Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

PERALATAN TRADISIONAL PENGOLAHAN SAGU DI PULAU SIBERUT, RUPAT, DAN PULAU LINGGA

leave a comment »

Nenggih Susilowati
Balai Arkeologi Medan

Abstract
Sago was one of plants which had known by local people who live by hunting. Since the prehistory, this plant type grew well in a jungle so people could use it. The traditional tools that we know today, its technique in heritage

Kata kunci: sagu, rawa, berburu

I. Pendahuluan
Sagu merupakan salah satu jenis makanan pokok selain beras, dan umbi-umbian. Seperti halnya beras, sagu mengandung karbohidrat yang cukup tinggi sehingga cocok dijadikan makanan pokok. Pohon sagu (Metroxylon sagu) dikenal oleh sebagian masyarakat dengan sebutan pohon rumbia. Tanaman tersebut memiliki manfaat cukup beragam antara lain, daunnya digunakan untuk membuat atap, tangkai daunnya seringkali dipakai untuk dinding rumah, terkadang bagian pelepahnya digunakan sebagai timba atau wadah penampung sagu. Tanaman ini cukup dikenal terutama oleh masyarakat yang berada di Indonesia bagian timur, seperti Maluku dan Irian Jaya. Bahkan diperkirakan daerah tersebut merupakan tempat asal sagu mengingat akan keanekaragamannya yang besar (Widjaja dkk.,1989:47). Di beberapa tempat seperti Pulau Nias, Pulau Siberut (Mentawai), Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan, sebagian masyarakatnya juga mengenal sagu sebagai makanan pokok atau bahan kudapan.
Tanaman sagu hidup di daerah pesisir yang berair tawar dengan air yang menggenang seperti pinggir danau atau rawa. Pohon yang dapat mencapai tinggi 10 m ini, kadang juga tumbuh di bagian hulu sungai atau hutan, seperti di hutan hujan Kalimantan (Bellwood,2000:198). Adakalanya tanaman ini juga sengaja dibudidayakan seperti yang dijumpai di Mentawai, di lepas pantai barat Sumatera. Di tempat tersebut sagu, talas, dan pisang ditanam di rawa-rawa. Penyiapan lahannya dengan cara melakukan pemangkasan pohon dan tanpa pembakaran.Tanaman yang dipangkas digunakan sebagai pupuk (Mitchell dan Weitzell,1983 dalam Bellwood,2000:365). Orang Nuaulu di Seram yang ada di khatulistiwa menanam talas, ubi, pisang, dan sagu (sagu liar juga digarap) di kebun-kebun dengan cara tumpang sari bersama dengan 15 jenis tanaman liar (termasuk tebu, ketela, kelapa, dan sebagainya) (Bellwood,2000:364). Di Kampung Pekaka, Pulau Lingga, Kepulauan Riau masyarakatnya mengusahakan kebun sagu pada tanah rawa, yaitu dengan membuat parit sebagai batas kebun. Pohon yang telah tua batangnya dikupas hingga mati, dan kemudian tumbuh tunas-tunas disekitarnya. Penanaman pohon tersebut biasanya berjarak tertentu agar perkembangbiakannya cepat dan subur (Suarman,1999:168–169).
Tanaman sagu liar maupun yang dibudidayakan memerlukan beberapa tahapan pengolahan sebelum menjadi tepung sagu yang siap dimasak. Peralatan-peralatan yang menunjang proses tersebut hingga kini belum pernah ditemukan pada ekskavasi arkeologi, namun melalui data etnografi diketahui peralatan tradisional untuk memproduksi sagu umumnya menggunakan bahan kayu. Melalui peralatan tradisional yang masih dimanfaatkan hingga kini diharapkan gambaran tentang proses pengolahan sagu serta jenis peralatan dan teknik pemanfaatannya dapat diketahui. Peralatan tradisional yang dituangkan pada makalah ini digunakan oleh masyarakat yang berdiam di pulau-pulau lepas pantai barat (Pulau Siberut/Mentawai), maupun timur Sumatera (Pulau Lingga dan Pulau Rupat).

II. Proses pengolahan sagu dan peralatannya
Melalui perbandingan di tiga tempat tersebut diketahui proses pengolahan sagu melalui beberapa tahapan, yaitu pertama, penebangan. Penebangan umumnya dilakukan atas pohon sagu yang berumur antara 8 — 15 tahun, karena secara empiris diketahui akan menghasilkan sagu baik dalam kualitas maupun kuantitas. Peralatan yang digunakan untuk memotong dan membelah batang pohon sagu adalah kapak atau yang disebut kapek dalam bahasa orang Akit di Pulau Rupat. Kemudian untuk memisahkan bagian kulit dan bagian dalam batang pohon sagu digunakan parang. Di Pulau Rupat peralatan tersebut dinamai pisau sehaut. Adapun di pulau Mentawai digunakan oodak (alat dari kayu untuk mengupas).
Pahut Sagu dari P. Rupat
Kedua, pengolahan bagian dalam batang pohon sagu menjadi bagian-bagian kecil dengan menggunakan parut yang terbuat dari bahan kayu dan paku sebagai mata parut. Pada masyarakat Akit di Pulau Rupat alat tersebut dikenal dengan sebutan pahut sagu. Masyarakat Mentawai di Pulau Siberut mencacah bagian dalam batang pohon sagu dengan alat yang disebut kukuilu. Alat ini berbentuk segitiga yang terbuat dari kayu yang diikat satu sama lain dengan menggunakan tali dari kulit kayu.
Ketiga, pemrosesan sari/pati sagu dan pengeringan. Pati sagu dikeluarkan dari parutan sagu dengan cara diinjak-injak dengan kaki. Kegiatan tersebut di Pulau Lingga disebut diirik, sehingga alatnya disebut juga alat pengirik yang terdiri dari langgar atau pelantar terbuat dari kayu lait, dan diberi dasar tikar sebagai wadah tempat sagu (Suarman,1999:177). Biasanya di dekat alat pengirik dipasang timba air yang berfungsi untuk menyiram parutan sagu yang diinjak-injak, yang terdiri dari bambu, tali, timba, dan batu pemberat. Di bawah pelantar dipasang alat berbentuk kerucut terbalik agar pati sagu mengucur ke lelar (saluran yang terbuat dari kayu nubung). Selanjutnya pati sagu ditampung dengan ube atau uba. Alat tersebut berbahan kayu dan berbentuk menyerupai perahu pencalang. Pada salah satu ujungnya dibuat lobang tempat keluar air. Apabila uba dipenuhi air, sementara pengirikan masih berlangsung, maka air akan keluar melalui lubang tersebut, sedangkan pati sagu mengendap pada dasar uba.
Hasil sagu irikan diambil dari dalam uba. Karena sagu yang dihasilkan masih kotor maka dimasukkan ke tempayan yang 2/3 diisi air laut kemudian diaduk sehingga ampas kotoran lainnya naik ke permukaan dan pati sagu mengendap di dasar tempayan. Langkah selanjutnya pati sagu dibersihkan lagi dengan air tawar dan dijemur pada terik matahari menggunakan tikar yang terbuat dari batang padi atau jerami dan diletakkan di atas langgar/pelantar sehingga sagu tidak kotor.
Hampir sama dengan proses di atas, di Mentawai cacahan sagu diinjak-injak di atas penyaring air sagu yang disebut geogebat (Ensiklopedi Suku Bangsa Mentawai, tt:64). Alat tersebut berupa kotak kayu berbentuk persegi dengan bagian dasarnya diberi saringan yang terbuat dari serat-serat dari pohon kelapa (teitei tapi) yang dijalin dengan penguat dari semacam tumbuhan rumput untuk mengikatnya (uupput dereat), dan jalinan tersebut disebut dereat.
Geogebat diletakkan di atas panggung setinggi 200 cm dengan topangan empat buah kayu (deret geogebat). Sebagai alas untuk geogebat dipakai anyaman bambu (batgereat) dengan dikuatkan oleh tiga batang kayu yang dipasang melintang (batsimune). Di antara geogebat dan batgereat diletakkan anyaman bambu yang lebih halus (batsalaksa). Proses tersebut menggunakan air sehingga menghasilkan air sagu yang mengalir melalui tetei dan batsalaksa kemudian batgereat dan akan jatuh pada sebatang kayu mirip sampan (borojat) yang diletakkan agak miring untuk mengalirkan air yang sudah bercampur sagu berwarna putih. Agar air sagu tidak tumpah ke kiri dan kanan, di antara borojat dan batgereat diletakkan semacam dinding terbuat dari anyaman daun sagu (tobat). Air kemudian mengalir melalui borojat ke satu sampan yang besar (soroba) yang diletakkan di bawah sebagai alat untuk mengendapkan sagu dan sekaligus memisahkan dengan air. Selanjutnya setelah 3 minggu barulah endapan sagu tersebut diambil dan diletakkan di suatu tempat yang terbuat dari kulit pohon sagu yang dianyam (angkin).
Proses yang sama juga terdapat di Pulau Rupat, yaitu dengan menginjak-injak di atas kayu berbentuk persegiempat yang terletak di atas pelantar. Alat tersebut diikat pada bilah kayu yang terdapat di atas dengan tali sehingga mudah digeser. Kemudian air pati sagu dialirkan melalui bambu dan ditampung pada suatu wadah. Alat tersebut biasanya dapat ditemukan di dekat aliran air (sungai kecil atau parit buatan) dan ditinggalkan begitu saja jika tidak digunakan. Masih di lokasi yang sama juga terdapat semacam meja panjang untuk meletakkan parutan dan melakukan pemarutan sagu. Pekerjaan pengolahan sagu biasanya dilakukan beramai-ramai.

III. Sagu dalam kehidupan masyarakat pemburu
Di Indonesia kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan sudah lama dilakukan oleh manusia, yakni sejak zaman prasejarah mulai paleolitikum (450.000 -– 15.000 tahun yang lalu) hingga mesolitikum (8.000 -– 2.000 tahun yang lalu) (Soejono,1981; Soejono ed,1993). Peralatan yang digunakan berupa kapak batu (kapak perimbas, kapak penetak, kapak genggam), dan mata panah dari batu, tulang, dan sumatralith. Ketika manusia sudah mulai hidup menetap dan bercocok tanam yang dikenal dengan neolitikum (4.500 -– 2.500 tahun yang lalu) dan zaman logam (2.500 –- 2.000) kegiatan berburu juga masih sesekali dilakukan. Pada masa itu juga terjadi migrasi-migrasi manusianya hingga masuk ke kepulauan Indonesia. Secara umum pendapat beberapa peneliti menyebutkan adanya alur migrasi neolitik antara Asia Tenggara Daratan – Asia Tenggara Kepulauan – Pasifik (Simanjuntak,1992:122). Migrasi manusianya disertai dengan peralatan serta teknik pembuatan alat, seperti kapak batu yang sudah diupam dan gerabah. Demikian juga dengan zaman logam peralatannya menggunakan bahan perunggu-besi.
Memasuki masa sejarah dengan kehidupan yang lebih maju ditandai dengan munculnya pusat kerajaan dan bandar-bandar perdagangan, sebagian besar masyarakatnya hidup pada bidang pertanian, perikanan, dan perdagangan. Namun bagi sebagian masyarakat yang masih tinggal di hutan hidup dengan cara berburu, mencari ikan, dan mengumpulkan hasil hutan. Bahkan hingga kini sebagian masyarakat yang tinggal di hutan masih memenuhi kehidupannya dengan berburu, menangkap ikan, dan mengumpulkan hasil hutan. Masyarakat Mentawai dan Akit misalnya, hingga kini masih menyimpan dan menggunakan peralatan tradisional yang berkaitan dengan berburu dan menangkap ikan, walaupun sebagian besar sudah bertani dan berkebun. Keberadaan alat pengolah sagu tradisional dan kegiatan pengolahan sagu yang dilakukan hingga kini menggambarkan sagu merupakan bahan makanan yang cukup penting selain jenis hewan yang diperoleh dari kegiatan berburu dan menangkap ikan. Pengolahan sagu juga tetap dilakukan di hutan bahkan dapat dijumpai hingga kini seperti yang dilakukan oleh masyarakat Mentawai, sehingga kegiatan tersebut dilakukan oleh laki-laki.
Pemanfaatan pohon sagu diperkirakan telah dilakukan oleh masyarakat yang hidup dengan berburu di hutan bahkan sejak masa prasejarah terutama dikaitkan dengan terjadinya penyebaran kelompok pemburu-pengumpul Austronesia. Asumsi ini muncul dikaitkan dengan keberadaan jenis pohon sagu liar yang tumbuh di hutan, sehingga jenis tanaman tersebut sudah dikenal oleh masyarakat pemburu saat itu. Kondisi yang dikemukakan oleh Sather dan Brosius (1988 dalam Bellwood,2000:198) di wilayah lain seperti Kalimantan juga menguatkan kemungkinan tersebut. Ekspansi-ekspansi Austronesia awal yang memasuki wilayah kepulauan nusantara mungkin memadukan ekonomi pertanian, perikanan, dan pengumpulan. Ketika orang Austronesia merambah masuk jauh ke pedalaman dan memasuki hutan hujan di Kalimantan, yang banyak ditumbuhi tanaman sagu dan memiliki berbagai fauna, beberapa kelompok yang sudah terbiasa dengan ekonomi perburuan–pengumpulan makanan di pantai, mungkin tergoda untuk beralih ke perburuan–pengumpulan secara berpindah-pindah di daerah hulu. Selanjutnya mengenai penyebaran kelompok ini ke wilayah tersebut telah berlangsung sekitar 2000 SM (Bellwood,2000:356).
Pada masa kemudian dikenal orang Punan sebagai masyarakat pemburu yang tinggal di hutan pedalaman Serawak dan pedalaman Kalimantan bagian utara. Selain berburu dengan menggunakan sumpitan, mereka juga memanfaatkan species sagu liar agak kerdil yang tumbuh di tanah kering (Eugeissona utilis) di bawah ketinggian 1000 m, dan mengumpulkan buah-buahan seperti rambutan (Nephelium lappaceum), durian (Durio zibethinus), dan manggis (Garcinia mangostana) (Needham, 1954 dalam Bellwood,2000:195). Tidak berbeda jauh dengan kelompok tersebut, juga dikenal orang Mentawai di lepas pantai barat Sumatera yang hidup dengan berburu dengan menggunakan busur dan panah, menangkap ikan, serta mencari sagu dan mengolahnya di hutan. Memang orang Punan dan Mentawai bukan kelompok yang absah untuk rekonstruksi masyarakat Austronesia purba, karena budayanya telah mengalami proses penyesuaian dengan lingkungan setempat dan terdapat kepunahan budaya bendawi tertentu (Bellwood,2000:228), namun setidaknya mewakili kelompok yang hidup di hutan dengan berburu dan memanfaatkan tanaman sagu. Di daerah lain yaitu Indonesia bagian timur, diketahui tanaman sagu lebih dikenal dibandingkan padi bahkan sampai sekitar 1500 M (Bellwood,2000:356). Di Pulau Lingga tanaman sagu dibudidayakan pada sekitar awal abad ke- 19 (Suarman,1999:168).
Jenis tanaman sagu umumnya tumbuh di rawa-rawa tepi sungai, sehingga lokasi pengolahan sagu biasanya tidak terlalu jauh dari tempat tumbuhnya pohon, serta dekat dengan air untuk memudahkan dalam pengolahannya yang cenderung memerlukan banyak air. Tanaman tersebut diketahui tidak dapat dikonsumsi secara langsung, tetapi harus melalui tahapan pengolahan, sehingga diperlukan peralatan dalam proses tersebut. Melalui perbandingan di ketiga tempat tampak adanya tahapan yang sama dalam pengolahan sagu, seperti penebangan, pengolahan menjadi bagian kecil, pemrosesan sari/pati sagu dan pengeringan. Pada setiap tahapan digunakan peralatan yang berbeda dan menunjang proses kegiatannya. Di dalam kegiatan pengolahan sagu dapat dilihat jenis-jenis peralatan dan teknik pemanfaatannya. Peralatan-peralatan yang digunakan umumnya berbahan kayu, dan di ketiga tempat tersebut tidak tampak perbedaan yang tajam. Dapat dikatakan peralatan yang digunakan oleh orang Mentawai lebih tradisional mengingat hampir keseluruhannya menggunakan bahan kayu kecuali kapak. Tanaman sagu sudah dikenal cukup lama oleh masyarakat pemburu yang tinggal di hutan khususnya (seperti orang Mentawai dan Akit), kemungkinan peralatan juga sudah dibuat sejak lama, dan teknik pembuatannya diturunkan dari generasi ke generasi.

IV. Penutup
Masyarakat Mentawai di Siberut dan masyarakat Akit di Pulau Rupat sejak lama dikenal sebagai masyarakat yang hidup dari berburu dan mencari ikan. Lingkungan sekitarnya mendukung untuk matapencaharian itu karena memiliki hutan dan sungai. Sekitar sungai yang menjadi lingkungan hidupnya biasanya terdapat rawa-rawa yangditumbuhi oleh tanaman sagu. Lingkungan tersebut menyebabkan masyarakatnya juga mengkonsumsinya sebagai bahan makanan. Berbeda dengan masyarakat di Pulau Lingga yang memang menanam jenis tanaman ini yang sebelumnya menurut sejarah didatangkan dari Ambon. Sekalipun kondisinya agak berbeda, namun melalui peralatannya yang masih tersisa hingga kini diketahui memiliki kemiripan satu sama lain berkaitan dengan fungsinya.

Kepustakaan
Bellwood, Peter, 2000. Prasejarah Kepulauan Indo – Malaysia. Jakarta: Balai Pustaka
Ensiklopedi Suku Bangsa Mentawai, tt. Jakarta: Deputi Bidang Nilai Budaya, Seni dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata
Simanjuntak, Truman, 1992. Neolitik di Indonesia: Neraca dan Perspektif Penelitian, dalam Jurnal Arkeologi Indonesia No.1. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, hal. 117 –130
Soejono, R.P. (ed.), 1993. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka
Soejono, R.P, 2000. Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 5, Tinjauan tentang Pengkerangkaan Prasejarah Indonesia. Jakarta: Pusat Arkeologi
Suarman, & Dwi Sobuwati, 1999. Sistem Teknologi Tradisional Pengolahan Sagu dan Perkembangannya di Kepulauan Riau, dalam Pola Penguasaan dan Pemilikan Tanah di Riau Kepulauan Tahun 1960 – 1997 Seri Penerbitan No. 15. Tanjungpinang: Balai Kajian Jarahnitra Tanjungpinang hal. 159 – 182
Susilowati, Nenggih & Repelita W. Oetomo, 2006. Laporan Penelitian. Penelitian Arkeologi di Pulau Rupat, Provinsi Riau. Medan: Balai Arkeologi Medan
Widjaja, Elizabeth A., Uway Warsita Mahyar, & Sutikno Sastro Utama, 1989. Tumbuhan Anyaman Indonesia. Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa

About these ads

Written by balarmedan

Mei 2, 2008 at 2:56 am

Ditulis dalam Dra.Nenggih Susilowati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: