awal abad ke-15 hingga abad ke-17. Berdasarkan perbandingan yang telah dilakukan indikasi untuk merujuk hal tersebut telah ada. Tentunya masih dibutuhkan upaya lebih lanjut untuk mendapatkan generalisasi yang kuat tentang hal tersebut di atas.

Kepustakaan

Ambary, H. Muarif, 1984. Further Notes On Classification Of Ceramics From The Excavation Of Kota Cina, dalam Studies On Ceramics, Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, hal. 63–72

———————, 2000. Peranan Beberapa Bandar Utama Di Sumatera Abad Ke- 7–16 M Dalam Jalur Perdagangan Internasional, dalam PROCEEDINGS Internasional Symposium For Japanese Ceramics of Archaeological Sites In South-East Asia: The Maritim Relationship On 17th Century. Jakarta: Pusat Arkeologi dan The Japan Foundation, hal. 12–23

Koestoro, Lucas Partanda dkk., 2004. Sekilas Balai Arkeologi Medan Dalam Pengembangan dan Pemasyarakatan Ilmu Serta Pengembangan Kebudayaan. Medan: Balai Arkeologi Medan

Manguin, P. Y., 1989. The Trading Ships Of Insular South-East Asia, dalam PIA V. Jakarta: IAAI, hal. 200–219

Milner, A. C., dkk., 1978. A Note On Aru And Kota Cina. Indonesia, October, 26

McKinnon, E. E. dan T. Luckman Sinar, 1981. A Note On Pulau Kompei In Aru Bay, Northeastern Sumatera, dalam INDONESIA Vol. 32. Southeast Asia Programme, Cornell University, hal. 49–73

——————–,1993/1994. Arca-Arca Tamil Di Kota Cina, dalam Saraswati Esai-esai Arkeologi 2, KALPATARU Majalah Arkeologi No. 10. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hal. 53–79

Sinar, T. Luckman, tt. Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur. Medan: tp.

Wangheng, Chen, 2001. Chinese Bronzes. Singapore: Asiapac Books LTD.

Written by balarmedan

Januari 8, 2009 at 3:41 am

Ditulis dalam Uncategorized

NISAN PLAKPLING, TIPE NISAN PERALIHAN DARI PRA- ISLAM KE ISLAM

with one comment

Repelita Wahyu Oetomo

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

The plakpling gravestone type spreaded a lot in Aceh, which is quiet possible that it’s a change of type from pre Islam to Islam era. From the inscriptions on it’s surface, this gravestone was assumed that it’s older than other gravestones.

 

Kata kunci: plakpling, nisan, pra- Islam ke Islam

 

I. Pendahuluan

Di Kabupatan Aceh Besar, tepatnya di dalam Benteng Kuta Lubuk, Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya terdapat beberapa buah nisan yang memiliki bentuk unik. Batu nisan tersebut secara umum berbentuk batu tegak atau tugu persegi empat yang semakin ke atas semakin meruncing, membentuk piramida. Berdasarkan informasi penduduk, batu nisan tersebut dinamakan nisan Plakpling (Montana,1996/1997:86). Sebutan Plakpling, berdasarkan suatu nama tempat di Aceh, dimana banyak terdapat, tipe-tipe nisan sejenis. Batu-batu nisan tersebut kemungkinan merupakan bentuk peralihan dari masa pra-Islam ke Islam. Penulis mendapatkan data-data sejenis saat melakukan pengamatan di Kabupaten Aceh Besar bersama Tim Penelitian yang diketuai M. Cholid Sodrie. Seperti halnya penulis lainnya, Cholid Sodrie sependapat bahwa nisan-nisan tersebut digunakan pada makam orang-orang ternama atau ulama Aceh yang berasal dari abad ke-16 atau lebih awal dari itu.

Hasil pembacaan yang dilakukan oleh Suwedi Montana terhadap beberapa nisan yang terdapat di dalam Benteng Kuta Lubuk menunjukkan angka tertua adalah 680 H (1211 M) (Montana,1997:86). Pertanggalan tersebut menunjukkan umur yang lebih tua dibandingkan dengan nisan Sultan Malik as-Shaleh di Samudera Pasai -berangka tahun 696 H (1297 M)- yang dikenal sebagai daerah asal mula penyebaran Islam.

Nisan-nisan tipe ini banyak tersebar di hampir semua tempat di Aceh. Bentuk nisan ini cukup unik karena cenderung lebih menyerupai lingga ataupun menhir. Bentuk-bentuk penyesuaian dari masa pra-Islam ke Islam. Nisan-nisan tersebut merupakan kelanjutan atau bersumber pada tradisi sebelumnya, prasejarah dan klasik. Nisan tersebut dilengkapi dengan pola hias, berupa pahatan flora, geometris atau kaligrafi. Nisan-nisan tersebut meniru/menyerupai bentuk menhir atau lingga yang sangat umum dipakai pada masa prasejarah dan masa klasik/Hindu-Buddha.

II. Nisan-nisan plakpling di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Besar

II.1. Nisan di Kompleks Makam Ratu Nahrisyah

Kompleks makam ini berada di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Bagian bawah nisan berukuran, lebar 14 cm, dengan ketinggian mencapai 80 cm.

Dasar: tertanam dalam tanah.

Badan bagian bawah: persegiempat, di tiap sisi terdapat panil-panil berisi kaligrafi.

Badan bagian atas: terdapat
hiasan dengan sulur-suluran sederhana dengan motif bungong awan si tangke (unsur tunggal hiasan awan). Di bagian tengah terdapat panil yang dibiarkan dalam keadaan kosong. Terpisah dari bagian kepala terdapat panil horisontal berisi ukiran bungong aneu abie (berudu).

Kepala: menyerupai
bentuk
bawang/ojief persegi empat.

Atap: persegi empat, bersusun tiga, semakin ke atas semakin mengecil.

II.2. Nisan di Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar

 

 

Nisan 1

Terletak di dalam Benteng Kuta Lubuk. Nisan berukuran tinggi sekitar 80 cm.

Badan bagian bawah: berbentuk persegi empat berukuran 20 cm. Tiap sisi terdapat panil yang berisi hiasan berupa kaligrafi maupun motif sulur-suluran.

Badan bagian atas: semakin ke atas nisan semakin mengecil (piramid). Pada setiap sisi terdapat ukiran dengan motif sulur-suluran bungong awan ( awan, sulur atau hiasan) di keempat sisi dengan gaya cukup meriah.

Atap: meruncing tanpa hiasan/polos.

Nisan 2


Badan bagian bawah: persegiempat dengan sisi-sisinya tidak tajam. Tidak terdapat hiasan.

Badan bagian atas: dibatasi oleh pelipit, berbentuk persegiempat polos.

Kepala: dibatasi oleh pelipit, semakin ke atas semakin mengecil, polos.

Atap: persegiempat semakin ke atas semakin mengecil.

 

 

Nisan 3

Dasar: polos, berukuran lebih besar dibandingkan dengan bagian di atasnya. Dipahat kasar, berkaitan peletakannya, di dasar tanah/tertanam. Bahan baku yang digunakan berkualitas kurang baik, mengakibatkan pembentukannya menjadi kurang sempurna dan gampang pecah.

Badan bagian bawah: polos dengan pahatan lebih rapi dibandingkan bagian bawahnya/dasar.

Badan bagian atas: terdapat panil berisi
ukiran dengan motif bungong awan, demikian juga dengan sisi yang lain.

Atap/kepala: berbentuk oval, horisontal.

 

 

 

Nisan 4

Yang tampak adalah bagian badan atas dan atap/kepala, adapun bagian lain tertanam dalam tanah. Nisan terbuat dari batuan yang rapuh sehingga sebagian hiasannya aus.

Badan bagian atas: hiasan terdapat pada keempat sisinya. Di tiap sisi terdapat panil yang membatasi masing-masing hiasan. Pola hias yang digunakan adalah sulur-suluran sederhana pada keempat sisinya.

Kepala: berbentuk bawang, polos.

Atap/puncak: sebagian
telah pecah, semakin ke atas semakin mengecil.

Nisan 5

Kondisinya relatif utuh, terbuat dari jenis batuan andesit, dihias dengan motif sederhana namun cukup menarik. Tinggi keseluruhan nisan diperkirakan sekitar 85 cm.

Dasar: merupakan bagian yang tertanam di dalam tanah, dibentuk namun kasar.

Badan bagian bawah: bentuk yang membatasinya dari bagian dasar. Badan bagian bawah merupakan kubus dengan ukuran lebar sekitar 20 cm. Pada tiap-tiap sisi terdapat panil, dimana panil tersebut dibagi menjadi tiga. Pada masing-masing panil, pada keempat sisinya terdapat kaligrafi.

Badan bagian atas: dihiasi dengan empat susun ukiran dengan motif bungong awan si tangke dan bungong glimo (bunga buah delima). Ukiran dengan motif tersebut di atas juga terdapat pada sisi-sisi lainnya. Di bagian sudut ukiran dibuat menembus pada sisi lainnya sehingga pada bagian sudut hiasan tampak menyatu. Makin ke atas nisan makin mengecil.

Kepala: berbentuk bawang dengan sisi persegiempat.

Atap: berbentuk piramid semakin ke atas semakin mengecil.

 

 

 

Nisan 6

Fragmentaris, yang tersisa hanya badan bagian atas dan atap/kepala.

Badan bagian atas: di tiap-tiap sudut terdapat panil. Di dalamnya terdapat hiasan berupa bungong awan dan keupula/seuleupo (tanjung/corak bunga yang lain).
Ukiran tersebut merambat sampai ke bagian atas. Di bagian atas nisan semakin mengecil.

Atap/puncak: persegiempat dan semakin ke atas makin mengecil.

 

 

Nisan 7

Berbahan dasar batuan andesit.

Dasar: dipahat tidak rapi, mengingat keletakannya berada di dalam tanah. Sebagai pembatas dari bagian bawah terdapat pelipit.

Badan bagian bawah: dibatasi oleh pelipit dari bagian dasarnya. Ketebalan tiap-tiap sisi 20 cm. Terdapat panil di tiap-tiap sisi. Dua sisi yang bertolak belakang panil dihiasi dengan ukiran bermotif bungong keupula (tanjung/lotus)
atau bunga teratai yang sedang mekar, dua sisi lainnya dihiasi dengan motif bungong keupula yang sedang kuncup .

Badan bagian atas: terdapat hiasan
dengan
motif hias berupa bungong awan sambung-menyambung sebanyak tiga susun.

Atap: dibatasi pelipit berbentuk bawang.

Nisan 8

Berbahan batuan kapur, berwarna putih kekuningan.

Dasar: dikerjakan tidak rapi mengingat posisinya tertanam dalam tanah. Membatasi dengan bagian badan terdapat dua lapis pelipit.

Badan bagian bawah: terdapat panil pada keempat sisinya yang masing-masing berisi kaligrafi. Kaligrafi dalam kondisi telah aus sehingga menyulitkan pembacaan.

Badan bagian atas: terdapat panil yang di dalamnya berisi hiasan berupa bungong awan tersusun sebanyak tiga tingkat sampai ke bagian atas.

Kepala/atap: berbentuk oval, horisontal. Bagian atas/atap berbentuk bawang, semakin ke atas makin mengecil.

 

 

 

Nisan 9

Fragmentaris, yang tersisa hanyalah badan bagian bawah, sedangkan bagian dasarnya tertanam dalam tanah. Bagian bawah nisan persegi empat berukuran, lebar 14 cm, dengan ketinggian hanya sekitar 20 cm.

Bagian dasar dibatasi oleh pelipit dan panil-panil di tiap-tiap sisi, yang didalamnya terdapat ukiran dengan motif berupa bungong awan pada dua sisi, sedang dua sisi yang lain dihiasi dengan motif bungong keupula (teratai yang mekar). Pada bagian atas pecah sehingga tidak diketahui motif hiasnya.

 

 

Nisan 10

Fragmentaris, yang tersisa hanyalah badan bagian bawah, sedangkan bagian dasarnya tertanam dalam tanah. Fragmen nisan ini berbentuk persegi empat dengan lebar tiap sisi 12 cm. Adapun tinggi nisan dari permukaan tanah hanya sekitar 20 cm.

Bagian dasar dibatasi oleh pelipit dan panil-panil di tiap-tiap sisi, yang didalamnya terdapat ukiran dengan motif bungong awan, bungon keupula serta motif-motif geometris lain yang tidak diketahui karena kondisinya telah aus. Motif-motif hias ini dibatasi dengan pelipit/panil, sedangkan di bagian atasnya masih terdapat motif hias berupa sulur yang kondisinya agak aus.

 

 

Nisan 11

Kondisi nisan telah rebah dan tertanam dalam tanah. Yang tampak di permukaan adalah sebagian dasarnya, badan bagian bawah dan badan bagian atas.

Dasar: merupakan sebagian potongan. Berukuran lebih lebar dibandingkan bagian atasnya dan dipahat tidak rapi, karena keletakannya tertanam dalam tanah.

Badan bagian bawah: persegiempat. Berukuran lebar tiap sisi sekitar 14 cm. Di bagian bawah tiap sisi terdapat panil dengan tinggi sekitar 12 cm. Pada masing-masing panil terdapat ukiran dengan motif hias berupa flora.

Badan bagian atas: berada pada panil berikutnya. Motif hias yang tampak hanya sebagian dengan motif hias berupa bungong awan, bungong puta taloe dua (pilinan dua utas tali) dan bungong seuleupo.

 

 

Nisan 12

Nisan telah rebah dan tertanam dalam tanah. Bagian atasnya bahkan tampak telah patah.

Dasar: relatif utuh, walaupun sebagian terbenam dalam tanah. Menilik ukurannya, bagian dasar nisan berukuran lebih besar dibandingkan bagian badannya, dengan pahatan yang tidak rapi.

Badan bagian bawah: persegiempat, terdapat bidang yang dibatasi oleh panil di keempat sisi, berukuran lebar 14 cm dan tinggi 12 cm. Pada panil-panil itu terdapat hiasan berupa sulur-suluran yang agak aus.

Badan bagian atas: dibatasi juga dengan panil-panil di keempat sisi. Di bagian ini tampak ukuran nisan semakin mengecil/mengerucut. Kemungkinan bagian ini dibatasi juga dengan panil-panil. Motif hias yang digunakan tidak diketahui, kemungkinan bungong awan dipadukan dengan bungong seuleupo.

Atap/kepala: kondisinya telah patah dan bagian patahannya terletak tidak jauh dari bagian nisan tersebut. Pola hias dan bentuk yang digunakan tidak diketahui.

III. Pembahasan

Sejarah Aceh menyebutkan, sebelum Kerajaan Pasai, yang dipimpin oleh Sultan Malik as-Shaleh, sudah terdapat kerajaan Islam dengan rajanya bergelar Sultan, dengan nama Sultan Johansyah yang memerintah pada tahun 1205 M. Makam sultan ini terletak di Kompleks Makam Kampung Pande, di Kota Banda Aceh. Walaupun pada makam tersebut tidak terdapat angka tahun namun apabila dilihat dari bentuk nisannya kemungkinan memiliki umur lebih tua. Pada nisan tersebut terukir kaligrafi dengan huruf khat, dengan beragam ukiran dan bentuk nisan lebih menyerupai bentuk candi atau gading.

Makam tokoh Pahlawan Syah, juga menggunakan nisan tipe ini. Pahlawan Syah dianggap merupakan musuh dari Meureuhom Daya yang mulanya menolak masuk Islam. Pahlawan Syah disebut juga dengan sebutan Datuk Pegu, atau Husein. Cerita ini sangat berkembang di masyarakat. Pada nisan Pahlawan Syah terdapat pertulisan/kaligrafi yang menyebutkan nama Husein serta angka tahun kata ” Tis’in wasab’a mi’ah” atau sembilan puluh dan tujuh ratus 790 H (1388 M). Pada nisan tersebut juga terdapat medali yang mirip dengan soleil de Majapahit (Montana,1997:90)

Pertulisan yang terdapat pada nisan tipe plakpling di kompleks makam benteng Kuta Lubuk juga menunjukkan angka tahun yang cukup tua, pembacaan yang dilakukan oleh Suwedi Montana terhadap salah satu nisan menghasilkan data berupa angka tahun sebagai berikut:

….assulthan Sulaiman bin Abdullah bin al Basyir

Tsamaniata wa sita mi’ah

680 H ( 1211 M)

Lebih jauh Suwedi Montana menyebutkan, apabila kematian Sultan Sulaiman bin Abdullah bin Al Basyir adalah pada tahun Tsamaniata wa sita mi’ah, 680 H (1211 M), berarti jauh sebelum itu di Lamreh, lokasi benteng Kuta Lubuk, sudah berkembang Agama Islam. Hal ini diketahui dari nama ayah dan kakek Sultan Sulaiman (Abdullah bin Basyir) yang berbau Islam (Montana,1997:87).

Tumbuh dan berkembangnya budaya Islam di Nusantara, menghasilkan dan meninggalkan peradaban yang secara ideologis bersumber pada Alqur’an dan Al-hadist. Sementara itu secara fisik memperlihatkan anasir kesinambungan dengan anasir budaya pra-Islam. Corak lokal merupakan wujud dari kebebasan seniman ataupun model yang berkembang dalam mengekspresikan cita rasa keseniannya. Perkembangan bentuk dari yang sederhana sampai pada yang rumit adalah sebagai respon dari pengetahuan, teknologi yang mereka peroleh (Ambary,1991:1).

Menilik bentuk dari nisan-nisan tipe ini, kemungkinan nisan ini merupakan tipe nisan yang dipakai berkelanjutan, mulai dari masa-masa awal kedatangan Islam sampai pada beberapa abad sesudahnya. Nisan tipe ini masih digunakan berdampingan dengan periode sesudahnya, walaupun pada masa itu telah terjadi perubahan trend tipe nisan, yaitu nisan tipe Gujarat atau tipe-tipe “Batu Aceh” lainnya.

Menilik pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa nisan-nisan dengan tipe plakpling, merupakan nisan-nisan tipe peralihan, pra-Islam ke Islam. Batu nisan tipe ini berbentuk sederhana, sebelum dipakainya batu nisan yang disebut “Batu Aceh”, (nisan tipe Aceh). Batu-batu ini umumnya memiliki gaya sederhana namun diberi hiasan berupa relief dan/atau inskripsi. Nisan tipe ini merupakan awal perkembangan, melanjutkan tradisi yang telah ada sebelumnya. Bentuk nisan seperti mengadopsi bentuk-bentuk phallus/Lingga, meru dan menhir dengan hiasan-hiasan yang disesuaikan. Bentuk/tipe-tipe nisan seperti ini banyak terdapat di Sumatera Barat, di tempat-tempat lain persamaan dari bentuk-bentuk nisan tersebut, di situs-situs megalithik, dikenal sebagai menhir. Tipe-tipe nisan tersebut di atas, menunjukkan pengaruh yang sangat kental dari tradisi-tradisi megalithis dan Hinduistis. Adapun bentuk-bentuk motif hiasan yang dipakai kemungkinan merupakan perpaduan dari budaya tersebut.

Salah satu penyebab munculnya nisan tipe plakpling adalah karena latar belakang sejarah budaya nusantara yang permisive terhadap anasir apapun yang datang dari luar. Masyarakat nusantara tidak pernah menolak anasir asing, tetapi harus melewati pengolahan, pengimbuhan, penggubahan dsb. Kreativitas mengubah dan menggubah anasir asing menjadi anasir nusantara merupakan strategi adaptasi, karena proses seleksi sampai disosialisasikan sebagai pranata perilaku. Sejarah membuktikan bahwa ketangguhan dan kemampuan seleksi serta adaptasi bangsa Indonesia lebih bersifat alamiah, intuitif dan handal (Ambary,1991:21). Dengan modifikasi bentuk dan gaya, nisan Malik At-Thahir dapat digolongkan menjadi tipe ini, mengingat bentuknya berupa tugu tegak, dengan bagian kepala/atap berbentuk bawang.

IV. Penutup

Nisan plakpling terdapat hampir di seluruh wilayah Aceh, dengan populasi terbanyak adalah di Kabupaten Aceh Besar dan Banda Aceh yang notabene masih bertetangga. Untuk itu diperlukan penelitian lebih mendalam untuk mengetahui variasi bentuknya, pola hias, periodisasi serta persebarannya. Diharapkan melalui penelitian yang lebih mendalam akan diketahui secara pasti keberadaan nisan tipe ini, mengingat nisan-nisan ini merupakan merupakan temuan yang sangat penting, menghubungkan kesenjangan yang ada antara tradisi pra Islam ke Islam.

Kepustakaan

Akbar, Ali, 1990. Peranan Kerajaan Islam Samudera – Pasai Sebagai Pusat Pengembangan Islam Di Nusantara. Lhok Seumawe: Pemda Tk II
Kabupaten
Aceh Utara

Ambari, Hasan M. 1991. Makam-makam Kesultanan dan Para Wali Penyebar Islam di Pulau Jawa, dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 12. Jakarta: Puslitarkenas

——————–1994. Some Aspects of Islamic Architecture in Indonesia,
dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 14. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

——————–1996. Makam-makam Islam di Aceh, dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 19. Jakarta: Puslitarkenas

——————–1997. Kaligrafi Islam Di Indonesia, Telaah Dari Data Arkeologi, dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 20. Jakarta: Puslitarkenas.

Montana, Suwedi, 1996/1997. Pandangan Lain Tentang Letak Lamuri Dan Barat (Batu Nisan Abad Ke VII – VIII Hijriyah di Lamreh dan Lamno, Aceh), dalam Kebudayaan No 12 th VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hal. 83–93

Perret, Daniel dan Kamarudin Ab. Razak, 1999. Batu Aceh, Warisan Sejarah Johor. Johor Bahru: EFEO dan Yayasan Warisan Johor

Yatim, DR. Othman Mhd, 1988. Batu Aceh, Early Islamic Gravestones in Peninsular Malaysia. Kuala Lumpur: Museum Association of Malaysia c/o Muzium Negara

———————-dan Abdul Halim Nasir, 1990. Epigrafi Islam Terawal Di Nusantara. Selangor: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka

Written by balarmedan

Januari 8, 2009 at 3:37 am

Ditulis dalam Uncategorized

DAMPAK PERKEMBANGAN JALUR TRANSPORTASI TERHADAP KEHIDUPAN MASYARAKAT AKIT DI DESA HUTAN PANJANG, PULAU RUPAT

leave a comment »

Nenggih Susilowati

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

 

The results of interaction with other community made cultural changes and developments. As the results of the development in the transportation lane influenced the Akit community. Changes not only for the cultural social but also for the nature sphere.

 

Kata kunci:
transportasi, berburu, pertanian

 

I. Pendahuluan

Masyarakat Akit adalah masyarakat yang telah lama menghuni Pulau Rupat yang berada di wilayah Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Terdapat kisah yang disampaikan secara turun-temurun tentang masyarakat tersebut berkaitan dengan asal muasal dan keberadaannya hingga sampai ke Pulau Rupat. Awalnya suku-suku Rakit, Ratas, Hutan, Sakai berasal dari Minang (Pagaruyung). Ketika terjadi peperangan dengan Belanda mereka mundur mengungsi ke hutan lalu ke sungai Mandau kemudian ke Sungai Siak Indrapura. Pada masa pemerintahan Sultan Sarif Karim IX, diadakan kenduri dan menyuruh orang untuk mengambil kayu di hutan, sehingga dibagi 4 kelompok, yaitu; kelompok menebang kayu (hutan), meratas (ratas), merakit (rakit), dan Sakai. Setelah seminggu mereka kembali ke Siak dengan membawa kayu. Kemudian keempat suku diperintahkan mencari tempat atau pulau yang tidak ada binatang buas, sampailah kelompok Rakit dan Ratas ke suatu pulau. Kelompok tersebut menyusuri sungai Selat Morong dari barat hingga ke timur. Semula yang mendiami pulau tersebut adalah orang Rampang yang kemudian dikenal dengan suku Laut. Mereka diperbolehkan menempati pulau tersebut dengan membawa barang-barang sebagai alat penukar seperti; sebatang pendayung emas, sekerat biji beras, dan sekerat tampi sagu. Kemudian kelompok tersebut ke Bukit Batu menghadap ke Laksmana Raja Dilaut untuk meminta bahan-bahan itu. Selanjutnya Laksmana meneruskan ke Sultan Siak, bahan-bahan tersebut diberikan ke Laksmana, kemudian diberikan ke kelompok tersebut dan oleh kelompok itu diserahkan ke orang Rampang. Terjadilah pertukaran tempat yang akhirnya pulau itu dikenal dengan Pulau Rupat (Pulau Tukar Tempat). Selanjutnya kelompok Ratas menetap di Titi Akar, di bagian timur sungai Selat Morong (sekarang masuk Kecamatan Rupat Utara), dan kelompok Rakit menetap di Hutan Panjang, di bagian barat sungai Selat Morong (Kecamatan Rupat). Sebagian kelompok masyarakat asli yang semula tinggal di Desa Titi Akar kemudian menyebar ke Batu Panjang dan Kampung Rampang tidak jauh dari tepi pantai.

Keberadaan pemukiman mereka yang berdekatan dengan perairan menarik untuk dicermati terutama bagi masyarakat Akit di Desa Hutan Panjang yang tinggal di dekat sungai Selat Morong, sekalipun kini pemukiman mereka letaknya lebih masuk ke bagian daratan. Menurut teori ekologi, manusia berinteraksi dengan lingkungan hidupnya. Ia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Ia membentuk dan terbentuk oleh lingkungan hidupnya (Soemarwoto,2004:54). Berkaitan dengan hal itu melalui makalah ini dicoba ditelusuri perubahan dan perkembangan yang terjadi pada masyarakat Akit, serta lingkungan alam dan sosial budayanya melalui budaya materi yang masih tersisa hingga kini.

II. Budaya materi pada masyarakat Akit

Masyarakat Akit yang tinggal di Desa Hutan Panjang kini sebagian besar menganut agama Buddha. Namun kehidupan masyarakatnya masih kental dengan tradisi lamanya, meliputi upacara-upacara tradisional yang masih terpengaruh kepercayaan animisme/dinamisme menyangkut siklus hidup seperti kelahiran, perkawinan, dan kematian. Upacara-upacara adat yang lain juga dilakukan seperti upacara pembuatan rumah dan bedah kampung. Demikian juga dengan pengobatan penyakit terkadang juga masih secara tradisional dan dipercayakan pada seorang Bomo (dukun). Salah satu peralatan yang digunakan oleh Bomo untuk pengobatan disebut Balai. Balai terbuat dari bahan kayu dan dicat. Sepintas bentuknya mirip dengan miniatur rumah. Di bagian dalam dan luar balai merupakan tempat untuk meletakkan sesajian. Di bagian dalam balai terdapat lilin dari sarang lebah, mangkuk, tempat kemenyan dari tempurung kelapa, dan guci kecil. Di bagian atas juga dihiasi dengan gantungan miniatur kapal, pesawat, dan burung yang berfungsi sebagai tempat meletakkan sesajian. Balai digunakan kalau ada orang yang sakit dan apabila sudah sembuh maka memberi sesajian. Upacara dilaksanakan pada hari Jumat dengan meletakkan sesajian berupa kue, makanan, berkih (beras yang digoreng), wajit, lemak, dan lain-lain. Peralatan yang digunakan dalam kegiatan upacara selain balai antara lain: kotak Puan (tempat sirih, pinang, gambir, kapur, tembakau, daun nipah), kacip untuk membelah pinang, bebana, dan pakaian adat.

Upacara lain yang kerap dilakukan adalah upacara sebelum menanam padi. Lokasi upacara di Desa Hutan Panjang terletak di RT 13, dekat tempat pembuatan perahu kayu. Peralatan yang digunakan adalah langgar/pelantar kayu yang didirikan di atas tiang-tiang kayu sederhana sebagai tempat meletakkan sesajian. Adanya tempat khusus sebagai lokasi upacara tersebut menggambarkan bahwa pelaksanaan kegiatan tersebut rutin dilaksanakan dan sebagai bagian upacara adat yang cukup penting bagi masyarakatnya.

Kegiatan lain yang mencirikan sebagai masyarakat yang hidup di sekitar sungai adalah pembuatan perahu. Saat survei ke daerah tersebut (2006) aktivitas pembuatan perahu jelas terlihat. Perahu-perahu yang dibuat umumnya perahu papan (planked boat), sedangkan perahu lesung (dug-out canoe) sudah jarang dibuat. Perahu berukuran kecil biasanya menggunakan kayu rambai. Keahlian pembuatan perahu diwarisi secara turun-temurun.

Salah satu keistimewaan yang ditemukan di Desa Hutan Panjang adalah keberadaan makam masyarakat Akit. Terletak tidak jauh dari perkampungan sekitar 600 m di bagian utara terdapat pemakaman yang menempati areal berukuran panjang 200 m, dan lebar 70 m. Makam-makam yang terdapat di areal tersebut umumnya berorientasi timur-barat dengan bagian kepala terletak di barat, namun menggunakan nisan-nisan seperti yang terdapat pada makam-makam Islam. Nisan pipih digunakan untuk makam perempuan dan nisan gada digunakan untuk nisan laki-laki. Menurut informasi dahulu lokasi makam berada tidak jauh dari sungai sekitar 60 meter dari lokasi sekarang. Salah satu makam yang cukup tua adalah makam Pangol – Beten Kuat dan Selih – anak Beten Kenududuk. Beten/batin adalah sebutan untuk kepala suku, makam tersebut adalah makam kepala suku terdahulu.

Budaya materi yang ditemukan di Desa Hutan Panjang antara lain peralatan-peralatan yang digunakan dalam upacara-upacara tertentu, atau peralatan tradisional untuk menunjang kehidupan sehari-hari yang sebagian sudah tidak difungsikan lagi. Seperti peralatan yang tersimpan di rumah Bapak Kim Cuan (70 th) tinggal di RT 05, berupa gong berbahan campuran antara tembaga dan perungggu. Adapun ukuran keseluruhannya yaitu diameter bawah 30 cm, diameter atas 36 cm, tinggi 12 cm, tebal 0,3 cm, bagian yang menonjol (mata gong) berdiameter 9 cm, lebar 10 cm, dan tinggi 6 cm. Alat pemukulnya berukuran panjang 25 cm, dan diameter 3,5 cm. Kini di desa ini hanya memiliki sebuah gong yang digunakan untuk mengiringi berbagai upacara yang diselenggarakan seperti khitan, perkawinan, dan kematian. Kondisi alat tersebut sudah memprihatinkan karena kerusakan di beberapa bagian (keropos), demikian juga dengan pemukulnya.

Peralatan tradisional untuk menunjang kehidupan sehari-hari tersimpan di rumah Bapak Ujang Enting (74 th) tinggal di RT 09. Peralatan untuk berburu dikenal jerat rusa, tombak (kojor/kojoh) dibuat dari kayu bunai (panjang 2,9 m, diameter 2,3 cm) dan mata besi (panjang 32 cm, diameter 2,5 cm, tebal 0,4 cm), sumpit (sumbit) dibuat dari kayu punak (panjang 1,75 m, diameter 2,5 cm ) dan mata sumpit (pono demek) (panjang 20,5 cm, diameter pangkal 1 cm, diameter ujung 0,2 cm). Adapun bagian sumpit untuk membidik sasaran disebut tujun (panjang 50 cm, lebar 8 cm, tebal 0,3 cm), bagian depan disebut sangkuh, dan belakang disebut sumbit. Kemudian mata sumpit (pono demek) terdiri dari bagian ujung disebut basung prepat, lidi kepau, racunnya disebut ipuh. Tempat per-satuan disebut inas dan disimpan ke dalam tembilah yang berbahan bambu yang dapat menyimpan 37 batang pono demek.

Kemudian juga terdapat peralatan untuk mencari ikan antara lain lukah terbuat dari bambu untuk mencari ikan di sungai (panjang 1, 17 m, diameter 18 cm), sehambang untuk menombak ikan (panjang pegangan 2, 77 m, diameter 3 cm) bagian mata besi berbentuk seperti trisula berukuran panjang 10 cm – 13 cm ), untuk memancing (hawai dan gundang), penganak untuk mencari ikan/udang di laut (panjang 1,28 m, diameter 21 cm), penggi terbuat dari rotan untuk menangkap ikan (panjang 52 cm, lebar 30 cm, tinggi 10 cm), sauh/jangkar (panjang kayu 52 cm, lebar 2 cm, tebal 1,5 cm; mata sauhnya panjang 24 cm), dan tempat ikan (raga pusat belanak/hage) terbuat dari rotan (tinggi 24 cm, diameter atas 20 cm, diameter bawah 24 cm).

Peralatan tradisional sebagai penunjang kegiatan pertanian antara lain kapak (kapek), tugal (tugel), dan tempat padi (bekul) terbuat dari daun pandan. Selanjutnya peralatan tradisional untuk mengolah bahan makanan antara lain; sendok tempurung (senuk temuhung) (panjang bagian gagang/pegangan 29 cm, lebar 3 cm, tebal 0,5 cm; panjang sendok 10 cm, diameter 11 cm), pisau (pisau sehaut) (panjang kayu 29 cm, diameter 2,5 cm; mata pisau panjang 11 cm, lebar 2,4 cm, tebal 0,2 cm), pisau berlubang, pahut sagu untuk memarut sagu terdiri dari paku dan kayu tehendang (panjang 1,14 m, lebar 12 cm, tinggi 11,5 cm), ayak sagu yang terbuat dari kayu kepau, serta lesung, dan antan.

Peralatan lain yang digunakan sehari-hari atau pelengkap upacara adat adalah tempat sirih (puan) (panjang 29 cm, lebar 10 cm, dan tebal 1-–3,5 cm), penghancur pinang (gobek), keranda (kehenek), dan bebana (alat musik perkusi)
terbuat dari kulit lutung yang diikat ke kayu perading yang diikat dengan rotan (diameter atas 31 cm, diameter bawah 24 cm, tebal kayu 4,5 cm, dan tinggi 10 cm).

III. Perkembangan jalur transportasi dan dampaknya

Mengamati cerita rakyat yang disampaikan secara turun-temurun memperlihatkan bahwa masyarakat Akit awalnya datang melalui perairan Selat Morong. Tidak mengherankan bila kemudian mereka memilih tinggal di bagian tepian sungainya, karena menurut informasi dahulu pemukiman masyarakat berada di sekitar sungai. Tepian sungai pada waktu itu dianggap sebagai tempat yang strategis untuk hidup sehari-hari mengingat sungai selain merupakan prasarana transportasi yang mudah untuk menjangkau satu tempat ke tempat lain, juga karena sungai merupakan sumber air dan sumber makanan (ikan). Kehidupan di tepi sungai juga diikuti dengan pembangunan rumah-rumah berpanggung, dan ditunjang dengan moda transportasi air seperti perahu. Perahu bagi masyarakat yang tinggal di tepian sungai merupakan alat penting untuk menunjang kehidupan sehari-hari, tidak hanya sebagai alat transportasi tetapi juga sebagai penunjang dalam memenuhi kebutuhan hidup, seperti mencari ikan. Perahu tampaknya tidak didatangkan dari tempat lain tetapi dibuat sendiri oleh sebagian masyarakatnya yang memiliki keahlian membuat perahu. Keahlian tersebut diwariskan secara turun-temurun mengingat di desa tersebut masih dijumpai galangan pembuatan perahu tradisional dari kayu.

Kondisi lingkungan alam tempat masyarakat Akit tinggal memungkinkan pada masa lalu masyarakatnya hidup dengan memanfaatkan kekayaan alamnya secara langsung dengan kegiatan berburu dan meramu. Kondisi tersebut dapat dibandingkan dengan masyarakat lain yang masih tinggal di hutan (Anak Dalam, Kubu, Sakai, Mentawai) dan masih menjalankan kegiatan tersebut sekalipun dalam jumlah sedikit. Disebutkan bahwa ekonomi ini sejak lama berfungsi sebagai pelengkap sistem produksi masyarakat yang menetap di suatu tempat (hutan) (Guillaud,ed.,2006:65). Seperti halnya masyarakat lain yang tinggal di hutan, masyarakat Akit memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya dengan memanfaatkan lingkungan alam sekitarnya (hutan dan sungainya). Kebutuhan ekonomi selain dipenuhi dengan berburu, meramu, mencari ikan, tidak jarang juga dengan melakukan perladangan sederhana. Kondisi lingkungan seperti sungai dengan ikan-ikan di dalamnya, rawa dengan tanaman sagu, serta hutan dengan flora dan faunanya memungkinkan dilaksanakannya kegiatan ekonomi tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Lingkungan hidup masyarakat Akit dahulu ketika tinggal di tepian sungai, bagian daratannya merupakan hutan. Nama Desa Hutan Panjang memperlihatkan asal muasal desa tersebut dari areal hutan. Areal hutan kini juga masih tersisa walaupun sebagian telah diubah menjadi areal pertanian/perkebunan dan pemukiman. Persentase dari luas wilayahnya 7700 Ha, diketahui bahwa areal hutan lindung sekitar 12,99 %, hutan bakau 6,49 %, hutan belukar 1,94 %, hutan campuran (sebagian sudah diolah) 51,95 %, sedangkan areal yang diusahakan sebagai pertanian/perkebunan 14,94 % dan pemukiman 11,69 % (sumber: Kantor Kepala Desa Hutan Panjang, 2006). Dahulu ketika areal hutan masih luas dengan berbagai fauna di dalamnya, kegiatan berburu menjadi matapencaharian yang penting bagi masyarakat Akit. Hal ini dapat terlihat dari berbagai peralatan perburuan tradisional yang tidak digunakan lagi kini seperti jerat rusa, tombak (kojor/kojoh), sumpit (sumbit), dan mata sumpit (pono demek). Peralatan tersebut umum digunakan dalam kegiatan perburuan seperti yang digunakan oleh masyarakat pemburu dan peramu di tempat lain. Sumpit misalnya, digunakan oleh masyarakat Punan di Kalimantan dan Wana di Sulawesi Selatan, tombak (kujur) dikenal oleh suku Anak Dalam di Jambi
dan disebut lonjo oleh masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, serta jerat digunakan oleh Suku Wana di Sulawesi Selatan untuk berburu babi atau rusa dan disebut jarat oleh suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah (Bellwood,2000:195, Guillaud,ed.,2006:66, Danandjaja,1999:127, Sumantri,2006:40).

Selanjutnya kegiatan mencari ikan di sungai Selat Morong menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan masyarakat. Banyaknya variasi peralatan tradisional untuk mencari ikan seperti lukah, sehambang, penganak, penggi, hawai dan gundang menggambarkan kegiatan mencari ikan di sungai atau rawa sekitar pemukiman dahulu sering dilakukan oleh masyarakat Akit. Demikian juga pembuatan perahu lesung cenderung lebih banyak untuk menunjang kegiatan tersebut. Namun kini kegiatan itu sudah jarang dilakukan di sekitar sungai, kegiatan mencari ikan dilakukan di laut dengan menggunakan perahu papan dengan peralatan jala. Menurut data yang diperoleh kini kegiatan mencari ikan hanya 10 % saja, sebagian besar mengusahakan bidang pertanian dan perkebunan.

Kemudian kegiatan meramu seperti mencari buah-buahan, sagu, dan rotan juga pernah dilaksanakan untuk melengkapi kebutuhan hidup masyarakatnya. Sagu merupakan salah satu bahan makanan yang penting bagi masyarakat Akit. Sebelum dikonsumsi sagu diolah terlebih dahulu dengan peralatan tradisional dari kayu. Beberapa alat seperti pahut sagu, ayak sagu memberi gambaran dimanfaatkannya tanaman tersebut sebagai bahan makanan. Sekalipun sudah jarang dijumpai, hingga kini pengolahan sagu masih dilakukan oleh masyarakat Akit. Lingkungan tempat tinggal masyarakat Akit dengan sungai dan bagian rawanya menjadi habitat tempat tumbuhnya tanaman sagu. Berbagai peralatan tradisional pengolahan sagu masyarakat Akit tidak berbeda jauh dengan peralatan pengolahan sagu pada masyarakat Mentawai di Pulau Siberut yang menjadikan sagu sebagai makanan pokoknya (Ensiklopedi Suku bangsa Mentawai,tt:64, Susilowati,2006).

Selain kegiatan tersebut di atas, di masa lalu masyarakat Akit juga melakukan pertanian dengan sistem perladangan secara sederhana, terbukti dari adanya peralatan seperti kapak (kapek) dan tugal (tugel). Kini teknologi pertanian masyarakatnya sudah lebih berkembang akibat interaksi dengan masyarakat luar seperti masyarakat Jawa. Perladangan sederhana atau perladangan berpindah kini sudah sulit ditemukan, namun gambaran mengenai perladangan sederhana dengan menggunakan tugal diperoleh melalui catatan tentang suku Dayak di Kalimantan Tengah atau suku Wana di Sulawesi Selatan (Danandjaja,1999:125–126, Sumantri,2006:38–39).

Awalnya dilakukan penebangan pohon-pohon di hutan dengan menggunakan kapak dan parang, selanjutnya batang-batang kayu, cabang, ranting dan daunnya dibiarkan mengering selama dua bulan kemudian dibakar. Abu bekas pembakaran dibiarkan sebagai pupuk. Bagi masyarakat Dayak Ma’anyan penanaman dilakukan dengan cara bergotong-royong. Para laki-laki berbaris di muka sambil menusuk-nusuk tanah dengan tugalnya, sedangkan para wanitanya berbaris mengikuti di belakang sambil memasukkan beberapa bulir padi ke dalam lubang-lubang tersebut. Kemudian pekerjaan merawat dan menjaga pertumbuhan bibit tersebut menjadi tanggungan keluarga dengan tinggal di dangau hingga masa panen. Tidak berbeda dengan suku Dayak Ma’anyan semua pekerjaan perladangan suku Wana juga dilakukan dengan bergotong royong. Setelah penebangan pada hutan sekunder, pembakaran, kemudian dilakukan pembersihan dan membangun pondok kecil tempat istirahat (kepe pamuja kodi). Pekerjaan tersebut diawali dengan melaksanakan kapongo (upacara persembahan). Tidak dilakukan penggemburan tanah sebelum penanaman karenapenanaman menggunakan tugal (sua). Tugal adalah alat untuk membuat lubang dalam tanah tempat menanam benih seperti bulir padi, biji kacang-kacangan, potongan-potongan batang ubi kayu, biji jagung, dan sebagainya. Jenis-jenis ladang yang dibuka secara berkesinambungan
adalah totos (ditanami jagung, ubi kayu, dan padi tiga bulan), bonde (ditanami padi enam bulan, jagung, ubi kayu dan sayur), dan tou (ditanami jagung, padi enam bulan, tebu, kacang panjang, sayur bayam).

Kini untuk menuju ke Desa Hutan Panjang tidak hanya ditempuh melalui sungai Selat Morong. Misalnya jika berangkat dari Batu Panjang, ibukota Kecamatan Rupat atau Tanjung Medang, ibukota Kecamatan Rupat Utara dapat ditempuh melalui jalan darat melewati jalan-jalan desa atau perkebunan. Meskipun jalan-jalan tersebut sebagian belum beraspal, dengan menggunakan kendaraan roda dua kita dapat menempuh desa itu melalui jalan darat yang ada. Perkembangan jalur transportasi darat dengan desa-desa di sekitarnya secara tidak langsung memberi perubahan pada kondisi Desa Hutan Panjang. Kini tidak lagi dijumpai rumah-rumah panggung di tepian sungai, meskipun tidak jarang masyarakat menceritakan adanya bekas-bekas perkampungan di tepian sungai maupun makam-makam lama yang dipindahkan dari tepi sungai.

Kondisi Desa Hutan Panjang sudah berkembang akibat interaksi dengan masyarakat luar yang membawa kebudayaan lain. Di dalam teori sosiologi salah satu faktor yang mendorong jalannya proses perubahan adalah kontak dengan kebudayaan lain. Salah satu proses yang menyangkut hal ini adalah diffusion (proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari individu ke individu lain, dan dari satu masyarakat ke masyarakat lain) (Soekanto,2005:326). Selain itu sistem pendidikan formal yang maju juga menjadi pendorong terjadinya berbagai perubahan pada masyarakatnya. Dapat dikatakan sebagian masyarakat Akit juga telah mengenyam pendidikan formal. Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia, terutama dalam membuka pikirannya serta menerima hal-hal baru dan juga bagaimana cara berpikir secara ilmiah. Pendidikan mengajarkan manusia untuk dapat berpikir secara obyektif, halmana akan memberikan kemampuan untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan zaman atau tidak (Soekanto,2005:328).

Kini kehidupan sehari-hari masyarakatnya tidak lagi bergantung pada alam, tetapi sudah mengolah alam dari hutan menjadi lahan pertanian dan perkebunan. Bersamaan dengan perkembangan pengetahuan dalam bertani dan berkebun masyarakat Akit maka kegiatan seperti berburu, dan meramu sudah ditinggalkan, namun mencari ikan masih dilakukan sebagian masyarakatnya. Konsentrasi perekonomian masyarakat Akit kini lebih banyak pada bidang pertanian dan perkebunan. Selain padi, buah-buahan, dan sayuran, tanaman karet merupakan tanaman yang menunjang perekonomian masyarakat itu kini, sekitar 800 Ha kebun karet diusahakan masyarakatnya. Demikian juga dengan permukiman masyarakat Akit sudah berpindah dari tepian sungai masuk ke daratan bagian dalam membentuk perkampungan yang rapi di pinggir jalan desa yang ada. Bagian yang tidak ditinggalkan adalah sebagian rumah-rumah yang didirikan masih berkonstruksi panggung, berdinding dan berlantai kayu, serta beratap rumbia. Dermaga di tepian sungainya kini tidak ramai oleh transportasi air, kecuali beberapa perahu nelayan. Dermaga penyeberangan menuju ke Desa Hutan Panjang berada di desa lainnya (Pangkalan Nyirih) berjarak sekitar 4 km. Akibatnya juga terjadi perubahan pada lingkungan alam tempat tinggal masyarakat Akit, dahulu di sekitar permukimannya adalah hutan sedangkan kini merupakan areal perkebunan.

Demikian halnya dari sisi religi juga terjadi perkembangan. Sebagai masyarakat yang hidup di lingkungan sekitar sungai dan hutan, kepercayaan yang dianut adalah animisme/dinamisme. Kepercayaan lama masyarakatnya masih terlihat dalam kehidupan sehari-hari mereka, meskipun kini sebagian telah memeluk agama Buddha. Pengaruh agama Buddha pada masyarakat Akit dibawa oleh masyarakat Tionghoa ke Pulau Rupat, sebagian besar masyarakat Tionghoa tersebut menetap di Desa Titi Akar dan sebagian di Batu Panjang (Rohana,2000, Susilowati,2006). Kepercayaan lama antara lain terlihat pada pengobatan yang dipercayakan kepada seorang Bomo, serta peralatan untuk meletakkan sesajian yang disebut balai. Tidak jarang dalam upacara-upacara adatnya seperti upacara menanam padi dan bedah kampung unsur kepercayaan tersebut terlihat dengan sesajian yang disertakan. Kisah tentang asal muasal suku tersebut memberi informasi setidaknya terjadi interaksi antara mereka yang tinggal di hutan dengan orang luar. Tidak mengherankan bila kini pada makam-makamnya terlihat adanya persentuhan dengan budaya Islam. Keberadaan tipe-tipe nisan yang sering terdapat pada makam Islam seperti tipe gada dan pipih yang menggunakan orientasi timur-barat menjadi bukti adanya persentuhan budaya itu. Orientasi timur-barat umumnya ditemukan pada makam-makam lama yang belum tersentuh Islam. Seperti Makam Putri Sembilan, di Dusun III Parit Baru, Desa Kador, Kecamatan Rupat Utara berupa makam tanpa nisan terdiri dari susunan batu berdenah persegiempat dan disusun menggunduk di bagian tengahnya. Demikian halnya dengan tradisinya yang mirip dengan yang dilaksanakan masyarakat Melayu yang sudah memeluk Islam seperti kenduri untuk menyambut kelahiran, khitan, pernikahan, mendirikan rumah, dan kenduri untuk kematian. Di dalam pelaksanaan kenduri tersebut tidak jarang doa-doa yang dipanjatkan sebagian bercampur dengan doa-doa dalam agama Islam, seperti mengucap Basmallah.

IV. Penutup

Dahulu jalur trasportasi yang menjadi penghubung menuju ke Desa Hutan Panjang hanya melalui transportasi air yaitu sungai Selat Morong. Kemudian berkembang dengan dibangunnya jalur trasportasi darat yang menghubungkan Desa Hutan Panjang dengan desa-desa di sekitarnya sehingga memudahkan interaksi masyarakatnya. Perkembangan jalur transportasi menuju ke desa tersebut membawa berbagai perubahan pada kehidupan masyarakat Akit. Interaksi dengan masyarakat luar akibat perkembangan jalur transportasi tersebut menyebabkan tambahan pengetahuan bagi masyarakatnya. Selanjutnya berbagai perubahan juga terjadi pada kehidupan masyarakat tersebut meliputi lokasi pemukiman, matapencaharian, religi, dan lingkungan alam sekitarnya. Perubahan yang terjadi pada masyarakatnya terutama dari sisi perekonomian adalah kehidupan yang semula bergantung pada alam dengan berburu dan meramu berubah menjadi mengolah alam dengan pertanian/perkebunan.

Kepustakaan

Bellwood, Peter, 2000. Prasejarah Kepulauan Indo- Malaysia. Jakarta: Balai Pustaka

Danandjaja, J., 1999. Kebudayaan Penduduk Kalimantan Tengah, dalam Koentjaraningrat (ed.) Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan,hal.
118–142

Ensiklopedi Suku Bangsa Mentawai, tt. Jakarta: Deputi Bidang Nilai Budaya, Seni dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata

Guillaud, Dominique (ed.), 2006. Menyelusuri Sungai, Merunut Waktu, Penelitian Arkeologi di Sumatera Selatan. Jakarta: IRD-Enrique Indonesia

Kaplan, David dan Robert A. Manners, 2002. Teori Budaya (The Teory of Culture). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Rohana, Sita, 2000. Interaksi Antar Sukubangsa di Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis,
dalam Pasar Tradisional: Akau dan perkembangannya, Seri Penerbitan Balai Kajian Jarahnitra No. 16 (T. Dibyo Harsono, ed.). Tanjungpinang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang, hal. 157–190

Soekanto, Soerjono, 2005. Sosiologi, Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Soemarwoto, Otto, 2004. Ekologi, Lingkungan Gidup dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan

Sumantri, Iwan, 2006. Orang Wana: Adat, Hidup, Hutan, Pertanian, Paradoks, dan hari Esok, dalam Kebudayaan, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Vo.1 No.1. Jakarta: Puslitbang Kebudayaan, hal. 33–43

Susilowati, Nenggih, 2006. Peralatan Tradisional Pengolahan Sagu di Pulau Siberut, Rupat, dan Pulau Lingga, dalam Berkala Arkeologi
Sangkhakala Vol. IX No.18. Medan: Balai Arkeologi Medan, hal. 54–60

——————, 2006. LPA, Penelitian Arkeologi di Pulau Rupat, Provinsi Riau. Medan: Balai Arkeologi Medan (belum diterbitkan)

Written by balarmedan

Januari 8, 2009 at 3:27 am

Ditulis dalam Uncategorized

RENTANG BUDAYA PRASEJARAH NIAS: DATING DAN WILAYAH BUDAYA

with 2 comments

Ketut Wiradnyana

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

 

Prehistoric culture in Nias Island are consist of palaeolithic, mesolitic, to megalithic.Till now, it’s culture dominated by megalithic traditions. Based on the carbon dating to some mesolithic and megalithic sites, found that time period of mesolithic culture to the middle Ages in North Nias cultural area. Time period of megalithic culture in South Nias cultural area around 600—350 years ago and 260 years ago in North Nias cultural area.

 

Kata kunci: prasejarah, dating, wilayah budaya

 

I. Pendahuluan

Nias merupakan sebuah pulau yang masih menyisakan tradisi sejarah budaya masa lampau, yang terletak di kawasan barat Indonesia, tepatnya ± 80 mil di sebelah barat Tapanuli dan berada pada titik koordinat 0°- 12° hingga 1°- 320 LU dan 97°- 98° BT. Pulau Nias dibagi menjadi dua kabupaten yaitu Kabupuaten Nias Selatan dengan ibukota Teluk Dalam dan Kabupaten Nias dengan ibukota Gunung Sitoli. Luas wilayah Pulau Nias yaitu 5.625 Km2 atau 7.821 % dari luas wilayah Sumatera Utara.

Sisa peradaban masyarakat dimaksud sudah sejak lama menjadi objek penelitian dari berbagai disiplin ilmu oleh peneliti dari Indonesia maupun luar negeri. Pulau dengan tradisi masa lampau yang masih bertahan terus hingga saat ini, tercermin dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat yang masih memegang adat istiadatnya, maupun dari benda-benda atau bangunan-bangunan arkeologis seperti bangunan megalitik yang tersebar hampir di seluruh wilayah pulau ini. Di samping itu obyek-obyek arkeologis tidak hanya berupa tinggalan megalitik saja, namun jauh sebelumnya yaitu sisa-sisa tertua yang dicirikan oleh artefak paleolitik dan mesolitik juga ditemukan di wilayah ini.

Penelitian arkeologis yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Medan (Balar Medan) bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas) dan Institut de Recherche Pour Ie Developpement (IRD), Perancis memberi gambaran budaya masa lalu masyarakat Nias yang diantaranya diwujudkan dalam bentuk berbagai tinggalan budaya materi dan rentang masa hunian. Penelitian itu belumlah mencukupi untuk memahami kehidupan masyarakat Nias secara utuh, paling tidak masih diperlukan lagi serangkaian ekskavasi yang diikuti dengan carbon dating pada situs-situs yang lain.

Wilayah budaya dari terminologi budaya yang didasarkan pada teknologi mengindikasikan adanya sebaran budaya pada wilayah dan waktu tertentu. Sebaran budaya dalam satu wilayah menggambarkan aktivitas yang berlangsung dengan ciri budaya yang sama atau hampir sama. Secara umum wilayah budaya di Pulau Nias dapat dibagi menjadi dua yaitu: wilayah budaya Nias bagian utara dan wilayah budaya Nias bagian selatan. Sedangkan pembabakan budaya dapat membantu menggambarkan proses budaya yang terjadi dalam wilayah itu sendiri. Dari dating dan wilayah budaya yang telah dihasilkan pada situs-situs terpilih di Pulau Nias, untuk sementara disimpulkan bahwa proses kehidupan manusia masa lalu di Pulau Nias, tidak merata di dua wilayah kabupaten . Hal ini erat kaitannya dengan perkembangan budaya masing-masing kelompok masyarakat atau juga berkaitan dengan proses migrasi yang terjadi di wilayah Pulau Nias. Untuk itu asumsi akan rekonstruksi sejarah masyarakat Nias melalui proses kehidupan manusia dan budaya dimaksud dipaparkan dalam bahasan di bawah ini.

II. Dari paleolitik hingga megalitik

II.1. Paleolitik

Paleolitik merupakan terminologi tertua dalam babakan masa prasejarah. Masa ini peralatan batunya jauh lebih sederhana dibandingan dengan masa -masa sesudahnya. Situs paleolitik di Nias ditemukan di DAS Muzoi, terutama di Kampung Pekan Muzoi, Desa Hili Waele, Kecamatan Hili Duho, Kabupaten Nias. Adapun peralatan batu yang ditemukan di dasar sungai maupun tebing sungai terdiri dari peralatan masif dan non-masif. Teknik pemangkasan yang ditunjukkan pada kapak perimbas yang ditemukan pada situs tersebut, sangat sederhana, dengan tajaman berbentuk cembung serta dibuat dari kerakal. Dari temuan kapak perimbas yang ada di DAS Muzoi, salah satunya menunjukkan tanda-tanda keausan akibat proses transformasi (rounded) oleh arus sungai yang dialaminya. Sebuah kapak perimbas dibuat dengan menyiapkan dataran pukul pada bagian proksimalnya, dengan pangkasan yang lurus pada bagian tajamannya. Teknik pembuatan kapak perimbas ini lebih maju dibandingkan dengan temuan kapak perimbas yang lainnya. Secara umum dapat dikatakan bahwa tajaman yang dihasilkan dari pangkasan kapak perimbas yang ditemukan di Pekan Muzoi atau sekitarnya adalah monofasial. Kapak genggam dan alat serpih ditemukan dalam jumlah sedikit. Ciri utama pada kapak genggam ditandai oleh adanya gigir yang lurus pada bagian ventralnya. Hal tersebut diakibatkan oleh adanya pemangkasan panjang pada bidang ventral dari bagian proksimal ke bagian distal sehingga menghasilkan gigir yang lurus di bagian tengah ventral dan sekaligus menghasilkan tajaman yang runcing. Gigir tersebut juga dihasilkan dari pemangkasan secara horisontal pada bagian ventral ke arah lateral.

Penelitian lain juga telah menghasilkan alat-alat masif dari masa paleolitik yang ditemukan di Sungai Muzoi, Sungai Sinoto dan di Sungai Orahiligimo dan Ononamole berupa kapak perimbas, penetak, serpih besar, kerakal pangkas, serut samping, dan batu pukul (Nasruddin dkk, 2000).

II.2. Mesolitik

Masa Mesolitik di Pulau Nias diindikasikan dari data ekskavasi yang dihasilkan di Togi Ndrawa, Dusun II, Desa Lolowonu Nikdotano, Kecamatan Gunung Sitoli. Adapun artefak berbahan batu yang ditemukan pada situs ini berupa alat serpih, pelandas, pemukul, dan alat serpih. Artefak berbahan tulang diantaranya berupa lancipan dan spatula, sedangkan artefak yang berbahan tanah berupa fragmen gerabah yang ditemukan pada lapisan permukaan. Selain itu beberapa peralatan dari bahan cangkang kerang juga ditemukan. Analisa morfologi dan terminologi pada data ekofatual menghasilkan filum moluska dari berbagai famili, filum vertebrata dari berbagai kelas dan filum arthropoda berupa spesies Skila serrata.

Cangkang moluska yang ditemukan pada penelitian di Togi Ndrawa mengindikasikan bahwa moluska dan fragmen tulang merupakan sampah makanan. Data berupa fragmen gigi dan tulang manusia mengindikasikan bahwa pada masa lampau gua ini sudah dihuni oleh kelompok manusia yang mengkonsumsi moluska sebagai makanan utamanya dan berburu untuk menambah kebutuhan makanan. Mereka sudah mengenal api yang terbukti dari abu pembakaran serta fragmen tulang dan cangkang moluska yang terbakar. Peralatan yang digunakan untuk mendukung kehidupan sehari-hari berupa peralatan batu dan tulang.

Bahan makanan yang dikonsumsi dalam upaya melangsungkan hidupnya dipilih bahan makanan yang melimpah di sekitar situs dan tentunya mudah didapat. Untuk itu mereka memilih bahan makanan berupa moluska. Berbagai jenis moluska dimungkinkan hidup di sekitar situs, mengingat keletakkan situs yang dekat dengan laut dan banyaknya sungai sehingga menghasilkan lingkungan manggrove yang ideal bagi habitat berbagai jenis moluska.

Gua lain yang mengindikasikan budaya pada babakan mesolitik yaitu Togi Bogi. Gua Togi Bogi berada di wilayah Desa Binaka, Kecamatan Gunung Sitoli Idanoi, Kabupaten Nias, berjarak sekitar 18 Km dari kota Gunung Sitoli. Gua yang berada pada lereng bukit dengan ketinggian berkisar 75 meter di atas permukaan air laut menghasilkan berbagai macam artefak dan juga ekofak. Adapun artefaktual berbahan batu yang ditemukan pada situs ini berupa alat serpih, pelandas/pemukul, pemukul dan alat serpih. Artefaktual yang berbahan tanah berupa fragmen gerabah yang ditemukan pada lapisan permukaan. Variasi ekofak (moluska) yang ditemukan memiliki kesamaan dengan yang ditemukan di Gua Togi Ndrawa.

II.3. Neolitik/ megalitik

Merupakan masa yang dianggap revolusi kebudayaan, mengingat pada masa ini masyarakat sudah dapat membudidayakan tanaman untuk keperluan hidupnya. Pertanian pada masa ini sudah dikenal luas, masyarakat sudah hidup menetap sehingga religi yang berkembang sudah lebih menampakkan kejelasan konsep. Pada masa ini berkembanglah budaya megalitik yang ditandai dengan aktivitas upacara dengan pendirian monumen batu atau kayu pada akhir prosesi.

Prinsip dasar megalitik Nias biasanya dikaitkan dengan arwah nenek moyang seperti bangunan megalitik digunakan untuk keselamatan arwah yang meninggal dan orang yang masih hidup. Bentuk megalitik yang vertikal dan horisontal di Nias dikaitkan dengan tanda adanya seorang pemimpin, keluarganya, bangsawan dan masyarakat biasa pada suatu permukiman. Megalitik tersebut dibangun bukan untuk keperluan roh semata-mata, akan tetapi ditekankan pada aspek-aspek harkat dan martabat serta menjaga kemasyuran bagi pendirinya. Besar kecilnya ukuran dan raya tidaknya hiasan pada bangunan megalitik tergantung dari status seseorang seperti orang yang disegani sebagai pemimpin ataupun sebagai bangsawan kaya, yang didapatkan dari besar kecilnya pesta owasa yang telah dilaksanakan.

Sesuai dengan perkembangan megalitik yang terus berlangsung di Nias telah terjadi perubahan-perubahan fungsi. Fungsi-fungsi megalitik yang primer -seperti batu tegak dan batu datar- disimbolkan sebagai laki-laki dan perempuan dan sekaligus sebagai tanda peringatan bagi laki-laki dan perempuan. Dalam perkembangannya muncul fungsi-fungsi sekunder yakni sebagai tempat tutup kepala seorang pemimpin ketika diadakan upacara tertentu. Fungsi-fungsi skunder tampak juga dari situs-situs yang besar di mana di dalamnya diisikan tempat-tempat yang tidak berkaitan dengan unsur religi akan tetapi unsur sosial lainnya seperti hukum.

Tinggalan megalitik di Pulau Nias tersebar hampir di seluruh perkampungan tua, baik yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Nias mapun Nias Selatan. Adapun situs tersebut diantaranya adalah situs Boronadu, di Desa Sifalago Gomo, Kecamatan Gomo, Kabupaten Nias Selatan yang merupakan situs megalitik tertua jika dikaitkakn dengan folklor asal-usul leluhur Nias. Situs megalitik Tundrumbaho merupakan situs besar sisa hunian setelah Boronadu yang masih di wilayah Gomo dan situs Hili Gowe yang merupakan salah satu situs besar di Kabupaten Nias. Tinggalan megalitik tersebut memiliki berbagai istilah yang biasanya dikaitkan dengan fungsinya. Di Kabupaten Nias Selatan peristilahan tersebut sangat variatif sekali, sehingga kadang-kadang dengan bentuk bangunan yang sama namun fungsinya berbeda dapat memiliki nama yang berbeda. Jadi nama sebuah bangunan megalitik, terutama di Nias Selatan haruslah dilihat dulu fungsinya. Di Nias bagian utara peristilahan tersebut tidak terlalu banyak digunakan. Seperti dalam kata gowe biasanya berarti bangunan megalitik yang terdiri dari bangunan yang berdiri/tegak dan mendatar atau salah satu dari keduannya, yang merupakan bangunan yang dihasilkan dari pesta owasa.

Secara umum tinggalan megalitik yang terdapat di Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan dilihat dari posisinya dapat dibedakan atas dua bagian yaitu tinggalan megalitik yang posisinya berdiri/tegak dan tinggalan megalitik yang posisinya mendatar.

III. Dating dan wilayah budaya

III.1. Dating

Analisis radiometri merupakan metode pertanggalan/dating yang bersifat absolut/mutlak. Metode ini sangat penting digunakan dalam arkeologi untuk mengetahui secara pasti umur dari suatu situs, artefak atau aktivitas yang berlangsung pada masanya. Pada situs-situs di Pulau Nias pertanggalan yang didapatkan dihasilkan dari salah satu metode radiometri yaitu analisis C14. Analisis ini merupakan metode yang dilakukan pada bahan-bahan yang mengandung unsur carbon untuk kemudian diukur sisa dari C14 yang ada pada benda-benda organik tersebut.

Hasil analisis pertanggalan dengan metode radiometri pada sampel berupa cangkang kerang yang ditemukan pada ekskavasi di situs Togi Ndrawa pada kedalaman -10 cm yaitu 850 ± 90 B.P, pada kedalaman -40 cm yaitu 1330 ± 80 B.P, pada kedalaman -50 –60 cm yaitu 1540 ± 100 B.P. Pada kedalaman -90 cm yaitu 3540 ± 100 B.P. Pada kedalaman -220 cm yaitu 7890 ± 120 B.P, dan pada kedalaman -400 cm yaitu 12170 ± 400 B.P menunjukkan bahwa aktivitas di Gua Togi Ndrawa, Nias berlangsung sekitar 12.170 ± 400 B.P. sampai dengan 850 ± 90 B.P.

Hasil analisis pertanggalan dengan metode radiometri pada sampel berupa cangkang kerang dan abu pembakaran yang ditemukan pada ekskavasi di situs tersebut dengan kedalaman -10 –20 cm yaitu 950 ± 110 B.P, pada kedalaman -40 –50 cm yaitu 2000 ± 120 B.P dan pada kedalaman -80 — 90 cm yaitu 4960 ± 130 B.P menunjukkan bahwa aktivitas di Gua Togi Bogi, Nias berlangsung sekitar 4960 ± 130 B.P. sampai dengan 950 ± 110 B.P (kemungkinan aktivitas manusia di Togi Bogi lebih lama dari itu, mengingat dating yang dilakukan baru pada kedalaman 1 meter).

Dari pertanggalan tersebut dapat diketahui bahwa ke dua gua tersebut dihuni pada masa yang relatif sama, sampai sekitar abad ke-12 Masehi.

Lalu kapan tradisi megalitik mulai berkembang ? Banyak yang menyatakan bahwa Nias dengan tradisi megalitiknya sudah berkembang sejak ribuan tahun lalu, namun ada juga yang menyatakan pada awal-awal masehi. Adapun hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Medan dan Institut de Recherche Pour Ie Developpement (IRD), Perancis pada sebagian situs-situs penting masa megalitik di Nias menunjukkan bahwa Boronadu dihuni sekitar 576 ± 30 BP, yaitu sekitar 600 tahun yang lalu, Tundrumbaho dihuni 340 ±120 BP yakni sekitar 460 – 220 tahun yang lalu dan Hili Gowe huniannya berlangsung sekitar 260 ± 120 BP, yakni sekitar 380 — 140 tahun yang lalu. Hal itu memberi bukti bahwa migrasi dengan tradisi megalitiknya di Nias paling tua berlangsung pada sekitar abad 14 masehi.

Pada rentang waktu sebelum 12.000 tahun yang lalu dapat diasumsikan bahwa manusia di Nias hidup dengan teknologi yang lebih sederhana. Pada masa selanjutnya manusia hidup dengan memanfaatkan gua sebagai tempat tinggal dan berbagai aktivitas yang dilakukan. Dari dua data arkeologis yang ditemukan di Gua Togi Ndrawa dan Togi Bogi menunjukkan bahwa kedua gua itu mencirikan budaya (teknologi alat batu) yang sedikit berbeda. Konsep alat batu pada Togi Ndrawa masih jelas memperlihatkan kesinambungan budaya Hoabinh sedangkan di Gua Togi Bogi ada indikasi memiliki ciri budaya Toala, yang perkembangannya ditemukan di Sulawesi Selatan. Namun dari kedua gua tersebut menunjukkan bahwa manusia mesolitik ini memanfaatkan gua sebagai tempat tinggalnya hingga Pertengahan Mesehi. Hasil dating di situs-situs megalitik menunjukkan masa yang tidak terlalu tua yaitu sekitar 600 hingga 300 tahun yang lalu. Kalau kita runut hasil dating di situs-situs di Nias adalah sebagai berikut :

Masa

Waktu Berdasarkan Carbon Dating

Situs

Wilayah

Paleolitik


 

Muzoi
Nias bagian utara
Mesolitik

12170 ±400 B.P

7890 ± 120 B.P

4960 ± 130 B.P

3540 ± 100 B.P

2000 ± 120 B.P

1540± 100 B.P

1330± 80 B.P

950 ± 110 B.P

850 ± 90 B.P

Togi Ndrawa

Togi Ndrawa

Togi Bogi

Togi Ndrawa

Togi Bogi

Togi Ndrawa

Togi Ndrawa

Togi Bogi

Togi Ndrawa

Nias bagian utara

Nias bagian utara

Nias bagian utara

Nias bagian utara

Nias bagian utara

Nias bagian utara

Nias bagian utara

Nias bagian utara

Nias bagian utara

Megalitik

576 ± 30 B.P

340 ±120 B.P

260 ±120 B.P

Boronadu

Tundrumbaho

Hili Gowe

Nias bagian selatan

Nias bagian selatan

Nias bagian utara

 

III.2. Wilayah budaya

Wilayah budaya di Pulau Nias secara umum dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu wilayah budaya Nias bagian utara dan wilayah budaya Nias bagian selatan. Wilayah budaya Nias bagian utara secara umum daerahnya masuk kedalam wilayah administratif Kabupaten Nias dan wilayah budaya Nias bagian selatan secara umum masuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Nias Selatan. Wilayah sebaran budaya bagian utara hingga saat ini meliputi terminologi budaya dari pembabakan masa paleolitik, mesolitik hingga megalitik. Wilayah sebaran budaya bagian selatan hanya ditemukan sebaran budaya dari terminologi budaya masa megalitik, untuk masa paleolitik dan mesolitik hingga saat ini belum ditemukan. Dari hasil penelitian tersebut sementara dapat diasumsikan bahwa wilayah budaya bagian utara memiliki tinggalan budaya yang jauh lebih tua dibandingkan dengan wilayah budaya bagian selatan. tiga situs penting di wilayah budaya bagian utara yang mewakili kekunaan budaya tersebut yaitu Muzoi, Togi Ndrawa, dan Togi Bogi.

  Di wilayah budaya Nias bagian utara, pola hunian di gua Togi Ndrawa yang terakhir berlangsung sekitar 850 tahun yang lalu. Hal ini mengindikasikan bahwa kelompok masyarakat di wilayah Budaya Nias bagian utara tidak tinggal dalam gua setelah 1150 tahun yang lalu. Sedangkan dari dating pada sisa hunian megalitik di wilayah budaya Nias bagian utara yaitu di Hili Gowe berlangsung sejak 260 tahun yang lalu. Artinya ada rentang waktu sekitar 590 tahun dari pola hidup di dalam gua ke bentuk pola hidup dengan rumah yang berbentuk oval. Artinya sejak 590 tahun yang lalu manusia di wilayah budaya Nias bagian utara sudah mulai hidup di luar gua untuk kemudian berbudaya megalitik.

Dating yang dilakukan di situs-situs mesolitik dan megalitik yang ada di wilayah budaya Nias bagian utara tersebut dapat diasumsikan bahwa ketika masyarakat masih hidup di gua mereka mengembangkan kebudayaannya hingga ke masa selanjutnya yaitu dengan membuat bentuk hunian dengan arsitektur rumah panggung berbentuk oval. Hal lainnya yang dimungkinkan adalah adanya kelompok masyarakat lain yang telah tinggal bersamaan waktunya dengan masyarakat yang tinggal di gua atau setelah hunian di gua. Kelompok masyarakat ini membawa budaya megalitik yang memiliki bentuk budaya materi yang berbeda dengan budaya megalitik yang di wilayah budaya Nias bagian selatan. Pola hunian di wilayah budaya Nias bagian utara yang cenderung lebih menyebar dibandingkan dengan hunian di wilayah budaya Nias bagian selatan menunjukkan karakter budaya materialnya memiliki konsep budaya yang berbeda di kedua wilayah budaya tersebut. Selain itu adanya pandangan kosmologis yang berbeda di antara kedua wilayah budaya tersebut semakin menguatkan asumsi bahwa kelompok masyarakat di kedua wilayah budaya Nias tersebut berbeda.

Di wilayah budaya Nias bagian selatan sampai saat ini hanya meninggalkan budaya megalitik yang dimulai sekitar 600 tahun yang lalu. Dari folklor yang berkembang di masyarakat menunjukkan bahwa hunian yang paling awal menjadi tempat turunnya salah satu leluhur orang Nias adalah di Gomo, setelah itu barulah di Nias bagian utara (Kabupaten Nias). Dari hasil dating dan uraian folklor tersebut memunculkan asumsi bahwa hunian di wilayah budaya Nias bagian selatan lebih tua dibandingkan dengan hunian di wilayah budaya Nias bagian utara, sehingga budaya megalitik yang merupakan pembabakan budaya folklor tersebut pada awalnya di wilayah budaya Nias bagian selatan untuk kemudian menyebar ke wilayah budaya Nias bagian utara.

Dating yang ada di wilayah budaya Nias bagian selatan menunjukkan bahwa sejak sekitar 600 tahun yang lalu budaya megalitik menyebar hingga ke wilayah budaya Nias bagian utara sampai 260 tahun yang lalu (bahkan setelah masa itu). Dapat dikatakan bahwa proses penyebaran budaya tersebut berkisar di antara rentang waktu itu. Kalau diperhatikan dari sebagian budaya material yang ada di wilayah budaya Nias bagian utara menunjukkan bahwa sebagian besar dari budaya yang ada di wilayah budaya Nias bagian utara tersebut mendapat pengaruh dari budaya megalitik yang berasal dari wilayah budaya Nias bagian selatan.

IV. Penutup

Bahwa Pulau Nias sudah dihuni sebelum 12.000 tahun yang lalu sebelum hunian yang ada di Gua Togi Ndrawa. Hal ini diindikasikan dari teknologi peralatan batu Muzoi yang lebih tua dari teknologi pada budaya di Gua Togi Ndrawa.

Cara hidup dengan memanfatkan gua sebagai tempat tinggal berlangsung cukup lama yaitu sekitar 12.000 tahun yang lalu hingga 850 tahun yang lalu, artinya hunian di gua dari sebelum masehi hingga pertengahan tahun masehi.

Wilayah budaya prasejarah Nias terbagi atas dua yaitu wilayah budaya Nias bagian utara, yang arealnya pada umumnya masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Nias dengan terminologi budaya paleolitik, mesolitik hingga megalitik sedangkan bagi wilayah budaya Nias bagian selatan yang umumnya masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Nias Selatan hanya berupa budaya megalitik saja.

Diasumsikan budaya masyarakat Nias dari hasil dating yaitu sekitar 850 tahun yang lalu, bahwa ketika masyarakat di wilayah budaya Nias bagian utara masih tinggal di gua dengan budaya mesolitik, maka budaya megalitik belum menyentuh kehidupan masyarakatnya. Setelah 250 tahun kemudian barulah muncul hunian yang bercorak budaya megalitik di wilayah budaya Nias bagian selatan.

Dari dating pada situs-situs megalitik di dua wilayah budaya tersebut menunjukkan bahwa situs megalitik di wilayah budaya Nias bagian selatan lebih tua dibandingkan dengan situs di wilayah budaya Nias bagian utara. Kisaran waktu di wilayah budaya Nias bagian selatan berlangsung sekitar 600 tahun yang lalu sedangkan di wilayah budaya Nias bagian utara berlangsung sekitar 260 tahun yang lalu. Adanya persamaan budaya material dan imaterial antara kedua wilayah itu memunculkan asumsi bahwa tradisi megalitik di wilayah budaya bagian utara berasal dari wilayah budaya Nias bagian selatan. Sedangkan perbedaan budaya material seperti rumah adat, pola hunian, dan kosmologis mengindikasikan bahwa kedua wilayah budaya itu merupakan kelompok masyarakat yang awalnya berbeda.

Kepustakaan

Bellwood, Peter, 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Daeng.J, Mans. 2005. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan, Tinjauan Antropologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Danandjaja, James. 2002. Folklor
Indonesia: llmu Gosip, Dongeng dan Lain-lain.Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Djubiantono, T, 1985. Posisi Stratigrafi Artefak di Lembah Muzoi, dalam PIA III. Jakarta: PuslitArkenas, hal. 1026–1033.

Driwantoro, Dubel, dkk, 2003. Potensi Tinggalan – Tinggalan Arkeologi di Pulau Nias, Prov. Sumatera Utara. Jakarta: Puslit Arkenas dan IRD (tidak diterbitkan).

Hammerle. P. Johannes 2001. Asal Usul Masyarakat Nias, Suatu Interpretasi. Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias.

Soejono, R.P. (ed.), 1990. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Wiradnyana, K., Nenggih S. & Lucas. P. K, 2002. Gua Togi Ndrawa, Hunian Mesolitik di Pulau Nias, dalam Berita Penelitian Arkeologi No. 8. Medan: Balai Arkeologi Medan.

Wiradnyana, Ketut. Dominique Guillaud & Hubert Forestier, 2006. Laporan Penelitian Arkeologi, Situs Arkeologi di Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara. Medan: Balar Medan dan IRD (belum diterbitkan).

Wiradnyana, Ketut & Dominique Guillaud, 2007. Laporan Penelitian Etno-Arkeologi, Situs Arkeologi di Pulau Nias, Provinsi Sumatera Utara. Medan: Balar Medan dan IRD (belum diterbitkan).

Written by balarmedan

Januari 8, 2009 at 3:18 am

Ditulis dalam Uncategorized

LUBANG JEPANG: KUBU PERTAHANAN PASUKAN JEPANG DI KABUPATEN BATUBARA

with one comment

Jufrida

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

Japanese pillboxes in Batubara regency is one of the Japan’s effort of defense in face out the enemy. The type of it is as same as anothers in coastal area and other region in Indonesia.

 

Kata kunci:
lubang Jepang,
kubu pertahanan, Batubara

 

I. Pendahuluan

Di tepi pantai Desa Parupuk, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera Utara terdapat tinggalan arkeologis berupa kubu pertahanan yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai Lubang Jepang. Menurut informasi masyarakat setempat Lubang Jepang tersebut terdiri dari tujuh bangunan. Namun karena posisinya yang terletak di tepi pantai maka sebagian bangunan sudah hilang akibat terkikis air laut dan tinggal tiga bangunan yang tersisa. Dari tiga bangunan tersebut hanya satu yang masih dalam kondisi utuh sehingga dijadikan sebagai sampel dalam kesempatan ini.

Pentingnya tinggalan tersebut berkaitan dengan sejarah yang melatar belakanginya. Dalam beberapa tulisan disebutkan bahwa pendaratan pasukan Jepang di Sumatera Utara berada di wilayah yang kini secara administratif masuk ke dalam Kabupaten Batubara. Kemudian disebutkan pasukan Jepang tersebut menyebar ke Tebing Tinggi, Medan, Pematang Siantar bahkan hingga ke Padang dan ke daerah lainnya. Sejumlah kesatuan pasukan Jepang yang menyerbu ke daerah Sumatera Utara dipimpin oleh Jenderal Nishimura. Untuk mempertahankan wilayah dari pasukan Belanda yang masih di Indonesia, maupun serangan Sekutu maka pasukan Jepang membuat beberapa kubu pertahanan di daerah ini.

Seperti diketahui bahwa Jepang juga membangun beberapa kubu pertahanan di beberapa tempat yang letaknya tidak hanya di bagian pesisir tetapi juga di dataran tinggi. Untuk mencari persamaan atau perbedaannya Lubang Jepang tersebut juga dibandingkan dengan kubu pertahanan Jepang yang terdapat di tempat lain, salah satunya adalah di Pulau We yang masuk ke dalam wilayah administrasi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

II. Lubang Jepang di Batubara

Untuk menuju ke lubang Jepang di Desa Parupuk ini harus melalui kota Tanjung Tiram. Sebelum menuju kota tersebut ditemukan persimpangan jalan, kemudian dari sana ke arah barat lebih kurang 3 km, dan belok ke arah utara ditemukan kawasan wisata Pantai Sejarah. Di kawasan itu pada jalan yang menuju ke Desa Parupuk terdapat sebuah bangunan yang disebut oleh masyarakat setempat dengan nama Lubang Jepang. Lubang Jepang itu dibangun oleh pasukan Jepang diperuntukkan sebagai kubu pertahanan.

Posisi Lubang Jepang berada di pinggir jalan Desa Parupuk. Di bagian utara bangunan itu terdapat perumahan penduduk dan pantai, di bagian selatan merupakan perumahan penduduk. Kemudian di bagian barat terletak jalan desa sedangkan di bagian timur terdapat perumahan penduduk, tambak, pantai, dan laut. Di sekitar bangunan ditumbuhi ilalang (Imperata cylindrica) dan pohon kelapa (Cocos nucifera), pohon pisang (Musa paradisaca), dan disekitar pantai terdapat hutan bakau (Rhizophora).

Lubang Jepang yang berdenah persegienam, kondisinya relatif utuh dengan orientasi baratlaut–tenggara dengan bagian depan menghadap baratlaut. Lubang Jepang lainnya disebut bangunan 2 berada di bagian baratdaya berjarak sekitar 600 m dari bangunan 1, sekarang bangunan itu dijadikan sebagai tempat sampah, di bagian timurlaut sekitar 200 m terdapat bangunan 3 dijadikan sebagai kandang hewan ternak, sedangkan bangunan lainnya sudah hancur terkikis air laut.


 Bangunan 1 dindingnya terbuat dari bahan campuran semen, kerakal, dan kerikil secara keseluruhan berukuran 2,66 m x 4,82 m x 1,70 m. Di bagian belakang bangunan terdapat lubang untuk pintu menuju ke dalam bangunan. Pintu tersebut kini sudah tidak ada lagi yang tersisa hanya sebuah engsel (gantungan pintu) yang berada pada bagian atas berukuran 0,20 m x 0,20 m. Adapun ukuran lubang pintu tersebut 1,50 m x 0,76 m. Kemudian lubang di bagian depan berukuran 0,80 m x 0,20 m. Di atas bangunan ini terdapat dua buah tabung besi masing-masing berukuran tinggi 0,40 m dengan diameter 0,11 m yang menonjol ke atas bangunan. Kemungkinan berfungsi sebagai ventilasi dan penerangan dalam ruangan.

Di bagian dalam bangunan terdapat dinding tembok pemisah antara ruangan belakang dengan ruangan depan. Di ruangan depan terdapat lantai yang ditinggikan berbentuk empatpersegi panjang posisinya sejajar dengan lubang pengintaian. Kemungkinan tempat tersebut berfungsi sebagai tempat pengintaian.

Informasi masyarakat setempat menyebutkan bahwa beberapa Lubang Jepang yang dibangun terdiri dua bentuk bangunan. Disebutkan bahwa bangunan yang berada di sekitar pantai seperti bangunan 3 memiliki lubang atau terowongan untuk menuju ke arah pantai. Namun kini terowongan tersebut sudah tidak ditemukan lagi. Kemudian bangunan yang agak jauh dari pantai seperti bangunan 1 dan bangunan 2 tidak memiliki terowongan.

Selain lubang Jepang juga terdapat sisa bangunan bersemen dan berlubang berbentuk persegiempat yang terdapat di bagian timurlaut sekitar 150 m dari Lubang Jepang, di depan sebuah bengkel sekarang. Batu berukuran 0,30 m x 0,30 m x 0,45 m ini mempunyai lubang yang berdiameter 0,10 m yang berada ditengah-tengah dan di bagian bawah terdapat bentuk setengah lingkaran.

Menurut informasi masyarakat sisa bangunan bersemen itu disusun ke atas secara vertikal dengan bagian setengah lingkarannya bertemu dengan bagian lain sehingga membentuk lingkaran. Kemudian diletakkan di antara batang pohon kelapa yang didirikan secara vertikal sehingga membentuk benteng pertahanan.

III. Benteng-benteng di Pulau We sebagai perbandingan

Pulau We kini masuk dalam wilayah administrasi Kotamadya Sabang, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pada bagian tepi pantai Pulau We banyak tersebar benteng pertahanan yang dibangun pada masa pendudukan Jepang. Masyarakat setempat menyebut benteng-benteng tersebut dengan Lograk (Tim Penelitian,1996/1997:19–20). Benteng tersebut terdapat hampir di seluruh daerah pesisir pulaunya, terutama di bagian timur pulau yang langsung berhadapan dengan Selat Malaka, ditemukan benteng dengan jarak sekitar 2 km. Beberapa benteng juga dibangun di dataran tinggi seperti benteng Batre A, B,C. Benteng tersebut letaknya agak jauh dari pantai namun dari tempat itu dapat memantau Teluk Sabang (Tim Penelitian,1996/1997:5–6,13–15). Benteng-benteng lain yang terletak di tepi pantai antara lain benteng Anoi Hitam, benteng Ujung Karang, benteng Ie Meulee (Tim Penelitian,1996/1997:7–12).

Benteng Batre A terletak di Kelurahan Anou Laut Kecamatan Suka Karya. Berada di perbukitan yang posisinya menghadap ke Teluk Sabang. Pada areal yang paling tinggi dari situs ini terdapat bak air, bersekat-sekat tetapi tidak beratap seperti sebuah kamar mandi. Kemudian pada bagian depan bak ini terdapat saluran yang menuju ke samping bangunan utama.

Bangunan utama merupakan bangunan yang dibuat dengan memangkas tanah bukit. Bangunan ini memiliki tiga buah ruangan, salah satu ruangan yang berukuran lebih besar mempunyai jendela. Di depan bangunan ini terdapat jalan, dan jalan tersebut menuju ke dua arah. Jalan-jalan ini menghubungkan antara bangunan dengan pos-pos penjagaan benteng. Pada salah satu ujung jalan terdapat meriam dan di pos penjagaan tersebut terdapat tembok setinggi 0,5 m, pada salah satu ujung tembok terdapat lapisan beton seperti pada atap bangunan pengintaian. Kemungkinan bangunan tersebut sebagai tempat pengintaian.

Benteng Batre B Untuk menuju bangunan tersebut dilakukan dengan menyisir pinggir jurang dan dijalan tersebut di temukan dua buah gua tanah, jarak antara gua satu dengan lainnya sekitar 25 m. Terdapat bangunan utama dan bangunan lain yang lebih kecil. Bangunan utama memiliki empat ruangan. Pada bagian atap bangunan dibuat datar dan dulunya ditempatkan sebuah meriam. Pada bagian luar lantai bawah terdapat lubang-lubang persegiempat dan berjeruji.

Benteng Batre C terletak di Desa Cot Ba’u Kecamatan Sukajaya Kotamadya Sabang. Benteng ini terletak di atas bukit, bangunannya berdenah persegiempat dengan ukuran 19 m x 19 m x 2,5 m dan ketebalan tembok 0,5 m. Tembok bangunan berbahan batuan andesit dan batu kapur dengan spesi semen. Benteng ini terdiri atas empat bangunan yang berjajar membentuk denah persegiempat. Benteng Batre C merupakan benteng yang utama dari ketiga benteng Batre A, B, dan C. Pada bangunan yang paling besar di kompleks tersebut memiliki tiga buah pintu masuk. Pada samping kiri dan kanan pintu masuk di bagian tengah terdapat masing-masing satu buah jendela. Terdapat empat buah ruang dengan ukuran berkisar 2,5 m x 4 m. Tiga buah bangunan lainnya memiliki bentuk dasar yang sama yaitu terdapat sekat-sekat di bagian dalam ruangannya. Dua buah bangunan yaitu yang terdapat di sudut Utara dan Barat diletakkan menghadap ke Teluk Sabang dan masing-masing memiliki jendela sebanyak empat buah berbentuk persegiempat. Di depan ruangan keempat bangunan tersebut terdapat lorong selebar kurang lebih 1,5 m. Pada atap bangunan terdapat cerobong yang kemungkinan berfungsi sebagai ventilasi.

Benteng Anoi Hitam merupakan benteng pengintai yang terletak di Kelurahan Anoi Hitam, Kecamatan Suka Jaya. Benteng ini memiliki tiga buah bangunan, dan sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat pengintaian yang diletakkan di pinggir laut pada sebuah ketinggian. Bangunan pertama ini berdenah persegiempat dengan bagian depan bangunannya berdenah setengah lingkaran. Di dalamnya terdapat tiga ruangan, sebuah ruangan berada di tengah dan ukurannya lebih luas dibandingkan ruangan lainnya. Ruangan tersebut berfungsi sebagai tempat meriam. Pada saat penelitian meriam tersebut terdapat di bawah pintu masuk bangunan tersebut. Kemudian ruangan lain mengapit ruangan utama memiliki ukuran yang lebih kecil serta keletakkannya agak ke bawah dari tanah sekitarnya. Ruangan tersebut kemungkinan berfungsi sebagai gudang amunisi dan makanan. Dua bangunan lainnya terletak masing-masing sekitar 10 m dari bangunan pengintaian. Bangunan itu juga berdenah persegiempat memiliki pintu besi, berfungsi sebagai tempat amunisi. Demikian juga bangunan yang terletak paling belakang berbentuk persegiempat.

Masih di wilayah Kelurahan Anoi Hitam berjarak sekitar 1,5 km terdapat bangunan pengintaian berdenah persegiempat yang ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan bangunan lainnya. Bangunan itu terdapat di pinggir laut dan menghadap ke arah timurlaut. Bangunan tersebut berukuran 4 m x 2 m, berpintu dan memiliki dua buah lubang pengintaian di samping kiri dan kanan untuk memantau arah utara dan timur. Di bagian atap bangunan terdapat cerobong sebanyak empat buah.

Benteng Ujung Karang terletak di pinggir laut yang agak terjal yang berada di Kampung Krueng, Kelurahan Ujung Karang, Kecamatan Suka Jaya. Benteng yang terdapat paling kanan terdiri atas dua buah bangunan pengintaian yang masing-masing berjarak sekitar 15 m dan terdapat pada bagian yang agak terjal di tepi laut. Posisi kedua bangunan itu berjajar vertikal sehingga bangunan tersebut terkesan bertingkat. Pada bangunan pengintaian yang paling bawah tidak ditemukan pintu masuk sehingga kemungkinan pintu masuk ini bangunan tersebut terletak pada bangunan yang terdapat di atasnya, sehingga bengunan itu dihubungkan dengan lorong sejauh 15 m. Bangunan yang di atas memiliki pintu masuk di bagian barat bangunan dengan jendela pengintaian menghadap ke laut. Bangunan tersebut memiliki dua buah ruangan, yang satu merupakan ruang utama yang berfungsi sebagai ruangan pengintaian sedangkan ruangan lainnya lebih kecil dan tanpa memiliki jendela kemungkinan berfungsi sebagai gudang. Sedangkan bangunan pengintaian yang paling bawah memiliki lubang pengintaian yang berada di samping kiri kanan bangunan.

Benteng lainnya terletak kurang lebih 75 m dari benteng tersebut di atas. Bangunannya selain memiliki pintu masuk di bagian samping juga memiliki dua buah jendela yang letaknya berjajar vertikal (bersusun), dan pada bagian atap bangunan terdapat empat cerobong.

Benteng Ie Meulee disebut juga oleh masyarakat setempat dengan sebutan benteng “sumur tiga” karena pada lokasi ini terdapat tiga buah sumur di sekitar bangunan benteng. Lokasi benteng sumur tiga ini di pinggir laut, memiliki tiga buah bangunan utama dan sebuah bangunan tambahan. Ketiga bangunan utama tersebut terletak pada ketinggian dan bangunan tambahan terletak di bibir laut. Ketiga bangunan utama tersebut bentuknya hampir sama, hanya ada yang menggunakan cerobong di atas atap, penambahan ruangan di bagian samping dan jendela untuk meletakkan moncong meriam. Fungsi ketiga bangunan tersebut juga berbeda, dua bangunan utama merupakan bangunan untuk meletakkan meriam dan sebuah bangunan kemungkinan sebagai penjagaan. Bangunan pengintaian yang lain terdapat di tengah perkampungan berjumlah dua buah dengan bentuk lebih sederhana tanpa ruang di sisi kanan kirinya. Lokasi bangunan tersebut cukup tinggi sehingga dapat mengawasi arah laut. Disebutkan bangunan tersebut dahulu berfungsi sebagai gudang logistik.

Benteng Tapak Gajah terletak di Kelurahan Tapak Gajah, Kecamatan Suka Jaya. Sebagian bangunan terletak sekitar 50 m dari tepi pantai dan sebuah di bibir laut. Bangunan pertama ukurannya lebih besar dibandingkan bangunan yang berada di bibir laut. Bentuknya hampir sama dengan benteng lainnya hanya pada bagian atap bangunan terdapat lapisan batu. Benteng ini dibuat dengan cara memangkas tanah dan dibuat setinggi tanah yang dipangkas, jadi benteng ini dibuat untuk mengganti tanah yang diambil tersebut. Di depan bangunan ini terdapat jalan tanah selebar dua meter dan kedalamannya sejajar dengan lantai bangunan tersebut.

Jalan tersebut membentang di depan bangunan dan masing-masing ujung jalan tersebut berbelok ke arah pantai. Sekitar 50 m di depan bangunan tersebut terdapat bangunan pengintaian yang memiliki pintu masuk di belakang bangunan. Bangunan ini memiliki dua buah kamar di bagian kiri dan kanan ruang utama. Pada ruang utamanya terdapat bekas-bekas penempatan meriam. Pada bagian atap bangunan nampak bagian batu, rangka besi, dan semen sebagai bahan pembuatan atap bangunan. Bangunan yang hampir sama terletak sekitar 200 m.

Jika dibandingkan dengan bangunan yang terdapat di Batubara, maka benteng-benteng di Pulau We lebih banyak variasinya. Sebagian benteng dibangun di dataran rendah tepi pantai, sebagian dibangun di dataran tingginya. Pada umumnya benteng-benteng tersebut dibangun untuk mengawasi laut, sama dengan Lubang Jepang yang terdapat di Batubara. Benteng-benteng di Pulau We merupakan kompleks bangunan yang berfungsi sebagai pertahanan. Umumnya bangunannya berdenah perrsegiempat, sedangkan di Batubara berdenah persegienam. Bangunan benteng di Pulau We menggunakan bahan batuan dan semen, tidak berbeda jauh dengan bangunan Lubang Jepang di Batubara walaupun menggunakan bahan material batuan yang lebih kecil.

Bangunan yang dibangun di Pulau We sebagian berukuran besar dan dilengkapi dengan ruangan-ruangan untuk berbagai keperluan, seperti gudang logistik, gudang amunisi, dan lain-lain. Bangunan yang berukuran besar dan dilengkapi dengan ruangan-ruangan itu terkadang dihubungkan dengan lorong-lorong. Bangunan yang lebih kecil biasanya difungsikan sebagai bangunan penjagaan yang sebagian diletakkan tepat pada garis pantainya atau pada bagian yang lebih tinggi. Bangunan-bangunan tersebut sebagian memiliki lubang sebagai tempat meletakkan moncong meriam yang berada di bagian dalam ruangannya. Sebagian di bagian atas bangunannya dicor sebagai tempat dudukan meriam atau dengan membuat tembok bangunan yang bagian atasnya dicor juga sebagai tempat dudukan meriam. Keberadaan meriam di sekitar benteng-benteng di Pulau We menggambarkan meriam merupakan senjata yang melengkapi bangunan tersebut dan dahulu pernah dimanfaatkan. Selain itu beberapa bangunan juga dilengkapi dengan cerobong pada atap bangunan yang berfungsi sebagai ventilasi. Bangunan yang lain tidak memiliki cerobong sebagai ventilasi tetapi dilengkapi dengan jendela.

Perbandingan dengan Lubang Jepang yang terdapat di Batubara dapat dikatakan bahwa bangunan Lubang Jepang cenderung berukuran kecil dan hanya terdiri dari dua ruangan. Memiliki sekat ruangan di bagian dalam, terdapat dudukan meriam, dan lubang pengintaian sekaligus berfungsi sebagai tempat meletakkan moncong meriam. Lubang pengintaian atau tempat meletakkan moncong meriam di Batubara berada di bagian depan bangunan, sedangkan pada beberapa bangunan di Pulau We terdapat di bagian samping kiri dan kanannya, yang fungsinya sama yaitu mengawasi arah laut. Dapat dikatakan bahwa Lubang Jepang yang dibangun di Batubara memiliki kemiripan dengan bangunan penjagaan di beberapa benteng di Pulau We.

IV. Tinjauan historis

Masa pendudukan Jepang selama tiga setengah tahun merupakan salah satu pariode yang menentukan dalam sejarah Indonesia. Sebelum serbuan Jepang tidak ada satupun tantangan yang serius terhadap kekuasaan Belanda di Indonesia. Pada waktu Jepang menyerah telah berlangsung begitu banyak perubahan luar biasa yang memungkinkan terjadinya revolusi Indonesia. Jepang memberi sumbangan langsung pada perkembangan-perkembangan tersebut, terutama di Jawa, dan sampai tingkatan yang lebih kecil di Sumatera, mereka mengindoktrinasi, melatih, dan mempersenjatai banyak dari generasi muda serta memberi kesempatan kepada para pemimpin yang lebih tua untuk menjalin hubungan dengan rakyat (Ricklefs,1998:297). Namun demikian banyak juga catatan buruk tentang kedatangan pasukan Jepang ke Indonesia.

Setelah Singapura jatuh maka terbukalah pintu masuk ke Sumatera yang jaraknya tidak jauh dari Singapura (Departemen P&K,1979/1980:7). Kedatangan Jepang ke Sumatera disebabkan Sumatera mempunyai arti yang penting untuk pihak Jepang karena sumber-sumber strategisnya dan baru ketika Jepang berada diambang kekalahan ide-ide nasionalis diperbolehkannya berkembang disana (Ricklefs,1998:298). Pasukan-pasukan Jepang yang menyerbu ke daerah Sumatera Utara adalah bagian dari pasukan ke-25. Pasukan itu berada di bawah komando Jenderal Tomoyuki Yamashita atau terkenal dengan julukan Malay No Tora (harimau Malaya), karena berhasil menaklukan Semenanjung Malaya (Departemen P&K,1979/1980:7). Disebutkan resimen 5 Infanteri diperintahkan mendarat di pantai Labuhan Ruku, Provinsi Sumatera Timur dengan tujuan memasuki ibukota Medan.
Demikian juga resimen 4 Infanteri, akan tetapi pasukan tersebut diperintahkan melanjutkan gerakan memotong terus menuju ke Padang, kota pelabuhan terbesar di pantai barat Sumatera (Fusayama,1994:345).

Menurut catatan Fusayama pada tanggal 12 Maret 1942 disebutkan pendaratan pertama berlangsung tengah malam di muara sunyi agak jauh dari pantai Labuhan Ruku, bagian timur Sumatera Utara. Tidak ada pasukan musuh di tempat mendarat. Ternyata pantainya berlumpur dalam, tak sesuai dengan laporan pesawat pengintai yang mengatakan bahwa pantai berpasir putih, indah, cocok untuk mendarat. Kemudian dilanjutkan gelombang kedua mendarat bersama markas besar divisi dan korps sandi yang mendarat di dermaga Tanjung Tiram, sebuah tangkahan nelayan di sebelah baratlaut Labuhan Ruku (Fusayama,1994:346–347). Selanjutnya pasukan tersebut sebagian menggunakan sepeda yang dibawa dan langsung bergerak menuju kota Medan, pasukan lainnya menggunakan mobil bawaan dan mobil yang telah diperbaiki menuju kota tersebut (Fusayama,1994:348–349).

Menurut informasi masyarakat di Pantai Sejarah Desa Parupuk merupakan lokasi pendaratan pasukan Jepang. Disebutkan bahwa pada malam hari di pantai tersebut terdengar bunyi mesin-mesin kapal yang berisik. Beberapa masyarakat menyaksikan tentara Jepang yang berjalan dan merangkak dalam lumpur menuju ke daratan. Pasukan tersebut sampai ke desa hingga pagi hari. Masyarakat berduyun-duyun melihat kedatangan pasukan tersebut. Dengan senang hati masyarakat mempersilahkan pasukan menggunakan air-air sumur mereka untuk membersihkan diri (mandi) tanpa menggunakan penutup badan. Sehingga perempuan-permpuan penduduk setempat meninggalkan kampung dan lari ke hutan.

Selanjutnya disebutkan juga pada keesokan harinya pasukan mulai bergerak mencari sepeda ke rumah-rumah penduduk untuk mengawasi dan memantau keadaan sekitar. Dengan bahasa isyarat para tentara meminjam sepeda penduduk untuk dipakai tetapi hanya sebagian yang mau meminjamkan sepedanya, sedangkan yang lain justru membuang sepeda itu ke semak-semak atau hutan daripada dipinjamkan. Selain di sekitar desa mereka juga ke luar daerah dengan mengendarai sepeda seperti Asahan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar dan ke daerah lainnya.

Setelah kedatangan pasukan Jepang di Desa Parupuk awalnya masyarakat menerima kedatangan tersebut dengan senang hati dengan harapan dapat melepaskan mereka dari kekuasaan Belanda. Harapan itu diungkapkan dengan mengibarkan bendera Indonesia dan bendera Jepang secara bersamaan. Karena harapan tersebut dan janji-janji oleh Jepang membuat masyarakat tenang sehingga membantu aktivitas mereka diantaranya dalam pembuatan benteng dari pohon kelapa di sepanjang pantai. Selanjutnya pada tiga bulan setelah pendaratan pasukan Jepang mulai membuat Lubang Jepang sebagai sarana pertahanan. Menurut informasi masyarakat lubang Jepang di kawasan tersebut dibangun sebanyak tujuh buah. Disebutkan bahwa lubang Jepang yang terletak dekat pantai di bagian utara dan timurlaut memiliki terowongan untuk menuju ke laut.

Untuk pembuatan bangunan tersebut pasukan Jepang mengerahkan masyarakat setempat untuk bekerja. Masyarakat setempat dipaksa bekerja siang-malam tanpa henti. Kemudian setelah menyelesaikan satu bangunan para pekerja disuruh berjalan menuju ke pantai dengan alasan untuk menikmati suasana laut, bersantai sambil mencari ikan, namun kemudian mereka ditembak hingga mati. Demikian yang terjadi pada para pekerja dalam setiap pembuatan Lubang Jepang tersebut.

Kekejaman pasukan Jepang dari hari ke hari semakin terlihat dengan merosotnya perekonomian masyarakat. Seperti monopoli penjualan beras dan penentuan harga beras (Departemen P&K,1979/1980:10). Hal ini juga terjadi pada masyarakat Desa Parupuk. Karena persediaan terbatas membuat petani sendiri tidak mempunyai beras untuk dimasak. Para petani terpaksa makan ubi, jagung, pisang yang dicampur dan dimasak dengan beras (dirandi) atau apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Begitu juga dengan kebutuhan sandang tidak dapat dipenuhi masyarakat sehingga terpaksa menggunakan goni, kulit kayu, atau karet karena tidak adanya bahan tekstil di pasaran. Kadang-kadang para tentara berpura-pura baik dengan memberikan bahan sandang kepada masyarakat tetapi semua pakaian tersebut sudah diberi kutu.

Kedatangan pasukan Jepang yang relatif singkat atau sering disebut seumur jagung juga meninggalkan kesan buruk bagi masyarakat setempat maupun masyarakat Indonesia pada umumnya. Tindak kekerasan, kekejaman, keterpaksaan, dan kezaliman terjadi tidak hanya terhadap kaum pria tetapi juga terhadap kaum wanita. Tindakan pasukan Jepang tersebut memberikan kenangan terpahit pada masyarakat Parupuk, sehingga masyarakat menyebutkan daerah pantai sekitar Lubang Jepang tersebut dengan sebutan Pantai Sejarah.

V. Penutup

Lubang Jepang di Batubara dan benteng-benteng di Pulau We merupakan bangunan yang dibangun sebagai kubu pertahanan di wilayah pesisir untuk mengawasi bagian lautnya. Bahan bangunan yang digunakan untuk pembangunannya hampir sama di kedua tempat tersebut, yaitu menggunakan bahan batuan dan semen. Bentuk bangunannya dan ruangan-ruangan di dalamnya disesuaikan dengan kebutuhan dan fungsi bangunannya. Menilik bentuk bangunan yang umumnya berukuran kecil Lubang Jepang di Batubara berfungsi sebagai bangunan penjagaan sebagai bagian pertahanan terhadap musuh dari arah laut. Di Batubara tidak ditemukan bangunan berukuran besar dengan banyak ruangan yang difungsikan sebagai gudang mesiu, atau logistik seperti halnya yang ditemukan di Pulau We.

Kepustakaan

Fusayama, Takao, 1994. Runtuhnya Imperium Barat di Asia Tenggara Fajar Asia.
Medan: Prima dan Lina Computer Press

Jufrida, 2001. Batubara, Perjalanan Sejarahnya di Pesisir Timur Sumatera,
dalam Berkala Arkeologi
Sangkhakala no. 09. Medan: Balai Arkeologi Medan, hal. 30–40

Lubis, Abdul Mukti, 1979/1980. Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949)
Daerah Sumatera Utara. Medan: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan

Poesponegoro, Marwati Djoened dkk. 1993. Sejarah Nasional Indonesia VI.
Jakarta: Balai Pustaka

Ricklefs, M.C, 1998. Sejarah Indonesia Modern. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press

Situmorang, Sitor. 1981. Sitor Situmorang Seorang Sastrawan 45 Penyair Danau Toba. Jakarta: Sinar Harapan

Sutrisna, Deni dkk, 2006. Laporan Pendataan Arkeologi di Wilayah Perbatasan
(Pulau Berhala dan Sekitarnya)
Provinsi Sumatera Utara. Medan: Balai Arkologi Medan (belum diterbitkan)

Thaib, Rustam, dkk., 1997. 50 Tahun Kotapraja Medan. Medan: Djawatan Penerangan Kotapraja I Medan

Tim Penelitian, 1996/1997. Laporan Hasil Penelitian, Survei Peninggalan Masa Islam di Pulau We, Provinsi D.I. Aceh. Medan: Balai Arkeologi Medan (tidak diterbitkan)

Wignjosoebroto, Soetandyo, 2005. Desentralisasi Dalam Tata Pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda.
Malang: Bayumedia Publishing

Written by balarmedan

Januari 8, 2009 at 3:15 am

Ditulis dalam Uncategorized