Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

KOTA CINA DAN PULAU KOMPEI: PERBANDINGAN TEMUAN ARKEOLOGIS AKTIVITAS PERDAGANGAN DI BANDAR-BANDAR PESISIR TIMUR SUMATERA

with 10 comments

Stanov Purnawibowo

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

Trade activities in Kota Cina and Pulau Kompei in east coast Sumatera, have a growth approximately 13th — 16th Centuries. The comparison of archaeological records between Kota Cina and Pulau Kompei may gave a few conclution about growth and disappeared an anchorages.

 

Kata kunci: keramik, koin, maritim, perdagangan

I. Pendahuluan

Pesisir pantai timur Sumatera secara geografis sangat strategis dan terbuka terhadap kontak dan interaksi dengan dunia luar. Berada tepat menghadap langsung ke Selat Malaka yang menjadi jalur lalu lintas perdagangan internasional, menjadikan beberapa tempat di sekitar pesisir pantai timur Sumatera pernah menjadi bandar dagang yang cukup ramai pada masanya. Keterbukaan lokasi bandar-bandar dagang tersebut, mempengaruhi karakteristik masyarakat bahari bersifat lebih terbuka, baik dalam adaptasinya dengan segala sesuatu yang baru maupun keterbukaannya dalam menerima aspek-aspek kebudayaan baru yang sebelumnya tidak mereka miliki serta memiliki orientasi kehidupan ekonominya dari perdagangan (Ambary,2000:12).

Selat Malaka menjadi jalur perdagangan yang ramai sejak permulaan abad pertama, yang sering disebut sebagai jalur sutera kedua. Berada pada jalur penghubung yang menghubungkan antara daerah luar bagian barat dengan wilayah kepulauan Nusantara sebagai daerah penghasil rempah-rempah dan hasil bumi lainnya yang pada masa itu sangat laku di dalam dunia perdagangan internasional.

Beberapa bandar perdagangan serta aktivitas maritim yang ada di sepanjang pesisir timur pantai Sumatera mulai dari wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam hingga wilayah Provinsi Lampung mengalami fase tumbuh berkembang dan mundur, digantikan perannya oleh bandar perdagangan lain yang lebih menguntungkan serta adanya jaminan keamanan dari penguasa wilayah bandar perdagangan baru tersebut. Beberapa tempat di pesisir timur pantai Sumatera yang masuk dalam wilayah Provinsi Sumatera Utara menyisakan jejak aktivitas maritim dan perdagangan melalui tinggalan arkeologis, antara lain situs Pulau Kompei dan Kota Cina. Pengkajian dan penelitian terhadap kedua situs tersebut telah banyak dilakukan antara lain oleh Milner (1978), McKinnon dan Sinar (1981), Ambary (1984), serta Manguin (1989).

Keberadaan dua situs tersebut mungkin masih jauh dari upaya menggeneralisir aspek kehidupan maritim dan perdagangan masa lalu di wilayah pesisir pantai timur Sumatera. Tetapi melalui deskripsi serta penjelasan singkat, dengan mengambil sampel dua situs perdagangan di wilayah Provinsi Sumatera Utara, dapat dijadikan data tambahan bagi kajian arkeologi maritim dan perdagangan yang telah ada sebelumnya. Secara bertahap, jejak aktivitas perdagangan dan aktivitas maritim masa lalu di kedua situs tersebut dapat ditelusuri melalui temuan data arkeologis yang diindikasikan sebagai bukti adanya kontak dagang dengan daerah luar. Temuan tersebut adalah berupa fragmen keramik asing serta mata uang logam asing.

Permasalahan yang dibahas dalam tulisan ini berkenaan dengan temuan artefaktual berupa fragmen keramik dan koin Cina dari situs Kota Cina dan Pulau Kompei yang diindikasikan sebagai jejak aktivitas maritim dan perdagangan. Adapun perbandingan yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui: jenis artefak, keramik dan koin yang ditemukan di situs tersebut serta masa tumbuh kembang dan mundurnya kedua situs tersebut. Bagaimanapun, dapat dikenali bahwa keramik asing khususnya dari Cina merupakan bukti kuat adanya pertukaran barang dari daerah produksi ke daerah pemasaran, sedangkan koin merupakan bukti adanya proses tukar menukar dengan menggunakan alat pembayaran yang sah dan diakui oleh para pelaku dagang di tempat dan masa itu.

II. Kota Cina

Kota Cina merupakan salah satu situs maritm yang potensial di pesisir timur Sumatera. Secara administratif terletak di Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Medan, Provinsi Sumatera Utara. Secara astronomis Kota Cina terletak pada 3° 43′ LU dan 98° 38′ BT yang berada di daerah aliran dua sungai besar yang bermuara di Selat Malaka dengan luas wilayah situs 25 Ha (McKinnon,1978:1–5). Dua sungai tersebut adalah Sungai Deli dan Sungai Belawan yang berhulu dari daerah pegunungan Bukit Barisan dan bermuara di pesisir timur Pulau Sumatera.

Letak Kota Cina yang strategis, sebelum langsung menuju laut lepas merupakan tempat yang cocok untuk berlabuh dan singgah para pedagang. Dalam sejarah perdagangan dunia, dicatat bahwa Selat Malaka merupakan wilayah perairan yang paling ramai dalam kurun waktu awal hingga sekarang. Selat Malaka merupakan jalur perdagangan laut yang ramai dan sering disebut sebagai Jalur Sutera Laut atau Jalur Sutera Kedua. Adapun
komoditas yang diperdagangkan berasal dari berbagai wilayah di Nusantara, Cina, Eropa, India dan Timur Tengah.

Beberapa temuan artefaktual yang ditemukan di lokasi situs Kota Cina antara lain fragmen keramik Cina, arca dari bahan batu dan logam dengan ciri Cola style dari India Selatan, struktur bangunan bata (diduga candi), koin logam dengan lubang persegi di bagian tengahnya, fragmen gerabah, fragmen kaca, manik-manik serta sisa papan perahu yang ditemukan di situs Kota Cina dapat diindikasikan sebagai sisa aktivitas kemaritiman masa lalu di Kota Cina dan di pesisir timur Pulau Sumatera umumnya (Koestoro, dkk.,2004:31).

Jumlah sampel yang diambil adalah 3027 fragmen keramik berbagai jenis. Jenis pertama adalah keramik Chingpai yang merupakan jenis keramik, identik dengan bentuk wadah yang ukurannya relatif kecil dan tipis. Bahan dasarnya menggunakan stoneware dengan glasir warna putih/bening yang dihasilkan dari mineral silika (Si) yang terkadang mengalami efek samping dari pembakaran pada suhu yang tinggi, berupa retakan halus pada permukaan wadah yang sering disebut pecah seribu. Keramik Chingpai menjadi komoditas perdagangan setelah masa keemasan keramik celadon, keramik Chingpai diproduksi pada masa Dinasti Sung hingga Dinasti Yuan yang berkisar antara abad ke-12 hingga akhir abad ke-14 (Ambary,1984:69).

Jenis berikutnya adalah Celadon (green-glazed wares), yaitu jenis keramik yang memiliki ciri-ciri umum berwarna hijau dengan bahan dasar utama stoneware. Warna hijau dihasilkan dari bahan utama mineral tembaga (Cu). Motif hias dengan teknik gores dan oles yang terdapat di bawah lapisan glasir (underglaze ornament) dengan motif hias flora ataupun fauna, biasanya pada bagian dasarnya tidak semuanya terglasir, hal ini disebabkan oleh proses pemberian glasir pada wadah yang ditumpuk. Keramik celadon yang ditemukan di situs Kota Cina berasal dari daerah Provinsi Chekiang di Cina, terutama dari kiln (tungku pembuatan keramik) di Lung Chuan.

Selanjutnya adalah Te Hua wares, salah satu jenis keramik yang hampir mirip dengan keramik Chingpai/white glaze wares namun berbeda pada tingkat kekasaran perekat bahan serta kurang baiknya proses pembentukan akhir. Keramik jenis ini banyak diproduksi pada masa Dinasti Yuan sekitar abad ke-14 (Ambary,1984:69). Jenis lain adalah Coarse stone wares, yakni jenis keramik yang masih kasar dalam proses pembentukannya sehingga butiran-butiran (biscuit) pada bahan dasar yang berupa stoneware masih nampak, yang memberikan kesan kasar pada bagian badan wadah. Jenis keramik ini biasanya disebut wadah air raksa/mercury jar.

Objek arkeologi lain yang ada di situs ini adalah dua arca Buddha yang terbuat dari bahan batu granit.
Arca Buddha pertama dikenali sebagai Buddha Amithaba dengan sikap tangannya dhyanamudra, arca Buddha berikutnya juga dikenali sebagai Buddha Amitabha juga dengan sikap tangan dhyanamudra dengan Usnisa (sebuah lidah api yang muncul dari puncak kepala), pada bagian tangan dan kaki lapisan kainnya dilipat tebal sehingga menyerupai gelang. Kedua arca Buddha tersebut memiliki gaya khas India Selatan (cola style)
yang berasal dari abad ke-12–13 Masehi (McKinnon,1993/1994:59–60). Selain itu ditemukan juga arca bersifat Hindu yang diduga merupakan arca Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi tanpa bagian kepala. Temuan lain adalah lingga dan yoni, sekarang disimpan sebagai koleksi di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara. Selain temuan arca, McKinnon (1978:68) dalam penelitiannya menemukan beberapa struktur bangunan dari batu bata, fragmen kaca, fragmen gerabah, dan kepingan koin Cina yang berasal dari abad ke-11 — 13 serta manik-manik. Banyak koin ditemukan tetapi hanya beberapa yang dapat diidentifikasi, antara lain yang berasal dari masa Dinasti Tang abad ke-8 — 10, Dinasti Sung selatan abad ke-12–13, sebagian dari masa Dinasti Sung utara abad ke-11–12 (Milner,1978:28).


 

 

 

 

 

 

 

 

 

Temuan lain berupa sisa moda transportasi air yang diteliti oleh Manguin (1989) meliputi beberapa keping papan kayu perahu, memungkinkan pengenalan akan keberadaan perahu dagang dari berbagai ukuran. Berdasarkan hasil analisis C14 (carbon dating), perahu-perahu tersebut diketahui dibuat pada abad XII–XIII (Manguin,1989:217). Keberadaan temuan 17 keping papan perahu dengan berbagai macam ukuran dan bentuk, berasal dari jenis perahu yang berfungsi sebagai perahu dagang (trading ships) (Manguin,1989:205–208), menguatkan indikasi Kota Cina sebagai lokasi aktivitas perdagangan dan maritim masa lalu.

III. Pulau Kompei

Pulau Kompei secara geografis terletak di sekitar Teluk Aru, lokasinya terpisah dari daratan pulau Sumatera oleh Sungai Serangjaya. Posisi pulau yang berada di pesisir timur pantai Sumatera ini menghadap langsung ke selat Malaka. Bentang lahan pulau berupa daerah berrawa yang banyak ditumbuhi mangrove (Rhizophora Sp.). Secara astronomis Pulau Kompei terletak pada 4º 12′ LU dan 98º 15′ BT. Pulau Kompei secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara (McKinnon,1981:51).

Peta Lokasi Kota Cina dan Pulau Kompei

(Sumber: McKinnon, 1981: 55, diperbaharui seperlunya)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam sumber sejarah, daerah Teluk Aru pada awal abad ke-16 berada di bawah kekuasaan Aceh, kemudian pada kurun waktu antara tahun 1795 hingga tahun 1811 dikuasai oleh Siak (Schader,1918:2 dalam McKinnon,1981:52). Pada abad ke-19 daerah Teluk Aru masuk dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Langkat yang meliputi lima daerah administratif subdistrik, yaitu Pulau Kompei, Besitang, Lepan, Babalan dan Pulau Sembilan (McKinnon,1981:52).

Beberapa fakta arkeologi yang ditemukan pada kegiatan survey permukaan di situs Pulau Kompei antara lain fragmen keramik Cina, gemstone, fragmen kaca, pecahan wadah yang terbuat dari tanah, manik-manik (glass beads of cornelian) dari India Selatan, koin asing (Cina), pecahan bata merah, dua pecahan batu granit serta beberapa patung kecil terbuat dari perunggu. Pada beberapa tempat terdapat lapisan cangkang kerang tipis dari jenis yang oleh orang setempat dinamakan seteng (Placuna Sp.) (McKinnon,1981:56, Sinar,tt:7).

Temuan fragmen keramik di situs Pulau Kompei terdiri dari beberapa bentuk wadah dalam berbagai ukuran. Sebuah mangkuk stoneware utuh serta 95 pecahan fragmen keramik diduga dari berbagai macam wadah dengan bentuk dan ukuran yang beragam. Beberapa di antaranya merupakan jenis keramik Chingpai
glazed
porcelain, green-glazed Lungchuan (celadon) ware, greyish-yellow glazed porcelain, clear-glazed stoneware bowl dengan warna slip putih, white glazed stoneware bowl. Beberapa temuan bata mirip dengan temuan di situs Kota Cina. Ditemukan pula sebanyak 36 keping koin logam yang telah mengalami korosi, koin tersebut terdiri atas 5 koin dari masa Dinasti Tang abad ke- 8–10; 27 koin dari masa Dinasti Sung Utara abad ke- 11–12; 3 koin tidak teridentifikasi, serta satu buah koin Hindia Belanda dengan angka tahun 1907 (McKinnon,1981:73). Disamping itu ada pula temuan mata uang yang berasal dari zaman Dinasti Ming (Sinar,tt:7).

Keberadaan keramik asing, terutama berasal dari daratan Cina dapat diidentifikasi untuk mendapatkan umur relatifnya. Keramik Chingpai merupakan jenis keramik yang identik dengan bentuk wadah yang relatif kecil ukurannya dan tipis. Bahan dasarnya menggunakan stoneware dengan glasir warna putih/bening yang dihasilkan dari mineral silika (Si) yang terkadang mengalami efek samping dari pembakaran pada suhu yang tinggi, berupa retakan halus pada permukaan wadah yang sering disebut pecah seribu. Keramik Chingpai diproduksi pada masa Dinasti Sung hingga Dinasti Yuan berkisar antara abad ke-12 hingga akhir abad ke-14. Kemudian jenis keramik Lungchuan
green-glazed ware (celadon), yaitu jenis keramik yang memiliki ciri-ciri umum berwarna hijau berbahan dasar utama stoneware dengan pembakaran pada suhu 900˚C–1200˚C. Warna hijau dihasilkan dari bahan utama mineral tembaga (Cu). Diproduksi massal untuk kebutuhan perdagangan dan ekspor Cina masa Dinasti Sung abad ke-11–12 Masehi (Ambary,1984:66). Walaupun demikian ada beberapa kiln Lungchuan sudah berproduksi pada akhir masa Dinasti Tang abad ke-10. Keramik jenis grayish-yellow
glazed porcelain, clear-glazed stoneware dengan warna slip putih, white
glazed stoneware merupakan karakteristik yang dimiliki keramik masa Dinasti Tang dari abad ke-9–10 dengan ciri ornamen hiasan sederhana, warna underglazed serta teknologi glasirnya yang masih kasar.

IV. Kota Cina dan Pulau Kompei dalam perbandingan

Dari uraian di atas kita dapat melihat perbandingan atas jenis temuan fragmen keramik dan koin, serta ragam jenis temuan fragmen keramik dan koin yang ditemukan di kedua situs tersebut. Perbandingan tersebut ditujukan untuk melihat ragam jenis temuan, asal serta periode dinasti dari artefak di situs Kota Cina dan Pulau Kompei. Hal tersebut dapat memberi sedikit penjelasan tentang rentang waktu aktivitas perdagangan yang ada di kedua situs tersebut.

No. 

Jenis, asal dan periode 

Kota Cina 

Pulau Kompei 

Ada 

Tidak 

Ada 

Tidak 

1. 

Lungchuan (celadon), Cina abad X — XII M

v 

- 

v 

- 

2. 

Chingpai, Cina abad XII — XIII M

v 

- 

v 

- 

3. 

Te Hua wares, Cina abad XIV M 

v 

- 

- 

v 

4. 

Coarse stone wares, Cina abad XIII — XIV M 

v 

- 

- 

v 

5. 

Grayish-yellow glazed porcelain, Cina abad IX — X M 

- 

v 

v 

- 

6. 

Clear glazed porcelain, Cina abad IX — X M

- 

v 

v 

- 

7. 

White glazed porcelain, Cina abad IX — X M 

- 

v 

v 

- 

Tabel perbandingan keramik: jenis, asal dan periode

Dari tabel di atas dapat dilihat, data jenis keramik yang ditemukan di kedua situs memiliki persamaan dan perbedaan jenis serta asalnya. Temuan keramik di situs Kota Cina berasal dari rentang masa abad ke-10 hingga abad ke-14. Sedangkan temuan keramik di situs Pulau Kompei berasal dari rentang masa abad ke-9 hingga abad ke-13. Berdasarkan tabel di atas secara kuantitas jenis keramik yang ditemukan di situs Pulau Kompei lebih banyak serta berasal dari masa yang lebih tua bila dibandingkan dengan temuan keramik di situs Kota Cina.

No. 

Asal dan periode 

Kota Cina 

Pulau Kompei 

Ada 

Tidak 

Ada 

Tidak 

1. 

Dinasti Tang abad VIII — X M. 

v 

- 

v 

- 

2. 

Dinasti Sung Utara X — XII M. 

v 

- 

v 

- 

3. 

Dinasti Sung Selatan XII — XIII M. 

v 

- 

- 

- 

4. 

Dinasti Ming XIV — XVII M. 

- 

v 

v 

- 

Tabel perbandingan koin: asal dan periode

Perbandingan ragam koin Cina menunjukkan lebih banyak dari situs Kota Cina dibandingkan dengan temuan dari Pulau Kompei. Asal serta jenis koin Cina yang ditemukan di situs Kota Cina berasal dari masa Dinasti Tang abad ke-8 hingga masa Dinasti Sung Selatan abad ke-13. Sedangkan temuan di situs Pulau Kompei berasal dari masa Dinasti Tang abad ke-8 hingga masa Dinasti Sung Utara abad ke-12 serta temuan koin dari masa Dinasti Ming sekitar abad ke-14–17. Dari data tersebut didapat gambaran variabel data yang relatif sama di antara kedua situs tersebut. Perbedaan terletak pada beberapa jenis temuan koin yang berasal dari masa Dinasti Sung Selatan abad ke- 12–13 yang tidak ditemukan di situs Pulau Kompei dan koin dari masa Dinasti Ming abad ke- 14–17 yang tidak ditemukan di situs Kota Cina.

Perbedaan ragam temuan memberikan sedikit penjelasan kondisional kedua situs tersebut. Penjelasan sementara berdasarkan data pembanding di atas, situs Pulau Kompei pernah menjadi tempat perdagangan pada masa yang lebih awal dibandingkan dengan situs Kota Cina yaitu sekitar rentang waktu abad ke- 9–13. Lalu pada rentang masa abad ke- 12–13 mengalami sebuah kekosongan peran sebagai sebuah bandar dan muncul kembali pada rentang masa abad ke- 14–17 dengan indikasi ditemukannya koin dari masa Dinasti Ming. Situs Kota Cina pernah menjadi tempat perdagangan pada rentang masa antara abad ke- 10–14. Hal tersebut memberikan sedikit gambaran awal babakan masa relatif pemakaian kedua situs tersebut yang ditinjau berdasarkan temuan jenis keramik dan koin Cina.

V. Penutup

Jumlah temuan masing-masing variabel pembanding masih lebih banyak ditemukan dari situs Kota Cina dibandingkan dengan yang berasal dari situs Pulau Kompei. Adapun upaya perbandingan yang telah dilakukan memang belum dapat memastikan bahwa situs Pulau Kompei lebih awal menjadi sebuah tempat perdagangan sekitar abad ke-9 hingga ke-13, lalu mengalami masa penurunan aktivitas pada rentang masa abad ke-14. Justru pada masa itu Kota Cina masih menjadi tempat perdagangan yang ramai. Setelah abad ke-14 barulah Kota Cina tampak mengalami kemunduran dan sebaliknya Pulau Kompei muncul kembali sebagai tempat aktivitas perdagangan pada awal abad ke-15 hingga abad ke-17. Berdasarkan perbandingan yang telah dilakukan indikasi untuk merujuk hal tersebut telah ada. Tentunya masih dibutuhkan upaya lebih lanjut untuk mendapatkan generalisasi yang kuat tentang hal tersebut di atas.

Kepustakaan

Ambary, H. Muarif, 1984. Further Notes On Classification Of Ceramics From The Excavation Of Kota Cina, dalam Studies On Ceramics, Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, hal. 63–72

———————, 2000. Peranan Beberapa Bandar Utama Di Sumatera Abad Ke- 7–16 M Dalam Jalur Perdagangan Internasional, dalam PROCEEDINGS Internasional Symposium For Japanese Ceramics of Archaeological Sites In South-East Asia: The Maritim Relationship On 17th Century. Jakarta: Pusat Arkeologi dan The Japan Foundation, hal. 12–23

Koestoro, Lucas Partanda dkk., 2004. Sekilas Balai Arkeologi Medan Dalam Pengembangan dan Pemasyarakatan Ilmu Serta Pengembangan Kebudayaan. Medan: Balai Arkeologi Medan

Manguin, P. Y., 1989. The Trading Ships Of Insular South-East Asia, dalam PIA V. Jakarta: IAAI, hal. 200–219

Milner, A. C., dkk., 1978. A Note On Aru And Kota Cina. Indonesia, October, 26

McKinnon, E. E. dan T. Luckman Sinar, 1981. A Note On Pulau Kompei In Aru Bay, Northeastern Sumatera, dalam INDONESIA Vol. 32. Southeast Asia Programme, Cornell University, hal. 49–73

——————–,1993/1994. Arca-Arca Tamil Di Kota Cina, dalam Saraswati Esai-esai Arkeologi 2, KALPATARU Majalah Arkeologi No. 10. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hal. 53–79

Sinar, T. Luckman, tt. Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur. Medan: tp.

Wangheng, Chen, 2001. Chinese Bronzes. Singapore: Asiapac Books LTD.

Written by balarmedan

Januari 8, 2009 at 3:41 am

Ditulis dalam Uncategorized

NISAN PLAKPLING, TIPE NISAN PERALIHAN DARI PRA- ISLAM KE ISLAM

without comments

Repelita Wahyu Oetomo

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

The plakpling gravestone type spreaded a lot in Aceh, which is quiet possible that it’s a change of type from pre Islam to Islam era. From the inscriptions on it’s surface, this gravestone was assumed that it’s older than other gravestones.

 

Kata kunci: plakpling, nisan, pra- Islam ke Islam

 

I. Pendahuluan

Di Kabupatan Aceh Besar, tepatnya di dalam Benteng Kuta Lubuk, Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya terdapat beberapa buah nisan yang memiliki bentuk unik. Batu nisan tersebut secara umum berbentuk batu tegak atau tugu persegi empat yang semakin ke atas semakin meruncing, membentuk piramida. Berdasarkan informasi penduduk, batu nisan tersebut dinamakan nisan Plakpling (Montana,1996/1997:86). Sebutan Plakpling, berdasarkan suatu nama tempat di Aceh, dimana banyak terdapat, tipe-tipe nisan sejenis. Batu-batu nisan tersebut kemungkinan merupakan bentuk peralihan dari masa pra-Islam ke Islam. Penulis mendapatkan data-data sejenis saat melakukan pengamatan di Kabupaten Aceh Besar bersama Tim Penelitian yang diketuai M. Cholid Sodrie. Seperti halnya penulis lainnya, Cholid Sodrie sependapat bahwa nisan-nisan tersebut digunakan pada makam orang-orang ternama atau ulama Aceh yang berasal dari abad ke-16 atau lebih awal dari itu.

Hasil pembacaan yang dilakukan oleh Suwedi Montana terhadap beberapa nisan yang terdapat di dalam Benteng Kuta Lubuk menunjukkan angka tertua adalah 680 H (1211 M) (Montana,1997:86). Pertanggalan tersebut menunjukkan umur yang lebih tua dibandingkan dengan nisan Sultan Malik as-Shaleh di Samudera Pasai -berangka tahun 696 H (1297 M)- yang dikenal sebagai daerah asal mula penyebaran Islam.

Nisan-nisan tipe ini banyak tersebar di hampir semua tempat di Aceh. Bentuk nisan ini cukup unik karena cenderung lebih menyerupai lingga ataupun menhir. Bentuk-bentuk penyesuaian dari masa pra-Islam ke Islam. Nisan-nisan tersebut merupakan kelanjutan atau bersumber pada tradisi sebelumnya, prasejarah dan klasik. Nisan tersebut dilengkapi dengan pola hias, berupa pahatan flora, geometris atau kaligrafi. Nisan-nisan tersebut meniru/menyerupai bentuk menhir atau lingga yang sangat umum dipakai pada masa prasejarah dan masa klasik/Hindu-Buddha.

II. Nisan-nisan plakpling di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Besar

II.1. Nisan di Kompleks Makam Ratu Nahrisyah

Kompleks makam ini berada di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Bagian bawah nisan berukuran, lebar 14 cm, dengan ketinggian mencapai 80 cm.

Dasar: tertanam dalam tanah.

Badan bagian bawah: persegiempat, di tiap sisi terdapat panil-panil berisi kaligrafi.

Badan bagian atas: terdapat
hiasan dengan sulur-suluran sederhana dengan motif bungong awan si tangke (unsur tunggal hiasan awan). Di bagian tengah terdapat panil yang dibiarkan dalam keadaan kosong. Terpisah dari bagian kepala terdapat panil horisontal berisi ukiran bungong aneu abie (berudu).

Kepala: menyerupai
bentuk
bawang/ojief persegi empat.

Atap: persegi empat, bersusun tiga, semakin ke atas semakin mengecil.

II.2. Nisan di Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar

 

 

Nisan 1

Terletak di dalam Benteng Kuta Lubuk. Nisan berukuran tinggi sekitar 80 cm.

Badan bagian bawah: berbentuk persegi empat berukuran 20 cm. Tiap sisi terdapat panil yang berisi hiasan berupa kaligrafi maupun motif sulur-suluran.

Badan bagian atas: semakin ke atas nisan semakin mengecil (piramid). Pada setiap sisi terdapat ukiran dengan motif sulur-suluran bungong awan ( awan, sulur atau hiasan) di keempat sisi dengan gaya cukup meriah.

Atap: meruncing tanpa hiasan/polos.

Nisan 2


Badan bagian bawah: persegiempat dengan sisi-sisinya tidak tajam. Tidak terdapat hiasan.

Badan bagian atas: dibatasi oleh pelipit, berbentuk persegiempat polos.

Kepala: dibatasi oleh pelipit, semakin ke atas semakin mengecil, polos.

Atap: persegiempat semakin ke atas semakin mengecil.

 

 

Nisan 3

Dasar: polos, berukuran lebih besar dibandingkan dengan bagian di atasnya. Dipahat kasar, berkaitan peletakannya, di dasar tanah/tertanam. Bahan baku yang digunakan berkualitas kurang baik, mengakibatkan pembentukannya menjadi kurang sempurna dan gampang pecah.

Badan bagian bawah: polos dengan pahatan lebih rapi dibandingkan bagian bawahnya/dasar.

Badan bagian atas: terdapat panil berisi
ukiran dengan motif bungong awan, demikian juga dengan sisi yang lain.

Atap/kepala: berbentuk oval, horisontal.

 

 

 

Nisan 4

Yang tampak adalah bagian badan atas dan atap/kepala, adapun bagian lain tertanam dalam tanah. Nisan terbuat dari batuan yang rapuh sehingga sebagian hiasannya aus.

Badan bagian atas: hiasan terdapat pada keempat sisinya. Di tiap sisi terdapat panil yang membatasi masing-masing hiasan. Pola hias yang digunakan adalah sulur-suluran sederhana pada keempat sisinya.

Kepala: berbentuk bawang, polos.

Atap/puncak: sebagian
telah pecah, semakin ke atas semakin mengecil.

Nisan 5

Kondisinya relatif utuh, terbuat dari jenis batuan andesit, dihias dengan motif sederhana namun cukup menarik. Tinggi keseluruhan nisan diperkirakan sekitar 85 cm.

Dasar: merupakan bagian yang tertanam di dalam tanah, dibentuk namun kasar.

Badan bagian bawah: bentuk yang membatasinya dari bagian dasar. Badan bagian bawah merupakan kubus dengan ukuran lebar sekitar 20 cm. Pada tiap-tiap sisi terdapat panil, dimana panil tersebut dibagi menjadi tiga. Pada masing-masing panil, pada keempat sisinya terdapat kaligrafi.

Badan bagian atas: dihiasi dengan empat susun ukiran dengan motif bungong awan si tangke dan bungong glimo (bunga buah delima). Ukiran dengan motif tersebut di atas juga terdapat pada sisi-sisi lainnya. Di bagian sudut ukiran dibuat menembus pada sisi lainnya sehingga pada bagian sudut hiasan tampak menyatu. Makin ke atas nisan makin mengecil.

Kepala: berbentuk bawang dengan sisi persegiempat.

Atap: berbentuk piramid semakin ke atas semakin mengecil.

 

 

 

Nisan 6

Fragmentaris, yang tersisa hanya badan bagian atas dan atap/kepala.

Badan bagian atas: di tiap-tiap sudut terdapat panil. Di dalamnya terdapat hiasan berupa bungong awan dan keupula/seuleupo (tanjung/corak bunga yang lain).
Ukiran tersebut merambat sampai ke bagian atas. Di bagian atas nisan semakin mengecil.

Atap/puncak: persegiempat dan semakin ke atas makin mengecil.

 

 

Nisan 7

Berbahan dasar batuan andesit.

Dasar: dipahat tidak rapi, mengingat keletakannya berada di dalam tanah. Sebagai pembatas dari bagian bawah terdapat pelipit.

Badan bagian bawah: dibatasi oleh pelipit dari bagian dasarnya. Ketebalan tiap-tiap sisi 20 cm. Terdapat panil di tiap-tiap sisi. Dua sisi yang bertolak belakang panil dihiasi dengan ukiran bermotif bungong keupula (tanjung/lotus)
atau bunga teratai yang sedang mekar, dua sisi lainnya dihiasi dengan motif bungong keupula yang sedang kuncup .

Badan bagian atas: terdapat hiasan
dengan
motif hias berupa bungong awan sambung-menyambung sebanyak tiga susun.

Atap: dibatasi pelipit berbentuk bawang.

Nisan 8

Berbahan batuan kapur, berwarna putih kekuningan.

Dasar: dikerjakan tidak rapi mengingat posisinya tertanam dalam tanah. Membatasi dengan bagian badan terdapat dua lapis pelipit.

Badan bagian bawah: terdapat panil pada keempat sisinya yang masing-masing berisi kaligrafi. Kaligrafi dalam kondisi telah aus sehingga menyulitkan pembacaan.

Badan bagian atas: terdapat panil yang di dalamnya berisi hiasan berupa bungong awan tersusun sebanyak tiga tingkat sampai ke bagian atas.

Kepala/atap: berbentuk oval, horisontal. Bagian atas/atap berbentuk bawang, semakin ke atas makin mengecil.

 

 

 

Nisan 9

Fragmentaris, yang tersisa hanyalah badan bagian bawah, sedangkan bagian dasarnya tertanam dalam tanah. Bagian bawah nisan persegi empat berukuran, lebar 14 cm, dengan ketinggian hanya sekitar 20 cm.

Bagian dasar dibatasi oleh pelipit dan panil-panil di tiap-tiap sisi, yang didalamnya terdapat ukiran dengan motif berupa bungong awan pada dua sisi, sedang dua sisi yang lain dihiasi dengan motif bungong keupula (teratai yang mekar). Pada bagian atas pecah sehingga tidak diketahui motif hiasnya.

 

 

Nisan 10

Fragmentaris, yang tersisa hanyalah badan bagian bawah, sedangkan bagian dasarnya tertanam dalam tanah. Fragmen nisan ini berbentuk persegi empat dengan lebar tiap sisi 12 cm. Adapun tinggi nisan dari permukaan tanah hanya sekitar 20 cm.

Bagian dasar dibatasi oleh pelipit dan panil-panil di tiap-tiap sisi, yang didalamnya terdapat ukiran dengan motif bungong awan, bungon keupula serta motif-motif geometris lain yang tidak diketahui karena kondisinya telah aus. Motif-motif hias ini dibatasi dengan pelipit/panil, sedangkan di bagian atasnya masih terdapat motif hias berupa sulur yang kondisinya agak aus.

 

 

Nisan 11

Kondisi nisan telah rebah dan tertanam dalam tanah. Yang tampak di permukaan adalah sebagian dasarnya, badan bagian bawah dan badan bagian atas.

Dasar: merupakan sebagian potongan. Berukuran lebih lebar dibandingkan bagian atasnya dan dipahat tidak rapi, karena keletakannya tertanam dalam tanah.

Badan bagian bawah: persegiempat. Berukuran lebar tiap sisi sekitar 14 cm. Di bagian bawah tiap sisi terdapat panil dengan tinggi sekitar 12 cm. Pada masing-masing panil terdapat ukiran dengan motif hias berupa flora.

Badan bagian atas: berada pada panil berikutnya. Motif hias yang tampak hanya sebagian dengan motif hias berupa bungong awan, bungong puta taloe dua (pilinan dua utas tali) dan bungong seuleupo.

 

 

Nisan 12

Nisan telah rebah dan tertanam dalam tanah. Bagian atasnya bahkan tampak telah patah.

Dasar: relatif utuh, walaupun sebagian terbenam dalam tanah. Menilik ukurannya, bagian dasar nisan berukuran lebih besar dibandingkan bagian badannya, dengan pahatan yang tidak rapi.

Badan bagian bawah: persegiempat, terdapat bidang yang dibatasi oleh panil di keempat sisi, berukuran lebar 14 cm dan tinggi 12 cm. Pada panil-panil itu terdapat hiasan berupa sulur-suluran yang agak aus.

Badan bagian atas: dibatasi juga dengan panil-panil di keempat sisi. Di bagian ini tampak ukuran nisan semakin mengecil/mengerucut. Kemungkinan bagian ini dibatasi juga dengan panil-panil. Motif hias yang digunakan tidak diketahui, kemungkinan bungong awan dipadukan dengan bungong seuleupo.

Atap/kepala: kondisinya telah patah dan bagian patahannya terletak tidak jauh dari bagian nisan tersebut. Pola hias dan bentuk yang digunakan tidak diketahui.

III. Pembahasan

Sejarah Aceh menyebutkan, sebelum Kerajaan Pasai, yang dipimpin oleh Sultan Malik as-Shaleh, sudah terdapat kerajaan Islam dengan rajanya bergelar Sultan, dengan nama Sultan Johansyah yang memerintah pada tahun 1205 M. Makam sultan ini terletak di Kompleks Makam Kampung Pande, di Kota Banda Aceh. Walaupun pada makam tersebut tidak terdapat angka tahun namun apabila dilihat dari bentuk nisannya kemungkinan memiliki umur lebih tua. Pada nisan tersebut terukir kaligrafi dengan huruf khat, dengan beragam ukiran dan bentuk nisan lebih menyerupai bentuk candi atau gading.

Makam tokoh Pahlawan Syah, juga menggunakan nisan tipe ini. Pahlawan Syah dianggap merupakan musuh dari Meureuhom Daya yang mulanya menolak masuk Islam. Pahlawan Syah disebut juga dengan sebutan Datuk Pegu, atau Husein. Cerita ini sangat berkembang di masyarakat. Pada nisan Pahlawan Syah terdapat pertulisan/kaligrafi yang menyebutkan nama Husein serta angka tahun kata ” Tis’in wasab’a mi’ah” atau sembilan puluh dan tujuh ratus 790 H (1388 M). Pada nisan tersebut juga terdapat medali yang mirip dengan soleil de Majapahit (Montana,1997:90)

Pertulisan yang terdapat pada nisan tipe plakpling di kompleks makam benteng Kuta Lubuk juga menunjukkan angka tahun yang cukup tua, pembacaan yang dilakukan oleh Suwedi Montana terhadap salah satu nisan menghasilkan data berupa angka tahun sebagai berikut:

….assulthan Sulaiman bin Abdullah bin al Basyir

Tsamaniata wa sita mi’ah

680 H ( 1211 M)

Lebih jauh Suwedi Montana menyebutkan, apabila kematian Sultan Sulaiman bin Abdullah bin Al Basyir adalah pada tahun Tsamaniata wa sita mi’ah, 680 H (1211 M), berarti jauh sebelum itu di Lamreh, lokasi benteng Kuta Lubuk, sudah berkembang Agama Islam. Hal ini diketahui dari nama ayah dan kakek Sultan Sulaiman (Abdullah bin Basyir) yang berbau Islam (Montana,1997:87).

Tumbuh dan berkembangnya budaya Islam di Nusantara, menghasilkan dan meninggalkan peradaban yang secara ideologis bersumber pada Alqur’an dan Al-hadist. Sementara itu secara fisik memperlihatkan anasir kesinambungan dengan anasir budaya pra-Islam. Corak lokal merupakan wujud dari kebebasan seniman ataupun model yang berkembang dalam mengekspresikan cita rasa keseniannya. Perkembangan bentuk dari yang sederhana sampai pada yang rumit adalah sebagai respon dari pengetahuan, teknologi yang mereka peroleh (Ambary,1991:1).

Menilik bentuk dari nisan-nisan tipe ini, kemungkinan nisan ini merupakan tipe nisan yang dipakai berkelanjutan, mulai dari masa-masa awal kedatangan Islam sampai pada beberapa abad sesudahnya. Nisan tipe ini masih digunakan berdampingan dengan periode sesudahnya, walaupun pada masa itu telah terjadi perubahan trend tipe nisan, yaitu nisan tipe Gujarat atau tipe-tipe “Batu Aceh” lainnya.

Menilik pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa nisan-nisan dengan tipe plakpling, merupakan nisan-nisan tipe peralihan, pra-Islam ke Islam. Batu nisan tipe ini berbentuk sederhana, sebelum dipakainya batu nisan yang disebut “Batu Aceh”, (nisan tipe Aceh). Batu-batu ini umumnya memiliki gaya sederhana namun diberi hiasan berupa relief dan/atau inskripsi. Nisan tipe ini merupakan awal perkembangan, melanjutkan tradisi yang telah ada sebelumnya. Bentuk nisan seperti mengadopsi bentuk-bentuk phallus/Lingga, meru dan menhir dengan hiasan-hiasan yang disesuaikan. Bentuk/tipe-tipe nisan seperti ini banyak terdapat di Sumatera Barat, di tempat-tempat lain persamaan dari bentuk-bentuk nisan tersebut, di situs-situs megalithik, dikenal sebagai menhir. Tipe-tipe nisan tersebut di atas, menunjukkan pengaruh yang sangat kental dari tradisi-tradisi megalithis dan Hinduistis. Adapun bentuk-bentuk motif hiasan yang dipakai kemungkinan merupakan perpaduan dari budaya tersebut.

Salah satu penyebab munculnya nisan tipe plakpling adalah karena latar belakang sejarah budaya nusantara yang permisive terhadap anasir apapun yang datang dari luar. Masyarakat nusantara tidak pernah menolak anasir asing, tetapi harus melewati pengolahan, pengimbuhan, penggubahan dsb. Kreativitas mengubah dan menggubah anasir asing menjadi anasir nusantara merupakan strategi adaptasi, karena proses seleksi sampai disosialisasikan sebagai pranata perilaku. Sejarah membuktikan bahwa ketangguhan dan kemampuan seleksi serta adaptasi bangsa Indonesia lebih bersifat alamiah, intuitif dan handal (Ambary,1991:21). Dengan modifikasi bentuk dan gaya, nisan Malik At-Thahir dapat digolongkan menjadi tipe ini, mengingat bentuknya berupa tugu tegak, dengan bagian kepala/atap berbentuk bawang.

IV. Penutup

Nisan plakpling terdapat hampir di seluruh wilayah Aceh, dengan populasi terbanyak adalah di Kabupaten Aceh Besar dan Banda Aceh yang notabene masih bertetangga. Untuk itu diperlukan penelitian lebih mendalam untuk mengetahui variasi bentuknya, pola hias, periodisasi serta persebarannya. Diharapkan melalui penelitian yang lebih mendalam akan diketahui secara pasti keberadaan nisan tipe ini, mengingat nisan-nisan ini merupakan merupakan temuan yang sangat penting, menghubungkan kesenjangan yang ada antara tradisi pra Islam ke Islam.

Kepustakaan

Akbar, Ali, 1990. Peranan Kerajaan Islam Samudera – Pasai Sebagai Pusat Pengembangan Islam Di Nusantara. Lhok Seumawe: Pemda Tk II
Kabupaten
Aceh Utara

Ambari, Hasan M. 1991. Makam-makam Kesultanan dan Para Wali Penyebar Islam di Pulau Jawa, dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 12. Jakarta: Puslitarkenas

——————–1994. Some Aspects of Islamic Architecture in Indonesia,
dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 14. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

——————–1996. Makam-makam Islam di Aceh, dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 19. Jakarta: Puslitarkenas

——————–1997. Kaligrafi Islam Di Indonesia, Telaah Dari Data Arkeologi, dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 20. Jakarta: Puslitarkenas.

Montana, Suwedi, 1996/1997. Pandangan Lain Tentang Letak Lamuri Dan Barat (Batu Nisan Abad Ke VII – VIII Hijriyah di Lamreh dan Lamno, Aceh), dalam Kebudayaan No 12 th VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hal. 83–93

Perret, Daniel dan Kamarudin Ab. Razak, 1999. Batu Aceh, Warisan Sejarah Johor. Johor Bahru: EFEO dan Yayasan Warisan Johor

Yatim, DR. Othman Mhd, 1988. Batu Aceh, Early Islamic Gravestones in Peninsular Malaysia. Kuala Lumpur: Museum Association of Malaysia c/o Muzium Negara

———————-dan Abdul Halim Nasir, 1990. Epigrafi Islam Terawal Di Nusantara. Selangor: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka

Written by balarmedan

Januari 8, 2009 at 3:37 am

Ditulis dalam Uncategorized